Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Izin Kawin
Hari ketujuh. Laila menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar tidur dengan tatapan yang bisa melelehkan kutub utara. Jika ada penghargaan untuk manusia paling menderita sepanjang minggu ini, Laila yakin ia akan berdiri di podium pertama, memegang piala emas, lengkap dengan wajah cemberutnya.
Sudah tujuh hari berturut-turut hidupnya dihabiskan untuk mondar-mandir ke Pangkalan Udara Sendjaja. Masuk ke pos penjagaan, menyerahkan KTP, memberikan hormat yang terpaksa kepada bintara jaga, lalu duduk berjam-jam di koridor Staf Personel yang baunya khas campuran antara minyak pel lantai pinus, kertas-kertas tua, dan aroma parfum murah maskulin.
Semua itu demi apa? Demi seonggok map jepit plastik berwarna biru benhur yang di dalamnya berisi puluhan lembar surat sakti bermaterai sepuluh ribu. Surat izin kawin dari dinas TNI Angkatan Udara.
Laila mendengus keras, menyisir rambut panjangnya dengan sentakan kasar. Laila itu cantik, sangat cantik malah. Matanya bulat besar dengan bulu mata lentik alami, hidungnya bangir, dan bibirnya penuh. Namun, kecantikan itu terbungkus rapi dalam aura judes yang pekat. Alisnya hampir selalu menukik tajam, dan jika ia sudah menatap seseorang dengan pandangan menyelidiknya, orang tersebut biasanya akan langsung salah tingkah atau mendadak ingat dosa-dosa masa lalu.
"Lala! Arjuna sudah di depan, Ndok! Ayo cepat keluar, enggak enak ini sudah jam delapan!" suara Ayahnya melengking dari luar kamar, meruntuhkan lamunan buruk Laila.
"Iya, Pi! Sebentar! Enggak usah digedor pintunya, enggak bakal lari juga calon menantu idaman Papi itu!" sahut Laila tak kalah ketus.
Ia meraih tas jinjingnya, memakai flat shoes hitamnya dengan cara dihentakkan ke lantai, dan melangkah keluar kamar dengan gaya berjalan seperti seorang tentara yang siap maju ke medan perang ironis, mengingat ia justru sedang mencoba melarikan diri dari dunia militer.
Di ruang tamu, Arjuna sudah duduk dengan santai. Laki-laki itu mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) TNI AU, kemeja biru langit yang disetrika sangat rapi hingga garis lengannya tajam seperti pisau, celana biru tua, dan papan nama bertuliskan 'ARJUNA A.W' di dada kanannya. Di kepalanya bertengger baret biru yang sedikit miring ke kanan dengan emblem yang berkilau. Wajahnya tampan, tipe ketampanan yang maskulin dengan rahang tegas dan potongan rambut undercut tipis khas prajurit.
Namun, yang paling membuat Laila naik darah adalah ekspresi wajah Arjuna. Pria itu tidak kelihatan tegang sama sekali, seperti saat hari pertama mereka mengurus berkas nikah. Ia justru sedang asyik mengunyah rengginang dari stoples di meja ruang tamu Laila sambil menggoyangkan sebelah kakinya.
"Pagi, Calon Ibu Pia Ardhya Garini-ku yang paling galak," sapa Arjuna begitu melihat Laila turun tangga. Matanya menyipit, membentuk senyuman jenaka yang super tengil.
Laila tidak membalas sapaan itu. Ia hanya menatap Arjuna dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi. "Bisa enggak, lo sehari aja enggak usah pasang muka kayak minta ditampol begitu?" ketus Laila sambil menyambar map biru di atas meja.
Arjuna tertawa renyah, sama sekali tidak tersinggung. Ia bangkit berdiri, merapikan sedikit bajunya, lalu memakai baretnya dengan pas. "Wah, enggak bisa, Dek Laila. Ini muka bawaan lahir. Malah kata komandan Mas, muka begini ini yang bikin musuh gemetar sekaligus jatuh cinta. Contohnya ya kamu ini."
"Mimpi lo ketinggian! Udah, ayo cepet jalan. Makin cepet selesai, makin cepet gue bebas dari muka tengil lo," ujar Laila sambil melangkah lebar-lebar mendahului Arjuna ke luar rumah.
Di dalam mobil suasana kembali menjadi medan pertempuran tak berdarah. Laila langsung memasang posisi andalannya, duduk menyandar, melipat tangan di dada, membuang muka ke jendela kiri, dan memasang wajah jutek maksimal.
Hari ini adalah agenda paling krusial dari rentetan tujuh hari pengurusan berkas, Sidang Komando. Ini adalah tahap di mana mereka akan diinterogasi oleh komandan satuan, perwira intelijen, dan pengurus organisasi istri tentara untuk dinilai kelayakannya. Laila merasa seperti seorang kriminal yang sedang diantar menuju kursi eksekusi.
Perjodohan ini memang dia terima atas dasar ingin mengurangi beban Ayahnya agar tak terlalu memikirkan dirinya. Namun, Laila hanyalah gadis biasa yang baru saja lulus menjadi sarjana yang mencintai kebebasan, mendadak harus diseret ke dalam dunia yang penuh aturan, hierarki, dan seragam. Ia merasa terjebak, terpaksa, dan belum menerima ini sepenuhnya.
