Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 | Pengadilan pt. 2
Pagi di Rumah Sakit Jiwa Silver Oak selalu dimulai lebih awal daripada kebanyakan tempat. Pukul delapan bahkan belum tiba sepenuhnya, tetapi lorong-lorong rumah sakit sudah dipenuhi oleh langkah kaki para tenaga medis. Suara roda troli obat sesekali terdengar bergesekan dengan lantai marmer yang mengilap. Dari kejauhan, terdengar suara perawat yang saling bertukar informasi mengenai kondisi pasien, bercampur dengan bunyi notifikasi monitor dari beberapa ruang observasi.
Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela-jendela besar di sepanjang koridor membuat suasana rumah sakit terasa lebih hangat. Pepohonan yang tumbuh di halaman belakang Silver Oak tampak bergoyang pelan diterpa angin, sementara beberapa pasien rawat jalan mulai memenuhi area pendaftaran di lantai dasar. Namun, di lantai empat, suasananya sedikit berbeda.
Lebih tepatnya, sedikit tegang. Sudah hampir empat puluh menit seorang pria duduk diam di kursi yang berada tepat di depan ruang kerja psikolog Maya. Dengan pakaian pasien VVIP yang rapi dan ekspresi datar seperti biasanya, ia duduk tanpa bergerak sedikit pun. Kedua matanya sesekali tertuju pada pintu ruang praktik Luna yang berada tidak jauh dari sana.
Beberapa perawat yang berlalu-lalang tak bisa menahan diri untuk tidak meliriknya. Bukan karena Orion membuat keributan. Justru sebaliknya, karena ia terlalu tenang. Dan entah mengapa, ketenangan Orion justru terasa lebih mengintimidasi.
Di balik pintu ruangannya, Maya yang sejak tadi mengintip dari celah tirai akhirnya mengembuskan napas panjang. "Tolong bilang dia udah pergi," gumamnya pelan.
Sayangnya, ketika ia mengintip lagi untuk ketiga kalinya, Orion masih berada di tempat yang sama. Dirinya hanya diam layaknya patung yang sengaja dipajang di depan ruangan Maya. "Ya Tuhan..." lirih Maya pasrah.
Beruntung, sebelum ia benar-benar mengalami serangan panik, seorang perawat datang menghampiri Orion. "Permisi, pasien Orion."
Perlahan Orion mengalihkan pandangannya. "Sudah waktunya anda konsultasi," lanjut si perawat ramah.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresi Orion tampak sedikit berubah. "Nanae?"
Perawat itu sempat bingung selama beberapa detik. "Emm... dokter yang akan menangani konsultasi hari ini sudah menunggu di ruangannya," jelasnya berusaha profesional.
Orion langsung berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengikuti langkah perawat menuju salah satu ruang praktik. Dari balik pintu, Maya mengembuskan napas lega. "Syukurlah... Akhirnya dia pergi."
Namun, kelegaan itu ternyata datang terlalu cepat. Begitu pintu ruang praktik terbuka, Orion langsung menghentikan langkahnya. Di dalam ruangan, seorang wanita berambut panjang dibiarkan tergerai dengan jas putih yang rapi berdiri sambil memegang tablet. "Selamat pagi, Orion Grimm. Saya dokter Alexa. Hari ini saya akan menggantikan dokter Luna," ucap Alexa dengan nadanya yang khas, soft spoken.
Suasana mendadak hening. Sangat hening. Bahkan perawat yang mengantar Orion ikut menahan napas. Orion menatap Alexa. Lalu menatap papan nama di meja, dan kembali menatap Alexa. "Nanae dimana?"
Alexa tersenyum profesional. "Dokter Luna ada urusan mendadak di luar rumah sakit hari ini."
Suasana kembali hening. "Jadi hari ini saya yang akan–"
"Tidak."
Alexa mengedipkan matanya. "Maaf?"
"Saya cuma mau konsultasi sama Nanae," ucap Orion datar.
Alexa menghela napas. "Dokter Luna tidak bisa hadir hari ini," jelasnya penuh penekanan.
Orion terdiam selama beberapa detik. Kemudian, tanpa ekspresi apa pun, ia berbalik badan. "Pasien Orion?" panggil perawat.
