NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Suasana di dalam ruang rapat utama Star Technology mendadak membeku. Suhu pendingin ruangan seolah turun beberapa derajat seiring dengan wajah Clara Vance yang memucat pasi.

​"A-apa maksudmu?" suara Clara sedikit bergetar, kehilangan ketegasannya yang tadi ia pamerkan. "Dokumen apa? Kau sedang membual!"

​Anton tetap tersenyum tenang. Dia berjalan pelan mengitari meja, mendekati pengawal bertubuh kekar yang berdiri di belakang Clara sambil memegang tas kulit hitam bermerek Bottega Veneta.

​"Tas yang bagus," puji Anton santai, menunjuk tas tersebut. "Tapi isinya jauh lebih menarik. Di kompartemen kedua, terdapat map merah berisi perjanjian rahasia antara pamanmu, Victor Vance, dengan Kepala Dinas Tata Kota."

​Mata Clara terbelalak. Jantungnya berpacu seperti kuda pacu.

Itu adalah tas bersandi biometrik yang hanya bisa dibuka dengan sidik jarinya! Bagaimana mungkin pemuda ini tahu warna map di dalamnya?!

​Anton melanjutkan ucapannya tanpa ampun, membacakan setiap baris data yang telah direkam otaknya melalui kemampuan Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 2.

​"Tanggal 15 bulan ini, pamanmu mentransfer dana sebesar seratus miliar rupiah melalui rekening cangkang di Kepulauan Cayman ke rekening pribadi tiga pejabat tinggi kota ini," rinci Anton dengan suara pelan namun terdengar seperti vonis mati di telinga Clara.

​"Bukti transfer fisik, rekaman persetujuan tertulis, dan stempel resmi Titanium Group ada di halaman ketiga dokumen itu. Apakah aku perlu membacakan nomor rekening Wali Kota juga, Nona Clara?"

​"Cukup!" teriak Clara panik, menoleh ke arah pengawalnya. "Buka tas itu sekarang!"

​Pengawal itu kebingungan, namun segera menyodorkan tas tersebut. Clara menempelkan ibu jarinya ke sensor, dan bunyi klik terdengar. Ia membuka kompartemen kedua dengan tangan gemetar.

​Sebuah map merah tergeletak manis di sana.

Clara membukanya dengan terburu-buru, membalik ke halaman ketiga. Tepat seperti yang dikatakan Anton: bukti transfer, tanda tangan Victor Vance, dan rincian penyuapan terpampang nyata di atas kertas putih.

​Kertas yang seharusnya menjadi senjata rahasia Titanium Group kini terasa seperti bom waktu di tangan Clara.

​Pemuda ini... dia bukan manusia! Apakah dia menyadap kantor kami? Atau dia punya mata-mata tingkat tinggi di jajaran direksi Titanium Group? Pikiran Clara berkecamuk hebat.

​Dia adalah lulusan terbaik fakultas hukum Harvard, seorang negosiator berdarah dingin yang tidak pernah kalah. Namun di hadapan Anton, Clara merasa seperti ditelanjangi secara intelektual. Anton tahu segalanya.

​Anton kembali berdiri di depan Clara, menatap wanita angkuh yang kini sedang menelan ludah ketakutan itu.

​"Jika dokumen penyuapan ini bocor ke KPK dan Interpol besok pagi, apa yang akan terjadi pada Titanium Group, Nona Clara?" tanya Anton dengan senyum miring. "Pamanmu akan membusuk di penjara, saham perusahaan kalian akan anjlok ke titik nol, dan karirmu yang cemerlang akan hancur lebur."

​Tubuh Clara bergetar. Ego dan kesombongannya telah hancur total. Dia menatap mata hitam Anton yang dalam dan tenang, menyadari bahwa pemuda ini adalah predator puncak yang sesungguhnya.

​"A-apa yang kau inginkan?" tanya Clara dengan suara parau, akhirnya menyerah.

​Siska yang berdiri di sudut ruangan menahan nafas kagum. Bosnya hanya butuh waktu lima menit untuk membuat salah satu pengacara perusahaan multinasional paling ditakuti di Asia bertekuk lutut!

​Anton kembali duduk di kursi utamanya dan menyilangkan kaki dengan santai.

​"Pertama, batalkan semua blokir lahan di sektor utara. Aku ingin lahan seluas lima puluh hektar itu menjadi milik Star Technology," perintah Anton absolut.

​Clara menggigit bibir bawahnya. "Baik. Aku akan menarik pengaruh kami dari Dinas Tata Kota. Kalian bisa membelinya dari pemerintah besok."

​"Siapa bilang aku akan membelinya dari pemerintah?" sela Anton dingin.

​Clara mendongak, kebingungan.

​"Aku tahu Titanium Group sudah memegang hak kelola eksklusif lahan itu selama sembilan puluh sembilan tahun ke depan lewat penyuapan tersebut," jelas Anton. "Aku ingin kau memindahtangankan hak kelola itu langsung ke perusahaanku siang ini juga. Harganya... satu rupiah."

