Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Haiii gengssss....
Selamat datang di cerita pertama aku di noveltoon. Kali pertama aku menulis di aplikasi ini dan kesan pertama yang aku dapat bentar luar biasa.
Semoga kalian siap untuk menemani perjalanan cerita Aurelia dan Nathaniel sampai tamat🔥
Jangan lupa dukung cerita aku dengan menekan tombol like dan komen.
Babay❤️
...****************...
Gemerlap lampu kota memantul di dinding-dinding kaca Evandra capital yang menjulang tinggi di kawasan pusat bisnis. Di lantai empat puluh dua, ruang rapat utama masih dipenuhi suara lembaran laporan yang dibalik dan dentingan halus cangkir kopi. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 21.15.
Jam kerja seharusnya berakhir tiga jam lalu. Tapi tidak untuk Aurelia Evandra—wanita yang terkenal gigih dan ulet. Diantara puluhan proposal yang memenuhi mejanya, hanya satu berkas yang berhasil menarik perhatian Aurelia.
Alister Property Group
Mata Aurelia menyipit tajam. Bibirnya terangkat tipis setelah membacanya, ia tahu besar sebuah keuntungan yang akan ia dapat ketika mendapatkan tawaran itu. Sebuah perusahaan properti yang membangun hotel bintang lima, villa terkenal, dan beberapa bangunan yang memang diperlukan untuk investasi besar-besaran.
"Siapa yang mengirimkan proposal ini?" Mata Aurelia menatap pada seorang wanita yang sedang duduk dihadapannya.
Wanita yang sedang sibuk dengan laptopnya itu langsung menatap Aurelia dengan sopan. "Dari sekretaris perusahaannya, nona. Dia di utus langsung oleh atasannya." Tutur Tyana, yang bertugas sebagai asisten pribadi Aurelia.
Aurelia terlihat menimang sesuatu.
"Nathaniel Alister?" Ia baru saja mengingat nama CEO dari perusahaan properti itu.
Tyana mengangguk kecil, "benar, nona." Bibirnya tersenyum tipis. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu masih mengabdi di perusahaan milik Aurelia tanpa seorang suami. Ya, ia masih melajang di usianya yang sudah matang. Ketika teman-temannya sudah sibuk mengasuh anak-anak mereka, Tyana masih sibuk mengurusi Aurelia. Wanita itu bukan hanya bekerja sebagai asisten pribadi di kantor. Ia juga bekerja di rumah dan akan mengikuti Aurelia kemanapun pergi, kecuali Aurelia tidak mengijinkan karena ada sesuatu.
"Aku sudah mempelajari proposalnya..." Kaki Aurelia terlipat, tangannya masih sibuk membuka setiap lembaran proposal itu. Ia baru saja membacanya dengan teliti.
"Dan aku, tertarik." Aurelia tersenyum tipis. Ia menyelipkan rambutnya kebelakang telinga. Tangannya kemudian menutup proposal itu.
"Baik. Saya tidak akan meragukan keputusan, nona. Dan ini sudah waktunya anda pulang untuk beristirahat." Tyana menggeser proposal itu kearahnya. Ia juga nenutup laptop miliknya. Tubuhnya beranjak berdiri, tangannya mulai sibuk membereskan meja kerja.
Aurelia yang melihat itu hanya memutar bola mata. Sebenarnya, ia masih sangat bersemangat bekerja. Tapi, Tyana selalu saja menganggu Aurelia. Menghentikan pekerjaannya, mengingatkan setiap waktu pulang, istirahat, makan, dan rapat. Wanita itu tidak bisa di kompromi, sangat tepat waktu, dan disiplin.
"Aku malas pulang." Aurelia tidak mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh. Ia hanya berniat menggoda Tyana.
"Kalau anda malas pulang, tidak masalah nona. Anda bisa makan, mandi, atau bahkan memindahkan barang-barang milik anda ke kantor ini." Tangan Tyana masih bergerak merapihkan beberapa proposal dan laptop milik Aurelia.
Aurelia yang mendengar itu melipat bibir kedalam, ia berusaha menahan tawa melihat raut Tyana yang amat serius. Mirip sekali seorang kakak yang mengomeli adiknya.
"Mau saya suruh Leon untuk mengambil semua barang anda ke kantor, nona?"
