Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Air Sumur yang Dihangatkan
Sehari berlalu tanpa Pak Hendi muncul di depan rumah.
Karina tidak melupakan percakapan dua perempuan di jalan, tetapi ia juga tidak mau membuat anak-anak hidup dalam ketegangan setiap saat. Menjelang sore, setelah nasi matang dan luka Nathan diperiksa, ia membawa dua ember ke sumur.
"Hari ini kita bersih-bersih," katanya.
Lucas mengintip ke dalam ember. "Airnya dingin."
"Makanya Mama hangatkan."
Rencana itu terdengar mudah sampai Karina harus menurunkan ember ke sumur, menariknya kembali, membawa air ke dapur, menuang sebagian ke panci kecil, menyalakan tungku, lalu mengulang semuanya karena air yang tersedia belum cukup.
Pada perjalanan ketiga, ujung sarungnya hampir tersangkut tali timba.
Lucas yang duduk di dekat pintu tertawa. Suaranya jernih, tanpa ketakutan.
"Mama kayak orang baru pertama masak air."
Karina menatap panci, lalu ember, kemudian wajah bocah itu. "Memangnya kelihatan banget?"
Lucas mengangguk dengan semangat. "Banget."
Nathan sedang mengganti kasa pada betisnya dengan bantuan Karina. Ia berusaha memasang wajah datar, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
"Kamu juga mau tertawa?" Karina bertanya.
"Nggak."
"Mulutmu bilang nggak, mukamu bilang iya."
Nathan segera menunduk untuk memeriksa simpul pita baru pada perbannya. Lucas kembali terkikik.
Karina menguji suhu air dengan bagian dalam pergelangan tangan. Setelah cukup hangat, ia menuangkannya ke baskom besar dan memasang kain panjang sebagai penutup di sudut dapur. Anak-anak bisa membersihkan tubuh tanpa terkena angin dari halaman.
Lucas masuk lebih dulu. Beberapa saat kemudian terdengar cipratan besar.
"Pelan-pelan, airnya terbatas," seru Karina.
"Bukan aku! Airnya lompat sendiri!"
Nathan mendengus. "Air nggak punya kaki."
"Punya, tadi kena Kak Nathan."
Setetes air melayang melewati kain dan jatuh tepat di pipi Nathan.
Anak sulung itu terdiam. Lucas mengintip dari samping kain, bersiap dimarahi. Nathan mengusap pipinya, lalu mencelupkan ujung jari ke baskom dan memercikkan air balik ke adiknya.
Lucas menjerit senang.
Beberapa detik kemudian, suara cipratan memenuhi dapur. Nathan masih berhati-hati agar perbannya tidak basah, tetapi wajah seriusnya sudah hilang. Ketika Lucas mencoba membalas dan malah menyiram kakinya sendiri, tawa Nathan akhirnya pecah.
Karina berdiri di ambang pintu sambil memegang handuk tipis.
Ia tidak ingat pernah mendengar kedua anak itu tertawa seperti ini dalam sisa ingatan tubuh lama. Tidak ada bahu yang mengecil menunggu bentakan. Tidak ada mata yang diam-diam memeriksa tangannya. Hanya dua bocah dengan rambut basah yang saling menuduh curang.
"Sudah, sebelum dapurnya berubah jadi kolam ikan."
Lucas berlari keluar dengan handuk melingkari bahu. "Mama ikut foto!"
"Foto?"
Ia menunjuk HP retak yang sedang diisi daya dari baterai kecil milik rumah. "Yang bertiga."
Karina mengambilnya. Kamera depan buram dan layar retaknya membelah wajah mereka, tetapi masih bisa digunakan. Ia duduk di antara Nathan dan Lucas, mengangkat HP sejauh lengan, lalu mencoba memasukkan tiga kepala ke dalam bingkai.
"Nathan, mendekat sedikit."
Nathan bergeser satu jari.
"Sedikit lagi."
Ia bergeser satu jari lagi.
Lucas tidak sabar. Ia menarik lengan kakaknya sampai Nathan menabrak bahu Karina.
Klik.
Foto pertama menangkap Nathan yang terkejut, Lucas yang tertawa lebar, dan Karina dengan mulut terbuka karena hampir menjatuhkan HP.
"Jelek," kata Nathan.
"Bagus," bantah Lucas.
Karina menatap hasilnya. Rambut kedua anak itu menempel di kening. Pipi mereka masih terlalu kurus, tetapi mata mereka tak lagi tampak kosong. Di foto itu, Nathan bahkan lupa memasang wajah waspada.
"Mama simpan," katanya.
