NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Pagi pertama di Jakarta disambut langit yang masih diselimuti kabut tipis. Sinar matahari baru mengintip di balik deretan gedung tinggi, berbeda jauh dengan suasana kampung yang selama ini mereka tinggali.

Arin sudah bangun sejak pukul empat pagi. Ia mengenakan seragam Office Girl berwarna krem yang diberikan pihak restoran sehari sebelumnya. Seragam itu masih tampak kebesaran di tubuhnya, tetapi wajahnya memancarkan tekad baru. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja.

Di sudut kamar mes karyawan yang sederhana, Arin merapikan rambutnya ke dalam sanggul kecil, lalu menoleh ke arah kasur.

Zayyan masih duduk sambil memeluk lutut. Bocah itu belum mulai sekolah karena proses kepindahan berkas masih diurus oleh Rania. Untuk sementara, ia harus tinggal di mes sampai semuanya selesai.

Zayyan memperhatikan setiap gerak-gerik ibunya dengan mata bulatnya yang masih tampak asing dengan suasana baru.

Arin membalikkan badan, lalu berjalan mendekat dan berlutut di hadapan putranya. Ia menggenggam kedua tangan Zayyan yang terasa agak hangat.

"Zayyan, Ibu mulai kerja sekarang ya." ucap Arin, menatap lekat-lekat manik mata anaknya.

Zayyan mengangguk pelan. "Iya, Bu."

"Dengerin Ibu, ya..." Arin memperdalam tatapannya.

"Selama Ibu kerja di depan, Zayyan jangan sekali-kali keluar dari kamar ini sebelum Ibu datang menjemput. Kalau ada yang ketuk pintu, jangan dibuka kecuali itu suaranya Ibu, Tante Rania, atau om Fahri. Mengerti?"

Arin sengaja berpesan demikian. Di satu sisi, ia takut Zayyan tersesat di lingkungan restoran yang luas dan asing ini.

Zayyan meremas balik jemari ibunya, lalu mengangguk patuh. "Iya Bu, Zayyan paham. Zayyan di dalam kamar aja sambil baca buku cerita yang dikasih Mbak Rania kemarin."

Arin tersenyum lega, lalu mengecup dahi putranya dengan sayang. "Anak pintar. Ibu tinggal dulu ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Bu. Semangat kerjanya," balas Zayyan dengan senyum kecil yang mulai kembali menghiasi wajahnya.

Arin mengangguk, lalu mengambil tasnya. Setelah memastikan pintu dan jendela terkunci dengan baik, ia melangkah keluar kamar.

Sementara itu, Zayyan hanya berdiri di ambang pintu, memandangi punggung ibunya yang semakin menjauh hingga menghilang di ujung lorong mes.

......................

Fahri meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja ruang tamu apartemen. Ia menoleh ke arah Rania yang sedang berdiri di dekat sofa.

"Aku berangkat dulu, ya."

Rania mengangguk pelan. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan."

Fahri tersenyum. Pandangannya kemudian jatuh ke perut istrinya yang mulai membuncit. Kandungan Rania kini memasuki usia lima bulan.

Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan sang istri. Dengan penuh kasih, Fahri mengusap lembut perut Rania.

"Ayah berangkat dulu, ya, Nak," bisiknya pelan. "Jaga Mama baik-baik. Jangan bikin Mama kecapekan."

Rania tersenyum geli. "Dia masih di dalam perut, Mas."

"Justru harus sering diajak ngobrol dari sekarang." Rania menggeleng sambil terkekeh kecil.

"Hati-hati, ya."

"Iya."

"Dan jangan pulang telat. Aku sama dedek nunggu di rumah."

Fahri mengangguk. "Insyaallah." Ia kemudian mengecup kening Rania dengan lembut sebelum berbalik menuju pintu.

Sesampainya di depan apartemen, Fahri menoleh sekali lagi ke arah istrinya yang masih berdiri di ambang pintu.

"Dadah." Rania membalas lambaian tangan suaminya sambil tersenyum hangat.

"Hati-hati, Mas."

Fahri mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya. Mesin dinyalakan, kemudian kendaraan itu perlahan meninggalkan area apartemen.

