NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3 — Bocah Tak Bermarga

Tri tidak menjawab.

Matanya turun ke batang besi di tangan lelaki itu, lalu ke dua orang yang menutup jalan belakang.

Pemimpin mereka dipanggil Parman dalam ingatan tubuh ini. Tubuh besar, tangan kanan lebih kuat, lutut kiri pernah cedera. Dua pengikutnya lebih muda. Yang kurus membawa kait pemilah, sedangkan yang berkepala plontos tidak memegang senjata.

Tiga orang dewasa.

Satu anak tujuh tahun yang nyaris roboh karena mendorong sepeda.

Kalau ini pertarungan, hasilnya sudah selesai sebelum dimulai.

Berarti jangan bertarung.

“Gue tanya sekali lagi.” Parman mengetukkan batang besi ke rangka sepeda. “Dapat berapa kotak?”

Bunyi nyaring itu membuat dua pengikutnya menyeringai.

Tri menatap roda belakang yang bergeser setengah jari akibat benturan. Kawat penahannya masih kuat. Jalan di bawah roda miring ke kiri. Tiga meter dari posisi Parman, permukaan sampah berubah warna dari hitam kusam menjadi cokelat basah.

Di bawah lapisan itu ada rongga.

Tri tahu karena roda sepedanya sempat ambles di tepi sana saat perjalanan pertama. Ia sudah memindahkan jalur pulang ke atas dua balok rangka yang tertimbun. Balok itu aman menahan tubuh kecil dan sepeda ringan.

Belum tentu aman menahan tiga orang dewasa yang bergerak bersamaan.

“Dua,” kata Tri.

Parman menyambar kerah bajunya.

Tubuh Tri terangkat sampai ujung kaki hanya menyentuh tanah. Goresan di bahunya tertarik. Nyeri menyambar ke leher, tetapi wajahnya tetap datar.

“Jangan bikin gue marah.” Napas Parman berbau cairan fermentasi murah. “Jejak roda lo bolak-balik tiga kali.”

Jadi dia mengamati dari awal.

Bagus. Orang serakah yang merasa pintar lebih mudah diarahkan.

Tri melirik ke kanan, seolah takut seseorang melihat. “Kalau gue kasih tahu, bagian gue tetap ada?”

Parman tertawa.

“Bagian lo?”

Ia melempar Tri ke tanah. Punggung anak itu menghantam roda depan. Udara keluar dari paru-parunya.

Dua pengikut Parman ikut tertawa.

“Anak ini belum ngerti aturan,” kata si plontos.

“Biar gue ajari.” Pengikut kurus mengangkat kaitnya. “Yang kuat ambil semuanya. Yang lemah bersyukur masih boleh pulang.”

Tri batuk dua kali. Ia memakai setang untuk berdiri, sengaja membiarkan lututnya gemetar lebih parah daripada yang sebenarnya.

“Sembilan kotak,” katanya pelan.

Tawa mereka berhenti.

Parman menyipit. “Di mana?”

Tri memandang ke ujung jalur sempit, menuju lereng barat daya. “Dekat rangka kapal. Gue tutup pakai lembaran insulasi.”

“Bawa kami.”

“Bagian gue?”

Batang besi menghantam bak sepeda.

Penyokannya dalam. Salah satu kotak di atasnya miring, memperlihatkan deretan tabung merah muda.

“Itu bagian lo,” kata Parman. “Sepeda jelek ini masih gue sisakan.”

Tri menundukkan kepala.

Di balik rambut kusut, sudut bibirnya bergerak tipis.

Salah.

Sepeda ini bukan sisa yang mereka berikan.

Sepeda ini kuncinya.

Tri mulai mendorong. Parman berjalan tepat di belakang, cukup dekat untuk memukul kalau ia mencoba kabur. Dua pengikut menyusul sambil terus melihat kotak di bak.

Jalur menurun setelah tikungan pertama.

Di sisi kanan, bukit rongsok menjulang tiga meter. Potongan kain, plastik, pipa, dan serbuk logam bercampur menjadi dinding yang tampak padat. Padahal hujan limbah dua hari lalu menggerus bagian bawahnya dan meninggalkan kantong udara besar.