"Yang bagus saja," Nathan bersikeras.
Mereka mengambil tiga foto lagi. Tak ada yang benar-benar rapi. Pada satu foto, Lucas memejamkan mata. Pada foto lain, Nathan melihat ke samping. Namun Karina menyimpan semuanya di album HP.
Kelak, ia ingin mengisi album itu sampai tak ada ruang tersisa.
Malam datang bersama udara yang lebih dingin. Setelah makan, Karina memeriksa pintu dua kali dan meletakkan lampu minyak dekat tikar. Ia masih memikirkan Pak Hendi, tetapi kelelahan menarik kelopak matanya turun lebih cepat.
"Mama tidur dulu," gumamnya.
Lucas sudah meringkuk di bawah selimut. Nathan masih duduk, memperhatikan Karina menggosok kedua tangan yang kaku setelah seharian terkena air sumur.
Karina memejamkan mata.
Entah berapa lama berlalu ketika bunyi sangat kecil dari arah dapur membangunkannya. Ia hendak bangkit, tetapi langkah kaki yang terdengar terlalu ringan untuk orang dewasa.
Dari celah kelopak mata, ia melihat Nathan berjalan dengan ujung kaki.
Anak itu berjongkok di depan tungku yang masih menyimpan bara. Ia memasukkan dua ranting kecil, meniupnya pelan, lalu meletakkan panci berisi sedikit air. Setiap beberapa detik ia menoleh ke ruang depan untuk memastikan Karina belum terbangun.
Karina tetap diam.
Nathan membungkus gagang panci dengan kain sebelum mengangkatnya. Air hangat itu ia tuangkan ke dalam cangkir enamel yang pinggirnya sudah gompal. Ia membawa cangkir dengan kedua tangan, selangkah demi selangkah agar tidak tumpah.
Sesampainya di dekat tikar, ia tidak memanggil.
Ia hanya meletakkan cangkir di dekat tangan Karina, lalu mendorongnya beberapa sentimeter sampai hawa hangat menyentuh jemarinya.
Gerakan itu sederhana. Diam-diam, hampir malu untuk diketahui.
Hidung Karina mendadak terasa perih.
Ayahnya dulu juga seperti itu. Seorang mantan pelatih taekwondo yang kemudian mengemudikan truk untuk menghidupi mereka. Telapak tangannya kasar, ucapannya sedikit. Ketika Karina belajar sampai larut atau menulis tugas akhir di meja makan, ayahnya tidak pernah bertanya panjang. Ia hanya datang membawa segelas air hangat, meletakkannya di sudut meja, lalu pergi sebelum Karina sempat mengucapkan terima kasih.
Dari laki-laki itu pula Karina belajar berdiri dengan kuda-kuda yang benar, jatuh tanpa melukai kepala, dan menggunakan tenaga dari pinggang, bukan sekadar lengan. Latihan bertahun-tahun serta tubuh yang memang kuat membuat tenaganya sering mengejutkan orang lain.
Kini, di rumah tanah yang jauh dari kehidupan lamanya, seorang anak enam tahun mengulang perhatian yang sama.
Nathan membetulkan posisi cangkir sekali lagi. Setelah yakin cukup dekat, ia berbalik.
"Nathan," panggil Karina pelan.
Anak itu membeku. "Aku nggak main api."
Karina membuka mata. Ia duduk dan mengambil selimut kecil di sebelah Lucas.
"Sini."
Nathan tampak hendak mundur. Karina tidak meraih paksa. Ia hanya membuka selimut dan menunggu.
Beberapa detik kemudian, Nathan berjalan mendekat.
Karina menyelimuti bahunya, lalu menariknya ke pelukan yang longgar. Tubuh kecil itu kaku pada awalnya. Ketika tidak ada teguran dan tidak ada pertanyaan lain, kepalanya perlahan bersandar ke bahu Karina.
"Terima kasih, Nak," bisik Karina.
Suaranya bergetar. Ia menekan bibir agar tangis tidak keluar dan menakuti anak itu.
Nathan tidak menjawab. Namun tangannya yang dingin mencengkeram sedikit kain di pinggang Karina.
Cangkir enamel di samping mereka masih mengepulkan uap tipis.
Lalu terdengar langkah kaki di luar.
Bukan langkah sandal para tetangga yang biasa menyeret di tanah. Langkah itu lambat, sengaja diringankan, lalu berhenti tepat di depan pintu.
Lucas terbangun. Nathan langsung melepaskan pelukan dan menoleh.
Tok. Tok.
Ketukan itu begitu pelan, tetapi membuat mereka bertiga serentak menahan napas.