Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata-Mata
"Om Iko dan lainnya, berperilaku seperti biasanya aja. Yang penting jangan lengah biar orang itu nggak curiga," tulis Callie pada pesan di ponselnya dan dikirim dalam grup pengawal keluarga.
Suasana di sekitar ruang operasi tampak begitu mencekam. Apalagi saat tadi Callie merasakan ada seseorang yang memantau mereka. Ronand pun langsung melirik sekilas ke arah taman rumah sakit. Memang benar ada bayangan orang yang tengah berdiri di balik sebuah pohon besar. Ronand pun akhirnya memilih untuk pergi ke ruangannya. Sengaja, dia ingin mengetahui siapa yang tengah diincar oleh orang ini. Jika dia yang diincar, pasti akan mengikutinya. Biar lah nanti dia menjelaskan kondisi Mika dan Axel setelah orang ini diselesaikan.
"Ada yang mau kopi?" tanya Iko tiba-tiba pada semua orang di sana. Sengaja suaranya sedikit lebih keras agar orang yang mengincar mereka mendengar.
"Aku ikut saja. Mau beli makan sekalian. Kasihan perut Callie udah kempes begitu," ucap Lucky yang paham dengan kode dari Callie walaupun sedikit meledek anaknya. Hanya empat orang yang kemungkinan menjadi incaran orang itu. Ronand, Callie, Lucky, dan Mika. Untuk Axel, mereka tidak yakin kalau ada yang mengincarnya terlebih dia hanya orang biasa.
"Kalian semua istirahat lah. Sebentar lagi juga plastik Mika dan Kak Axel dipindahkan ke ruang rawat inap," ucap Callie kepada pengawal lainnya setelah Iko dan Lucky pergi. Callie hanya asal bicara karena dia belum tahu bagaimana kondisi saudaranya itu.
"Kami akan tetap menjaga di sini, Nona." ucap salah satu pengawal berucap seperti biasanya kalau akan menjaga keluarga Callie.
"Baik lah. Duduk aja di sana," suruh Callie agar para pengawal tidak kelelahan.
Bukan duduk biasa yang dimaksud oleh Callie. Pasalnya para pengawal duduk berpencar sesuai arahan dari Callie. Area yang mereka duduki bukan sembarangan karena sudah diperhitungkan. Orang yang memata-matai mereka akan terkepung dengan posisi duduk para pengawal keluarga Callie. Sedangkan Callie memilih duduk santai di depan ruang operasi sambil diam-diam menerbangkan robot kecoak.
1... 2... 3...
Aaaaa...
Kecoak...
Hiiii...
Brugh...
Awwww...
Sretttt...
"Sial... Dia tahu," ucap orang yang memata-matai Callie.
Para pengawal Callie langsung menyergap orang yang diduga adalah mata-mata. Masker, topi, dan jaket hitam yang digunakan sangat mencurigakan. Apalagi sedari tadi terlihat mengawasi ruang operasi dan sekitarnya. Ini sudah dini hari, orang tersebut tidak mungkin punya tujuan jika tak berniat sesuatu. Callie pun mendekati orang tersebut yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Mau ngawasin siapa di sini?" tanya Callie dengan santainya. Walaupun orang tersebut memberontak tapi kedua tangannya dipegang erat oleh pengawal. Sehingga tidak ada gunanya orang itu melawan.
"Tidak ada. Cuma ngintip aja," ucapnya mencoba santai.
"Lah... Cewek?" Mendengar suara orang itu, mereka terkejut. Ternyata yang memata-matai mereka adalah seorang perempuan.
Srettt...
"Kak Fania..." seru Callie yang melihat Kakak kelasnya berada di depannya setelah dia menarik masker dan topi milik Fania.
Kali ini tatapan Callie sangat tajam mengarah pada Fania. Bahkan Fania sampai memundurkan langkahnya walaupun ditahan oleh dua orang pengawal. Orang di depannya ini bukan seperti Callie saat di sekolah. Tatapannya begitu mengerikan hingga Fania ketakutan. Fania merasa bahwa dia tidak akan selamat hari ini. Namun Fania mencoba tetap tenang dan mencari celah untuk bisa melarikan diri.
"Apa jangan-jangan Kak Fania mengikutiku ya?" seru Callie dengan tuduhannya.
