Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GURU YANG MENAPAKI JALAN KAMI
Hari Minggu biasanya menjadi satu-satunya pagi ketika Ibu membiarkan kami bangun setelah matahari muncul. Namun, hari itu aku sudah duduk di depan rumah sejak kabut masih menggantung di antara pohon kopi. Nira menyapu halaman berulang kali, meskipun tanahnya tidak akan pernah benar-benar bersih dari daun.
Bu Satya berjanji datang pukul tujuh. Aku tidak yakin ia akan menemukan jalan masuk ke dusun. Dari jalan kabupaten tidak ada papan penunjuk. Hanya ada celah di antara kebun singkong yang tampak seperti jalan menuju ladang biasa.
Ayah pergi menjemputnya sampai dekat pasar. Sebelum berangkat, ia memakai kemeja biru yang hanya digunakan untuk rapat desa dan perayaan kemerdekaan. Ibu menyuruhnya mengganti sandal yang talinya hampir putus, tetapi Ayah berkata sandal lama justru lebih kuat untuk berjalan.
“Guru itu sungguh mau datang?” tanya Ibu untuk ketiga kalinya.
“Ia sendiri yang meminta,” jawabku.
Ibu memandang rumah kami. Dinding bambu bagian belakang berlubang kecil. Atap di atas dapur ditahan batu agar tidak terangkat angin. Di dekat pintu, dua pasang sepatu kami dijemur di atas potongan kayu. Aku tahu apa yang dipikirkan Ibu. Kedatangan guru membuat kemiskinan yang biasanya kami simpan di dalam rumah terasa akan dilihat dari dekat.
“Jangan malu,” kata Ayah sebelum pergi. “Yang kita punya memang ini.”
Sekitar satu jam kemudian, suara Nira memecah pagi.
“Mereka datang!”
Aku berlari ke Tikungan Nangka. Ayah berjalan di depan sambil membawa payung hitam milik Bu Satya. Guruku mengikuti beberapa langkah di belakang. Ia memakai celana panjang gelap dan sepatu olahraga putih. Warnanya masih bersih saat terlihat dari jauh, tetapi bagian pinggirnya sudah dilapisi tanah merah.
“Baru sampai sini?” tanyaku.
Bu Satya berhenti dan menaruh tangan di pinggang. “Kau bilang tujuh kilometer, bukan mendaki langit.”
Nira tertawa. Ia menyodorkan botol air. Bu Satya minum beberapa teguk, lalu bertanya apakah perjalanan paling sulit sudah lewat.
Aku dan Ayah saling pandang.
“Belum,” jawab kami hampir bersamaan.
Kami tidak langsung pulang ke rumah. Ayah mengajak Bu Satya melihat seluruh jalur yang biasa kami lewati menuju sekolah. Karena datang dari arah jalan kabupaten, kami berjalan berlawanan dengan perjalanan harian kami.
Tanjakan pertama membuat napas Bu Satya kembali berat. Jalan tanah masih lembap akibat hujan dua malam sebelumnya. Sepatunya beberapa kali tenggelam sampai mata kaki. Nira yang biasanya paling lambat justru berdiri di atas batu menunggunya.
“Bu, injak bagian yang ada akar,” katanya. “Kalau tanah yang hitam, licin.”
Bu Satya mengikuti petunjuknya. “Kau hafal semua bagian jalan?”
“Semua. Batu ini namanya Batu Tidur. Tikungan di sana Tikungan Burung. Yang dekat rumah Tikungan Nangka.”
“Siapa yang memberi nama?”
“Kak Langga. Supaya aku tidak merasa jauh.”
Aku pura-pura memeriksa tali sepatu agar tidak perlu melihat wajah Bu Satya. Dulu aku mengira permainan nama itu hal biasa. Baru hari itu aku menyadari bahwa seorang guru dapat mendengar kesedihan dari cara kami menghitung tikungan.
Kami tiba di jalur lama yang dipakai ketika bertemu babi hutan. Aku menunjukkan akar tempat aku tersandung. Goresan pada lenganku sudah mengering, tetapi masih tampak merah. Bu Satya memotret jalan itu dengan kamera kecil yang dipinjam dari sekolah. Setiap kali menekan tombol, ia mencatat sesuatu dalam buku.
