NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suara dentuman musik elektronik masih terdengar memekakkan telinga saat Sony keluar dari lorong gelap itu.

Ceklek.

Pintu baja di belakangnya tertutup rapat menyembunyikan semua kekacauan di ruang bawah tanah.

Sony berjalan santai sambil merapikan letak kerah jas birunya yang sedikit miring.

Dia kembali ke area lantai dansa yang masih dipenuhi oleh lautan manusia yang sedang mabuk.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa penguasa klub ini baru saja dihancurkan.

Sony mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Nadhira di meja bar VIP.

Wanita itu masih duduk di sana sambil menyesap sampanye dari gelas kacanya dengan tenang.

Sony melangkah mendekati Nadhira dan langsung duduk di kursi kosong di sebelahnya.

"Kau lama sekali di kamar kecil, Sony."

"Aku hampir saja mati kebosanan melihat orang-orang mabuk ini menari tidak karuan."

Nadhira mengeluh dengan nada manja namun matanya menatap tajam penuh arti ke arah Sony.

"Ada sedikit masalah saluran air di bawah sana yang harus aku bereskan."

Sony menjawab santai sambil menuangkan sisa sampanye ke dalam gelas kosongnya.

Sruput.

Dia meminum cairan keemasan itu dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Tepat pada saat itu, suara pengeras suara klub mendadak mati.

Musik elektronik yang berisik berhenti seketika digantikan oleh suara sirine polisi yang nyaring.

Ninu ninu ninu.

Lampu neon warna-warni langsung dimatikan dan diganti dengan lampu sorot putih benderang.

Puluhan anggota kepolisian bersenjata lengkap merangsek masuk dari pintu utama.

"Semua orang tiarap di lantai sekarang juga."

"Ini adalah penggerebekan resmi dari kepolisian pusat."

Suara teriakan petugas polisi menggema melalui pelantang suara portabel.

Kepanikan luar biasa langsung melanda seluruh pengunjung Klub Malam Obsidian.

Jeritan ketakutan terdengar dari para wanita bergaun seksi dan pria-pria hidung belang.

Brak.

Beberapa meja marmer terguling karena orang-orang berebut lari mencari jalan keluar.

"Kau benar-benar memanggil mereka di waktu yang sangat pas, Nadhira."

Sony berbisik pelan melihat para polisi mulai memborgol beberapa pengunjung yang melawan.

"Tentu saja, aku menggunakan koneksi pemimpin redaksiku untuk melaporkan adanya transaksi narkoba besar di sini."

"Polisi pusat tidak akan pernah mengabaikan laporan yang melibatkan club sebesar Obsidian."

Nadhira membalas bisikan Sony dengan senyum bangga di wajahnya.

"Ayo kita keluar dari sini sebelum mereka memeriksa identitas kita berdua."

Sony meletakkan gelasnya dan berdiri lalu meraih tangan Nadhira.

Mereka berdua berjalan santai menuju pintu keluar darurat di sudut ruangan yang tidak dijaga.

Tidak ada polisi yang menghalangi mereka karena semua petugas sedang sibuk mengamankan area tengah.

Klek.

Sony membuka pintu darurat itu dan membawa Nadhira keluar menuju gang gelap di samping club.

Mobil limousin hitam milik Leo sudah menunggu dengan mesin menyala di ujung gang tersebut.

Brummm.

Sony dan Nadhira langsung masuk ke dalam kursi penumpang di bagian belakang.

"Jalan sekarang, Leo."

Sony memberikan perintah singkat saat pintu limusin tertutup rapat.

Mobil panjang itu langsung melaju membelah rintik hujan malam meninggalkan area club yang kacau.

Nadhira menyandarkan punggungnya ke kursi kulit dengan napas yang sedikit memburu.

"Jadi, apa yang kau temukan di ruang bawah tanah itu, Sony?"

"Apakah kau berhasil menangkap pemimpin cabang mereka hidup-hidup?"

Nadhira menatap Sony dengan penuh rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan.

