NovelToon NovelToon
Menikahi Tunangan Kakakku

Menikahi Tunangan Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Asmara / Penikahan Kontrak / Percintaan Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bella

Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Aku terbangun dengan bau disinfektan.

Semuanya putih.

Terlalu putih.

Aku berkedip beberapa kali sampai sebuah bayangan bergerak di sampingku.

Damar muncul dalam pandanganku.

Ujung lengan kemejanya kusut, dan rambutnya sedikit kurang sempurna dari biasanya.

Tapi matanya terjaga.

Sangat terjaga.

"Kamu sudah bangun?"

Aku mencoba menjawab, tapi tenggorokanku terasa perih.

"Bagaimana rasanya?" tanyanya. "Ada yang sakit? Sesak?"

Suaranya rendah.

Terkendali.

Tapi kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.

Itu aneh.

Lebih aneh daripada terbangun di rumah sakit.

"Aku di mana?"

"IGD. Kamu pingsan di mobil."

Aku mencoba bergerak.

Damar menahan tanganku sebelum aku sempat mengangkat lengan.

"Jangan. Hati-hati."

Aku menunduk.

Ada jarum tertancap di punggung tanganku dan kantong infus tergantung di samping ranjang.

"Oh."

"Tepat. Oh."

Jarinya masih berada di pergelangan tanganku.

Kokoh.

Hangat.

Dia tidak menekan terlalu keras, tapi juga tidak membiarkanku melakukan hal bodoh.

"Mau kupanggilkan dokter?"

Aku menggeleng pelan.

"Aku baik-baik saja."

"Kamu pingsan."

"Tapi aku sudah bangun."

Dia menatapku seolah logikaku sama sekali tidak menyenangkan baginya.

"Dokter bilang apa?" tanyaku.

"Alergi akut. Kamu sampai masuk syok."

Tubuhku mendadak dingin.

"Syok?"

"Ya."

Kata itu jatuh di antara kami.

Damar tidak menghiasinya.

Tidak mencoba membuatnya terdengar lebih ringan.

"Kamu makan sesuatu yang aneh?" tanyanya. "Minum sesuatu?"

Perutku menegang.

Apotek.

Pil itu.

Gadis di meja kasir yang bilang efeknya bisa kuat.

Aduh, jangan.

Damar melihat wajahku.

"Kirana."

Nada itu.

Langsung.

Nada pria yang tidak akan menerima jawaban mengelak.

Aku menunduk.

"Aku minum pil."

"Pil apa?"

Telingaku terasa panas.

"Kontrasepsi darurat."

Hening.

Hening terburuk yang mungkin terjadi.

Aku ingin bersembunyi di bawah selimut.

"Sepulang kerja, aku mampir ke apotek dan membelinya," lanjutku, karena kalau diam pasti lebih buruk. "Aku tidak tahu bisa membuatku alergi."

Damar tidak mengatakan apa-apa.

Aku mulai merasa makin kecil di atas ranjang.

"Maaf."

Keningnya berkerut.

"Kenapa kamu minta maaf?"

Aku membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Karena akan terdengar konyol kalau aku bilang: maaf karena membunuh calon anak-anakmu sebelum mereka bahkan menjadi anak.

Karena lebih konyol lagi kalau mengakui pikiran itu sempat melintas di kepalaku.

"Tidak tahu."

Damar menarik napas panjang lewat hidung.

"Kamu tidak mau hamil."

Itu bukan pertanyaan.

Meski begitu, aku mengangguk.

"Kita baru menikah."

"Aku tahu."

"Dan kita..."

Aku tidak menyelesaikannya.

Tidak perlu.

Kami bukan pasangan normal.

Masih terlalu banyak hal yang berdiri di tengah kami: Laras, keluargaku, pernikahan yang diatur, kata kakak ipar yang masih berkeliaran di kepalaku setiap kali dia mendekat terlalu jauh.

Dan tetap saja, semalam aku membiarkannya masuk ke ranjangku.

Ke tubuhku.

Ke ingatanku.

Damar melepaskan pergelangan tanganku hanya untuk menutup tanganku dengan tangannya.

"Aku yang seharusnya minta maaf."

Aku menatapnya.

"Kamu?"

"Kemarin aku tidak memikirkan pengaman."

Wajahku memanas.

Tentu.

Langsung ke inti masalah lagi.

"Aku juga tidak."

"Itu tanggung jawabku."

"Damar..."

"Memang."

Dia tidak berdebat.

Tidak mencari pembenaran.

Dia juga tidak membuatku merasa bodoh karena berlari ke apotek.

Hal itu membuatku lebih goyah daripada omelan.

"Jangan minum pil itu lagi," katanya. "Kalau kamu tidak mau hamil, kita pakai pengaman. Selalu."

