Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Apartemen
Nathan yang sudah memegang gagang pintu mobil berhenti. Ia menoleh ke arah Laluna yang berdiri di sana dengan ekspresi sedikit ragu.
"Ada apa lagi?" tanyanya.
Laluna terdiam beberapa detik. Entah kenapa, melihat Nathan yang akan pergi membuatnya merasa ada sesuatu yang belum ia katakan. Ia menunjuk ke arah kotak makanan yang tadi ia berikan.
"Jangan lupa dimakan, oh ya nanti malam aku tidur di apartemen kamu bisa menyuslku kesana," ucapnya pelan.
Nathan menatap kotak makanan itu, lalu kembali menatap wajah Laluna. Ekspresi dingin yang biasanya selalu ada di wajahnya sedikit melunak.
"Kamu hanya ingin mengatakan itu?" tanyanya.
Laluna mengangguk kecil. "Iya. Aku masih merasa bersalah karena menganggu makanmu dan aku cuman mau bilang aku tidur di apartemen."
Nathan terdiam. Kalimat sederhana itu sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Banyak orang di sekitarnya yang selalu mengingatkan hal yang sama. Namun, entah kenapa, ketika Laluna yang mengatakannya, rasanya berbeda.
" Saya tahu, "ujarnya.
Laluna yang mendengar itu hanya mengangguk, ia memperizinkan Nathan untuk segera pergi meninggalkannya. Setelah mobil mewah itu berjalan menjauh. Laluna segera membalikkan badannya, dan tanpa sadar ia menabrak Rina yang sedang menyilangkan tangannya di dadanya.
"Katanya kamu tidak peduli, kenapa rasanya kamu mulai jatuh cinta dengan suamimu itu?" tanyanya, sedikit menggoda.
Laluna memutar bola matanya malas, "Aku hanya tidak enak saja dengannya." Laluna menunjuk ke arah dahi Rina dan mendorongnya sedikit. "Jangan berpikiran macam macam, mana mungkin aku suka pria seperti itu, dia bukan tipeku."
Laluna segera melangkah meninggalkan Rina, Rina yang melihat itu segera mengejarnya. Disisi lain, Selena yang baru saja dipukuli oleh pria pria itu menatap tajam ke arah Laluna. Ia benar benar kesal dengan Laluna, bagaimana gadis itu masih bisa menemukan pria yang lebih tanpan dan kaya dari yang ia dapatkan.
"Sialan! Aku tidak suka melihatmu bahagia seperti itu, Laluna," gerutunya.
.....
Setelah seharian syuting, Laluna akhirnya bisa merebahkan dirinya di kasur empuk. Ia menggoyang goyangkan kakinya yang masih berada di lantai.
"Lelah sekali," gumamnya.
Laluna menutup kedua matanya sejenak, membiarkan tubuhnya beristirahat setelah seharian berada di depan kamera. Syuting hari itu jauh lebih melelahkan dari biasanya. Bukan hanya karena adegan yang harus ia lakukan berulang kali, tetapi juga karena keberadaan Kevin dan Selena yang membuat suasana di lokasi terasa tidak nyaman.
Namun, ia tetap berhasil melewati semuanya. Setidaknya kali ini ia tidak membiarkan masa lalunya menghancurkan pekerjaannya.
Laluna meraih ponselnya yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia melihat beberapa notifikasi yang masuk, sebagian besar berasal dari tim produksi dan beberapa pesan dari Rina. Ia tersenyum kecil melihat pesan terakhir dari sahabatnya.
" Jangan lupa makan malam. Jangan sampai suamimu pulang malah menemukan kamu pingsan karena terlalu sibuk kerja, aku takut nanti aku yang malah diomeli oleh suamimu yang serem itu."
Laluna langsung menghela nafas. "Kenapa semua orang selalu menghubungkan aku dengan dia?Ya walau kita menikah, tetapi pernikahan itu hanya sebuah kesepakatan, " gumamnya.
Namun, ketika ia hendak membalas pesan itu, matanya tanpa sengaja melihat layar ponselnya yang menampilkan foto Nathan yang pernah ia simpan untuk kebutuhan kontrak pernikahan mereka. Laluna terdiam.
Pria itu memang menyebalkan. Terlalu dingin, terlalu kaku, dan selalu berbicara seolah semua hal harus sesuai dengan perintahnya. Tetapi, pria itu juga yang selalu membantunya.