"Dek, itu mukanya tolong dikondisikan sedikit nanti pas di depan Komandan," ujar Arjuna memecah keheningan sembari memutar kemudi memasuki gerbang pangkalan udara.
"Jangan ketus-ketus begitu. Nanti Komandan ngiranya Mas ini menculik anak orang, bukan mau nikah," sambung Arjuna.
"Bagus dong kalau dikira menculik. Biar lo langsung dimasukkan ke sel penjara militer," sahut Laila tajam tanpa menoleh.
Arjuna terkekeh, tangan kirinya bergerak santai menurunkan kaca mobil untuk memberikan hormat kepada Provost yang menjaga gerbang. "Duh, kejamnya. Tapi jujur ya, Dek, kalau Mas masuk sel gara-gara menculik perempuan secantik kamu, kayaknya Mas ikhlas-ikhlas saja sih. Setidaknya selnya terasa kayak surga."
Laila merinding mendengar ocehan Arjuna, emosinya meningkat tajam. "Arjuna, bisa diam enggak?! Gombalan lo itu garing, tau enggak? Kuno!" Laila menoleh, matanya melotot tajam.
"Garing tapi bikin pipi kamu merah tuh," goda Arjuna sambil melirik sekilas ke arah pipi Laila yang memang sialnya sedikit merona akibat kombinasi antara marah dan malu.
Arjuna selalu punya cara untuk membalikkan kata-kata judes Laila menjadi lelucon, dan itu adalah hal yang paling menyebalkan bagi Laila. Sifat santai dan tengil Arjuna seperti lapisan baja yang tidak bisa ditembus oleh anak panah kejutekan Laila.
Pukul sepuluh, mereka sudah duduk di ruang tunggu Staf Personel. Ketegangan mulai merayap di pundak Laila, meskipun ia berusaha keras menyembunyikannya di balik ekspresi angkuhnya. Di sekitar mereka, ada beberapa pasang calon pengantin lain. Para perempuan di sana terlihat sangat anggun dengan sanggul rapi, tersenyum ramah, dan sesekali membetulkan kerah baju calon suami mereka dengan penuh kasih sayang.
Sementara Laila? Ia duduk bersandar dengan kaki disilangkan, sibuk memainkan kuku jarinya, dan Arjuna duduk di sebelahnya sambil asyik membaca majalah kedirgantaraan lama yang ada di meja.
"Dek, lihat tuh yang sebelah sana," bisik Arjuna tiba-tiba, menyenggol lengan Laila pelan dengan sikutnya.
"Calon istrinya Letda Bayu rapi banget, senyum terus dari tadi. Kamu ndak mau meniru sedikit begitu? Senyum tipis saja, biar otot wajahmu ndak kaku."
Laila melirik tajam ke arah yang ditunjuk Arjuna, lalu mendengus meremehkan. "Kalau lo mau yang senyum-senyum begitu, ya sana pacarin aja dia. Kenapa malah mau dijodohkan sama gue? Belum terlambat kok buat membatalkan berkas ini. Tinggal bilang ke Komandan lo kalau kita enggak cocok. Beres, kan?"
Arjuna meletakkan majalahnya. Ia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Laila sepenuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hari itu, tatapan tengil di matanya sedikit mereda, digantikan oleh binar mata yang hangat dan dalam.
"Dek, " panggil Arjuna dengan nada yang mendadak serius.
"Mas tahu kamu terpaksa. Mas tahu kamu kesal karena kebebasan kamu seperti direnggut sama perjodohan kolot ini. Tapi asal kamu tahu, Mas ndak pernah main-main atau terpaksa sama hal ini. Mas bisa saja menolak perjodohan ini dari awal, tapi begitu Mas lihat kamu... Mas memutuskan untuk maju. Jadi, buat membatalkan ini? Maaf, kaptenmu ini ndak punya kata mundur dalam kamus strateginya."
Laila tertegun. Kata-kata Arjuna menghantam dadanya dengan telak. Sifat judesnya mendadak lumpuh selama beberapa detik. Ia menatap mata Arjuna yang tajam namun teduh, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang keras kepala.
Rasa hangat yang aneh mendadak menjalar di hatinya, membuat Laila merasa salah tingkah, namun seperkian detik ia teringat dengan Devan, pacar yang dengan setia menunggu Laila untuk cepat keluar dari permasalahan perjodohan ini.
Sebelum Laila sempat merumuskan jawaban ketus untuk menutupi kepanikannya, pintu ruang kerja Komandan terbuka.
"Kapten Arjuna dan Saudari Laila, silakan masuk," panggil seorang bintara tinggi tegap dari ambang pintu.
Arjuna langsung berdiri tegap, merapikan bajunya dalam satu gerakan efisien, lalu menatap Laila kembali dengan senyuman tengil andalannya yang sudah kembali. "Ayo, Tuan Putri. Saatnya menghadap raja."