Kata selalu menyapu kulitku.

Karena itu berarti ada malam-malam lain.

Ada kesempatan lain.

Ada dia yang kembali menyentuhku.

Aku malu karena tubuhku memahami itu bahkan di ranjang rumah sakit.

"Baik," gumamku.

Damar mengangguk.

"Dokter ingin kamu diobservasi malam ini. Mereka akan memberimu infus dan obat lagi."

"Semalaman?"

"Ya."

Perutku memilih saat itu untuk berbunyi.

Keras.

Berkhianat.

Aku ingin lenyap.

Damar menunduk ke perutku.

Lalu ke wajahku.

Sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Kamu belum makan malam."

"Aku tidak sempat merencanakan krisis medis."

"Aku juga belum makan."

Dia mengeluarkan ponsel.

"Aku pesan makanan."

"Kamu tidak harus tinggal."

Dia mengangkat wajah.

"Harus."

Dia tidak mengatakannya keras.

Tapi caranya mengatakannya tidak menyisakan ruang.

Setengah jam kemudian makanan sederhana datang: sup, nasi, ayam, sayur, makanan seperti makanan rumah sakit tanpa benar-benar terasa seperti rumah sakit.

Satu tanganku terikat infus dan tangan yang lain lemas karena kelelahan.

Damar membuka wadah, menata semuanya di meja kecil, lalu mengambil sendok.

"Aku bisa makan sendiri."

"Bisa. Tapi setengahnya akan tumpah."

"Percaya sekali."

"Buka mulut."

Aku menatapnya.

Damar mengangkat sendok.

"Kirana."

Lagi-lagi nada itu.

Tubuhku menurut lebih cepat daripada harga diriku.

Aku membuka mulut.

Dia memberiku suapan pertama.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Dia melakukannya dengan kesabaran aneh, seolah menyuapi perempuan di ranjang rumah sakit adalah bagian dari jadwal hariannya.

Aku tidak tahu harus melihat ke mana.

Kalau melihat makanan, aku merasa seperti anak kecil.

Kalau melihat dia, aku teringat tangannya di pinggangku.

Dan kalau menutup mata, lebih parah.

"Jangan buat wajah begitu," katanya.

"Wajah apa?"

"Seolah aku sedang menyiksamu."

"Kamu menyuapiku pakai sendok."

"Itu bukan siksaan."

"Tergantung martabat masing-masing."

Kali ini dia benar-benar tersenyum sedikit.

Sedikit.

Tapi aku melihatnya.

Dan dadaku melakukan sesuatu yang aneh.

Aku tidak mau menamainya.

Setelah makan, Damar memberiku obat dan segelas air.

Rasa gatal mulai mereda.

Tubuhku terasa tidak terlalu berat.

Aku juga mulai mengantuk.

"Tidur," katanya.

"Kamu?"

"Aku di sini."

"Damar..."

"Tidur."

Dia merapikan selimutku.

Tidak dengan cara manis.

Lebih ke praktis.

Seperti semua hal yang dia lakukan.

Tapi dia tetap tinggal.

Itu hal terakhir yang kulihat sebelum tidur lagi.

Ketika terbangun, hari sudah pagi.

Kantong infus sudah kosong.

Tanganku tidak terlalu sakit.

Tubuhku juga.

Aku menggerakkan kepala pelan dan melihatnya.

Damar tertidur di kursi.

Dia tidak terlihat nyaman.

Sama sekali tidak.

Kedua lengannya terlipat, kepalanya sedikit miring ke samping, dan jasnya dilipat di sandaran kursi.

Dia tinggal di sana semalaman.

Untukku.

Aku menatapnya.

Aku tidak mengerti kenapa.

Dia bisa saja memanggil perawat pribadi.

Dia bisa saja menyuruh Satria datang.

Dia bisa saja membayar apa pun lalu tidur di ranjang besarnya, di rumahnya yang sempurna.

Tapi dia ada di sana.

Di kursi yang tidak nyaman.

Bersamaku.

Sudah lama tidak ada yang menjagaku seperti itu.

Tanpa membuatnya terasa seperti bantuan.

Tanpa menagihnya nanti.

Damar membuka mata.

Dia menangkapku sedang menatapnya.

Aku berkedip dan membuang muka.

Malu sekali.

Lalu aku berpikir: kenapa aku bersembunyi? Dia suamiku.

Suamiku.

Masih terdengar aneh.

"Bagaimana pagimu?" tanyanya.

"Lebih baik."

Dia berdiri.

"Biar kulihat."

"Lihat apa?"

Dia tidak menjawab.

Dia mendekat dan meletakkan satu tangan di wajahku.

Tubuhku kaku.