Sony melonggarkan dasinya sedikit agar bisa bernafas lebih lega.

"Viktor dan seluruh anak buah elitnya sudah aku lumpuhkan sepenuhnya."

"Polisi pasti akan menemukan mereka terikat di bawah sana beserta semua barang bukti ilegalnya."

Sony menjawab dengan nada datar yang sangat tenang.

Nadhira membelalakkan matanya lebar-lebar mendengar hal itu.

"Kau menghajar mereka semua sendirian dalam waktu kurang dari setengah jam?"

"Kau ini manusia atau monster, Sony?"

Nadhira menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

Sony hanya tersenyum tipis merespons kekaguman jurnalis wanita itu.

"Itu bukan bagian yang penting dari malam ini, Nadhira."

"Yang paling penting adalah aku sudah mendapatkan nama dari pembuat racun itu."

Sony menatap lurus ke arah Nadhira dengan pandangan yang tiba-tiba menjadi sangat serius.

Nadhira langsung memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.

"Siapa namanya?"

"Apakah dia orang dari kota ini juga?"

Nadhira mengeluarkan ponselnya bersiap untuk mencatat informasi baru tersebut.

"Mereka menyebutnya dengan julukan Sang Racun."

"Dia adalah ahli kimia utama yang berada di markas pusat Sindikat Bayangan."

Sony menyebutkan nama julukan itu dengan nada suara yang sangat dingin.

"Sang Racun?"

Nadhira mengulangi nama itu sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.

"Itu terdengar seperti nama karakter jahat di dalam buku komik anak-anak."

Nadhira memberikan komentarnya dengan sedikit keraguan.

"Mungkin terdengar konyol, tapi racun buatannya berhasil membunuh ayahku tanpa meninggalkan jejak medis sama sekali."

"Orang ini bukan penjahat sembarangan yang bisa kita jebak dengan laporan polisi biasa."

Sony menatap keluar jendela mobil melihat lampu-lampu kota yang berlalu cepat.

"Markas pusat mereka ada di mana, Tuan Sony?"

Leo tiba-tiba bersuara dari kursi kemudi di depan sana.

"Mereka beroperasi dari wilayah ibu kota lama, di distrik pusat."

"Kita harus bersiap untuk pindah ke sana secepat mungkin."

Sony memberikan instruksi selanjutnya kepada asisten setianya itu.

"Baik, Tuan."

"Saya akan segera menyiapkan tempat tinggal dan memindahkan aset kita ke distrik pusat besok pagi."

Leo langsung menyetujui perintah itu tanpa banyak bertanya lagi.

Nadhira mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu sambil berpikir keras.

"Kalau kita berhadapan dengan markas pusat, mereka pasti punya pertahanan berlapis."

"Kita tidak bisa asal masuk dan memukuli orang seperti yang kau lakukan malam ini, Sony."

Nadhira memberikan peringatan yang sangat masuk akal.

"Aku tahu itu, Nadhira."

"Oleh karena itu, aku butuh bantuanmu untuk mencari tahu segala rumor tentang Sang Racun ini."

Sony menoleh kembali ke arah Nadhira.

"Gunakan semua jaringan jurnalismu, periksa forum web gelap, cari berita kematian misterius dalam sepuluh tahun terakhir."

"Pasti ada jejak rekam medis aneh yang sengaja ditutupi oleh organisasi mereka."

Nadhira menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.

"Kau menyerahkan tugas ini pada orang yang paling tepat, Sony."

"Aku akan mulai menggali informasinya malam ini juga saat kita sampai di hotel."

Nadhira tersenyum lebar merasa sangat bersemangat dengan tantangan baru ini.

Keesokan paginya, matahari bersinar sangat terik menembus jendela kamar presidensial.

Sony sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membaca beberapa dokumen keuangan perusahaannya.

Tok tok tok.

Pintu ruang tengah diketuk dan Leo berjalan masuk membawa nampan berisi sarapan pagi.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!