​"Satu rupiah?!" pekik Clara kehilangan kendali. "Kau gila! Lahan itu bernilai lebih dari satu triliun! Pamanku akan membunuhku jika aku menyerahkannya secara gratis!"

​Tatapan mata Anton mendadak berubah menjadi sangat tajam dan mengintimidasi.

"Pilih mana? Kehilangan satu triliun, atau kehilangan seluruh Titanium Group dan mendekam di penjara seumur hidup?"

​Pertanyaan retoris itu membungkam Clara sepenuhnya.

Wanita itu menundukkan kepalanya. Rambut pendeknya menutupi wajahnya yang kini dipenuhi keringat dingin dan keputusasaan.

​"Baik... aku mengerti. Aku akan menyiapkan draf pemindahan tangan asetnya sekarang," bisik Clara, suaranya nyaris tidak terdengar.

​Anton tersenyum puas. "Kerja bagus, Nona Clara. Ah, satu lagi."

​Clara mengangkat wajahnya, menatap Anton dengan sisa-sisa keberaniannya. Entah mengapa, di balik rasa takutnya, jantung Clara berdebar aneh melihat dominasi absolut pemuda ini. Ketampanan Anton yang dipadukan dengan kekuasaan tanpa batas benar-benar memabukkan.

​"Dokumen penyuapan di dalam tasmu itu, tinggalkan di meja ini sebagai jaminan," ucap Anton santai. "Siska, buatkan tanda terima untuk Nona Clara."

​Siska mengangguk semangat. "Siap, Pak Anton!"

​Clara tidak berani membantah. Dia mengambil map merah itu dan meletakkannya di atas meja Anton dengan tangan bergetar, lalu berbalik pergi meninggalkan ruang rapat dengan langkah gontai, dikawal oleh dua anak buahnya yang kebingungan melihat bos mereka dikalahkan begitu saja.

​Begitu pintu tertutup, Siska langsung bersorak kegirangan.

"Pak Anton! Anda luar biasa! Lahan lima puluh hektar seharga satu triliun berhasil Anda dapatkan hanya dengan satu rupiah!" seru Siska dengan mata berbinar-binar memuja Anton.

​Anton menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ini baru langkah pertama, Siska. Segera hubungi kontraktor terbaik di negara ini. Begitu surat tanahnya selesai sore ini, aku ingin alat berat sudah mulai menggali fondasi pabrik Baterai Quantum besok pagi."

​"Baik, Pak! Pembangunan ini akan selesai dalam waktu dekat!" jawab Siska bersemangat.

​Sementara itu, di dalam mobil limosin yang melaju kencang menjauhi gedung Star Technology, Clara Vance sedang menelepon seseorang dengan tangan gemetar.

​"H-halo, Paman Victor?" sapa Clara pelan.

​"Clara? Bagaimana pertemuan dengan anak ingusan itu? Apakah dia sudah menyerahkan paten baterainya pada kita?" Suara berat dan arogan pria tua terdengar dari seberang telepon.

​"P-Paman... kita kalah," ucap Clara menahan nafas. "Dia... dia tahu semuanya. Dia tahu soal dokumen penyuapan itu hingga ke detail nomor rekening dan jumlah nominalnya."

​Hening sejenak di ujung telepon.

"APA?! BAGAIMANA BISA?!" bentak Victor Vance dengan suara menggelegar.

​"Aku tidak tahu, Paman. Pria bernama Anton itu... dia seperti dewa yang bisa melihat segalanya. Aku terpaksa menyerahkan hak lahan lima puluh hektar itu kepadanya untuk mencegahnya membocorkan bukti itu ke Interpol."

​Suara nafas berat dan penuh amarah terdengar dari seberang.

"Bajingan kecil! Beraninya dia memeras Titanium Group! Jika dia pikir dia bisa memproduksi baterai itu di lahan kita dengan tenang, dia salah besar!" geram Victor.

​"Clara, tetap di sana dan pantau pergerakannya. Aku akan mengirim pasukan bayaran khusus dari pusat. Jika kita tidak bisa menghentikannya lewat hukum, kita hancurkan pabriknya hingga rata dengan tanah!"

​Telepon ditutup sepihak.

​Clara menurunkan ponselnya dengan tatapan kosong. Namun perlahan, bayangan wajah Anton yang tenang dan mendominasi kembali terlintas di benaknya.

Entah mengapa, meskipun Anton adalah musuhnya, Clara justru merasa ada gelombang getaran aneh di dadanya. Pemuda itu terlalu jenius, terlalu kuat, dan terlalu mempesona.

​"Anton..." gumam Clara pelan, menyebut nama itu dengan nada yang sangat kompleks. Pertarungan ini sepertinya akan menjadi jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!