Telapak tangannya besar, hangat, dengan keyakinan pria yang menyentuh tanpa meminta izin karena berasumsi ia akan menjaga, bukan melukai.

Aroma parfumnya sampai kepadaku, bersih dan berkayu.

Terlalu dekat.

Aku teringat semalam.

Lagi.

Pikiran macam apa yang begitu ngotot.

Damar menahan wajahku dan memeriksa kulitku.

"Kamu tidak sepanas tadi. Warnamu sudah kembali."

"Oh."

Ibu jarinya menyapu pipiku.

"Masih ada beberapa bentol."

"Nanti hilang."

"Itu kata dokter."

Dia mencubit pipiku.

Pelan.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Memeriksa."

"Itu bukan memeriksa."

Dia mencubit lagi.

Sekali.

Dua kali.

"Damar."

Baru kali itu dia melepasku.

Ada bayangan jahil yang sangat tipis di bibirnya.

Dia tidak benar-benar tersenyum, tapi hampir.

Dan aku, seperti bodoh, memerah.

"Kamu tinggal semalaman?" tanyaku untuk mengganti topik.

"Ya."

"Kenapa?"

Dia menatapku.

"Kenapa apa?"

"Kenapa kamu tinggal?"

Tampaknya pertanyaanku terasa tidak masuk akal baginya.

"Kamu istriku."

"Iya, tapi..."

"Kamu mengalami reaksi alergi, pingsan, dan dipasang infus. Kamu berharap aku melakukan apa?"

"Kamu bisa memanggil seseorang."

"Tidak."

Dia menjawab cepat.

"Pernikahan kita bukan pernikahan seperti itu," gumamku.

Damar terdiam.

"Menurutmu pernikahan kita seperti apa?"

Aku langsung menyesal begitu pertanyaan itu memantul ke arahku.

"Pernikahan yang diatur."

"Itu tidak mengubah fakta bahwa ini pernikahan."

"Tidak ada perasaan."

Tatapannya sedikit menggelap.

"Kamu menganggapku pria yang menikah lalu lepas tangan?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Kamu sedang mengatakannya."

Aku terdiam.

Damar meletakkan satu tangan di pagar ranjang.

"Aku menerima menikah denganmu. Itu berarti hubungan ini, dengan perasaan atau tanpa perasaan, punya bobot. Kamu punya bobot. Untukku."

Tenggorokanku tercekat.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.

Dengan keseriusan itu.

Dengan caranya mengatakan sesuatu yang sederhana dan membuatku kehilangan pertahanan.

"Terima kasih," kataku akhirnya.

Damar mengembuskan napas, hampir seperti kata itu membuatnya tidak nyaman.

"Istirahat. Aku panggil dokter."

Sebelum pergi, dia menyentuh kepalaku.

Cepat.

Berat.

Seolah itu wajar.

Ketika dia keluar, ponselku mulai berdering.

Papa.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.

"Halo."

"Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak datang ke kantor?"

Tidak ada selamat pagi.

Tidak ada bagaimana keadaanmu.

Langsung soal absensi.

Aku menarik napas panjang.

"Aku mengalami alergi akut semalam. Aku dirawat di rumah sakit. Aku perlu izin satu atau dua hari."

Ada jeda.

"Alergi? Separah apa?"

"Cukup parah. Aku pingsan."

"Kamu di rumah sakit mana? Pagi ini Papa ada klien penting, tidak bisa ke sana sekarang, tapi Papa suruh mamamu datang."

"Tidak perlu. Damar bersamaku."

Jeda lagi.

Lebih panjang.

"Damar ada di sana?"

"Iya."

Papa tidak langsung menjawab.

Pasti dia sedang menghitung di kepalanya.

Suami baru yang meninggalkan pekerjaan untuk menemani istrinya sakit terlihat baik.

Ayah yang tidak datang karena ada klien, tidak begitu.

"Kirim nama rumah sakitnya," katanya akhirnya. "Mamamu akan datang."

Aku tidak mau berdebat.

Aku memberitahunya nama rumah sakit.

Dia menyuruhku istirahat dan bilang pekerjaan bisa menunggu.

Lalu menutup telepon.

Tidak sampai satu menit, Mama menelepon.

"Yuyu, apa yang terjadi? Papamu bilang kamu dirawat. Kamu hampir tidak pernah sakit. Kamu makan apa?"

Aku memejamkan mata.

"Aku minum kontrasepsi darurat."

Hening.

Aku bisa mendengar napasnya.

"Kontrasepsi?"

"Iya."

"Jadi kamu dan Damar..."

"Kami suami istri."

"Tapi kamu tidak seharusnya..."

Aku membuka mata.

Itu dia.

Lagi.

