Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Pertemuan yang tak disangka.
Bel kecil di atas pintu berdenting pelan saat pintu kaca didorong dari luar.
Aroma mentega, kopi, dan vanila yang memenuhi ruangan seketika menyambut siapa pun yang masuk.
Suasana Sweet Cake cukup ramai menjelang makan siang. Hampir seluruh meja terisi pelanggan. Ada yang menikmati secangkir cappucino sambil mengetik di laptop, ada pula ibu-ibu yang mengobrol santai ditemani sepotong cheesecake.
Di balik etalase kaca, deretan cake berwarna-warni tersusun rapi. Strawberry shortcake dengan irisan buah segar, tiramisu yang ditaburi bubuk cokelat, mango cheesecake, red velvet, hingga croissant keemasan yang baru saja keluar dari oven.
"Selamat datang di Sweet Cake." Siska yang berdiri di dekat kasir langsung menyambut dengan senyum ramah. Namun, belum sempat menawarkan menu, langkahnya terhenti.
Pria yang baru masuk itu mengenakan setelan jas hitam dengan potongan sempurna. Posturnya tinggi, wajahnya tampan dengan rahang tegas, sementara sorot matanya begitu tajam hingga tanpa sengaja membuat siapa pun merasa segan menatap terlalu lama. Di belakangnya, seorang pria berkacamata membawa tablet dan beberapa map.
"Bu Viola ...," bisik Siska pelan. "Ada pelanggan."
Viola yang sedang menata beberapa kotak pesanan di belakang kasir mengangkat wajahnya. Awalnya ia hanya ingin memastikan apakah pelanggan baru itu sudah dilayani. Namun, detik berikutnya ....
Tangannya membeku, napasnya seolah tertahan. Han Seokjin. Nama itu langsung muncul di kepalanya. Sudah hampir satu tahun mereka tidak pernah bertemu. Terakhir kali keduanya masih sama-sama duduk di ruang rapat perusahaan dengan pakaian formal dan tumpukan dokumen di atas meja.
Kini, ia berdiri di balik meja kasir sebuah toko kue sederhana. Sementara pria itu masih tampak sama; dingin, tegas, dan sulit ditebak.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap. Tak ada yang bicara, seolah sama-sama sedang memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka bukan sekedar bayangan.
"Asisten Kim." Suara Seokjin akhirnya memecah keheningan. "Pilihkan sesuatu."
"Baik, Tuan." Pria berkacamata itu tampak jauh lebih bersemangat. Matanya berbinar melihat etalase yang dipenuhi berbagai jenis cake.
"Wah ...," ia mendekat hingga hampir menempelkan wajahnya ke kaca. "Semuanya kelihatan enak."
Ucapan polos itu membuat beberapa pelanggan terkekeh pelan.
Siska ikut tersenyum. "Kalau Bapak bingung memilih, kami punya beberapa menu favorit."
"Croissant butter, strawberry shortcake, dan tiramisu."
Asisten Kim mengangguk berkali-kali. "Kalau begitu saya mau semuanya."
"Maaf, maksudnya bagaimana, Pak?"
"Satu-satu," jawab Asisten Kim. Ia tertawa kecil. "Soalnya saya memang belum sarapan."
Sementara Siska sibuk mencatat pesanan, Seokjin masih berdiri beberapa langkah dari pintu. Tatapannya perlahan menyapu seluruh isi toko.
Ruangan itu tidak besar. Namun, terasa hangat. Dindingnya didominasi warna krem dengan sentuhan kayu yang memberi kesan nyaman. Rak-rak kecil dipenuhi tanaman hias. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, jatuh tepat di atas meja-meja kayu tempat pelanggan duduk bercengkrama. Tidak ada kemewahan berlebihan, tetapi ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa hidup.
Pandangannya kembali terhenti pada Viola. Wanita itu tidak banyak berubah. Rambut panjangnya kini diikat sederhana. Wajahnya tetap cantik, hanya saja riasannya jauh lebih tipis dibanding saat masih memimpin perusahaan.
