NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan terakhir

Tiga hari setelah berita itu terbit, Rangga akhirnya mengambil keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang sejak malam ia berhadapan langsung dengan Vania.

Ia mengundang Vania makan malam di sebuah restoran yang tenang, jauh dari keramaian dan kemungkinan disorot media—bukan untuk merayakan sesuatu, melainkan untuk mengakhiri sesuatu dengan cara yang, menurutnya, paling pantas Vania dapatkan setelah semua yang terjadi.

"Aku sudah putuskan," kata Rangga, begitu makanan mereka datang dan tidak tersentuh sama sekali. "Pertunangan kita, aku batalkan."

Vania menatapnya, matanya membelalak meski jauh di dalam hati ia sudah menduga momen ini akan datang cepat atau lambat. "Rangga, tolong, kasih aku kesempatan lagi. Aku janji—"

"Ini bukan lagi soal janji, Van," potong Rangga, suaranya tenang tapi tegas. "Ini soal kepercayaan yang udah hancur. Aku nggak bisa bayangin hidup bersama orang yang, kalau merasa terancam, akan melakukan apa pun—termasuk menjatuhkan orang lain dengan cara sekotor itu."

"Kamu masih cinta sama Kirana, kan?" tuduh Vania, suaranya mulai meninggi, campuran antara sakit hati dan amarah yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. "Dari awal, ini semua soal dia, kan?"

Rangga terdiam sesaat, mempertimbangkan jawaban jujur yang sudah lama ia hindari, bahkan dari dirinya sendiri. "Mungkin ada bagian dari diriku yang masih menyimpan sesuatu buat Kirana. Tapi ini bukan alasan aku putuskan pertunangan kita, Van. Ini murni soal siapa kamu yang sebenarnya, yang baru aku sadari belakangan ini."

Vania terdiam, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi, kali ini tanpa strategi, tanpa kepura-puraan—hanya kesedihan murni seseorang yang menyadari dunia yang ia bangun perlahan runtuh, sepenuhnya karena tangannya sendiri.

Kabar pembatalan pertunangan itu menyebar cepat, meski Rangga dan keluarganya sengaja tidak memberikan pernyataan resmi apa pun ke media, membiarkan situasi mereda dengan sendirinya seiring waktu.

Pak Wijaya, meski awalnya khawatir dengan dampak reputasi, justru merasa lega dengan keputusan putranya. "Kamu buat keputusan yang tepat, Rangga," katanya suatu sore, menepuk pundak putranya. "Lebih baik sakit sebentar sekarang, daripada menyesal seumur hidup nanti."

Sementara itu, di ruko Cahaya Abadi Investama, kabar pembatalan pertunangan itu sampai juga ke telinga Kirana lewat obrolan santai timnya yang membaca berita di sela-sela pekerjaan.

"Katanya Pak Rangga batalin pertunangannya sama Vania, Bu," kata Dimas, tanpa maksud tertentu, sekadar berbagi informasi terkini.

Kirana mendengar kabar itu dengan tenang, meski ada sesuatu yang bergejolak halus di dadanya—bukan kegembiraan yang meluap, lebih pada perasaan campur aduk yang sulit ia definisikan sendiri.

"Itu urusan pribadi mereka," jawab Kirana singkat, kembali fokus ke laporan di depannya, meski pikirannya sesaat melayang ke percakapan terakhirnya dengan Rangga di ruko beberapa hari lalu.

Proyek Kavling Timur, di sisi lain, mulai menunjukkan kemajuan pesat sejak kontraktor lama kembali dipercaya dan manajemen proyek diperbaiki sesuai syarat kerja sama dengan Cahaya Abadi Investama. Investor besar yang sebelumnya mengancam menarik dana, akhirnya menyatakan kepuasan mereka lewat surat resmi, bahkan menawarkan tambahan investasi untuk proyek-proyek Sentosa Abadi Grup berikutnya.

Keberhasilan itu membuat nama Kirana semakin dikenal luas, bukan lagi sekadar sebagai investor misterius yang membantu UMKM kecil, tapi sebagai sosok profesional yang berhasil menyelamatkan proyek besar dengan pendekatan yang jujur dan berbasis data.

Beberapa media besar mulai menghubungi timnya, meminta wawancara eksklusif. Kirana, setelah mempertimbangkan matang-matang bersama Pak Hadi, akhirnya menyetujui satu wawancara dengan majalah bisnis nasional yang cukup dihormati—bukan untuk pamer, tapi untuk memastikan cerita tentang perjalanannya diceritakan dengan benar, langsung dari sumbernya, bukan lewat gosip atau spekulasi orang lain.

Malam sebelum wawancara itu berlangsung, Kirana duduk di kamar kosnya, membaca ulang buku catatan ayahnya untuk kesekian kalinya. Ada satu halaman yang belum pernah benar-benar ia pahami maknanya sampai malam itu—sebuah catatan singkat yang ditulis di sudut halaman, seolah tambahan pikiran yang muncul belakangan:

"Kesuksesan sejati bukan soal membuktikan diri ke orang-orang yang pernah meremehkanmu. Itu cuma bonus. Kesuksesan sejati adalah saat kamu akhirnya bisa berdiri tegak, bukan karena ingin dilihat orang lain, tapi karena kamu sudah berdamai dengan dirimu sendiri."

Kirana menutup buku itu perlahan, menatap keluar jendela kamarnya yang gelap, dipenuhi bintang-bintang kecil yang jarang benar-benar ia perhatikan sejak sibuk membangun kembali hidupnya dari nol.

Ia mengingat malam perceraian itu—rasa hina, rasa diusir, rasa dianggap tidak berharga di depan seluruh keluarga besar Wijaya. Delapan bulan kemudian, malam ini, ia duduk di kamar sederhana yang sama, tapi dengan perasaan yang jauh berbeda: bukan lagi rasa hancur, melainkan rasa damai yang, jujur saja, baru pertama kali benar-benar ia rasakan sepanjang hidupnya.

Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Rangga, singkat, tanpa embel-embel berlebihan:

"Selamat ya, Kirana. Aku baca soal wawancara majalah nasional besok. Kamu pantas dapat semua ini."

Kirana menatap pesan itu lama, jempolnya melayang di atas layar, mempertimbangkan berbagai kemungkinan balasan. Akhirnya, ia mengetik satu kalimat singkat, tulus, tanpa beban apa pun lagi di dalamnya:

"Terima kasih, Rangga. Semoga kamu juga menemukan kedamaianmu sendiri, di jalan yang berbeda dari jalanku."

Ia mengirim pesan itu, meletakkan ponselnya di meja, dan menatap langit malam sekali lagi sebelum akhirnya memejamkan mata—bukan dengan pikiran penuh dendam atau harapan akan masa lalu yang kembali, melainkan dengan ketenangan seseorang yang akhirnya benar-benar menemukan dirinya sendiri.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!