"Aku tidak seharusnya apa, Mama? Tidur dengan suamiku sendiri?"

"Mama tidak bilang begitu."

"Mama memang bilang begitu."

"Kirana..."

"Mama berpikir sama seperti Laras? Bahwa Damar masih miliknya meskipun dia sudah menikah denganku?"

Mama terdiam.

Itu sudah jawaban yang cukup.

Rasanya sakit.

Tidak sesakit dulu, tapi tetap sakit.

"Dengarkan aku baik-baik," kataku. "Aku menikah dengan Damar. Kalau tidak terjadi sesuatu yang serius, aku tidak berniat bercerai. Kalau Mama masih ingin meyakinkanku supaya menyingkir agar Laras bisa kembali kepadanya, jangan buang waktu."

"Mama..."

"Tidak."

Tenggorokanku perih.

"Aku tidak mau mendengarnya."

Mama menarik napas panjang.

"Waktu itu Mama salah. Mama mengatakan hal-hal mengerikan karena panik. Mama sudah memikirkannya. Mama tidak akan memintamu begitu lagi."

Aku tidak menjawab.

"Kalau kamu memutuskan hidup dengan Damar, hiduplah baik-baik dengannya. Kakakmu... Mama akan bicara dengannya."

Aku menatap selimut.

"Baguslah."

"Bagaimana keadaanmu sekarang? Mama akan minta Rosa menyiapkan sup ayam dan Mama bawa ke sana."

"Jangan datang."

"Kirana."

"Aku hampir boleh pulang. Dan Damar bersamaku."

Keheningan itu berubah.

Menjadi berat.

"Kamu masih marah kepada Mama."

Aku tidak menjawab.

"Katakan Mama harus melakukan apa. Kalau soal perceraianmu, Mama sudah minta maaf. Apa lagi yang kamu butuhkan?"

Aku mendadak lelah.

Lelah yang tua.

Bertahun-tahun.

Bukan hanya Damar.

Bukan hanya Laras.

Semuanya.

"Aku mau tutup telepon."

"Tapi beri tahu Mama apa yang begitu salah, Kirana. Kalau kamu tidak bilang, bagaimana Mama bisa memperbaikinya?"

Aku menatap langit-langit.

Tekanan di dada membuatku tidak punya tenaga menjelaskan apa pun.

"Dah, Mama."

Aku menutup telepon.

Menurunkan ponsel.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Damar berdiri di ambang pintu.

Aku tidak tahu sudah berapa banyak yang ia dengar.

Tatapannya tertuju padaku.

Gelap.

Rumit.

Aku bersandar ke bantal, tidak nyaman.

"Kamu sudah kembali?"

Pertanyaan yang bodoh.

Dia masuk.

"Dokter sedang ke sini."

"Oh."

Kami tidak membicarakan telepon itu.

Aku tidak mau.

Dia tidak memaksa.

Dokter datang tak lama kemudian, memeriksa kulitku, tekanan darah, napas, mata. Katanya bentol-bentol sudah mereda, tidak ada reaksi aneh lain, dan aku bisa pulang dengan obat serta istirahat.

Damar mendengarkan semuanya.

Menanyakan dosis.

Jadwal minum.

Efek samping.

Apa yang harus dilakukan kalau gatalnya kembali.

Dokter menjawabnya dengan sabar.

Aku hanya menonton.

Setelah itu perawat menjelaskan cara minum obat. Damar pergi membayar dan mengurus administrasi.

Ketika kembali, dia membawa berkas di satu tangan dan obatku di tangan lain.

Dia mendekat dan menyentuh kepalaku lagi.

"Ibuku menelepon."

Aku menegang.

"Ibumu?"

"Dia bertanya kenapa aku tidak ke kantor. Aku bilang kamu sempat dirawat karena alergi."

"Oh."

"Dia ingin kita makan di rumah."

Perutku menegang.

"Makan?"

"Ya."

"Dengan keluargamu?"

"Dengan keluarga."

Bayangan itu jatuh menimpaku: meja besar, terlalu banyak orang, terlalu banyak tatapan, terlalu banyak keluarga Mahendra menilai apakah aku tahu cara bernapas dengan benar.

Napasnya sedikit tersangkut.

Damar memperhatikanku.

"Seperti waktu itu?" tanyaku. "Semua duduk mengelilingi meja raksasa?"

1
Zalmah Adiwi
saat bertunangan dg Laras mngkn damar sdh menyukai kirana..
Zalmah Adiwi
konflikx kurang kuat..alur ceritax jg trll lamban bergerak.. 🤭
Zalmah Adiwi
knp mesti minum pil KB.. 🤦‍♀️🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
ibu kirana GILA..pikirx pernikahan ini macam beli bajukah.. 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!