Tri menempatkan roda di atas garis balok yang tersembunyi.

Langkahnya kecil dan lambat.

“Cepat!” bentak Parman.

Batang besi menyentuh punggungnya.

Tri tersandung dengan sengaja. Satu kotak jatuh dari bak, meluncur di lereng, lalu berhenti di atas lapisan cokelat basah.

Tutupnya terbuka.

Puluhan tabung Cairan Gizi tumpah dan berkilau di bawah cahaya jauh.

“Bodoh!”

Si plontos melewati Tri lebih dulu. Ia melangkah ke lereng untuk memunguti tabung.

Kakinya turun sampai mata kaki.

“Tanahnya lunak,” katanya.

Namun ia tidak mundur. Ia membungkuk dan memasukkan tiga tabung ke balik bajunya.

Pengikut kurus ikut maju.

Tri menoleh kepada Parman. “Sembilan kotak gue ada di bawah sana. Kalau mereka ambil duluan—”

“Kalian berdua, minggir!” Parman mendorongnya ke samping lalu melangkah ke lereng. “Semua kotak itu punya gue!”

Begitu berat tubuh ketiga orang itu berada di atas lapisan lunak, Tri melepaskan setang.

Sepeda roda tiga mulai menggelinding.

“Hei!” Parman menoleh.

Tri menarik kabel yang sejak tadi melilit pergelangan tangannya.

Kabel itu tersambung ke potongan kaleng penahan poros yang dipasangnya di depan bangunan. Potongan kaleng terlepas. Roda kanan bergeser keluar, membuat sepeda oleng, lalu rebah melintang di jalur sempit.

Dua kotak di bak jatuh ke depan.

Parman secara naluriah mengejarnya.

Ia mengambil satu langkah lebar.

Lapisan sampah di bawahnya mengeluarkan bunyi basah.

Krrrkk.

Tri langsung meloncat ke atas balok kiri dan memeluk rangka besi yang menonjol.

“Jangan bergerak!” teriaknya.

Terlambat.

Parman mengangkat kaki yang terbenam. Pengikut kurus mencoba mundur, tetapi sepeda yang rebah menutup jalur. Si plontos menarik lengannya.

Berat mereka berpindah ke satu titik.

Seluruh lereng runtuh.

WHUUM!

Sampah cokelat amblas seperti mulut yang dibuka. Ketiga lelaki itu jatuh bersama tabung-tabung Cairan Gizi. Pipa kecil, kain busuk, dan kepingan plastik menelan kaki mereka, lalu pinggang, lalu dada.

Parman meraung dan mengayunkan batang besi. Gerakan itu hanya membuat tubuhnya tenggelam lebih dalam.

“Tarik gue!”

Si plontos mencoba meraih bahunya, tetapi dirinya sendiri terjebak sampai pinggang. Pengikut kurus lebih beruntung; tubuhnya tertahan panel lebar sehingga hanya kaki kiri yang terjepit.

Tri tetap bergantung pada rangka sampai permukaan berhenti bergerak.

Debu turun perlahan.

Ia menguji balok dengan ujung kaki, lalu merangkak ke jalur aman. Sepeda roda tiga terbaring di belakangnya. Roda kanan lepas, tetapi tidak hilang. Kedua kotak tersangkut di pipa, juga masih utuh.

Rencana berjalan lebih baik daripada perkiraannya.

Parman tidak setuju.

“Bajingan kecil!” Wajahnya merah. Sampah menekan sampai bawah ketiak. “Tarik gue keluar! Cepat!”

Tri mengambil batang besi yang terlempar dekat balok.

Ia tidak mengangkatnya untuk memukul. Ia hanya melemparkannya ke luar jangkauan Parman.

“Tadi katanya yang kuat ambil semuanya.”

Parman membeku.

“Lo menjebak gue?”

Tri menatap lereng runtuh, lalu memasang wajah polos yang tidak cocok dengan matanya.

“Saya sudah bilang jangan bergerak.”

