#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Berita kematian Pak Danu menyebar bagaikan angin malam yang dingin, menusuk hingga ke tulang. Setelah tiga hari berjuang di ruang ICU melawan serangan jantung yang merusak organ vitalnya, pria tua yang dulu begitu disegani itu akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Tak ada penghormatan terakhir yang megah. Tak ada deretan karangan bunga dari para pejabat atau kolega bisnis. Jenazah Pak Danu dimakamkan secara sederhana, hanya dihadiri oleh Andrea yang berdiri mematung dengan pakaian hitam lusuh dan Selina yang terus tertawa kecil sebelum akhirnya menjerit-jerit histeris di depan pusara.
Kehancuran finansial, kehilangan suami, dan rasa frustrasi mendalam atas bungkamnya Andrea mengenai ayah dari janinnya menjadi pukulan berat yang meremukkan mental Selina. Wanita yang dulunya sangat anggun, dominan, dan penuh kendali itu kini sepenuhnya kehilangan jati dirinya.
Hanya seminggu setelah pemakaman Pak Danu, Andrea harus menandatangani dokumen penyerahan ibunya ke rumah sakit jiwa daerah. Momen ketika Selina diseret lembut oleh dua perawat sambil memeluk map lusuh karena menganggap benda itu sebagai kejayaan keluarganya yang hilang, menjadi adegan terakhir yang melengkapi hancurnya dunia Andrea.
Dengan sisa tabungan rahasia di rekening pribadinya yang tak tersentuh penyitaan Andrea keluar dari rumah mewah keluarga Adikara. Nominal uang yang ia miliki saat ini sebenarnya teramat kecil jika dibandingkan dengan gaya hidupnya dulu. Akan tetapi Andrea tetap mengemas sebuah koper berisi pakaian seadanya.
Ia meninggalkan kawasan elite tempat ia dibesarkan dan berpindah ke pinggiran kota. Andrea menyewa sebuah rumah kontrakan kecil beratap seng dengan dinding cat biru yang memudar dan terkelupas di beberapa sisi. Rumah itu sepi, lembap, dan sempit, namun bagi Andrea, tempat itu adalah benteng perlindungan terakhir dari kejamnya dunia luar.
Setiap pagi, rasa mual akibat morning sickness menyiksanya, tetapi Andrea tidak lagi menangis.
Rasa sakit, pengkhianatan, dan kehancuran telah membakar habis seluruh harapannya. Ia sudah berhenti menyalahkan takdir. Ia berhenti meratapi kepergian Bara dan kondisi ibunya, dan yang paling penting, ia sudah berhenti memikirkan Bara.
Nama itu kini seperti cermin retak yang tak ingin lagi ia lihat. Andrea tidak bermaksud membalas dendam, tidak berniat melabrak Bara di kantor mewahnya, dan sama sekali tak sudi meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya.
Bagi Andrea, Bara sudah mati bersama masa lalunya. Pria itu mendapatkan dendam dan hartanya, sementara Andrea memilih memelihara sisa hidup serta calon buah hatinya dalam ketenangan yang sunyi.
Gadis itu mulai bekerja paruh waktu secara online sebagai penerjemah lepas dan mengelola toko bunga kecil milik tetangganya demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk persalinan nanti. Wajahnya yang dulu memancarkan kehangatan yang lembut kini berubah tenang, dingin, dan tertutup.
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit yang baru saja ia ambil alih, Bara berdiri di dekat dinding kaca raksasa. Kuliahnya selesai tepat waktu, kini ia bersiap menyambut masa depannya sebagai pemilik sah Adikara group.
Di tangannya, tersaji laporan lengkap mengenai kehancuran keluarga Selina. Kematian Pak Danu, masuknya Selina ke rumah sakit jiwa, hingga pengosongan rumah megah mereka. Segalanya berjalan persis seperti rencana yang ia susun selama bertahun-tahun. Dendam atas kematian ibunya telah terbayar tuntas. Kemenangan mutlak ada di tangannya. Namun, mengapa dadanya terasa begitu hampa.
Bara mengetukkan jemarinya di kaca. Tatapannya tajam, menanti sebuah skenario yang seharusnya terjadi.
Menurut perhitungannya, Andrea seharusnya sudah berlutut di depan pintunya. Gadis polos yang begitu mencintainya itu seharusnya datang sambil menangis meraung-raung, memohon belas kasihan, menuduhnya penjahat, atau minimal mengemis bantuan finansial untuk biaya pengobatan ibunya. Bara bahkan sudah menyiapkan kalimat-kalimat dingin untuk semakin menghancurkan mental gadis itu saat ia datang.
Akan tetapi, hari terus berganti, dan Andrea tak pernah muncul.
Tak ada telepon. Tak ada pesan singkat. Tak ada teror dari gadis yang dulu selalu menatapnya dengan binar penuh cinta. Andrea menghilang bagaikan ditelan bumi.
Rasa penasaran yang rapuh itu lambat laun berubah menjadi ketidaktenangan yang menggerogoti pikiran Bara. Sesuatu yang aneh mulai tumbuh di dalam dadanya. Sebuah ketidaksenangan yang absurd karena menyadari bahwa dirinya tak lagi dipedulikan oleh wanita yang bahkan rela menyerahkan nyawa untuknya.
"Cari tahu di mana Andrea sekarang," perintah Bara pagi itu lewat sambungan telepon kepada orang kepercayaannya. "Pastikan kamu menemukan setiap detail aktivitasnya. Kirim semua foto ataupun vidio setelahnya."
"Baik Bos," sahut orang itu dari seberang telepon sebelum akhirnya bergerak saat itu juga.
Dua hari kemudian, sebuah amplop cokelat mendarat di meja kerja Bara.
Pria itu membuka amplop tersebut dengan percaya diri, memperkirakan akan melihat foto-foto Andrea yang meratapi hidupnya dalam kemiskinan atau depresi berat. Namun, foto-foto yang keluar dari amplop itu justru menghantam kesadarannya.
Di dalam foto, Andrea terlihat berdiri di depan sebuah rumah kontrakan sempit. Pakaiannya sangat sederhana, rambutnya diikat asal. Namun, tidak ada raut keputusasaan di sana. Wajah gadis itu tampak teramat tenang.
Sebuah ketenangan datar dari seseorang yang telah lepas dari segala beban harapan. Dalam salah satu foto, Andrea terlihat mengelus lembut perutnya yang masih tersembunyi di balik baju longgar sambil tersenyum tipis ke arah sekuntum bunga di tangannya.
Foto itu membuat hati Bara berdesir. Selain karena wajah alami Andrea yang sangat cantik, ia juga memperhatikan gerak-geriknya yang mirip dengan seseorang yang sedang hamil. Senyumnya juga begitu lembut. Sama persis saat dulu berada di dekat Bara, tapi sekarang, senyum indah itu bukan untuk Bara lagi.
Bara mencengkeram foto itu hingga remuk di dalam genggamannya. Rahangnya mengeras, dan jantungnya berdegup kencang oleh sebuah gelombang emosi asing yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Perpaduan antara rasa tidak terima, gelisah, dan ego kelelakiannya yang mendadak terkoyak.
Gadis yang dulu menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya, kini menatap dunia seolah-olah seorang 'Bara' tak pernah ada dalam sejarah hidupnya.
Dan entah mengapa, sikap tak peduli dari Andrea justru mulai menyalakan kegilaan baru dalam diri Bara.