"Enggak. Ini kan rumah sakit umum. Aku di sin..."
"Jelas tidak umum, Kak Fania. Ngapain ngumpet kalau nggak ada sesuatu yang ingin dicari? Mau cari informasi tentang aku atau keluargaku?" sela Callie sambil tangannya memainkan rambut panjang Fania.
"Mau nguping mungkin, Nona. Terus nanti dapat berita dan disebar," ucap salah satu pengawal Callie.
Benar. Bigos alias biang gosip,
Enggak...
Fania menggelengkan kepalanya untuk membantah tuduhan dari Callie. Banyaknya pengawal di sana tentu tak bisa membuat Fania berkutik. Fania tak menyangka kalau pengawalan untuk Callie sampai seketat ini. Fania sangat penasaran dengan sosok Callie ini. Sekolah jarang berangkat, tapi menjadi orang paling dicari oleh guru untuk ikut olimpiade. Bahkan tidak dikeluarkan atau mendapatkan hukuman seperti siswa lainnya. Malam ini dia melihat Callie di rumah sakit dan sangat penasaran.
"Jadi mau Kak Fania apa di sini? Ayo dong jujur atau ku cubit itu ginjalnya," ucap Callie dengan tatapan sinisnya.
"Aku hanya penasaran," ucap Fania sambil menghela nafasnya kasar.
"Bawa dia pergi dari sini. Kumpulkan sama orang-orang yang mencurigakan di depan rumah sakit," titah Callie yang malam ini malas menginterogasi lebih lanjut. Fokusnya masih pada kondisi Mika dan Axel.
Baik, Nona.
Callie... Mau dibawa kemana aku ini, hei? Aku hanya kepo doang kok kamu ada di sini malam-malam,
Berisik,
***
Onty Callie...
Grepp...
Kai langsung memeluk Callie saat melihat Onty-nya pulang ke rumah. Rencananya Kai akan pergi ke rumah sakit bersama Rachel nanti siang. Namun pagi ini Callie sudah pulang ke rumah. Tentu saja Kai langsung menyambutnya dengan suka cita. Nanti Kai akan minta penjelasan tentang kondisi kedua orangtuanya. Rachel yang melihat anaknya pulang pun langsung bergabung.
"Gimana kondisinya Mama dan Papa Kai, Onty Callie? Kemalin kepalanya kelual melah-melah. Ndak papa kan itu kepalanya?" tanya Kai dengan pertanyaan beruntun.
"Nggak papa, itu cuma pewarna makanan." jawab Callie dengan asal.
"Pewalna makanan? Memangnya di kepala manusia ada pewalna makanannya? Yang selius dong, Onty Callie." seru Kai dengan tatapan sebalnya.
"Ada. Nanti kita cek itu kepalanya Kai. Siapa tahu ada warna hijau, kuning, atau pinknya." ucap Callie yang tak ingin membahas keadaan Mika dan Axel. Pasalnya kondisi mereka sedikit menyedihkan untuk diceritakan.
"Kok kamu tahu Mama dan Papamu masuk rumah sakit?" tanyanya pada Kai.
Dali Oma Achel,
Dari baca chat punya Mama dengan Papa, Callie.
Ha? Kai kan belum lancar baca, Ma. Apalagi bahasa chat Papa kan alay,
Seketika Rachel merutuki kebodohannya mendengar penjelasan Callie. Tampaknya Rachel lupa kalau Kai masih dalam proses belajar membaca. Berarti seharusnya semalam dia tidak perlu memperlihatkan dan menjelaskan isi chat dari Lucky. Dia bisa berbohong tentang dimana keberadaan Mika dan Axel. Callie pun menatap tajam ke arah Rachel yang malah cengengesan. Padahal Callie sudah minta pada Mamanya itu untuk tidak mengatakan hal yang membuat Kai takut.
"Jadi keadaan Papa dan Mama gimana, Onty?" gerutu Kai yang kesal karena pertanyaannya tidak dijawab.
"Baik-baik aja," jawab Callie dengan tenang.
Syukullah... Habis ini Kai mau ke lumah sakit. Mau lihat Mama dan Papa,
Nggak usah. Nggak boleh dijenguk itu mereka sama anak kecil,
Ha?
Plastik Mika dan Kak Axel koma, Ma.
Apa?