Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Sedan hitam yang dikendarai Rowan membelah keheningan malam kota yang basah. Namun, kendaraan itu tidak mengarah ke penthouse tempat Rossi berada, melainkan berbelok memasuki area parkir tersembunyi di lantai atas sebuah gedung pencakar langit—lokasi sebuah klub pribadi eksklusif yang biasa digunakan para petinggi untuk mencari ketenangan tanpa terganggu hiruk-pikuk publik.
Di dalam lounge pribadi yang sepi dan bertembok kedap suara, Rowan duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Di hadapannya, berdiri Brian—asisten pribadinya yang tangkas, yang juga merupakan orang kepercayaan paling setia dari sang ayah, Kaelor Vale-Knight.
...°°°°°°...
Brian mematung di tempatnya. Wajahnya yang biasa tenang tanpa ekspresi kini menunjukkan kekagetan yang luar biasa. Matanya membelalak kaget mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut bos mudanya.
"Kau... kau tamat, Rowan!" desis Brian dengan suara tertahan, matanya melirik ke arah pintu lounge seolah takut ada dinding yang memiliki telinga. "Bisa-bisanya kau menikahi wanita lain tanpa persetujuan keluarga? Tanpa sepengetahuan Tuan Kaelor dan Nyonya?! Kau benar-benar sudah gila!"
Rowan tidak membalas makian itu dengan amarah. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan jari-jarinya di atas paha. Tatapan matanya yang pekat tampak menerawang menembus gelas kristal berisi cairan amber di atas meja.
"Dia gadis tanpa identitas yang dijual oleh ayahnya sendiri di klab malam, Brian," sahut Rowan pelan, suaranya menyimpan beban kelelahan yang teramat berat.
"Aku menyelamatkannya. Aku tidak tega membiarkannya hancur di tempat itu... Aku takut Mommy malah tidak setuju jika aku membawanya langsung ke rumah, apalagi dia pernah berada di klab malam... walaupun aku adalah pria pertama yang menyentuhnya."
Brian paruh baya itu memegang pelipisnya, memijatnya kasar. "Tetap saja! Menyembunyikan pernikahan hukum dari Ayahmu adalah tindakan bunuh diri! Jika Tuan Kaelor tahu aku menyembunyikan hal ini, kepala saya yang akan jadi taruhannya, Rowan!"
Brian menghela napas panjang, mendudukkan dirinya di kursi tepat di seberang Rowan.
Pria yang terbiasa menangani krisis bisnis itu kini menatap Rowan dengan pandangan menyelidik yang penuh simpati sekaligus kecemasan.
"Lalu... apa yang sebenarnya kau rencanakan sekarang?" tanya Brian lurus.
Rowan terdiam cukup lama. Keheningan merayap di antara mereka, hanya diiringi denting es batu yang mencair di dalam gelas.
Rowan membasahi bibirnya yang kering, lalu menatap Brian dengan mata yang dipenuhi keraguan mendalam—sebuah pemandangan langka dari seorang calon penerus Vale-Knight.
"Jujur saja... aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, Brian," aku Rowan lirih. Suaranya terdengar sangat jujur, menunjukkan betapa rapuhnya pertahanan mental pria itu di balik topeng ketegasannya.
"Soal apa?"
"Soal Rossi... dan soal kalimat yang diucapkannya tadi pagi di dapur," bisik Rowan. Ia teringat kembali bagaimana mata jernih Rossi menatapnya, bagaimana gadis itu dengan polos dan tulus berkata: 'Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama.'
Rowan mengepalkan tangannya di atas lutut. "Perkataan Rossi soal membesarkan anak bersama-sama... apakah hal itu perlu kuberikan pertimbangan? Haruskah aku memberinya ruang untuk tetap menjadi ibu dari anak itu kelak?"
Brian menaikkan sebelah alisnya, terkejut mendengar perubahan pola pikir bosnya. "Bukankah dari awal rencanamu hanya menjadikan pernikahan itu sebagai sarana legalitas untuk mendapatkan hak asuh anak, lalu membiarkannya pergi?"
"Memang!" potong Rowan cepat. "Tapi melihat kepolosannya, melihat bagaimana dia ditelantarkan oleh keluarganya... ada rasa tidak tega yang amat sangat di dalam dadaku. Tapi di sisi lain..." Rowan memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kenangan kelam empat tahun lalu kembali mencuat ke permukaan. "...bagaimana dengan janjiku atas nama sahabatku, Reagen?"
Nama itu kembali diucapkan, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa kian berat.