"Saya mau balik ke kamar."
"T-tapi anda belum konsultasi hari ini." Sang perawat berusaha membujuk Orion.
"Masa bodoh." Lalu, tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk membujuknya, ia berjalan meninggalkan ruang praktik. Perawat dan Alexa hanya bisa saling pandang.
☆☆☆
Sementara itu, ribuan meter dari hiruk-pikuk Rumah Sakit Jiwa Silver Oak, suasana yang sama sekali berbeda menyelimuti gedung pengadilan negeri. Ruang sidang dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian rapi dan ekspresi serius. Suara ketukan sepatu pantofel menggema di lantai marmer, bercampur dengan bisik-bisik pelan para penonton sidang yang menunggu persidangan dimulai.
Di salah satu kursi yang disediakan untuk saksi, Luna duduk dengan punggung tegak. Jas putih khas profesinya telah diganti dengan setelan formal berwarna krem muda yang dipadukan dengan kemeja putih. Rambut panjangnya ditata rapi ke belakang, sementara wajahnya yang biasanya terlihat santai di lingkungan rumah sakit kini tampak jauh lebih serius.
Di atas pangkuannya, sebuah map tebal berisi riwayat medis pasien tergeletak terbuka. Kael Raiden, pasien rawat jalan yang telah ditanganinya selama lebih dari dua bulan.
Luna menurunkan pandangannya pada lembar demi lembar hasil observasi yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Sidang pemeriksaan perkara atas nama terdakwa Kael Raiden dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum."
Luna menarik napas pelan. Ia duduk dengan punggung tegak di kursi saksi, kedua tangannya terlipat rapi di atas map berisi rekam medis pasien yang selama beberapa bulan terakhir ditanganinya. Di hadapannya, puluhan pasang mata tampak tertuju padanya. Hakim, jaksa penuntut umum, tim kuasa hukum, keluarga korban, dan tentu saja, terdakwa.
Luna menatap pria itu untuk sesaat. Wajah Hendra tampak jauh berbeda dibandingkan ketika pertama kali datang ke ruang praktiknya dua bulan lalu. Matanya sayu, tubuhnya lebih kurus. Bahkan cara duduknya pun terlihat jauh lebih rapuh.
"Dokter Rellunae Keller, Spesialis Kedokteran Jiwa?" tanya hakim memastikan.
"Benar, Yang Mulia," jawab Luna tenang.
"Saudari merupakan dokter yang menangani terdakwa?"
"Ya, Yang Mulia. Saya menangani terdakwa sebagai pasien rawat jalan selama kurang lebih dua bulan."
Hakim mengangguk pelan. "Baik. Kami meminta saudari menjelaskan kondisi kejiwaan terdakwa berdasarkan pemeriksaan dan observasi yang telah dilakukan," pintanya sambil menatap Luna.
Luna membuka map di hadapannya. Meskipun tangannya terlihat tenang, ia tahu betul bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya hari ini akan memiliki konsekuensi besar. "Sebelum kejadian, terdakwa menjalani perawatan psikiatri secara rutin karena mengalami gangguan psikosis dengan gejala utama berupa delusi dan gangguan persepsi," jelasnya.
Suasana ruang sidang mendadak menjadi lebih hening. Luna melanjutkan. "Selama masa perawatan, kondisi terdakwa sempat menunjukkan perbaikan. Namun, berdasarkan evaluasi terakhir, terdapat penurunan kepatuhan dalam menjalani pengobatan, yang berpotensi menyebabkan kekambuhan gejala."
Jaksa penuntut umum berdiri. "Dokter, apakah saudari dapat menjelaskan apakah kondisi kejiwaan terdakwa saat itu dapat memengaruhi tindakannya?"
Luna mengangkat pandangannya. Pertanyaan itu selalu menjadi bagian tersulit baginya. Karena tidak ada jawaban yang benar-benar sederhana.
"Ya," jawabnya akhirnya. "Dalam kondisi psikosis tertentu, seseorang dapat mengalami gangguan dalam menilai realitas di sekitarnya. Mereka dapat meyakini sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, tetapi bagi mereka terasa sangat nyata."
