NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Sandiwara Di Rumah Menteng

Pagi hari di penthouse SCBD dimulai dengan suasana yang begitu formal, hening, dan sarat akan ketegangan yang tersembunyi. Tepat pukul delapan pagi, Pak Aslan membawa dua orang petugas resmi dari dinas kependudukan beserta seorang penghulu ke dalam rumah. Tanpa adanya dekorasi bunga-bunga megah, alunan musik pernikahan, atau deretan papan bunga selamat, prosesi ijab kabul dan pencatatan hukum berlangsung sangat tertutup di ruang tamu utama.

Aura Zhafira duduk di sisi meja marmer dengan balutan gaun simpel berwarna krem. Di hadapan para saksi dan petugas, Reno Adhyastha mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang sangat tegas, lugas, dan tanpa keraguan sedikit pun. Hanya dalam hitungan menit, status kehidupan Aura berubah total. Ia resmi menjadi istri sah dari seorang Reno Adhyastha secara hukum dan agama.

Dua buah buku nikah serta dokumen perjanjian tertutup berikatan pita merah kini resmi mengikat takdir mereka di atas kertas.

"Selamat, Tuan Reno, Nona Aura. Pernikahan kalian sudah terdaftar secara resmi oleh negara," ucap petugas catat sipil seraya menyerahkan berkas-berkas tersebut.

Sesuai norma, Aura membungkuk dan mencium punggung tangan kanan Reno sebagai formalitas di depan para saksi. Sentuhan kulit tangan Reno yang hangat dan kokoh seketika mengirimkan desir aneh di dada Aura. Namun, Reno dengan cepat menarik jemarinya kembali begitu para tamu dan petugas pamit mundur meninggalkan rumah.

"Waktu kita tidak banyak," kata Reno dingin seraya melirik jam tangan mewahnya. "Ganti pakaianmu. Pak Aslan sudah menyiapkan gaun khusus di kamarmu. Kita harus sampai di kediaman Nenek jam sepuluh tepat."

Aura melangkah masuk ke kamarnya. Di atas tempat tidur, sudah tergelar sebuah gaun anggun berwarna pink pastel berbahan sutra eksklusif lengkap dengan hijab senada yang sangat pas di tubuhnya. Ketika Aura keluar dari kamar sepuluh menit kemudian, Reno yang sedang berdiri merapikan jam tangannya sempat tertegun sejenak. Pria itu menatap Aura dari atas sampai bawah, seolah terperangah oleh keanggunan dan kecantikan alami Aura yang terpancar begitu lembut tanpa perlu riasan tebal.

"Bagaimana? Apakah penampilan saya terlalu berlebihan untuk acara keluarga?" tanya Aura canggung, meremas tas tangannya.

Reno berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya berdehem. "Cukup rapi dan pantas. Ayo berangkat sekarang."

Kawasan elit Menteng selalu dikenal dengan deretan rumah-rumah berarsitektur kolonial yang megah, tenang, dan tertutup rapat. Mobil Alphard hitam milik Reno berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi tempa yang menjulang tinggi. Begitu gerbang terbuka, mobil menyusuri pekarangan luas bernuansa hijau rindang sebelum akhirnya berhenti di depan teras utama kediaman besar keluarga Adhyastha.

Aura menggenggam erat tas tangannya. Selama ini, sebagai pembawa berita utama di TV nasional, ia terbiasa mewawancarai pejabat tinggi, menteri, hingga pengusaha papan atas di depan kamera. Namun menghadapi Nenek Ratna Adhyastha matriarki berdarah dingin yang memegang kendali saham mayoritas Adhyastha Group membuat keberaniannya sedikit goyah.

"Dengar baik-baik," bisik Reno pelan saat mereka berdiri di depan pintu kayu ukir yang besar.

Tanpa peringatan, tangan kekar Reno melingkar di pinggang Aura, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga bersandar di sisinya. Aura menahan napas, terkejut oleh sentuhan mendadak yang terkesan intim itu.

"Nenek adalah wanita yang sangat jeli dan berpengalaman," lanjut Reno, suaranya berbisik tepat di samping telinga Aura hingga hembusan napas hangatnya terasa menyapu kulit leher Aura. "Satu gerakan canggung atau keraguan saja bisa membuat beliau curiga. Ikuti alur permainan saya dan jangan pernah membantah."

"I-iya, saya mengerti," jawab Aura gugup, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang mendadak berpacu liar.

Pintu besar itu terbuka. Seorang pelayan tua menyambut mereka dengan senyum hangat dan memandu mereka menuju ruang keluarga bernuansa klasik yang dihiasi lukisan-lukisan langka serta furnitur kayu jati ukir berharga fantastis.