Nathan membelanya ketika semua orang menuduhnya. Nathan tidak pernah mempermasalahkan skandalnya. Bahkan hari ini, pria itu rela meninggalkan makan siangnya hanya karena ingin membelanya di hadapan dua pengkhianat itu. Laluna segera menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku malah memikirkan dia?" Ia meletakkan ponselnya kembali. "Tidak mungkin aku menyukai pria seperti Nathan."
Baru saja ia ingin bangun untuk mandi, suara pintu apartemen terdengar terbuka. Laluna segera berlari ke arah pintu, melihat siapa yang akan datang. Dan benar saja, ia melihat suami kontrak itu tengah melangkah masuk. Pria itu masih mengenakan pakaian kerja lengkap dengan jas hitam yang membuatnya terlihat semakin berwibawa.
"Kamu belum mandi?" tanyanya.
Laluna melihat dirinya sendiri yang masih mengenakan pakaian syuting.
"Baru saja sampai. Aku terlalu lelah."
Nathan hanya mengangguk, ia segera mendudukkan dirinya di kursi sofa. Ia menatap ke arah Laluna yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Sini," ujarnya, sambil menepuk bagian sofa yang kosong.
Laluna segera melangkah ke arah Nathan, ia segera mendudukkan dirinya di sofa yang berada cukup jauh dari Nathan.
"Kenapa kamu jauh seperti itu?" tanyanya.
Laluna hanya mengangkat bahunya, "Aku belum mandi," ujarnya.
Nathan menatap wanita di sampingnya dengan ekspresi datar. Alasan yang diberikan Laluna sebenarnya terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuatnya sedikit mengernyit.
"Kamu pikir saya akan terganggu hanya karena kamu belum mandi?" tanyanya.
Laluna menoleh ke arahnya. "Ya, siapa tahu. Lagipula aku baru selesai syuting seharian. Pasti bau keringat."
Nathan terdiam sejenak. Ia memperhatikan wajah Laluna yang terlihat lelah. Tidak seperti biasanya yang selalu penuh energi dan berani membantahnya, kali ini wanita itu terlihat jauh lebih kelelahan.
"Kamu terlalu memikirkan hal kecil," ucap Nathan akhirnya.
Laluna mengerutkan kening. "Aku hanya tidak mau kamu mencium bau keringat U," gerutunya.
Laluna yang malas berdebat dengan pria dingin itu segera berdiri dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selang beberapa menit, saat Laluna ingin keluar. Sialnya, ia lupa membawa handuk.
" Ckk, kenapa harus lupa sih. Masa aku harus telanjang bulat seperti ini ke kamar, yang ada tubuhku ini nanti di lihat si pria dingin itu," gumamnya.
"Nathan..." panggilnya, mencoba meminta bantuan ke pria itu.
"Nathan," kali ini ia berteriak.
Nathan yang mendengar orang tengah memanggil dirinya segera berjalan ke depan kamar mandi.
"Ada apa Laluna?" tanyanya.
Laluna yang berada di balik pintu kamar mandi langsung terdiam ketika mendengar suara Nathan yang terdengar begitu dekat. Ia menggigit bibirnya pelan, merasa sedikit malu untuk mengatakan alasannya.
"Aku..." Laluna berhenti sejenak.
Nathan yang berdiri di depan pintu mengernyitkan kening.
"Ada apa?"
Laluna menarik napas kecil. "Aku lupa membawa handuk," ujarnya, sambil menutupi wajahnya.
Nathan hanya tersenyum tipis, ia segera berjalan mengambilkan handuk milik gadis ceroboh itu.
"Saya sudah mengambilkannya, buka pintumu dulu," ujarnya.
Laluna yang malu jika pria itu melihat lekukan tubuhnya segera berteriak, "Kamu balik badan dulu dan awas jangan sampai mengintip aku tidak suka," ujarnya.
Nathan segera membalikkan badannya, "Sudah, cepat ambil ini handukmu," jelasnya.
Laluna membuka pintu kamar mandi perlahan. Ia segera mengambil handuk dengan tangannya yang keluar, setelah mendapatkan handuk itu ia buru buru menutup pintu itu.
"Sudah, terimakasih," ucapnya pelan.
Nathan masih membelakangi dirinya. Ia baru berbalik ketika mendengar suara Laluna.
"Tenang saja, saya tidak melihat apa pun."
Laluna segera mengenakan handuknya dan segera keluar dari kamar mandi, benar saja Nathan masih berdiri di depan pintu yang membuatnya terkejut.
"Kenapa kamu belum pergi juga?"