"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
BAB 9
Pintu ruangan terbuka lebar. Mama Anggun melangkah masuk duluan dengan senyum lebar, diikuti Cindy yang berjalan pelan menunduk malu. Galuh langsung mundur selangkah, menunduk sopan.
"Mama!?"
"Kok kaget gitu sih, Ranu? Kayaknya, kamu sibuk banget ya sampai tidak sempat menghubungi kami tadi pagi," ucap Mama Anggun santai seolah tak terjadi apa-apa.
"hmmm, Ma. Kenapa kalian ke sini?" jawab Ranu datar, tangannya mengepal erat di tepi meja.
"Iya dong. Mama dan Cindy tadi keliling kota sebentar. Papa sudah pulang ke hotel, katanya ingin istirahat dulu. Sore nanti kami sudah harus pulang naik pesawat," kata Mama Anggun sambil menoleh ke arah Cindy.
"Terus kenapa membawa Cindy ke sini, Ma?"
"Mama mau nitip Cindy sebentar sama kamu. Kasihan dia sendirian di hotel, dia belum kenal siapa-siapa selain kamu," ucap Mama Anggun santai.
Ranu mendongak, matanya melebar tak percaya.
"Nitip? Ma, ini kantor. Aku sedang bekerja. Aku tidak bisa menjaga orang lain."
"Ya ampun, Ranu. Cindy kan akan bekerja di kota ini. Dia baru lulus kuliah, dapat pekerjaan di kantor pusat perusahaan yang cabangnya ada di sini. Mama berharap kamu bisa membimbingnya sedikit, memperkenalkan lingkungan sekitar," tegas Mama Anggun mulai terdengar memaksa.
Ranu diam terpaku. Kata-kata itu membuat dadanya terasa sesak.
"Dia mau bekerja di sini?"
"Ya iya! Makanya Mama titipkan dia sama kamu. Kamu kan orang yang paling kenal di sini. Kamu yang akan menjaganya," kata Mama Anggun seolah itu hal yang paling wajar.
"Ma, ini tidak bisa begitu!" seru Ranu mulai kehilangan kendali. "Aku punya kehidupan sendiri, aku punya pekerjaan sendiri. Aku tidak bisa setiap saat mengurus orang lain!"
"Kamu bicara apa! Cindy ini anak baik-baik! Mama titipkan karena Mama percaya sama kamu!" suara Mama Anggun ikut meninggi.
Cindy menarik pelan lengan baju Mama Anggun.
"Tante... sudah, jangan marah-marah. Kalau Mas Ranu tidak bisa, tidak apa-apa kok."
Mama Anggun menghela napas kasar, lalu menatap tajam ke arah Ranu.
"Sudah Mama putuskan. Mama pergi sekarang. kamu yang bantu Cindy di sini!"
Tanpa menunggu jawaban Ranu, Mama Anggun berbalik badan. Ia melirik sekilas ke arah Galuh yang masih berdiri diam di sudut ruangan, lalu melangkah keluar menutup pintu dengan agak keras.
Suasana ruangan hening seketika. Hanya terdengar napas berat Ranu. Ia menatap Cindy yang menunduk dalam, tangannya meremas tas erat.
"Masuklah. Kita bicara sebentar," ucap Ranu akhirnya dengan suara berat.
Galuh melangkah pelan.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."
"Siapin materi yang tadi aku minta, Galuh," perintah Ranu singkat.
"Baik, Pak." Galuh mengangguk patuh lalu keluar menutup pintu.
Ranu menarik kursi tamu, memberi isyarat Cindy duduk. Ia sendiri tetap berdiri membelakangi gadis itu sejenak, berusaha menenangkan emosi yang meluap.
"Cindy..." panggilnya pelan berbalik badan. "Saya minta maaf soal sikap saya tadi, dan sikap Mama saya."
Cindy mendongak pelan, matanya berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya mengerti kalau Mas merasa terganggu. Tante Anggun memang kadang terlalu berlebihan."
"Dengar baik-baik," kata Ranu menatap lurus ke manik mata gadis itu. "Saya tidak bisa menjaga kamu. Saya tidak bisa membimbing kamu. Saya tidak bisa menjadi orang yang Mama harapkan untuk menemani kamu di sini."
"Kenapa, Mas? Aku janji enggak akan merepotkan Mas Ranu. Apa mas Ranu tidak suka sama aku..."
"Iya, aku tidak suka sama wanita yang terlalu agresif. Terlalu menampakkan mengejar lelaki. Seperti yang kamu lakukan sekarang," potong Ranu cepat. "Lagi pula, aku orang yang sangat sibuk. Waktu ku habis untuk pekerjaan dan... urusan rumah tangga ku."
Cindy mengerjap bingung.
"Urusan rumah tangga?"
Ranu menarik napas panjang. "Aku sudah menikah, Cindy," katanya.
Mata Cindy terbelalak lebar.
"Apa? M... Menikah?"
"Iya. aku sudah memiliki istri. Dan aku juga sudah memiliki anak laki-laki yang masih kecil," ucap Ranu tegas. "Aku tidak bisa dekat dengan wanita lain. Aku tidak pantas untuk kamu. Dan aku tidak ingin kamu mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku berikan."
Cindy diam terpaku. Setahunya, Ranu masih single. Itu yang mama Anggun bilang. Karena itulah dia setuju Dijodohkan dan ikut mama Anggun ke kota ini.
"Kenapa... kenapa Tante Anggun tidak pernah bilang apa-apa soal ini?"
"Mama enggak tau," jawab Ranu pelan. "Yang jelas, aku nggak bisa bersama kamu, Cindy. Kamu paham, kan?"
Cindy mengangguk. "Aku paham. Mas Ranu... Sepanjang hidupku, aku tak pernah ditolak lelaki. Kamu lelaki pertama yang menolakku. Dan... Alasan Mas Ranu..." Cindy tertawa kecil. "Aku nggak akan bilang ke Tante. Aku... Justru makin tertarik sama mas Ranu."
Ranu terdiam, dia jujur karena berharap Cindy mundur, tapi, kenapa malah begini?
"Kalau gitu, aku pamit ya, Mas. Senang berkenalan sama Mas Ranu."
Cindy pergi, sedangkan Ranu malah jadi jengkel sendiri.
"Sialan!"
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up