Aurelia tersenyum lebar. Wanita itu kemudian tertawa pelan. "Aku hanya bercanda, Tyana. Kamu ini serius sekali." Tubuhnya beranjak berdiri. Tangannya bergerak mengambil ponsel dan memasukkannya kedalam tas. Aurelia menenteng tas seharga mobil itu di lengannya.
Tyana yang sudah selesai membereskan meja, mengikuti langkah Aurelia dari belakang. Sebelum ia meninggalkan ruangan. Ia akan menelepon seseorang untuk membereskan ruangan kerja Aurelia.
Kaki Aurelia melangkah cepat menuju lift. Sebelum berhenti, Tyana sudah lebih dulu berada di depannya lalu menekan tombol lift, mereka akan turun menuju lobby.
Aurelia membenarkan rambutnya yang agak berantakan setelah seharian bekerja. Ia menghela napas beberapa kali, lalu melirik jam tangannya sekilas.
"Adakan rapat dalam waktu dekat, Tya."
"Baik, nona." Tyana mengangguk cepat. Kemudian tangannya yang memegang tas laptop bergerak cepat menerima uluran tas dari Aurelia.
Aurelia menghembuskan napas panjang. Kemudian melangkahkan kaki setelah pintu lift terbuka. "Buatkan proposal kepada perusahaan itu besok pagi." Tubuh tingginya berjalan anggun. Terlihat bak seorang model yang sedang berjalan. Tangan itu mengayun sempurna, ketukan heels terdengar mengalun dengan sempurna.
"Baik."
Mereka memasuki mobil. Malam ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Bukan hanya untuk Aurelia, melainkan untuk setiap orang yang sedang bertarung dengan dunia. Mempertahankan harga diri untuk menciptakan sebuah kehidupan yang bahagia.
Tapi rasanya.... Bahagia bukan hanya tentang uang. Bahagia yang sebenarnya adalah kedamaian, sebuah rasa lega, dan senyuman yang hadir tanpa sebuah beban.
Sedangkan beban Aurelia tidaklah mudah. Ia memikul tanggung jawab sebagai pewaris tunggal, mempertahankan martabat, dan harus berusaha hidup tanpa ada kesalahan.
Aurelia Evandra. Wanita berusia 24 tahun yang hidup sebagai pewaris tunggal dari Giovani Evandra. Seorang pebisnis dari Investment Director. Sebuah perusahaan besar dengan nama Evandra Capital.
Setelah kurang dari satu jam dalam perjalanan. Mobil terparkir dihalaman sebuah mansion. Aurelia turun dari mobil setelah Leon—supir pribadinya, membukakan pintu.
Tubuhnya berdiri, matanya menatap mansion milik keluarganya yang terlihat megah, bangunan itu menjulang dengan beberapa tiang besar. Nuansa glamor lebih mendominasi, dengan lantai yang terbuat dari calacatta Gold Marble, dengan dinding dari panel marmer.
Bibirnya tersenyum tipis. Aurelia menatapnya dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan kepada siapapun. Mansion itu megah,terlihat hangat oleh orang-orang sekitar. Tapi, tidak ada yang tahu, bahwa setiap kaki Aurelia menginjak bahkan hanya dihalaman. Perasaan sesak selalu menyelimuti. Ada perasaan berat dengan hati yang tidak pernah tenang.
Jika orang lain melihat Aurelia adalah wanita paling bahagia, atau menganggap Aurelia adalah wanita paling beruntung. Maka, Aurelia hanya akan membalas dengan senyuman. Ia tidak akan menjelaskan isi rumahnya kepada orang lain. Tekanan itu akan selalu menjadi tanggung jawab besar untuk Aurelia.
"Nona," Tyana menyadarkan Aurelia, kakinya tak bergerak setelah beberapa saat mereka keluar dari mobil. Lalu Aurelia melirik Tyana dan memberikan senyum tipis.
"Maaf Tyana. Aku terlalu mengagumi rumah itu." Aurelia melangkahkan kakinya dengan perlahan.
Pintu utama dengan panjang tiga meter itu terbuka lebar. Beberapa pelayan dan pengawal menyambutnya, mereka tersenyum dengan kepala yang menunduk rendah. Aurelia terus melangkah. Sampai suara dari sang Papa menghentikannya.
"Saya ingin bicara." Giovani Evandra, pria berusia 52 tahun itu terlihat sedang duduk di sofa dengan kaca mata yang bertengger di hidung.