Di dekat lereng, tanah longsor kecil menutup setengah jalur. Batu-batu sebesar kepala berserakan. Ayah memindahkan satu batu agar kami bisa lewat.
“Kalau longsor besar?” tanya Bu Satya.
“Kami menunggu atau memutar,” jawab Ayah.
“Anak-anak tetap sekolah?”
“Kalau bisa.”
Dua kata itu terdengar sederhana. Namun, di wajah Ayah, aku melihat seluruh musim hujan yang pernah membuatnya berdiri di depan pintu, menimbang apakah kami harus belajar atau tetap hidup.
Ketika sampai di sungai, air sedang rendah. Deretan batu tampak jelas. Bu Satya berdiri lama di tepi, seolah mencari jembatan yang tidak ada.
“Kalian lewat sini setiap hari?”
Nira mengangguk. “Kalau batu ketiga terlihat.”
“Kalau tidak terlihat?”
“Kadang menunggu. Kadang pulang.”
Ayah memotong sebatang bambu kecil untuk dijadikan tongkat. Ia menyeberang lebih dulu, lalu aku. Bu Satya mencoba menginjak batu pertama. Sepatunya tergelincir sedikit dan tubuhnya langsung menegang.
“Pegang tangan saya, Bu,” kata Nira.
Bu Satya menatap telapak kecil yang disodorkan itu. Ia tersenyum, tetapi matanya tampak basah. “Seharusnya Ibu yang memegang tanganmu.”
Mereka menyeberang bersama. Di batu ketiga, air membasahi ujung sepatu olahraga Bu Satya. Ia terkejut karena arus lebih kuat daripada yang terlihat. Setelah sampai seberang, ia tidak segera berjalan. Ia memandang sungai dan suara air yang menabrak batu seolah sedang mengingat sesuatu.
“Sekarang Ibu mengerti mengapa kalian kadang terlambat,” katanya.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Bu Satya lebih banyak diam. Sepatu putihnya telah berubah cokelat. Bagian celananya terkena duri. Payung hitam yang dibawa Ayah tidak pernah dibuka karena hujan tidak turun, tetapi beberapa kali dipakai sebagai tongkat.
Ibu menyambut kami dengan teh hangat dan singkong rebus. Ia menyebut minuman itu teh singkong karena gula hanya dimasukkan sedikit, lalu diminum sambil makan singkong agar terasa manis. Bu Satya duduk di bangku bambu tanpa mengeluh. Ia melepaskan sepatunya di tangga. Kaus kakinya basah pada bagian ujung dan kulit tumitnya memerah. Nira melihatnya, lalu berbisik kepadaku bahwa guru juga bisa lecet. Aku menjawab bahwa jalan kami tidak memilih kaki siapa yang akan disakitinya. Nira mengeluarkan gambar jembatan dari bukunya dan menjelaskan pagar, tiang bendera, serta sepatu baru yang membuat air takut masuk.
Bu Satya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia juga bertanya kepada Ayah tentang rencana jembatan bambu. Ayah mengatakan beberapa warga bersedia membantu, tetapi bambu belum cukup dan mereka khawatir arus besar akan menghanyutkannya.
“Pernah mengajukan perbaikan ke desa?” tanya Bu Satya.
“Pernah dulu,” jawab Ayah. “Sebelum Langga lahir. Katanya dusun kami terlalu jauh dan penduduknya sedikit.”
“Sekarang ada sembilan anak sekolah.”
Ayah mengangguk. “Sembilan anak belum tentu dianggap banyak.”
Aku melihat Bu Satya menatap sepatu kami yang dijemur di depan pintu. Sepatuku telah dijahit benang karung. Sepatu Nira disumpal kain dan memiliki bekas air di kulitnya. Mata Bu Satya lama tertahan di sana. Ia tidak mengucapkan rasa kasihan, dan aku bersyukur. Pada usia sebelas tahun, aku belum dapat menjelaskan martabat, tetapi aku tahu aku tidak ingin sepatu kami menjadi alasan orang memandang kami lebih rendah.
Sebelum pulang, Bu Satya membuka tasnya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah diketik rapi, dengan tempat kosong untuk nama dan tanda tangan.
“Pak Waskita,” katanya kepada Ayah, “saya ingin membawa surat ini ke kantor kecamatan. Namun, saya membutuhkan tanda tangan Bapak dan warga yang menggunakan jalan itu.”