NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5_Desa terkutuk part 1

Bab 1: Larangan yang Diabaikan

"Nak... kamu mau ke mana malam-malam begini?" tanya seorang kakek penjaga warung dengan wajah cemas. Kerutan di dahinya semakin dalam, sementara matanya terus menatap ke arah jalan gelap di depan.

"Saya mau ke Desa Kalibiru, Kek. Kata orang, jalannya lewat sini." Arga tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang meski udara di sekitarnya terasa semakin dingin.

Senyuman di wajah kakek itu seketika menghilang. Wajah tuanya mendadak pucat.

Bibirnya bergetar pelan.

"Desa Kalibiru?" ulangnya lirih sambil menelan ludah. Tatapannya berubah dipenuhi ketakutan.

Arga mengangguk.

"Iya, Kek. Saya mencari rumah peninggalan kakek saya." Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya dengan wajah penuh harap.

Kakek itu tidak mau melihat kertas tersebut.

Sebaliknya, ia justru mundur dua langkah.

Tangannya gemetar hebat.

"Pulanglah..." bisiknya dengan suara serak. Napasnya terdengar memburu. "Jangan pernah menginjakkan kaki ke desa itu setelah matahari terbenam."

Arga mengernyitkan dahi.

"Kenapa memangnya?" tanyanya dengan ekspresi bingung, meski rasa penasaran mulai memenuhi pikirannya.

Kakek itu menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang mendengar.

Barulah ia mendekat. Wajahnya begitu pucat hingga nyaris tak berwarna.

"Karena desa itu... sudah dikutuk." Suaranya bergetar, sementara matanya mulai berkaca-kaca.

Angin tiba-tiba berembus kencang. Lampu minyak di warung bergoyang pelan. Api kecilnya hampir padam.

"Puluhan tahun lalu..." lanjut sang kakek dengan napas berat. "Seluruh penduduk desa menghilang dalam satu malam." Wajahnya dipenuhi kengerian seolah kembali mengingat mimpi buruk yang tak pernah selesai.

"Menghilang?" Arga membelalakkan mata. Napasnya tertahan.

"Tidak ada mayat." Kakek itu menggeleng pelan. Rahangnya mengeras. "Tidak ada darah. Yang tersisa hanya rumah-rumah kosong... dan suara tangisan setiap tengah malam."

Suasana mendadak sunyi.

Tak ada suara jangkrik. Tak ada suara burung. Bahkan angin pun seolah berhenti berembus.

Kakek itu menatap Arga lekat-lekat.

"Kalau nanti ada yang memanggil namamu..." katanya lirih dengan wajah semakin tegang.

"Jangan pernah menjawab. Kalau ada suara ibumu..." Bibirnya bergetar hebat. "Jangan menoleh. Dan kalau kamu melihat seseorang berdiri di tengah jalan..." Matanya membelalak penuh ketakutan. "Apa pun yang terjadi... jangan tatap wajahnya."

Arga menelan ludah.

Entah mengapa bulu kuduknya berdiri. Namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

"Terima kasih atas peringatannya, Kek." Ia tersenyum sopan sambil menganggukkan kepala, meski sorot matanya masih dipenuhi rasa penasaran.

Tanpa menghiraukan larangan itu, Arga kembali menyalakan motornya. Perlahan ia memasuki jalan tanah yang membelah hutan.

Semakin jauh ia melaju... Kabut semakin tebal.

Pepohonan tua menjulang tinggi seperti tangan-tangan raksasa yang siap mencengkeram siapa saja yang lewat.

Udara berubah sangat dingin. Embusan angin membawa aroma anyir yang menusuk hidung.

Lima belas menit kemudian...

Motor Arga tiba-tiba mati.

"Cek... cek... cek..."

Mesinnya tak mau hidup lagi.

"Loh... kenapa mati?" gumam Arga sambil mengernyitkan dahi. Wajahnya mulai dipenuhi kegelisahan.

Saat itulah...

Tok...

Ada sesuatu yang mengetuk helmnya.

Pelan. Arga menoleh ke kanan. Kosong. Ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Mungkin ranting pohon." batinnya.

Baru saja ia menunduk hendak menyalakan motor kembali...

Tok... Tok... Tok...

Ketukan itu terdengar lagi. Tapi kali ini... Lebih keras. Tepat di belakang kepalanya.

Jantung Arga berdetak semakin cepat.

Dengan leher yang terasa kaku, ia membalikkan badan.

Kabut perlahan terbelah.

Di baliknya...

Berdiri seorang anak perempuan. Usianya sekitar delapan tahun. Ia mengenakan gaun putih lusuh yang dipenuhi noda hitam. Kepalanya tertunduk. Rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya.

Kedua kakinya... Menggantung. Beberapa sentimeter di atas tanah.

Arga membeku.

"Dik..." panggilnya pelan dengan wajah pucat dan bibir yang mulai bergetar. "Kamu... siapa?"

Anak itu tidak menjawab. Tubuhnya tetap diam.

Lalu perlahan... Kepalanya berputar.

Krek...Krek...Krek...

Bukan tubuhnya yang bergerak. Melainkan hanya kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat.

Rambutnya tersibak. Memperlihatkan wajah yang penuh luka robek. Salah satu matanya hilang.

Dari rongga mata yang kosong itu... Belatung-belatung putih mulai berjatuhan ke tanah.

Bibir anak itu perlahan menyeringai. Lalu terdengar suara kecil yang serak, seolah berasal dari tenggorokan yang telah membusuk.

"Kak..." bisiknya dengan senyum yang semakin melebar. Wajahnya tampak mengerikan.

"Penduduk desa..." Ia berhenti sejenak. Lalu tertawa pelan. "Sedang menunggumu..."

Seketika... Dari balik pepohonan...

Puluhan sosok hitam bermata merah muncul satu per satu.

Mereka berdiri tanpa bergerak. Semuanya menghadap ke arah Arga.

Lalu, secara bersamaan...

Seluruh kepala mereka menoleh patah ke samping sambil mengeluarkan suara tulang yang retak.

Krek...!

Di saat yang sama... Seseorang berbisik tepat di belakang telinga Arga.

"Jangan pergi..."

Padahal... Tidak ada siapa pun di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!