Aurelia membalikkan badan. Menatap Giovani dengan tatapan datar, tubuhnya cukup lelah, tapi menolak permintaan Giovani bukan sebuah keputusan tepat.
Lalu ia tersenyum tipis. Kakinya melangkah menuju sofa.
"Kamu bisa pergi, Tyana." Aurelia berkata dengan nada serius. Tyana mengangguk cepat, kemudian membungkukkan badannya ke arah Giovani sebelum ia meninggalkan ruangan.
Giovani menghentikan langkahnya tepat di depan Aurelia. Tatapan mereka saling bertemu.
Ruangan mendadak sunyi.
Jam antik di sudut ruangan terdengar berdetak pelan.Tak ada satu pelayan pun yang berani mengangkat kepala.
"Saya sudah bilang apa?"
Suara Giovanni sangat pelan.
Justru karena terlalu pelan...
Aurelia tahu amarah papanya sedang berada di puncaknya.
Plak!
Wajah Aurelia tertoleh ke samping. Tangannya mencengkram erat celana yang ia pakai. Deru napasnya berubah seketika, terlihat memburu dengan pipi yang mulai terasa kebas.
"Kamu tahu kesalahan kamu?" Suara itu tidak tinggi. Tapi terdengar rendah dengan atmosfer yang menegangkan.
Aurelia tidak meraba pipinya. Ia masih mempertahankan posisi dengan wajah yang kembali menatap Papanya, rautnya masih terlihat datar, namun penuh keberanian.
Aurelia memejamkan mata sesaat dan membukanya. "Aku pergi malam." Ia terlihat menghembuskan nafas panjang.
Papanya tersenyum miring. Rautnya terlihat gelisah, tangannya meraup wajahnya kasar.
plak!
Tamparan itu kembali mendarat. Bukan sebagai peringatan, melainkan tindakan yang ingin menghancurkan mental anaknya.
Aurelia tersungkur ke sofa. Wanita itu meraba pipinya. Tamparan kedua itu berhasil membuatnya mengeluarkan air mata tanpa diminta. Rasanya, begitu panas dan perih. Ia menatap vas bunga berukuran besar disamping sofa. Pantulan wajahnya yang terlihat mengenaskan, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Bangga kamu?" Papanya kembali bersuara.
Aurelia menggeleng pelan. Ia menghapus air matanya kasar sebelum wajahnya kembali menatap sang Papa. Matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca.
"Aku hanya duduk disana. Gak minum." Ujarnya dengan suara parau.
"Kamu membawa nama Evandra."
"Setiap langkahmu menentukan harga diri keluarga ini."
"Apa kau ingin seluruh kota mengenal putriku sebagai perempuan yang keluar masuk club?"
Kaki Papanya menendang meja kaca hingga pecahan kaca berhamburan ke lantai.
Aurelia membeku. Gadis itu cukup terkejut. Tangannya bahkan sudah dingin dan bergetar.
"Kalau saja orang saya tidak mengikuti kamu..." Jari telunjuk Papanya melayang tepat dihadapan wajah Aurelia. Tubuhnya berjongkok dan mengeluarkan umpatan kasar untuk putrinya sendiri.
"Berita kamu pasti sudah menyebar, dan menjadi aib keluarga." Giovani menegakkan tubuhnya kembali. Ia masih terlihat berusaha menahan amarah yang setengahnya sudah meledak baru saja.
Aurelia berusaha bangkit berdiri. Dengan raut wajah yang tegang, ia tidak akan tahu bahwa berita dirinya pergi ke club akan sampai ke Papanya. Padahal, ia sudah berusaha hati-hati.
Giovani mengambil sebuah amplop cokelat dari atas meja. Lalu melemparkannya tepat ke hadapan Aurelia.
Bruk!
Amplop itu terbuka. Sebuah foto keluar dari dalam. Foto Aurelia...Sedang memasuki sebuah club.
Di belakangnya... Berdiri seorang pria tinggi mengenakan jas hitam. Wajah pria itu tidak terlihat jelas.
Namun...
Nama perusahaan pada proposal yang tadi dibaca Aurelia kembali terlintas di benaknya.
Alister Property Group.
Tanpa Aurelia sadari... Pertemuannya dengan pria itu hanya tinggal menunggu waktu.