NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

​Jantung Nadya berdetak bertalu-talu hingga dadanya terasa sesak, sementara sekujur tubuhnya mulai bergetar hebat. Rasa pusing akibat trauma masa lalu mendadak menghantam kepalanya. Tampaknya, keputusan nekat Nadya untuk memblokir nomor telepon Arnold telah menyulut sumbu amarah cowok berwajah bengis itu, hingga ia berani bertindak gila dengan menghadangnya di tengah jalan seperti ini.

​"Paman, jangan keluar!" larang Nadya dengan suara memekik panik saat melihat tangan Paman Amar bergerak hendak membuka tuas pintu.

​"Tapi Nona, kita harus menanyakan apa maksud mereka menghalangi jalan..."

​Kalimat Paman Amar terputus secara brutal. Segalanya terjadi begitu cepat. Salah satu anak buah Arnold merenggut paksa pintu di sisi kemudi hingga terbuka lebar, sementara di saat yang bersamaan, Arnold sendiri sudah mencengkeram tuas pintu di samping Nadya dan membukanya dengan satu hentakan kasar.

​Tanpa basa-basi, Arnold langsung merangsek maju dan menyeret lengan Nadya.

​"Arnold, lepasin gue! Berengsek!" jerit Nadya histeris. Ia berusaha sekuat tenaga menahan bobot tubuhnya, mencengkeram apa saja yang bisa diraih di dalam kabin agar tidak keluar dari mobil. Namun, kekuatan fisik Nadya jelas bukan tandingan tenaga Arnold yang kalap. Dengan satu tarikan luar biasa kasar, Arnold berhasil menyentak tubuh gadis itu hingga terlempar keluar dari perlindungan kabin mobil.

​"Ikut gue! Lo harus dikasih hukuman karena sudah berani abaikan pesan-pesan gue dan lancang memblokir nomor gue!" bentak Arnold dengan urat-urat leher yang menegang.

​"Gue gak mau! Lepaskan gue, sialan!" umpat Nadya kasar. Dalam puncak kepanikan yang mendesak, ia menunduk dan menggigit sekuat tenaga punggung tangan Arnold yang mencengkeram erat lengannya.

​Pekikan kesakitan lolos dari mulut Arnold. Cengkeramannya mengendur, memberikan celah bagi Nadya untuk menyentak tangannya bebas. Namun, kebebasan itu hanya bertahan sedetik.

​"Sialan!"

​PLAK!

​Satu tamparan brutal menghantam telak pipi mulus Nadya. Embusan angin dari ayunan tangan Arnold terasa begitu dingin sebelum rasa panas yang membakar menjalar di wajahnya. Kuatnya hantaman itu membuat keseimbangan Nadya runtuh seketika, ia terlempar dan jatuh tersungkur di atas kerasnya aspal. Pandangannya sempat memburam, menyisakan denyut linu yang hebat di rahangnya.

​"Nona Nadya!"

​Suara parau Paman Amar memekik di antara deru napasnya. Pria paruh baya itu sejak tadi telah dikeroyok habis-habisan. Wajahnya sudah babak belur akibat kalah jumlah, namun melihat sang nona dianiaya, ia mengumpulkan sisa tenaganya untuk menangkis serangan lawan dan merangkak berniat melindungi Nadya.

​"Ck, pengganggu!" desis Arnold, tatapannya menggelap.

​Merasa harga dirinya diinjak-injak oleh gigitan Nadya, Arnold melampiaskan seluruh amarahnya yang membabi buta kepada Paman Amar. Ia menyambar balok kayu yang tergeletak di aspal, lalu menghantamkannya berulang kali ke tubuh ringkih sang sopir. Paman Amar langsung terkapar tak berdaya, bersimbah darah dengan luka lebam yang mengerikan di sekujur tubuh. Namun, kegilaan Arnold belum usai. Cowok itu merogoh saku celananya, menarik sebilah pisau lipat yang berkilat tajam di bawah sinar matahari, lalu mengacungkannya siap menghabisi nyawa Paman Amar.

​Kesadaran Nadya yang sempat berputar akibat tamparan tadi mendadak ditarik paksa kembali ke realitas. Matanya melebar sempurna melihat kilatan perak di tangan Arnold yang terayun lurus menuju dada Paman Amar.

​Tanpa sempat berpikir, digerakkan oleh insting murni untuk melindungi ayah dari pria yang dicintainya, Nadya bangkit dan menerjang maju, memasang badannya sebagai perisai.

​Jleb!

​Seketika dunia di sekitar Nadya seolah melambat, lalu membeku sepenuhnya.

​Awalnya, tidak ada rasa sakit. Hanya ada sensasi dingin yang ganjil dan hampa saat logam tajam itu membelah kulit dan menancap dalam di perutnya. Namun, sedetik kemudian, rasa dingin itu meledak menjadi gelombang rasa sakit yang teramat masif, seolah ada cairan api yang dituangkan paksa dan membakar seluruh organ dalamnya. Rasa perih yang begitu pekat merenggut seluruh pasokan udara di paru-parunya dalam sekejap.