Tak ada lagi jas mahal yang membalut tubuhnya atau sepatu hak tinggi yang dulu menjadi bagian dari penampilannya. Kini yang dikenakan hanyalah kemeja lengan panjang berwarna krem dengan celemek cokelat bertuliskan Sweet Cake.
Sederhana. Namun, entah mengapa ... senyum di wajah Viola justru terlihat jauh lebih tulus daripada yang pernah ia lihat dulu.
Sementara itu, Viola sendiri masih memandang pria di hadapannya.
Hampir satu tahun. Waktu yang cukup lama hingga membuat pertemuan ini terasa begitu asing. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa pelanggan yang baru saja membuka pintu tokonya adalah Han Seokjin. Pria yang dulu beberapa kali sempat duduk bersamanya dalam rapat CEO.
Pria yang dikenal; dingin, tegas, dan hampir tak pernah tersenyum.
Hening sesaat menyelimuti keduanya. Tak ada yang lebih dulu memecahkan keheningan. Hanya suara mesin kopi dan obrolan pelanggan yang memenuhi ruangan.
Viola menghembuskan napas pelan sebelum tersenyum tipis. "Sudah lama tidak bertemu." Nada suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak terasa canggung.
Seokjin mengangguk singkat. "Ya." Tatapannya masih belum beralih dari wajah Viola, bahkan kini ia melangkah mendekat.
"Selamat datang kembali," sapa Viola.
"Kau tahu aku kembali?" tanya Seokjin. Dahinya berkerut tipis.
Viola tersenyum kecil. "Nona Naraya baru saja melahirkan anak kembar. Berita itu cukup ramai diberitakan." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Karena beliau memilih fokus mendampingi keluarganya, kupikir hanya ada satu orang yang paling mungkin kembali mengambil alih kepemimpinan Dhanubrata Group."
Tatapan mereka kembali bertemu.
"Dan ternyata dugaanku benar," lanjut Viola.
Seokjin terdiam beberapa saat. Logika Viola memang sederhana. Namun, ia tak menyangka Viola masih mengikuti perkembangan dunia bisnis.
"Kau pemilik toko ini?" tanyanya singkat.
Viola mengangguk pelan. "Benar." Senyumnya mengembang, kali ini sedikit lebih hangat. "Baru beberapa bulan belakangan."
Seokjin kembali mengamati ruangan itu. Tatapannya beralih dari etalase berisi aneka cake, meja-meja yang dipenuhi pelanggan, hingga dapur terbuka tempat aroma mentega dan vanila terus menguar.
Sulit dipercaya. Wanita yang dulu ditemuinya di ruang rapat kini berdiri di balik kasir sebuah toko kue sederhana.
"Tuan." Suara Asisten Kim membuyarkan lamunan Seokjin.
"Pesanannya sudah siap."
Seokjin mengangguk tipis. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum melangkah pergi, langkahnya sempat terhenti.
Sekilas ia menoleh ke belakang. Viola sudah kembali melayani pelanggan lain dengan senyum yang sama hangatnya. Seolah pertemuan mereka barusan hanyalah bagian kecil dari hari yang sibuk.
Sudut bibir Seokjin bergerak nyaris tak terlihat. "Menarik," gumamnya pelan. Lalu ia melangkah keluar.
Sementara dari balik jendela kaca, Viola tanpa sengaja melihat mobil hitam itu perlahan meninggalkan halaman tokonya.
Entah mengapa, hatinya yang selama ini tenang mendadak terusik oleh sebuah firasat yang tak mampu ia jelaskan.
Ia belum tahu ... bahwa pertemuan singkat hari itu bukanlah sebuah kebetulan sederhana, melainkan awal dari perubahan besar yang akan menguji hidupnya, cintanya, bahkan tempat yang baru saja ia bangun dengan sepenuh hati.
**** Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor