Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXV - Bisikan yang Menyebar
Kirana kembali ke kantor pada hari keempat, ia memutuskan bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi. Bersembunyi tidak akan mengubah apa pun selain memberi waktu lebih banyak bagi orang lain untuk menentukan nasibnya. Ia mengenakan blazer terbaiknya, merapikan rambutnya dengan teliti, dan kembali menggunakan topeng profesionalisme yang selama tiga hari terakhir ia biarkan runtuh.
Di dalam mobil, ia memikirkan percakapannya dengan Dimas semalam, ia memikirkan tentang tekad baru yang mulai tumbuh di dalam dirinya meski masih diliputi keraguan. Ia belum memberikan jawaban pasti pada rencana Dimas, tapi ia tahu ia tidak bisa terus menerus bersembunyi.
Begitu ia melangkah masuk ke lantai kantornya, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda di udara — tatapan-tatapan yang aneh, bisikan yang berhenti tiba-tiba ketika ia lewat, ekspresi canggung di wajah beberapa karyawan yang biasanya begitu ramah menyapanya.
TOK… TOK…
Suara Sepatu hak tingginya di lantai marmer lobi kantor terdengar lebih keras dari biasanya, seolah seluruh kantor menahan napas menunggunya lewat. Seseorang di meja resepsionis buru-buru menunduk ke layar komputer begitu matanya bertemu dengan mata Kirana.
Ia berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah tegas, mencoba untuk tetap terlihat percaya diri, meski kegelisahan merayap makin kuat di setiap langkahnya. Sesuatu jelas terjadi selama ia menghilang tiga hari terakhir.
Nadia sudah menunggu di depan ruang kerjanya, wajahnya tampak tegang, begitu berbeda dari kehangatan yang biasa ia tunjukkan.
"Ini orang di kantor pada kenapa?" Kirana bertanya begitu sampai, firasat buruk menyelimuti di dalam dadanya.
Nadia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat sebelum menjawab. "Ada rumor yang beredar di kalangan investor, Kir. Rumor soal stabilitas keuangan Cipta Prada Land, soal keputusan manajemen yang katanya sembrono, bahkan soal hubungan lu sama Radit yang katanya ngaruh ke objektivitas lu buat ngelola proyek gabungan."
"Sejak kapan rumor ini beredar?" Kirana bertanya, mencoba menata pikirannya yang masih kacau.
"Kayaknya udah mulai sejak dua hari lalu, mungkin bahkan sebelum itu," Nadia menjawab. "Gua baru sadar pagi ini pas salah satu klien lama kita telepon, nanya apa semuanya baik-baik aja di perusahaan."
Darah Kirana seketika mendidih. "Dari mana asal rumornya?"
"Gua belum tau pasti," Nadia menjawab, menyerahkan ponselnya yang menampilkan beberapa pesan dari kontak investor. "Tapi ini udah nyebar cukup luas, Kir. Beberapa investor bahkan udah mulai nanya apa mereka perlu mikirin ulang komitmen mereka."
Kirana membaca pesan-pesan itu satu per satu, jantungnya berdegup makin cepat dengan setiap kalimat yang ia baca. Detail dalam rumor itu begitu spesifik — angka keuangan yang seharusnya rahasia, detail rapat internal yang seharusnya tidak diketahui pihak luar, bahkan informasi tentang kehidupan pribadinya dengan Radit yang seharusnya cuma diketahui segelintir orang terdekat.
Satu pesan bahkan menyebutkan angka spesifik soal arus kas perusahaan yang seharusnya cuma diketahui dirinya dan tim keuangan perusahaan, angka yang tidak pernah dipublikasikan bahkan dalam laporan resmi ke investor. Kirana merasakan ngeri mulai naik di sepanjang tulang belakangnya. Siapa pun yang menyebarkan ini, pasti punya akses langsung ke data internal yang seharusnya tersegel rapat — entah lewat dokumen yang bocor, atau lewat seseorang yang duduk cukup dekat dengannya untuk mendengar percakapan yang tidak seharusnya ia dengar.
"Ini bukan sekadar gosip kantor," Kirana berkata pelan, tangannya sedikit gemetar memegang ponsel Nadia. "Siapa pun yang nyebarin ini pasti punya akses ke informasi sedetail ini. Ini pasti orang yang deket sama operasional internal kita, atau punya koneksi kuat di dalam Wibowo Group."
"Lu kepikiran, ga? Kalau yang nyebarin ini Valerie?" Nadia bertanya, menyuarakan kecurigaan yang sama sudah mulai terbentuk di kepala Kirana.
Kirana tidak langsung menjawab, mempertimbangkan kemungkinan itu dengan hati-hati. Valerie memang punya motif jelas — kecemburuan yang terlihat sejak rapat tim gabungan pertama, cara ia menyentuh lengan Radit di depan semua orang seperti anjing yang sedang menandai wilayahnya. Tapi bagaimana Valerie bisa dapat detail soal operasional internal Cipta Prada Land, yang seharusnya tidak mungkin untuk diakses pihak luar sepertinya?
"Siapa tahu, dia punya orang dalam di kantor kita?" Nadia menambahkan pelan.
Kirana merasakan sesuatu dingin merayap di tengkuknya mendengar kalimat itu. Kecurigaan itu masih sangat mentah, belum bisa ia simpulkan hanya dengan dasar kecemburuan Valerie terhadap dirinya.
"Gua nggak tau," Kirana akhirnya menjawab, "tapi siapa pun itu, mereka pasti tau banyak tentang detail internal Cipta Prada Land. Ini informasi yang spesifik, seolah mereka punya akses langsung ke sistem kita."
TING! TING!
Ponsel Nadia berbunyi dua kali berturut-turut di tangannya. Ia melihat notifikasi yang muncul di atas layar ponsel Nadia. Kini, wajahnya makin pucat. "Ada dua investor lagi yang nanya soal ini. Kir, ini nyebar cepet banget."
"Kita perlu klarifikasi ini ke setiap investor yang udah ngehubungin kita," Kirana berkata, suaranya mulai terdengar lebih kuat, meski hatinya masih bergejolak. "Dan kita perlu cari tau siapa yang bocorin informasi internal kita, secepat mungkin, sebelum kerusakan ini makin melebar."
Sepanjang hari itu, Kirana menelusuri sumber rumor tersebut, menghubungi beberapa investor yang selama ini paling ia percaya, mencoba mengklarifikasi kebenaran di balik desas-desus yang begitu cepat menyebar.
"Pak Herman, saya bisa jamin, nggak ada masalah keuangan apa pun di Cipta Prada Land," Kirana berkata di telepon pertamanya, suaranya dipaksa tetap tenang meski tangannya sudah mengepal kuat di bawah meja. "Laporan keuangan kita akan saya kirimkan kalau Bapak butuh verifikasi langsung."
"Saya percaya, Kirana," jawab investor di ujung telepon, nada suaranya terdengar ragu. "Tapi rumor ini menyebar cepat sekali. Saya cuma mau memastikan."
Ia menghabiskan berjam-jam di telepon, menjelaskan dengan tenang bahwa tidak ada masalah keuangan di Cipta Prada Land, bahwa hubungan pribadinya dengan Radit tidak akan pernah memengaruhi keputusan bisnis untuk proyek gabungan itu.
Sebagian besar investor bisa memahami, memilih untuk mempercayai reputasi yang telah Kirana bangun bertahun-tahun. Tapi ada satu nama yang tidak bisa ia hubungi sepanjang hari, meski sudah ia coba berkali-kali.
TRRT.
Di sela-sela telepon dengan investor keempat, ponsel Kirana bergetar sekali.
Dimas.
Gua denger soal rumor yang beredar. Lu nggak apa-apa, kan? Butuh bantuan?
Kirana menatap pesan itu sesaat, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan membuatnya ragu untuk membalas pesan dari Dimas itu.
Lagi ngurus ini, Dim. Nanti gua kabarin.
Ia mengirimnya lalu kembali fokus ke daftar telepon berikutnya, menepis rasa tidak nyaman yang entah dari mana datangnya.
Bapak Kusnadi, ketua dewan investor yang menjadi kunci kelangsungan proyek revitalisasi pesisir itu, tidak pernah membalas pesan atau panggilannya.
...****************...
TING.
Menjelang sore, sebuah email resmi masuk ke kotak masuk Kirana, dikirim langsung dari kantor Pak Kusnadi.
Ia membuka email itu dengan tangan sedikit gemetar. Tidak ada sapaan hangat seperti biasanya, tidak ada nada personal yang selalu ia terima dalam setiap email yang mereka kirimkan sebelumnya — cuma bahasa formal yang begitu dingin dan terasa begitu menjaga jarak.
Sehubungan dengan beberapa informasi yang kami terima terkait stabilitas manajemen Cipta Prada Land, dengan berat hati kami memutuskan untuk menarik dukungan finansial kami dari proyek revitalisasi kawasan pesisir untuk sementara waktu, sampai situasi ini menjadi lebih jelas.
Kirana menatap email itu lama, merasakan tanah yang selama ini ia pijak kembali terasa goyah — kali ini bukan karena luka masa lalu, melainkan serangan yang sedang mengincar segala yang telah ia bangun dengan susah payah.
"Nadia," Kirana berkata, suaranya bergetar antara kemarahan dan ketakutan, "kita punya masalah yang jauh lebih besar."
Ia meletakkan ponselnya di meja, menatap keluar jendela ruang kerjanya ke arah Jakarta yang mulai diselimuti senja, pikirannya berputar cepat menyusun langkah selanjutnya. Ini bukan lagi sekadar soal luka masa lalu atau kebingungan hatinya soal Radit — ini serangan langsung terhadap segala yang telah ia bangun lima tahun terakhir, dan ia tidak akan diam membiarkan itu hancur begitu saja.
"Sekarang gimana? Kita harus mulai dari mana?" Nadia bertanya, masih berdiri di depan mejanya, menunggu arahan.
"Besok pagi, kita telusuri siapa aja yang punya akses ke arus kas itu," Kirana berkata, tatapannya menyimpan kelelahan. "Tim keuangan, sekretariat proyek gabungan, siapa pun yang pernah liat laporan itu dalam sebulan terakhir. Kalau bocor dari dalam, gua mau tau siapa."
Nadia mengangguk, mencatat yang Kirana baru saja sampaikan di ponselnya. "Gua bakal minta IT cek log akses sistem juga."
Kirana menatap layar laptopnya yang masih menampilkan email dari Pak Kusnadi, merasakan kemarahan yang semakin membara di dalam tubuhnya. Siapa pun yang berada di balik ini — Valerie, atau siapa pun itu — harus dibuat menyesal karena telah meremehkan kerja kerasnya. Ia harus bisa melawan ketika semua yang ia bangun dipertaruhkan.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