​Nadya terkesiap, bibirnya bergetar tanpa mampu mengeluarkan suara. Pandangannya perlahan menggelap dari tepi, digantikan bintik-bintik hitam yang berputar. Bersamaan dengan rasa hangat darah yang mulai merembes basah menembus pakaiannya, kekosongan yang dingin menjalar dari ujung jari-jarinya, meruntuhkan seluruh kekuatan di lututnya untuk tetap berdiri.

***

​"Bagaimana? Kau sudah bisa menghubungi Tuan Andy?" tanya salah satu pria kekar berpakaian hitam serbapandak dengan rambut gondrong yang diikat rapi.

​"Belum bisa. Nomornya masih tidak aktif," jawab rekannya, seorang pria berkepala plontos berbadan tegap yang sejak tadi sibuk menatap layar ponsel dengan jemari gemetar.

​"Sepertinya pesawat mereka belum mendarat di LA," gumam si rambut gondrong, mencoba menganalisis situasi.

​"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" Suara si kepala plontos bergetar dipenuhi rasa cemas yang mendalam, sebuah kontras yang kentara dengan atmosfer lorong rumah sakit yang begitu bising oleh derap langkah kaki, instruksi darurat para medis, dan gesekan roda brankar yang lalu lalang membawa pasien.

​Pria berambut gondrong itu hanya bisa menghela napas berat, menatap nanar ke arah pintu ruang operasi yang lampu merahnya masih menyala. "Mau bagaimana lagi? Sekarang, bersiap-siap saja kita menerima amukan yang bisa mencabut nyawa kita."

​Mereka berdua adalah bodyguard elite yang ditugaskan khusus oleh Andy Sismoko untuk menjaga keselamatan putri tunggalnya.

Namun selama ini, penjagaan itu terpaksa dilakukan secara klandestin dari jarak jauh. Nadya sangat keras kepala, ia tidak ingin terlihat mencolok atau dikekang oleh keberadaan pengawal yang mengekorinya selama 24 jam penuh.

​Sialnya, hari ini pertahanan mereka jebol.

​Skenarionya berjalan begitu rapi hingga mereka terlambat menyadari sebuah jebakan. Saat perjalanan pulang dari bandara tadi, kedua pengawal ini tetap menguntit mobil Nadya dari jarak aman yang legal. Namun di tengah jalan, mobil mereka mendadak oleng akibat kendala teknis. Setelah diperiksa, dua ban mobil mereka robek parah akibat melindas ranjau paku yang sengaja ditebar di rute tersebut. Proses mengganti ban memakan waktu berharga beberapa menit.

​Begitu mobil bisa kembali dipacu, pasokan darah di wajah mereka seketika menyusut drastis demi melihat pemandangan di depan sana. Mobil sang nona telah dikepung oleh gerombolan berandalan. Lebih mengerikan lagi, tubuh Nadya sudah ambruk bersimbah darah akibat luka tusukan yang parah.

​Dalam kondisi panik dan murka, si rambut gondrong sempat melepaskan tembakan peringatan ke arah kerumunan. Peluru panas yang ditembakkan secara acak itu bahkan telak menembus kepala salah satu anak buah Arnold hingga tewas di tempat. Gerombolan itu langsung kocar-kacir melarikan diri, termasuk sang pelaku utama, meninggalkan kekacauan massal di atas aspal.

​Kejadian ini jelas telah diperhitungkan dengan sangat matang oleh pihak lawan. Mulai dari sabotase ban mobil, hingga pemilihan timing yang tepat di saat Andy dan Marini baru saja lepas landas meninggalkan negara ini. Namun, tak peduli seberapa rapi musuh menyusun taktik, kedua pria kekar itu tahu betul bahwa mereka telah lalai. Kini, mereka hanya bisa pasrah berdiri di lorong dingin itu, menunggu konsekuensi paling fatal yang siap meruntuhkan karier dan hidup mereka.

***

​Derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian lorong rumah sakit yang dingin. Suaranya bergema nyaring, beradu dengan napas yang memburu tak beraturan. Hentakan sepatu lars itu terdengar berlari di tengah sunyi malam, seolah mengejar waktu yang kian menipis. Pandangannya menyapu setiap deret angka di pintu kamar, berusaha menemukan ruangan yang sempat disebutkan oleh seorang suster kepadanya tadi.

​Ceklek.

​Pintu terbuka dengan perlahan, menampilkan sosok yang tengah ditunggu. Pandangan pria itu tertuju pada satu titik, sebelum akhirnya suara parau memecah keheningan ruangan.

​"Rexsaka... kamu di sini?"

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!