Di atas sofa utama, duduk seorang wanita tua bertubuh tegap. Meskipun rambutnya sudah memutih sepenuhnya dan usianya mendekati tujuh puluh tahun, binar mata Nenek Ratna masih sangat tajam, jernih, dan penuh wibawa. Tatapan matanya yang kelam langsung menyapu sosok Reno dan Aura yang berjalan berdampingan.

"Reno... jadi ini wanita yang membuatmu terburu-buru mendaftarkan pernikahan secara mendadak tanpa memberi tahu Nenek terlebih dahulu?" suara Nenek Ratna terdengar dalam, berat, dan penuh selidik.

Reno sama sekali tidak melepaskan rangkulannya di pinggang Aura. Pria itu justru menarik Aura sedikit lebih rapat ke tubuhnya dengan gestur protektif. "Selamat pagi, Nenek. Kenalkan, ini Aura Zhafira. Istri Reno."

Aura melangkah maju dengan senyuman paling anggun dan santun yang ia miliki. Ia membungkuk hormat dan mencium tangan Nenek Ratna dengan lembut. "Selamat pagi, Nenek. Maafkan kami jika keputusan pernikahan yang mendadak ini membuat Nenek terkejut."

Nenek Ratna diam sejenak, memandangi wajah Aura dengan tatapan menembus seolah sedang membaca isi pikiran Aura. Ruangan itu mendadak hening dan tegang. Aura tetap mempertahankan posisi senyumnya yang tenang dan matang, mengandalkan seluruh pengalaman profesionalnya saat membawakan siaran langsung di televisi.

"Aura Zhafira..." gumam Nenek Ratna perlahan, memecah keheningan. "Presenter berita Prime Time di stasiun TV nasional. Saya sering menonton siaranmu tiap malam."

Aura menghembuskan napas lega yang tersembunyi. "Suatu kehormatan besar bagi saya, Nenek."

"Sini duduk di sebelah Nenek," titah wanita tua itu seraya menepuk bagian sofa kosong di sampingnya.

Aura melirik Reno sekilas, lalu duduk dengan anggun di samping Nenek Ratna. Sementara Reno mengambil posisi duduk di sofa tunggal yang berada tepat di sebelah mereka.

Nenek Ratna meraih jemari Aura, menggenggamnya dan mengamati cincin pernikahan polos berbahan platina yang melingkar di jari manis Aura. "Wanita muda zaman sekarang biasanya mengincar pesta pernikahan megah bernilai miliaran rupiah dan sorotan kamera media. Tapi Reno bilang, kamu yang meminta agar pernikahan ini digelar sangat sederhana dan tertutup. Kenapa?"

Aura menatap mata Nenek Ratna dengan kejujuran yang terpancar alami. "Bagi saya, Nenek... esensi dari sebuah pernikahan adalah ikatan janji yang suci di antara dua manusia dan keberkahan keluarga, bukan kemewahan pesta di depan kamera. Profesi saya sudah cukup membuat kehidupan saya disorot publik. Untuk pernikahan, saya hanya menginginkan ketenangan."

Reno yang duduk di seberang mereka sempat menahan napas mendengar jawaban Aura. Jawaban wanita itu begitu cerdas, diplomatis, dan terasa sangat tulus tanpa cela sedikit pun.

Nenek Ratna mengamati raut wajah Aura selama beberapa detik, mencari sinyal kebohongan di sana. Namun, ketenangan dan keanggunan Aura tampaknya berhasil meluluhkan ketegangan di raut wajah sang matriark. Senyuman tipis perlahan terukir di bibir Nenek Ratna.

"Jawaban yang sangat bijak dan menyentuh," puji Nenek Ratna tulus. Ia menoleh pada cucunya dengan raut penuh kepuasan. "Reno, pilihanmu kali ini benar-benar tidak salah. Dia bukan sekadar cantik, tapi punya martabat, harga diri, dan pemikiran yang matang. Sangat cocok menjadi pendamping CEO Adhyastha Corporation."

Reno tersenyum tipis sebuah senyuman formal yang sangat jarang diperlihatkannya pada orang lain. "Reno selalu memastikan untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga kita, Nenek."

"Tapi ingat, Reno..." raut wajah Nenek Ratna kembali mendadak serius dan menekan, "...karena kalian sudah menikah resmi, Nenek ingin kalian wajib menginap di rumah ini setiap akhir pekan. Dan yang paling penting, Nenek menunggu kabar kehamilan Aura sebelum rapat besar pemegang saham tahun depan."

Uhuk!

Aura yang baru saja hendak menyesap teh hangat dari cangkir porselen di mejanya seketika tersedak pelan. Matanya membelalak kaget menatap Nenek Ratna, sementara Reno di seberangnya mendadak duduk kaku dengan raut wajah yang membeku total.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!