NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Deru mesin motor melaju menembus dinginnya angin sore yang mulai turun di sepanjang jalan utama kota. Di balik helm teropongnya, pandangan Devan menatap lurus ke aspal, namun fokus pikirannya tertinggal jauh di belokan gang sempit tadi.

Sikap Alya terus berputar di benaknya seperti pita kaset yang diputar berulang kali. Devan mengernyit heran. Senyuman tipis dan nada bicaranya yang penuh kelembutan saat menyambut ibunya di depan pintu kayu itu... sungguh sangat berbeda dengan benteng es yang biasa gadis itu tampilkan di sekolah. Di sekolah, Alya adalah sosok yang tak tersentuh, dingin, dan acuh tak acuh terhadap apa pun di sekitarnya. Namun di rumah, Devan melihat sisi lain yang begitu hangat, rapuh, sekaligus sarat akan beban berat yang dipikul sendiri.

'Kenapa dia melamun pas mau menyeberang tadi?' batin Devan bertanya-tanya. 'Muka pucatnya, mata redupnya... ada sesuatu yang bener-bener mengganggu pikirannya.'

Rasa penasaran itu terus menggerogoti Devan sepanjang perjalanan. Laki-laki itu terbiasa melihat orang-orang di sekitarnya menyembunyikan masalah di balik barang-barang mewah atau kepura-puraan sosial. Namun Alya tidak berpura-pura. Gadis itu murni berjuang, dan hal itu menimbulkan desakan aneh di dada Devan—sebuah keinginan kuat untuk mencari tahu dan membantu, meski ia tahu Alya adalah tipe orang yang akan menolak mentah-mentah bantuan dari orang asing, apalagi dari cowok seperti dirinya.

Tak terasa, motor matik kustom yang dikendarainya berbelok memasuki kawasan perumahan paling eksklusif di pusat kota. Gerbang besi menempa setinggi tiga meter terbuka secara otomatis begitu sensor mengenali kendaraan. Devan melintasi pekarangan hijau yang luas berhias air mancur bertingkat, lalu memarkirkan motornya di garasi luas yang berjejer mobil-mobil mewah milik keluarganya.

"Selamat sore, Mas Devan," sapa beberapa asisten rumah tangga yang berbaris sopan di area foyer utama.

Devan menghentikan langkahnya sejenak, mengulas senyum tipis yang hangat lalu mengangguk sopan pada mereka. "Sore, Mbak, Pak. Bapak sama Ibu belum pulang?"

"Belum, Mas. Pak Narendra masih ada rapat direksi di luar kota, kalau Ibu sedang menghadiri acara amal sampai malam nanti," jawab Pak Maman, kepala rumah tangga di sana.

"Oke, Pak. Makasih ya," sahut Devan ramah sebelum melangkah menaiki tangga melingkar bertatahkan marmer impor menuju lantai dua.

Meski terlahir sebagai putra tunggal dari pemilik Narendra Corp—konglomerat yang menguasai berbagai sektor bisnis di negeri ini—Devan bukanlah sosok yang congkak. Orang tuanya memang sibuk, namun mereka selalu menanamkan nilai-nilai dasar agar Devan tidak pernah memandang rendah orang lain hanya karena perbedaan kasta atau harta. Sikap rendah hati dan apa adanya itulah yang membuat Devan sangat dihormati, tidak hanya oleh gengnya, tetapi juga oleh para pekerja di rumahnya. Ia tak pernah memanfaatkan kekayaannya untuk menindas yang lemah.

*Klek.*

Devan membuka pintu kamar utamanya di ujung koridor lantai dua. Ia langsung melangkah masuk dan melempar kunci motor serta ponselnya ke atas meja belajar yang tertata rapi.

Kamar Devan terbilang sangat luas untuk ukuran satu orang. Dengan desain interior modern minimalis bernuansa abu-abu dan kayu hangat, kamar tersebut dilengkapi dengan *walk-in closet*, kamar mandi dalam berfasilitas *jacuzzi*, area bersantai lengkap dengan televisi LED berukuran besar, serta balkon pribadi yang menghadap langsung ke pemandangan kolam renang di bawah.

Devan melepas jaket hitam dan mengendurkan dasinya, lalu merebahkan tubuh tingginya secara asal di atas kasur berukuran *king size* yang empuk dan harum. Ia menyandarkan kepalanya di atas bantal, lalu menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya yang dihiasi pencahayaan *warm white* yang elegan.

Keheningan melingkupi ruangan raksasa itu. Dan di dalam keheningan itulah, ingatan Devan kembali melayang pada rumah kayu berdinding papan di ujung gang sempit tadi.

Seketika, Devan tertegun.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya. Kamar tidur pribadinya ini... Devan menyadari kenyataan yang cukup menamparnya. Ukuran kamar tidurnya ini bahkan jauh lebih luas daripada keseluruhan bangunan rumah sederhana yang ditempati Alya beserta keluarganya. Satu sudut ruangan ini saja mungkin sudah setara dengan luas ruang tamu dan teras Alya jika digabungkan.

Helaan napas panjang keluar dari dada Devan. Perasaan syukurnya mendadak membuncah, namun berpadu dengan rasa empati yang mendalam. Selama ini, Devan menganggap fasilitas mewah dan kamar luas ini adalah hal yang biasa—sesuatu yang hadir begitu saja sejak ia lahir. Ia tak pernah benar-benar memikirkan betapa beruntungnya ia bisa tidur di atas kasur empuk tanpa perlu mengkhawatirkan atap yang bocor, tagihan listrik, atau bagaimana cara mencari makan untuk esok hari.

Sementara di luar sana, Alya harus belajar di bawah remang lampu dalam ruangan sempit, berjuang mati-matian mempertahankan nilai akademisnya demi sebuah beasiswa, agar tetap bisa bersekolah dan mengubah nasib keluarganya.

'Gua seberuntung ini...' batin Devan seraya meremas kain sprei tempat tidurnya. 'Sedangkan dia... harus memikul beban sesulit itu di usianya yang masih sejajar sama gua.'

Devan memiringkan tubuhnya, meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ia membuka galeri, menatap kembali foto patokan gang tempat tinggal Alya yang sempat ia ambil tadi sore. Tatapannya menajam, dipenuhi tekad yang makin bulat.

Devan tahu persis bahwa Alya bukan tipe gadis yang suka dikasihani. Jika ia datang secara terang-terangan memberikan amplop berisi uang, Alya pasti akan merasa tersinggung dan menganggapnya sebagai bentuk penghinaan kasta. Devan tidak ingin merusak harga diri gadis itu.

"Gua harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia di sekolah tadi," gumam Devan pelan pada ceiling kamarnya yang sunyi. "Gua gak bisa cuma diam aja setelah tahu keadaan lo kayak gini, Al."

Devan menggenggam ponselnya erat-erat, otaknya mulai berputar merencanakan langkah selanjutnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup Devan Narendra, fasilitas dan pengaruh yang ia miliki tidak lagi ingin ia gunakan hanya untuk kesenangannya sendiri, melainkan untuk menjadi pelindung bagi seorang gadis yang telah mencuri seluruh perhatiannya.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!