NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 : Surat Gugatan

Keesokan harinya...

Seperti biasa, aktivitas di Pabrik Roti Juragan Warso sudah dimulai sejak pagi. Aroma roti yang baru matang memenuhi ruangan.

Sekitar pukul sembilan, sebuah mobil abu-abu metalik berhenti di halaman pabrik.

Brumm...

"Eh, Dokter Arga datang lagi," gumam Rudi.

Arga turun dengan santai. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab Juragan Warso.

Setelah menyerahkan pesanan roti untuk Jumat berikutnya, Arga tampak masih berdiri di depan ruang kerja Juragan Warso.

"Juragan, boleh saya bicara sebentar?"

"Tentu, Dok."

Mereka masuk ke ruang kerja.

Arga tampak sedikit ragu sebelum akhirnya berbicara. "Juragan... saya ingin meminta izin."

"Izin apa?"

"Kalau Juragan tidak keberatan... saya ingin mengantar dan menjemput Mbak Winarsih untuk sementara waktu."

Juragan Warso mengangkat alis. "Karena kejadian motor mogok kemarin?"

Arga mengangguk. "Saya khawatir kalau suatu hari hal seperti itu terulang lagi."

Juragan Warso tidak langsung menjawab. "Dokter pasti tahu sendiri bagaimana orang desa."

"Iya, saya paham."

"Nanti bisa jadi omongan."

Arga mengangguk pelan. "Itu sebabnya saya meminta izin kepada Juragan terlebih dahulu. Saya tidak ingin menimbulkan salah paham."

Juragan Warso memperhatikan wajah Arga beberapa saat. Ia melihat ketulusan yang sulit dibuat-buat. "Kalau memang niat Dokter baik... saya tidak keberatan. Tapi keputusan tetap ada di tangan Winarsih."

"Iya Juragan saya mengerti. Saya juga tidak akan memaksanya."

Menjelang jam pulang...

Juragan Warso memanggil Winarsih. "Nak, sini sebentar."

"Iya, Juragan."

Winarsih masuk ke ruang kerja. "Ada apa, Juragan?"

Juragan Warso tersenyum. "Tadi Dokter Arga datang."

Winarsih sedikit terkejut. "Oh iya..."

"Dia meminta izin kepada saya."

"Izin?" tanya Winarsih sedikit bingung.

"Iya. Dia ingin menjemput dan mengantarmu sementara waktu."

Mata Winarsih langsung membulat. "Apa?"

"Saya sudah bilang keputusan tetap di tanganmu. Tidak boleh ada paksaan."

Winarsih langsung menggeleng. "Jangan, Juragan. Saya tidak enak."

Juragan Warso tersenyum kecil. "Saya juga sudah menduga kamu akan menjawab begitu. Makanya nanti bicarakan langsung saja dengan Dokter Arga."

Sore harinya...

Arga datang seperti biasa, begitu melihat Winarsih keluar dari pabrik, ia menghampiri dengan senyum ramah.

"Mbak."

Winarsih langsung menundukkan kepala. "Dok... tadi Juragan sudah cerita."

Arga tersenyum. "Berarti saya tidak perlu menjelaskan dari awal."

"Tapi saya benar-benar tidak enak. Saya tidak ingin merepotkan Dokter."

Arga menggeleng pelan. "Mbak. Kalau saya merasa direpotkan, saya tidak akan meminta izin kepada Juragan. Saya hanya ingin memastikan Mbak sampai rumah dengan selamat."

Winarsih masih diam.

"Kalau suatu saat Mbak sudah merasa tidak perlu diantar lagi... silahkan bilang kepada saya. Saya tidak akan tersinggung."

Ucapan itu membuat Winarsih merasa lebih tenang.

Akhirnya ia mengangguk pelan. "Kalau begitu... terima kasih, Dok."

Arga tersenyum. "Sama-sama."

Beberapa hari kemudian...

Sudah hampir satu minggu Dokter Arga rutin mengantar dan menjemput Winarsih. Semua dilakukan sewajarnya. Mereka jarang berbicara banyak, sehingga perlahan para karyawan pun mulai menganggap hal itu sebagai sesuatu yang biasa.

Hingga pada suatu siang, sebuah mobil berhenti di depan pabrik. Seorang perempuan paruh baya turun dengan wajah yang sedikit sombong. Wajahnya sangat familiar dan Winarsih mengenalnya.

Seketika, tubuh Winarsih langsung menegang. "I... Ibu..."

Perempuan itu adalah Sulastri, ibu mertuanya. Sulastri melangkah dengan wajah dingin sambil membawa sebuah amplop cokelat di tangannya.

"Sudah saya duga, kamu pasti ada di sini."

Seluruh karyawan mulai memperhatikan.

Juragan Warso keluar dari ruang kerjanya. "Sulastri... ada yang bisa di bantu."

Sulastri sama sekali tidak menoleh. Tatapannya hanya tertuju kepada Winarsih. Ia lalu menyodorkan amplop itu dengan kasar.

"Terima ini."

Winarsih menerimanya dengan tangan gemetar. "Apa ini, Bu?"

"Buka saja."

Perlahan Winarsih membuka amplop tersebut. Baru beberapa detik membaca isinya, wajahnya langsung pucat. Tangannya gemetar hebat. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Mas... Benni..."

