Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Matahari sudah benar-benar tenggelam dan langit dipenuhi bintang, Kania berdiri di depan cermin besar yang memantulkan sosok yang tak lagi sama. Gaun panjang berwarna hitam meluncur halus menyentuh lantai, berkilau lembut setiap kali ia bergerak, menonjolkan ketegasan dan keanggunan yang kini menyatu dalam dirinya. Rambutnya disusun rapi, wajahnya tampak tenang namun matanya menyimpan api yang tak lagi bisa dipadamkan.
Pintu terbuka perlahan, dan Victor masuk. Langkahnya tenang, tatapannya jatuh tepat pada sosok di hadapannya. Ia tidak memuji berlebihan, namun sorot matanya menyiratkan pengakuan yang paling berharga.
"Mereka akan terkejut saat melihatmu," ucapnya rendah, suaranya tegas namun lembut. "Dan mereka akan takut saat menyadari siapa kau sebenarnya."
Kania menatap pantulan mereka berdua di cermin, lalu perlahan menoleh ke arahnya. "Mereka tidak seharusnya takut jika mereka tidak bersalah, Vic. Aku ingin mereka membayar setiap luka dan air mata yang sudah aku keluarkan."
Victor mendekat, tangannya terulur untuk merapikan sedikit lipatan gaun di bahunya. "Malam ini adalah panggungmu. Katakan apa yang harus dikatakan, dan lakukan apa yang harus dilakukan. Aku ada di sini. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi."
Kania mengangguk pelan, merasakan kekuatan yang mengalir dari kehadirannya. Ia menarik napas panjang, membiarkan rasa sakit masa lalu menjadi kekuatan yang membawanya melangkah ke depan.
"Mari kita pergi," ucapnya tegas.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang sudah menunggu. Pintu mobil ditutup setelah keduanya masuk, dan kendaraan melaju membelah kegelapan malam menuju tempat di mana semuanya akan berubah selamanya.
-
-
-
Suasana di The Grand Blackwood Ballroom tampak begitu megah, langit-langitnya yang tinggi dihiasi lampu gantung kristal raksasa yang memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Ribuan tamu undangan berjejer rapi, berbisik-bisik dengan penuh rasa ingin tahu, menanti kedatangan tuan rumah.
Di sudut ruangan, Haris berdiri diam sambil memutar-mutar gelas berisi anggur merah di tangannya. Di sampingnya, Luna berdiri dengan gaun emas mudanya yang berkilau, sesekali merapikan letak perhiasannya dan menatap sekeliling dengan penuh harap. Nyonya Melani berdiri di sebelahnya, sesekali menyapa rekan bisnis dengan senyum yang terukir sempurna, sementara Tuan Aryan berdiri sedikit terpisah, wajahnya tampak gelisah seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Kamu terlihat gelisah, Kak," bisik Luna pelan menyentuh lengan Haris. "Ada apa? Apa kamu kurang sehat?"
Haris tersadar dari lamunannya, lalu menunduk menatap wanita di sampingnya dengan tatapan yang tak bisa dibaca. "Tidak ada apa-apa. Hanya menanti acara dimulai."
Namun kata-kata itu tak meyakinkan. Di dalam benaknya, ada rasa penasaran yang entah mengapa terus tumbuh. Ia mendengar banyak pembicaraan tentang sosok wanita yang mampu memulihkan kerugian besar dalam waktu singkat, sosok yang namanya mulai disebut-sebut di lingkaran bisnis.
"Siapa sebenarnya yang akan diperkenalkan Tuan Victor malam ini?" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Nyonya Melani yang mendengarnya segera menoleh, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. "Hanya seseorang yang bekerja di bawah naungannya, Haris. Tidak penting. Yang penting kita bisa menjalin hubungan baik dengan Tuan Victor."
Belum sempat Haris menjawab, pintu utama di buka lebar. Victor melangkah masuk dengan tenang dan berwibawa, diikuti Rico yang berjalan selangkah di belakangnya. Langkahnya tegas, tatapannya tajam menelusuri hadirin satu per satu, membuat siapa pun yang bertemu pandang dengannya seketika menunduk hormat. Ia berhenti tepat di tengah panggung kecil yang telah disiapkan, berdiri tegak di hadapan mikrofon.
Suasana seketika hening. Victor menatap para tamu undangan lama sekali sebelum akhirnya bersuara, suaranya rendah namun bergema jelas hingga ke sudut ruangan paling jauh.
"Terima kasih telah hadir malam ini. Malam ini bukan hanya perayaan tahunan Blackwood Corp, melainkan juga awal dari langkah baru yang lebih besar."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan tegas, "Dan malam ini, saya ingin memperkenalkan sosok yang telah berdiri di samping saya, yang telah membuktikan ketangguhannya, dan mulai hari ini berstatus sebagai tunangan saya... Kanaya Aurelia."
Tepat saat nama itu disebutkan, pintu ganda terbuka perlahan. Cahaya lembut menyinari sosok yang melangkah masuk sendirian. Semua mata serentak beralih ke sana, tak ada yang berkedip.
Kania berjalan dengan langkah tenang dan anggun. Gaun malam panjang berwarna hitam pekat yang dikenakannya jatuh sempurna hingga menyentuh lantai, berkilau samar setiap kali ia bergerak. Tidak ada hiasan berlebihan, hanya ketegasan yang memancar dari setiap gerakannya. Wajahnya tenang, namun matanya menatap lurus ke depan dengan sorot yang tak bisa digoyahkan.
Hening seketika menyelimuti ruangan, seolah waktu berhenti berputar. Langkah kaki Kania tidak terburu-buru, namun setiap langkahnya membawa getaran yang terasa hingga ke hati setiap orang yang memandangnya. Di antara kerumunan yang terpaku, wajah keluarga Wijaya berubah pucat seketika.
Tangan Luna yang tadi merangkul lengan Haris perlahan melemas, jari-jarinya gemetar hebat. Senyum manis yang sedari tadi ia jaga rapi kini lenyap tak berbekas. Ia menatap sosok yang berjalan mendekat itu dengan mata terbelalak, napasnya tercekat di kerongkongan.
Di sampingnya, Nyonya Melani menahan napas begitu kuat hingga dadanya terasa nyeri. Kakinya terasa lemas seolah tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Ia mencengkeram tangan putrinya erat, berusaha menahan rasa panik yang mulai meluap, namun matanya tak mampu beralih dari sosok yang kini semakin dekat.
Sementara itu, Tuan Aryan berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa nyeri di dada. Matanya tak berkedip menatap wajah itu, ada rasa haru yang bercampur rasa takut yang mendalam.
Gelas anggur di tangan Haris hampir terlepas saat jari-jarinya yang menegang kaku. Darah seakan berhenti mengalir di pembuluh darahnya. Ia mengenali setiap garis wajah itu, cara matanya menatap lurus, bahkan ketegangan halus di rahangnya. Meski tatapannya kini sedingin es dan jauh berbeda dari wanita lembut yang ia kenal dulu.
Luna menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca tak percaya, "Tidak... itu... itu pasti bukan Kak Kania..."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