Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Debu tipis menari-nari di bawah berkas cahaya lampu minyak yang temaram.
Kamar itu terletak di ujung koridor paling atas, pengap, sempit, dan lebih mirip gudang penyimpanan barang bekas ketimbang kamar seorang putri sulung.
Namun, di sinilah Mili menghabiskan hampir seluruh hidupnya.
Di ruang isolasi tak resmi yang diberikan oleh orang tua kandungnya sendiri.
Mili menatap pantulan dirinya di cermin retak yang menempel pada lemari tua.
Ia mengenakan gaun katun sederhana berwarna pudar, satu-satunya gaun yang paling layak ia miliki.
Di lantai bawah, tawa renyah Gea merajai dinding-dinding marmer, sementara kedua orang tua mereka, Ben dan Emilia, sibuk memuji betapa cantiknya putri bungsu mereka malam ini.
Bagi Ben dan Emilia, Gea adalah segalanya—permata, kebanggaan, dan satu-satunya anak yang diakui.
Sementara Mili? Mili hanyalah bayangan hitam. Anak kandung yang kehadirannya dianggap sebagai kutukan, si "anak sial" yang hanya membawa kemalangan sejak hari pertama ia menghirup udara di dunia.
Statusnya sebagai kakak kandung tak pernah dihargai; ia diperlakukan tak lebih baik dari pelayan tak dibayar.
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan di pintu kayu yang lapuk memecah keheningan.
Suara Bi Sumi, pelayan tua yang diam-diam sering menaruh iba padanya, terdengar ragu dari balik pintu.
"Nona Mili... Tuan Ben meminta Anda untuk segera turun ke ruang tamu utama."
Mili memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang dan berat seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer di dadanya.
Paru-parunya terasa sesak, bukan hanya karena debu kamar ini, tapi karena ia tahu persis apa yang menantinya di bawah sana.
Malam ini adalah malam penentuan. Malam di mana masa depannya akan dilempar ke meja taruhan.
"Iya, Bi. Aku segera turun," jawab Mili, suaranya terdengar datar namun teguh.
Ia merapikan lipatan gaun sederhananya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Malam ini, sahabat karib Ben, seorang pengusaha berpengaruh, datang membawa kedua putranya, Andrew dan David.
Sebuah perjodohan agung telah dirancang. Dan Mili tahu, dalam skenario yang ditulis oleh ayahnya, ia tidak akan pernah mendapatkan bagian yang indah.
Mili menegakkan bahunya, menatap tajam pantulannya di cermin untuk terakhir kali sebelum melangkah keluar dari sudut gelapnya, siap menghadapi badai yang telah disiapkan keluarganya di lantai bawah.
Ceklek.
Pintu kamar tua itu terbuka dengan derit pelan. Mili melangkah keluar, menyusuri koridor remang-remang sebelum akhirnya menuruni anak tangga megah menuju ruang tamu utama.
Lampu gantung kristal yang berkilauan di langit-langit seolah mengejek penampilannya.
Begitu kakinya menginjak lantai dasar, atmosfer ruangan mendadak berubah.
Puluhan pasang mata—kerabat dan kolega bisnis Ben yang hadir malam itu—langsung tertuju padanya.
Mili memiliki wajah yang teramat cantik; kulitnya seputih porselen dengan mata bulat yang memancarkan keteguhan yang sunyi.
Namun, kecantikan itu tenggelam di balik gaun pudarnya yang longgar dan usang.
Bisik-bisik miring mulai menjalar di antara para tamu.
"Lihat itu... apakah dia benar anak sulung keluarga ini?"
"Penampilannya bahkan lebih buruk dari pelayan baru."
"Benar-benar pembawa sial, memalukan nama keluarga saja."
Cibiran demi cibiran menusuk telinganya. Mili hanya bisa menundukkan kepala sedalam mungkin, meremas pinggiran gaunnya untuk menyembunyikan rasa malu dan sakit hati yang membakar dada.
Tepat pada saat itu, pintu gerbang utama terbuka lebar.
Suasana mendadak formal dan tegang saat langkah kaki yang berwibawa terdengar memasuki ruangan.
Hermawan Kartajaya—sahabat karib Ben sekaligus konglomerat terpandang—telah tiba.
Di belakangnya, berdiri tegak kedua putranya yang menjadi pusat perhatian: Andrew yang tampan dengan senyum menawan yang memikat, dan David yang berdiri tegak dalam balutan setelan hitam, berwajah dingin dan memancarkan aura misterius yang pekat.
Mili yang sempat mendongak, terpaku melihat
kehadiran kedua pria itu.
Namun, sebelum ia sempat mencerna keadaan, sebuah dorongan kasar menghantam bahunya dari samping.
Plak!
"Singkirkan tubuhmu yang bau debu itu, Kak! Jangan buat malu!" bisik Gea tajam, wajahnya yang penuh riasan tampak penuh kebencian.
Dengan egois, Gea sengaja mendorong tubuh Mili hingga terhuyung dan terdepak ke posisi paling belakang, tersembunyi di balik bayang-bayang tiang besar.
Gea kemudian maju paling depan, memamerkan senyum termanisnya yang dibuat-buat, bersanding langsung di dekat orang tua mereka.
Ben dan Emilia langsung memasang wajah penuh binar kebahagiaan.
Mereka maju dengan tangan terbuka, menyambut kedatangan Hermawan dan kedua putranya dengan kehangatan yang luar biasa—kehangatan yang tak pernah sekalipun mereka berikan kepada Mili seumur hidupnya.
