NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Harapan tinggal-lah harapan yang menguap begitu saja di udara pagi. Ketika Sarah sedang duduk bersama beberapa rekan guru lainnya di kursi kayu panjang dekat meja piket utama, matanya menangkap siluet kendaraan dinas yang mulai memasuki gerbang sekolah. Sesuai dengan pengumuman di grup kemarin sore, rombongan personel polisi yang akan memberikan penyuluhan hari ini akhirnya telah datang.

Satu per satu dari mereka turun dari mobil operasional dengan langkah tegap penuh wibawa. Namun, dari sekian banyaknya pria-pria berbadan tegap dan berseragam cokelat lengkap itu, ada satu sosok yang langsung menarik perhatian seluruh indra penglihatan Sarah. Sosok yang jalannya paling tegap, yang senyumnya paling lebar, dan sialnya, sosok itu adalah satu-satunya pria yang paling ingin Sarah hindari di muka bumi ini.

Ardhana berdiri di sana, membenarkan letak baretnya sekilas sebelum ikut berjalan bersama rombongan perwira lainnya menuju ke arah kantor utama.

“Yah… dia ikutan,” gumam Sarah sangat pelan dengan nada suara yang bergetar menahan jengkel. Tangannya yang semula memegang pulpen untuk merekap absensi siswa mendadak meremas kertas di atas meja.

Tini yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari meja piket sambil memperhatikan kedatangan para tamu, mendadak menajamkan pandangannya. Begitu menyadari siapa yang berjalan di barisan tengah, ia segera menghampiri Sarah dengan setengah berlari. Tanpa memperdulikan tatapan heran dari guru-guru lain, Tini langsung menyenggol bahu sang sahabat dengan sangat bersemangat.

“Sar! Sar, lihat deh ke arah lapangan! Yang itu bukannya polisi ganteng yang tempo hari anterin kita ke sekolah, ya? Pak Ardhana, kan?” tanya Tini berbisik heboh, matanya berbinar-binar penuh gosip.

“Hm…” jawab Sarah yang terdengar sangat ogah-ogahan. Ia membuang muka, berpura-pura sangat sibuk membaca lembar penilaian kelas sembilan yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala.

“Wiih… tebakanku pasti bener nih. Sepertinya dia sengaja ikutan agenda Polres ke sekolah ini, Sar. Ya ampun, bela-belain ikut sosialisasi biar bisa ketemu lagi sama kamu!” goda Tini tanpa henti. Siku lengannya terus-menerus menyenggol lengan Sarah, membuat goresan tinta pulpen Sarah menjadi mencong tidak beraturan.

Sarah merengut cemberut, menatap Tini dengan pandangan tajam yang mematikan. “Tin, bisa diam nggak? Ini lingkungan sekolah, kalau kedengaran guru lain atau anak-anak gimana? Malu-maluin tahu!”

“Ya biarin aja, lagian kan kalian berdua sama-sama jomblo. Apa salahnya? Lagian Pak Ardhana itu paket lengkap lho, Sar. Seragamnya gagah, mukanya manis, ramah lagi. Kurang apa coba?” Tini masih gencar meluncurkan aksi comblangnya, mengabaikan fakta bahwa wajah Sarah sudah berangsur-angsur memerah padam.

“Kamu nggak tahu apa-apa tentang dia, Tin. Jadi mendingan kamu kembali ke barisan kelas kamu deh, sana!” usir Sarah ketus.

Sebelum Tini sempat membalas ucapan Sarah, rombongan polisi itu sudah berjalan semakin dekat ke arah meja piket untuk mengisi buku tamu. Langkah Ardhana melambat saat matanya berhasil menemukan posisi Sarah. Alih-alih memasang wajah formal di depan kepala sekolah yang mendampingi mereka, pria itu justru melemparkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti, khusus ditujukan kepada sang wali kelas kelas sembilan itu.

Sarah yang menyadari tatapan itu langsung membuang muka ke arah lain, berpura-pura merapikan tumpukan buku absen dan kertas izin di sudut meja dengan gerakan kasar. Jantungnya kembali berdegup kencang, persis seperti getaran aneh yang ia rasakan di kamar kosnya semalam. Sialnya, benteng pertahanan yang sudah ia bangun susah payah seolah runtuh begitu saja hanya karena satu senyuman dari masa lalu.

“Selamat pagi, Ibu-Ibu guru,” sapa salah satu perwira polisi yang memimpin rombongan dengan ramah saat melewati meja piket.

“Selamat pagi, Pak,” jawab para guru serempak, termasuk Tini yang menjawab dengan nada yang paling ceria sembari melirik Ardhana.

Ardhana sendiri hanya mengangguk sopan kepada guru-guru lain, namun sepasang matanya tetap mengunci sosok Sarah yang masih sibuk menunduk. Pria itu menahan diri untuk tidak menyapa Sarah secara langsung demi menjaga profesionalitas di depan atasannya, namun dari cara berjalannya yang sengaja dibuat lebih lambat di depan meja piket, Sarah tahu bahwa hari ini tidak akan berjalan dengan mudah baginya.

Setelah rombongan polisi itu masuk ke dalam ruang kepala sekolah untuk transit sejenak, Tini kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah.

“Tuh, kan! Matanya nggak bisa bohong, Sar. Dari tadi ngeliatin kamu terus. Kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa ya sama dia sebelumnya? Kok auranya kayak orang yang lagi rindu berat?” selidik Tini, mulai mencium aroma-aroma mencurigakan dari sikap dingin sahabatnya.

Sarah menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dalam dadanya sebelum berdiri dari kursi piket.

“Nggak ada, Tini. Udah ah, mending kita langsung ke lapangan sekarang. Bel masuk udah bunyi, tuh. Anak-anak harus segera dibariskan sebelum acara sosialisasi dimulai.”

Sarah melangkah pergi meninggalkan Tini dengan terburu-buru, membawa papan klipnya menuju ke tengah lapangan upacara yang mulai dipadati oleh ratusan siswa. Ia menarik napas panjang lalu membuangnya kasar.

“Sepertinya takdir memang tidak pernah berpihak padaku,” pikirnya.

Matanya kembali beradu tatap dengan Ardhana yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Walau dari jauh, pria itu tetap melemparkan senyuman hangat yang dulu sempat membuat Sarah terlena.

“Susah payah aku melupakan kamu, Ar. Tapi kenapa sekarang kamu hadir kembali?”

...****************...

Jangan lupa tinggalin jejak kalian, ya 🥰🥰

1
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
Rian Moontero
kayaknya harus sering up kak,,minimal sekali sehari ato dua kali upnya,biar pembacanya ndak pindah rumah🤣🙏
mumu: wadaaaw kompak banget ini 😄😄 author usahain ya buat balik up setiap hari. tapi moon maaf, sekarang agak susah lagi drop 🤭🥺
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!