Itu adalah salinan gugatan cerai yang telah diajukan Benni melalui kuasa keluarganya. Dan untuk pertama kalinya sejak Benni berangkat ke Jepang, kabar yang diterima Winarsih bukanlah sebuah telepon... melainkan permohonan untuk mengakhiri rumah tangga mereka.

Sulastri menunggu hingga Winarsih selesai membaca isi surat itu. Melihat wajah menantunya yang seketika memucat, sudut bibirnya justru terangkat tipis.

"Nah, sekarang kamu sudah tahu."

Air mata Winarsih mulai menetes tanpa bisa dibendung. Jemarinya gemetar menggenggam surat itu.

"Bu... ini..."

Sulastri memotong ucapannya dengan nada dingin.

"Kamu dan Benni sekarang sudah resmi bercerai secara hukum."

Kalimat itu bagai petir yang menyambar di siang bolong. Winarsih menggeleng pelan.

"Nggak... itu nggak mungkin...."

"Nggak ada yang nggak mungkin." Sulastri menatapnya dengan tajam. "Dan mulai hari ini, saya nggak mau kamu mendekati anak saya lagi."

Suasana di dalam pabrik mendadak hening. Semua karyawan menghentikan pekerjaannya.

"Tapi, Bu... saya bahkan belum pernah bicara dengan Mas Benni sejak dia berangkat ke Jepang...."

"Itu bukan urusan saya!" bentak Sulastri.b"Jangan pernah berharap Benni akan memaafkan semua kesalahanmu."

Air mata Winarsih mengalir semakin deras. "Kesalahan yang mana Bu, Saya nggak pernah berbuat salah."

"Kamu masih berani mau membela diri?" cibir Sulastri. "Benni sudah tahu semuanya."

"Tahu apa Bu... saya nggak pernah macam-macam."

"Cukup!" Sulastri mengangkat dagunya. "Mulai sekarang jangan pernah mencari Benni. Jangan pernah menghubunginya, dan jangan pernah berharap bisa kembali menjadi bagian dari keluarga kami."

Ia melirik Winarsih untuk terakhir kalinya. "Kalau begitu saya permisi." Tanpa menunggu jawaban, Sulastri berbalik meninggalkan pabrik dengan langkah angkuh.

Brumm...

Mobil yang membawanya perlahan meninggalkan halaman Pabrik Roti Juragan Warso. Begitu mobil itu menghilang, kekuatan Winarsih seolah ikut lenyap. Surat di tangannya terjatuh ke lantai, tubuhnya limbung.

"Astaghfirullah... Mbak Winarsih!" seru Rudi.

Rudi dan beberapa karyawan segera menghampirinya sebelum tubuh gadis itu benar-benar ambruk ke lantai.

Winarsih terduduk lemas, tangisnya pecah "Mas Benni... kenapa tega melakukan ini kepadaku, apa salahku Mas...? Aku bahkan tidak pernah pernah mengkhianati Mas...."Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Selama Mas di Jepang... aku selalu menunggu. Aku berharap Mas pulang. Aku berharap suatu hari Mas mau mendengar penjelasanku. Tapi... kenapa yang datang justru surat cerai?"

Tangisnya semakin menjadi, seluruh isi pabrik ikut terdiam. Beberapa karyawan perempuan tampak mengusap air mata mereka.

Rudi mengepalkan tangannya menahan emosi. "Ini tidak adil...."

Juragan Warso mengambil surat yang terjatuh di lantai. Setelah membacanya sekilas, ia menghela napas panjang.

"Memang keterlaluan Sulastri itu." Ia menatap Winarsih dengan penuh iba. "Nak..."

Winarsih mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

"Bapak yakin Sulastri sudah mencuci otak Benni. Makanya Benni sampai tega mengajukan perceraian tanpa pernah mendengar penjelasanmu."

Air mata Winarsih kembali jatuh. "Tapi... kenapa Mas Benni tidak mencoba menghubungi saya sekali saja, Juragan?"

"Bapak juga tidak tahu, Nak." Juragan Warso menggeleng pelan. "Yang jelas, seluruh kampung ini tahu seperti apa sifat Sulastri. Orang-orang juga tahu bagaimana selama ini kamu memperlakukan suamimu. Kamu selalu menjaga nama baik keluarga mereka. Jadi Bapak tidak percaya dengan semua tuduhan itu."

Winarsih hanya bisa menangis, dadanya terasa sesak. Orang yang paling ia cintai ternyata telah mengakhiri rumah tangga mereka tanpa memberinya kesempatan menjelaskan.

Juragan Warso lalu menepuk pelan bahu Winarsih. "Nak... dunia ini memang kadang tidak adil. Tapi Allah Maha Adil. Kalau kamu memang tidak bersalah, suatu saat nanti kebenaran pasti akan menemukan jalannya. Biarkan saja Sulastri melakukan semua ini. Yang terpenting, jangan sampai kamu kehilangan kesabaran dan kepercayaan kepada Allah."

Winarsih menggigit bibirnya, berusaha menahan isak tangis.

Juragan Warso kembali berkata dengan lembut, "Bapak tahu ini sangat berat. Tapi percayalah... setelah kesulitan pasti Allah siapkan kemudahan. Kamu yang sabar, ya, Nak."

Winarsih mengangguk pelan di sela tangisnya.

"Iya... Juragan."

Meski bibirnya mengucapkan kata itu, di dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan yang terus berulang. "Mas Benni... apakah benar Mas tidak pernah sedikit pun mempercayai aku?"

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!