NovelToon NovelToon
Lautan Cinta

Lautan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angkara Murka di Rumah Orang Tua

Zaskia tersenyum penuh kemenangan melihat amarah Evan yang telah mencapai puncaknya. Ia tahu betul bagaimana cara memanfaatkan situasi ini agar Evan tidak akan pernah sudi memaafkan Rafa, bahkan berniat untuk menghabisi karier atau kehidupan mantan istrinya itu tanpa ampun.

​"Tentu saja dia tidak boleh dibiarkan lolos, Ev," bisik Zaskia tepat di telinga Evan dengan nada menghasut. "Sebagai CEO Negara Group, kamu tidak boleh terlihat lemah. Kamu harus memberikan pelajaran yang paling telak pada Rafa Sasmita. Tunjukkan padanya bahwa melawan keluarga Wirya Negara adalah keputusan paling bodoh yang pernah ia buat seumur hidupnya."

​Nena menggebrak meja bar dengan penuh emosi. "Kejar dia, Evan! Cari di mana wanita itu bersembunyi! Ambil kembali flashdisk perusahaan itu dengan cara apapun, dan hancur berkeping-keping hidupnya agar dia tidak pernah berani bernapas lega di kota ini lagi!"

​Evan menatap tajam ke arah pintu keluar penthouse dengan sorot mata penuh dendam kesumat. Kilatan amarah terpancar jelas di bola matanya. Ia meraih jas hitam yang tersampir di kursi, lalu mengenakannya dengan gerakan cepat dan kasar.

​"Mama tenang saja," ucap Evan dengan suara dingin yang menjanjikan malapetaka. "Rafa boleh saja lari malam ini membawa flashdisk itu. Tapi aku pastikan, sebelum matahari terbit besok pagi, aku akan menemukan di mana persembunyiannya, dan aku sendiri yang akan menghancurkan hidupnya sampai dia memohon-mohon di bawah kakiku."

​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Evan melangkah lebar meninggalkan ruang keluarga, masuk ke dalam lift pribadi untuk mengejar buronannya. Sementara di dalam penthouse, Nena dan Zaskia saling bertukar pandang penuh senyum kemenangan, menantikan kehancuran total yang akan segera menimpa Rafa Sasmita.

****

Malam itu, suasana di kediaman Pak Pamuji terasa begitu mencekam. Angin malam berhembus pelan, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti rumah sederhana tersebut. Rafa sedang duduk di meja makan, mencoba menenangkan diri dengan segelas teh hangat setelah seharian memikirkan langkah selanjutnya untuk membongkar kebusukan Negara Group. Bu Armayani duduk di sebelahnya, terus membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang, sementara Pak Pamuji sedang memperbaiki engsel pintu belakang yang agak longgar.

​Tiba-tiba, suara decitan ban mobil mewah yang mengerem mendadak memecah keheningan gang kecil tersebut. Tak lama kemudian, derap langkah kaki sepatu pantofel mahal terdengar menghantam paving block dengan kasar.

​BRAKK!

​Tanpa ada ketukan, tanpa salam, pintu depan rumah yang terbuat dari kayu jati tua itu ditendang dengan kekuatan yang brutal. Engselnya langsung copot, pintu itu jebol ke arah dalam dan menghantam lantai dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Debu beterbangan di udara, menciptakan suasana kacau seketika.

Bu Armayani yang sedang duduk di kursi kayu langsung terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal, dan wajahnya mendadak pucat pasi. Ia nyaris pingsan, tubuhnya limbung ke belakang.

​"Ibu!" teriak Rafa dengan sigap. Ia membuang gelas tehnya dan merengkuh tubuh ibunya yang gemetar hebat, menopang punggung Bu Arma agar tidak tersungkur ke lantai.

​Di ambang pintu yang telah hancur itu, berdiri sosok pria dengan setelan jas mahal yang kusut dan mata yang merah menyala oleh api kemurkaan. Evan Wirya Negara berdiri di sana, napasnya memburu seperti binatang buas yang sedang mengincar mangsanya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah jeriken berwarna kuning yang berbau menyengat—bau bensin yang sangat tajam dan memualkan.

****

Pak Pamuji yang mendengar kegaduhan itu langsung berlari dari arah dapur. Begitu melihat kondisi pintunya yang hancur dan sosok Evan yang berdiri seperti kesurupan, Pak Pamuji langsung berdiri di depan istri dan putrinya.

​"Apa-apaan kamu, Evan?!" bentak Pak Pamuji dengan suara bergetar karena murka. "Kamu sudah hilang akal? Datang malam-malam, merusak rumah orang, dan tidak punya adab sedikit pun! Kamu kira rumah ini tempat untuk melampiaskan kegilaanmu?!"