"Aku mengikat diriku pada Cathez di atas sumpah kepada Reagen," lanjut Rowan dengan nada bergetar. "Aku berjanji pada mendiang untuk menjaga Cathez, memberikannya nama besar dan perlindungan. Jika aku melangkah lebih jauh... jika aku benar-benar menceraikan Cathez demi hidup bersama Rossi dan anak itu... apakah aku sedang mengkhianati Reagen Sahabatku? Apa aku benar-benar harus menceraikan Cathez?"
Rowan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. "Aku benar-benar bingung, Brian. Di satu sisi ada tanggung jawab masa lalu yang mengikat leherku, dan di sisi lain ada keinginan kuat untuk memiliki keluarga utuh yang nyata... bukan sekadar transaksi dingin."
Brian menatap bos mudanya dengan tatapan iba yang mendalam.
Selama empat tahun ini, Brian adalah saksi bisu bagaimana Rowan mengorbankan masa mudanya, kebahagiaannya, dan perasaannya sendiri hanya untuk memikul beban rasa bersalah atas kematian Reagen dan menjaga Cathez.
"Rowan..." Brian membuka suara dengan nada yang sangat lembut, bertindak bukan lagi sebagai asisten, melainkan sebagai seorang senior yang membimbing juniornya. "Tolong dengarkan saya baik-baik."
Rowan menurunkan tangannya, menatap Brian.
"Janji yang kau ucapkan pada Reagen adalah untuk menjaga Nyonya Cathez, bukan untuk menjadi budak dari keegoisannya seumur hidupmu," tegas Brian dengan mata menyalang lurus.
"Kau sudah memberikannya empat tahun. Kau memberikannya kemewahan, kedudukan, dan perlindungan penuh. Tapi jika Nyonya Cathez sendiri yang menolak untuk membangun keluarga bersamamu, jika dia sendiri yang melepaskan kewajibannya sebagai seorang istri... maka kau tidak sedang mengkhianati siapa pun jika kau memilih untuk menyelamatkan dirimu sendiri."
Brian menarik napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya.
"Soal Gadis bernama Rossi itu..." sambung Brian pelan. "...jika dia memang gadis baik-baik yang terjebak dalam kemalangan, dan jika dia mampu memberikan kehangatan yang tidak pernah kau dapatkan selama empat tahun terakhir ini... mungkin takdir tidak sedang bercanda saat mempertemukan kalian."
Rowan mematung mencerna setiap patah kata dari Brian.
"Namun ingat," peringat Brian lagi dengan nada serius, "sebelum kau memutuskan apakah akan menceraikan Nyonya Cathez atau membesarkan anak itu bersama Rossi, kau harus menyelesaikan satu hal terpenting terlebih dahulu."
"Apa itu?"
"Kejujuran pada Tuan Kaelor dan Nyonya Suzzy," jawab Brian mantap. "Kau tidak bisa menyembunyikan Nyonya Muda kedua ini selamanya di penthouse. Makin lama kau merahasiakannya, makin besar ledakan yang akan menghancurkanmu saat Tuan mengetahuinya sendiri."
Rowan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, menatap langit-langit ruangan yang remang-remang. Kalimat Brian meresap jauh ke dalam benaknya, mengurai benang kusut yang selama ini mengikat pikirannya.
Perkataan Rossi soal membesarkan anak bersama-sama yang tadi pagi sempat disemburnya dengan ketegasan dingin, kini perlahan-lahan bertransformasi menjadi sebuah benih harapan baru yang samar-samar mulai mekar di dalam dadanya.
"Aku butuh waktu, Brian," bisik Rowan pelan. "Aku butuh waktu lima bulan ini untuk melihat ke mana takdir ini akan membawaku."
Brian menghela napas, namun akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Saya akan membantu menyembunyikan keberadaan Nyonya Rossi dari radar Tuan Kaelor untuk sementara waktu. Tapi ingat janjimu, Rowan... jangan biarkan gadis itu menderita sendirian di penthouse sementara kau bergulat dengan keraguanmu sendiri."
Rowan mengangguk pelan. Ia meraih gelas kristalnya, meminum cairan hangat itu hingga kandas.
Di dalam kegelapan malam dan kebingungan hati yang belum sepenuhnya sirnah, bayangan wajah Rossi yang menatapnya dengan kepasrahan dan keteguhan hati di dapur tadi pagi kembali hadir, perlahan-lahan mengikis bayangan kelam masa lalu yang selama ini membelenggunya.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