Pergantian ke saya membuat kalimat itu terdengar seperti peringatan anak penurut. Pengikut kurus menatapnya dengan curiga, tetapi dari posisi mereka, semua memang tampak seperti kecelakaan: kotak jatuh, orang-orang berebut, tanah lunak runtuh.

Tidak ada yang melihat kabel tipis di pergelangan Tri.

Tri melepaskannya dan menyelipkannya ke saku.

“Tarik kami,” kata si plontos. Nada suaranya tak lagi mengejek. “Kami enggak akan ambil barang lo.”

“Gue enggak percaya.”

“Sumpah!”

“Sumpah orang lapar harganya lebih murah daripada sampah.”

Tri memeriksa sisi rongga. Timbunan masih bisa bergeser. Kalau ia mencoba menarik satu orang dengan tubuh kecil ini, ia akan ikut masuk. Kalau ia pergi begitu saja, Parman mungkin tertimbun ketika para pemulung lain mengguncang bukit.

Ia tidak berutang nyawa kepada mereka.

Namun membiarkan orang mati setelah menang bukan keuntungan. Itu hanya menciptakan mayat, penyelidikan, dan musuh yang punya keluarga.

Tri mengambil selang ventilasi kusam dari sisi rangka kapal. Ia memeriksa kedua ujungnya, membersihkan sumbatan dengan tongkat, lalu mendorong satu ujung ke dekat wajah Parman.

“Gigit kalau sampahnya naik. Ujung sana tetap di udara.”

Lalu ia menunjukkan panel yang menahan pengikut kurus.

“Kaki lo tidak tertindih balok. Jangan tarik ke atas. Gali ke samping, bebaskan orang plontos dulu, baru kalian gali Parman dari kanan. Kalau kalian bertiga meronta bersamaan, lapisan atas turun lagi.”

Pengikut kurus menelan ludah. “Lo... tahu dari mana?”

Tri mengangkat bahu, lalu meringis karena luka cakarnya tertarik.

“Beruntung.”

Ia merakit kembali roda kanan dengan potongan kabel cadangan. Perbaikannya lebih buruk daripada sebelumnya, tetapi sepeda bisa didorong. Satu demi satu, ia mengambil tabung yang tersebar dan memasukkannya ke dua kotak.

Parman hanya bisa menonton.

Tatapannya berubah dari marah menjadi tidak percaya ketika anak kurus itu mengambil kembali semua barang tanpa kehilangan satu kotak pun.

“Gue bakal cari lo,” desisnya.

Tri berhenti di samping kepala Parman.

“Waktu lo keluar nanti, ingat dua hal.”

Ia mengangkat dua jari.

“Pertama, saya meninggalkan selang supaya lo tetap bernapas. Kedua, saya hafal lutut kiri lo lemah. Lain kali, saya enggak perlu pakai lereng.”

Wajah Parman kehilangan warna.

Tri mendorong sepeda pergi.

Ia tidak menoleh lagi.

Matahari belum muncul ketika sebelas kotak terakhir akhirnya tersusun di balik lembaran insulasi. Tri memindahkannya dari titik simpan ke ruang kecil di bawah lantai bangunan, tempat ayah angkatnya dulu menyembunyikan logam bernilai.

Pintu ruang itu ditutup pelat rongsok.

Untuk pertama kalinya, Tri memiliki persediaan makanan.

Tidak enak. Tidak pasti aman. Namun cukup untuk membuatnya melihat hari berikutnya.

Ia duduk di depan bangunan dengan punggung menempel pada roda sepeda yang miring. Di timur, garis cahaya pucat muncul di balik lautan sampah. Lebih jauh lagi, di belakang kabut debu, kota Planet 3212 menyala dengan menara-menara neon.

Di sana ada sekolah.

Ada bengkel.

Ada orang yang membayar untuk sesuatu yang bisa bekerja.

Tri memandang tangannya yang kurus, lalu sepeda roda tiga yang baru saja menyelamatkan sebelas kotak makanan.

Hidup sudah diamankan untuk sementara.

Berikutnya, ia butuh uang.

Tri mengetuk rangka sepeda yang penyok.

“Kita mulai dari lo,” katanya. “Gue akan ubah lo jadi barang yang pantas dibayar.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!