​Evan sama sekali tidak melirik Pak Pamuji. Baginya, pria tua itu tidak lebih dari serangga pengganggu yang tidak layak mendapatkan perhatiannya. Tatapannya terkunci tajam pada sosok Rafa yang sedang memeluk ibunya. Sorot mata Evan penuh dengan kebencian yang mendalam, tatapan seorang pria yang harga dirinya telah dirampas dan siap melakukan apa saja untuk mengambilnya kembali.

​"Diam kamu, tua bangka!" bentak Evan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Pak Pamuji. "Urusan ini bukan urusanmu. Jangan ikut campur sebelum kamu kehilangan segalanya!"

Evan melangkah maju, kakinya menginjak serpihan kayu pintu yang berserakan. Ia menuding Rafa dengan jari telunjuknya yang gemetar karena emosi yang meluap.

​"Rafa! Keluar kamu dari balik punggung mereka!" teriak Evan dengan suara yang menggelegar, membuat tetangga sekitar mulai mengintip dari jendela rumah mereka masing-masing.

​Rafa perlahan berdiri, melepaskan pelukannya dari Bu Arma. Ia menatap Evan dengan sorot mata yang tenang, sangat kontras dengan kepanikan di ruangan itu. Rafa tidak terlihat takut sedikit pun, meski ia tahu bahwa pria di depannya ini sedang berada di ambang kegilaan.

****

"Apa yang kamu inginkan, Evan?" tanya Rafa dengan suara tenang namun menusuk. "Datang ke rumah orang tuaku seperti perampok, menghancurkan pintu, dan mengancam kami? Apakah ini perilaku seorang CEO Negara Group yang terhormat?"

​Evan tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyeramkan. Ia kemudian mengangkat jeriken bensin yang dibawanya tinggi-tinggi. "Jangan coba-coba memancing emosiku, Rafa! Kamu tahu persis apa yang aku inginkan! Kembalikan flashdisk itu sekarang juga!"

Evan melangkah semakin mendekat, menyiramkan isi jeriken itu sedikit demi sedikit ke lantai kayu dan dinding ruang tamu yang sangat mudah terbakar. Bau bensin kini memenuhi ruangan, membuat napas Bu Arma semakin sesak.

​"Kamu pikir dengan mencuri rahasia perusahaanku, kamu bisa menjatuhkanku?" lanjut Evan dengan suara parau. "Kamu itu wanita mandul yang tidak tahu diri! Kamu berani menantangku? Kembalikan flashdisk itu detik ini juga, atau aku bersumpah, aku akan membakar rumah ini beserta isinya saat ini juga!"

****

Rafa tetap berdiri tegak, meski jantungnya berdegup kencang melihat tindakan gila suaminya. "Apakah kamu sudah sebegitu putus asanya, Evan? Apakah rahasia di dalam flashdisk itu begitu mengerikan sampai membuat kamu rela melakukan tindakan kriminal ini? Membakar rumah orang tuaku tidak akan mengembalikan posisimu yang sudah hancur. Dunia akan tahu siapa kamu sebenarnya."

​"Diam!" Evan berteriak histeris. Ia mengeluarkan korek api gas dari saku jasnya dan menyalakannya, membiarkan lidah api kecil itu menari-nari tepat di depan tumpahan bensin di lantai. "Aku tidak peduli dengan dunia! Aku hanya peduli dengan posisiku! Kembalikan flashdisk itu, atau lihat bagaimana api ini melahap segalanya!"

Pak Pamuji tidak tahan lagi melihat kelakuan biadab Evan. Ia mencoba maju untuk merebut jeriken itu, namun Evan dengan cepat mengayunkan jeriken tersebut ke arah Pak Pamuji, menyiramkan bensin ke arah pria tua itu.

​"Mundur! Atau Bapak mau jadi orang pertama yang terbakar?" ancam Evan dengan seringai sadis di bibirnya.

​Bu Arma menjerit histeris melihat suaminya terancam. "Evan! Jangan lakukan ini! Kamu bukan pria seperti ini!"

​"Oh, aku pria seperti apa, Bu?" Evan menatap Bu Arma dengan tatapan meremehkan. "Tanyakan pada anak kesayanganmu ini, apa yang sudah dia perbuat! Dia istri yang tidak becus! Dia wanita mandul yang tidak tahu terima kasih! Sekarang, dia mencuri aset berharga keluargaku! Rafa, beri aku flashdisk itu dalam hitungan ketiga, atau aku akan pastikan tidak ada yang tersisa dari rumah busuk ini!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!