Sidang Komando berlangsung selama satu jam yang terasa seperti satu dekade bagi Laila. Di dalam ruangan bercat hijau tentara itu, mereka duduk di hadapan Komandan Skadron yang berpangkat Letnan Kolonel. Beliau mengajukan pertanyaan demi pertanyaan yang menguji kesiapan mental Laila.
"Saudari Laila, menjadi istri anggota TNI AU itu tidak mudah. Suami Anda bisa dipindahtugaskan kapan saja ke seluruh pelosok Indonesia. Apakah Anda siap?" tanya Komandan dengan suara berat yang berwibawa.
Laila menarik napas dalam-dalam. Bagian judes dalam dirinya ingin sekali menjawab, 'Sebenarnya tidak siap, Pak, tapi apa boleh buat saya dipaksa'. Namun, melihat Arjuna yang duduk di sebelahnya dengan sikap tobat tegap sempurna, pandangan lurus ke depan, tanpa ada sisa-sifat tengil sedikit pun, Laila menahan egonya. Ia tahu, di dunia ini, karier Arjuna akan dipertaruhkan dalam sidang ini. Sekejam-kejamnya Laila, ia tidak ingin menghancurkan masa depan orang lain.
"Siap, Komandan. Saya akan berusaha menyesuaikan diri dan mendukung karier Arjuna," jawab Laila. Suaranya terdengar tegas, jelas, dan tanpa nada jutek yang biasa ia pakai.
Arjuna melirik Laila sekilas dari sudut matanya, ada binar keterkejutan sekaligus rasa terima kasih yang mendalam di sana.
Setelah beberapa nasihat panjang tentang keharmonisan rumah tangga dan organisasi Pia Ardhya Garini, Komandan akhirnya tersenyum. Beliau mengetukkan palu kecil di mejanya dan menandatangani lembar berkas fisik terakhir di dalam map biru tersebut.
"Baik, berkas kalian saya nyatakan lengkap dan disetujui. Selamat berproses ke tahap selanjutnya. Arjuna, jaga calon istrimu baik-baik. Dia perempuan yang tegas, cocok untuk mendampingi seorang kapten seperti kamu."
"Siap, laksanakan, Komandan!" jawab Arjuna lantang.
Pukul dua belas siang, mereka akhirnya keluar dari gedung Staf Personel. Matahari siang itu bersinar terik di atas pangkalan udara, memantulkan cahaya pada badan pesawat-pesawat angkut yang terparkir di kejauhan.
Map biru itu kini sudah penuh dengan tanda tangan dan cap resmi. Prosesi tujuh hari mengurus berkas nikah kantor yang melelahkan dan menyiksa batin itu akhirnya selesai dengan kemenangan di pihak Arjuna.
Begitu mereka kembali ke dalam mobil dan Arjuna menyalakan AC, Laila langsung melepaskan kunciran rambutnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai berantakan, lalu menyandarkan kepalanya dengan lemas.
"Haaaah... selesai juga akhirnya. Otak gue rasanya mau meledak," keluh Laila, kembali ke mode juteknya yang biasa, seolah-olah ketegasan di depan Komandan tadi hanyalah ilusi optik.
Arjuna menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan area pangkalan. Ia melirik Laila yang sedang memijat pelipisnya sendiri. Senyum tengilnya kembali terkembang, namun kali ini terasa jauh lebih lembut.
"Hebat juga kamu tadi di dalam, Dek. Jawabannya tegas banget, kayak sudah latihan jadi istri tentara selama sepuluh tahun," goda Arjuna.
"Diem lo. Gue ngelakuin itu cuma karena kasihan aja sama lo. Kalau gue jawab sejujurnya, lo pasti sudah disuruh lari keliling lapangan bola sama Komandan lo tadi," gerutu Laila, melemparkan pandangan tajam ke arah Arjuna.
"Iya, iya, terima kasih ya, Dek Laila cantik," kata Arjuna tulus. Ia meraba kantong pintu mobilnya, lalu mengeluarkan sebuah cup minuman dingin yang tampaknya sudah ia siapkan di dalam cooler bag kecil di jok belakang sebelum menjemput Laila tadi. Minuman itu adalah jus stroberi, minuman kesukaan Laila yang Arjuna ketahui saat berada di Bali.
"Nih, buat mendinginkan otakmu yang mau meledak," ujar Arjuna sambil menyodorkan cup tersebut.
Laila tertegun melihat minuman di tangan Arjuna. Ia menatap cup itu, lalu menatap Arjuna yang kembali fokus menyetir dengan sebelah tangan sambil bersiul kecil mengikuti lagu pop yang samar-samar terdengar dari radio. Cowok tengil ini ternyata memperhatikan detail sekecil itu tentang dirinya.
Laila meminum jus stroberi dinginnya, lalu kembali membuang muka ke jendela luar. "Makasih," bisik Laila sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara musik dari radio.
"Sama-sama, Calon Istriku," sahut Arjuna cepat, membuktikan bahwa pendengaran seorang prajurit tidak pernah bisa diremehkan. Dan Laila hanya bisa mendengus kencang, kembali memasang wajah judesnya.
...Bersambung... ...