Beberapa orang di kursi pengunjung mulai berbisik. Luna tetap melanjutkan. "Namun, penilaian mengenai pertanggungjawaban pidana sepenuhnya merupakan kewenangan pengadilan. Tugas saya sebagai dokter adalah menjelaskan kondisi medis pasien berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan."
Hakim mengangguk. Sementara itu, Kael yang sejak tadi tertunduk perlahan mengangkat kepalanya. Pandangan mereka bertemu. Untuk sesaat, Luna teringat pada pria yang dulu duduk di ruang praktiknya sambil bertanya dengan suara gemetar.
"Dok... saya ini orang jahat, ya?"
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki ruang sidang pagi itu, Luna merasakan dadanya sedikit sesak. Karena di hadapannya saat ini bukan hanya seorang terdakwa, melainkan seseorang yang pernah datang kepadanya untuk meminta pertolongan.
"Sidang ditunda sementara selama satu jam dan akan dilanjutkan kembali pada pukul 12.00," ucap hakim yang duduk di tengah dengan suara lantang.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruang sidang pagi itu, Luna mengembuskan napas panjang. Ia baru menyadari bahwa kedua tangannya sejak tadi menggenggam map terlalu erat.
☆☆☆
Sinar matahari masuk melalui jendela besar di bangsal VVIP, membelah ruangan menjadi dua bagian. Cahaya hangat itu jatuh tepat di atas sofa dekat jendela, tempat Orion duduk sejak dua jam yang lalu. Atau mungkin lebih.
Pria itu duduk dengan posisi yang sama sejak kembali dari ruang konsultasi. Punggungnya bersandar pada sofa, sementara pandangannya tertuju lurus ke arah taman kecil yang berada di luar gedung Silver Oak. Di atas meja kaca dihadapannya, sarapan yang diantar sejak pagi masih tersusun rapi. Tidak tersentuh sama sekali. Uap hangat yang semula mengepul kini telah lama menghilang.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit. Artinya, waktu makan siang sudah hampir tiba.
Tok tok tok!
"Pasien Orion?" Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Orion bahkan tidak perlu repot-repot untuk menoleh. Seorang perawat masuk sambil membawa tablet di tangannya. Begitu melihat kondisi ruangan, langkahnya langsung melambat. Tidak ada yang berubah sejak tadi pagi. Orion masih duduk di tempat yang sama dan sarapan yang tidak tersentuh sama sekali.
Perawat itu menelan ludah. "Pasien Orion," panggilnya lagi dengan hati-hati.
Kali ini, Orion mengalihkan pandangannya dari taman dan menatap wanita yang berstatus sebagai perawatnya itu dengan tatapan datar. Sang perawat berusaha tersenyum. "Maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan apakah sarapannya memang tidak cocok?"
Suasana hening. Udara di sekitar mereka mendadak semakin dingin yang membuat bulu kuduk perawat muda itu meremang. "Anda belum makan sejak pagi," lanjutnya berusaha tidak memperlihatkan ketakutannya.
Orion menatap sarapan di mejanya lalu kembali menatap sang perawat yang berdiri di depan samping kanannya. "Nanae?"
Pertanyaan yang tidak diharapkan oleh perawat itu akhirnya terdengar. Ia sedikit terkejut saat Orion menanyakan. "Dokter Luna sedang ada urusan diluar rumah sakit."
"Dia sakit?" tanyanya lagi.
"Bukan. Beliau memang sedang ada tugas di luar rumah sakit," jelas sang perawat berusaha sesabar mungkin.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara apa pun selain dengungan halus pendingin ruangan.
Perawat itu menggenggam tabletnya sedikit lebih erat. "Pasien Orion, sekarang sudah hampir waktu makan siang. Kalau anda tidak suka menu sarapannya, kami bisa menggantinya."
"Ngga perlu," jawabnya singkat.
"Kalo begitu, dimakan ya?"
"Nanti."
"Kalo konsultasi dengan Dokter Alexa?"
Yang ditanya terdiam sejenak. "Ngga mau."
Sang perawat akhirnya mengembuskan napas yang sudah ia tahan sejak tadi.