Namun, tujuan Fahri pagi itu bukanlah restoran tempatnya bekerja.

Setelah keluar dari kawasan apartemen, ia justru mengarahkan mobil menuju jalan tol yang mengarah ke Bandara Soekarno-Hatta.

Tatapannya sesekali beralih ke layar ponsel yang terpasang di dashboard. Di sana masih terpampang pesan yang diterimanya semalam.

"Aku mendarat besok pagi. Jemput aku di bandara."

Sudut bibir Fahri terangkat tipis. Temannya itu memutuskan pulang lebih cepat setelah menerima kabar darinya.

Fahri kembali fokus ke jalan. Jari-jarinya mengetuk pelan setir mobil, sementara pikirannya dipenuhi rasa penasaran. Ia ingin melihat sendiri seperti apa reaksi pria itu ketika mengetahui perempuan yang selama sembilan tahun menghilang tanpa jejak... kini akhirnya ditemukan.

Sekitar satu jam kemudian, mobil Fahri memasuki area parkir terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Setelah mematikan mesin, ia turun sambil merapikan kemeja hitamnya, lalu melangkah masuk ke area kedatangan internasional.

Matanya sesekali melirik layar informasi penerbangan. Pesawat dari luar negeri itu baru saja mendarat.

Tak berselang lama, para penumpang mulai keluar berhamburan sambil mendorong koper. Fahri menyapu kerumunan dengan pandangan tajam, mencari sosok yang ditunggunya.

Hingga akhirnya, seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah keluar dari pintu pembatas. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, namun sorot matanya tampak dingin dan datar. Di belakangnya, dua pria berpakaian hitam mengikuti sambil membawakan koper-kopernya.

Begitu melihat Fahri, langkah pria itu langsung terhenti. Fahri pun mengangkat tangan, melambai santai.

"Woy, di sini!" seru Fahri.

Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang. Begitu jarak mereka sudah dekat, Fahri menyambutnya dengan senyum tipis.

"Selamat datang kembali, Bro," sapa Fahri.

Pria itu hanya mengangguk singkat. "Gue datang sesuai janji."

Tatapannya langsung berubah serius tanpa basa-basi. "Mana dia sekarang?"

Fahri mengembuskan napas pelan, mencoba menenangkan sahabatnya. "Tenang dulu. Dia aman kok, gak bakal kabur ke mana-mana."

"Lu yakin dia beneran perempuan yang gue cari selama ini?" tanya pria itu lagi, menuntut kepastian.

"Gue udah mastiin berkali-kali. Gak salah lagi, itu dia," jawab Fahri mantap.

Pria itu terdiam beberapa saat, rahangnya tampak mengeras rapat. "Sudah sembilan tahun..." gumamnya lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri.

Fahri mengangguk bersimpati. "Iya, sembilan tahun bukan waktu yang sebentar."

Pria itu kembali mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan penuh tekad. "Antarkan gue ketemu dia sekarang."

Namun, di luar dugaan, Fahri justru menggelengkan kepala. "Jangan sekarang lah. Sabar dikit Napa "

Kening pria itu langsung berkerut dalam. "Kenapa?"

"Dia baru aja mulai nata hidupnya lagi di sini. Kasih dia waktu sebentar. Kasihan dia harus ketemu lu lagi" jelas Fahri.

Sorot mata pria itu mendadak menajam, menyiratkan ketidaksabaran. "Gue udah nunggu sembilan tahun, Fahri. Lu minta gue nunggu lagi?"

"Gue tahu," potong Fahri tenang. "Tapi nunda sehari lagi gak bakal ngerugiin lu, kan? Lagian... ada satu hal penting yang harus lu tahu sebelum lu nemuin dia."

Pria itu terenyak. "Apaan?"

Fahri menarik napas panjang, menatap sahabatnya lekat-lekat. "Selama sembilan tahun ini... dia gak hidup sendirian."

Kalimat Fahri sukses membuat ekspresi pria itu berubah drastis. Sorot matanya yang semula dingin kini dipenuhi tanda tanya besar, mulai menyadari bahwa ada kenyataan tak terduga yang sedang menantinya di depan sana.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!