"Ah, Hermawan! Selamat datang, sahabatku! Dan ini kedua putramu yang luar biasa itu?" suara Ben membahana, sementara Emilia sibuk menarik
Gea agar lebih dekat untuk dipamerkan. Di sudut ruangan yang gelap, Mili hanya bisa menatap nanar, menyadari bahwa di panggung sandiwara ini, ia hanyalah seorang figuran yang tak diinginkan.
Mereka semua akhirnya duduk di sofa mewah ruang tamu utama, dan acara formal malam itu pun resmi dimulai.
Atmosfer ruangan terasa begitu pekat oleh ambisi.
Ben berdeham, memasang senyum paling berwibawa di hadapan sang tamu agung.
"Hermawan, terima kasih banyak karena kau dan kedua putramu sudah menyempatkan hadir malam ini. Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, malam ini kita akan meresmikan perjodohan antara... Andrew dengan Mili, dan David dengan Gea."
"Papa, tunggu...!" potong sebuah suara dengan nada manja yang menuntut.
Suasana mendadak hening. Ben menoleh ke arah putri bungsunya, wajahnya langsung melunak.
"Ada apa, sayangnya Papa? Kenapa memotong ucapan Papa?"
Gea melirik Andrew yang tampak begitu tampan, menawan, dan memancarkan pesona kaya raya, lalu beralih menatap David yang duduk tegak dengan wajah sedingin es tanpa ekspresi. Gea bergidik ngeri.
"Aku mau tukar jodoh, Pa! Aku tidak mau dijodohkan dengan David. Dia menyeramkan!
Aku mau dengan Andrew!" ucap Gea tanpa tahu malu, egois seperti biasanya.
Mendengar itu, Emilia yang duduk di sebelah Mili langsung bertindak.
Tanpa belas kasihan, tangannya bergerak cepat di bawah meja, mencubit lengan Mili dengan sangat keras hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit putrinya sendiri.
Mili terkesiap, menahan perih yang teramat sangat.
Melalui tatapan matanya, Emilia mengancam agar Mili mengalah dan mau bertukar jodoh demi kebahagiaan Gea.
Di seberang meja, Hermawan Kartajaya menghela napas berat.
Ia menoleh, menatap kedua putranya bergantian untuk meminta pendapat mereka atas kelakuan egois keluarga Ben.
"Aku tidak peduli siapa pun yang akan menjadi istriku," ucap David tiba-tiba. Suaranya berat, datar, dan sedingin kutub utara.
Bagi David, pernikahan ini tak lebih dari sekadar kewajiban.
Sementara itu, Andrew melirik Gea yang berpenampilan glamor dan cantik, lalu beralih menatap Mili yang tertunduk lesu dengan gaun yang sudah usang.
Sambil menganggukkan kepala, Andrew tersenyum tipis.
"Aku juga tidak keberatan, Om. Aku lebih memilih Gea daripada Mili."
Ben tersenyum lega, merasa rencananya berjalan mulus.
"Baiklah kalau begitu. Perubahan disetujui. Untuk acara pernikahannya, akan diadakan—"
"Lebih baik sekarang," potong David lagi.
Secara mengejutkan, pria misterius itu berdiri dari duduknya.
Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa berbunyi tegas di atas lantai marmer.
Di bawah tatapan bingung semua orang, David berjalan lurus, melewati Gea, dan berhenti tepat di depan Mili yang masih terduduk di sudut paling ujung.
David mengulurkan tangan kanannya yang kokoh.
"Ayo kita menikah sekarang," ajak David, langsung pada intinya.
Mili mendongak, matanya membelalak tidak percaya.
Jantungnya berdegup kencang dibakar rasa terkejut.
"S-sekarang?" bisiknya terbata-bata.
"Iya, sekarang. Atau, kamu masih ragu?" tanya David, menatap lurus ke dalam manik mata Mili dengan tatapan tajam yang seolah bisa membaca seluruh luka di jiwa gadis itu.
Mili menelan salivanya saat mendengar perkataan dari David.
Menikah dengan pria asing yang dingin ini sekarang juga, atau tetap tinggal di rumah ini dan terus menjadi keset kaki keluarganya? Mili tidak butuh waktu lama untuk memilih.
Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mantap. Ia tidak ragu.
Melihat tindakan impulsif putranya, Hermawan sedikit emosi. Rahangnya mengeras.
"David! Apa-apaan kamu? Jangan membuat keputusan sendiri!" Teguran itu sama sekali tidak diindahkan oleh David. Pria itu tetap bergeming di depan Mili.
Di sudut lain, Gea yang melihat pemandangan itu justru tertawa kecil tanpa suara. Wajahnya dipenuhi riak kepuasan yang keji.
Mampus kamu, Kak. Rasakan menikah dengan pria aneh dan dingin itu sekarang juga. Biar kamu menderita seumur hidup! batin Gea kegirangan.
Namun, tawa Gea langsung lenyap seketika. David melirik tajam ke arah Gea.
Kilatan di mata pria itu begitu dingin dan mengintimidasi, membuat nyali Gea ciut dalam sekejap hingga gadis itu langsung menundukkan kepalanya, tidak berani berkutik.
Tepat pada saat ketegangan memuncak, pintu depan kembali terbuka.
Seorang pria paruh baya berpakaian rapi melangkah masuk.
Penghulu yang rupanya memang sudah dipesan oleh Ben untuk berjaga-jaga jika kesepakatan tercapai, baru saja datang.
Melihat situasi yang kacau namun mendesak, sang penghulu langsung mengambil posisi duduk di meja utama yang telah disiapkan.
Pria itu mengeluarkan berkasnya, lalu dengan suara lantang memanggil nama pria yang memegang kendali malam ini.
"Tuan David, silakan duduk di sini. Kita mulai prosesinya."