NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

***

Gemuruh badai di luar dinding jati berangsur-angsur menjauh, menyisakan deru angin malam yang menyapu dahan-dahan pohon sawo di luar jendela. Namun, di dalam rongga kamar utama rumah joglo, badai yang jauh lebih pekat dan membakar justru baru saja dimulai.

Suara derap langkah Sentot yang menyeret Darmo ke pendopo luar perlahan lenyap. Keheningan yang menekan seketika menyergap ruangan. Sinar lampu teplok minyak yang temaram bergoyang gelisah, melemparkan bayangan tubuh tinggi besar Raden Mas Baskoro ke dinding jati berukir kala makara. Pria empat puluh tahun itu berdiri diam di dekat pintu yang telah terkunci rapat dari dalam. Napasnya masih memburu berat, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa gejolak cemburu dan luapan emosi yang nyaris menghancurkan akal sehatnya beberapa saat lalu.

Meskipun Larasati telah bersumpah setia dan membuktikan kejujurannya, ego kelaki-lakian Baskoro sebagai penguasa mutlak yang terbiasa ditakuti belum sepenuhnya reda. Rasa takut kehilangan dan bayang-bayang masa lalu yang kelam berubah wujud menjadi hasrat yang meledak-ledak—sebuah kebutuhan primitif untuk menandai kembali apa yang telah sah menjadi miliknya, untuk menanamkan otoritasnya sedalam mungkin ke dalam jiwa dan raga istri kecilnya.

Larasati berdiri mematung di dekat meja rias, meremas ujung selendang sutranya. Ia menatap suaminya dengan tatapan mata yang sarat akan kepasrahan namun juga keberanian yang baru tumbuh. Ia tahu, malam ini ia tidak bisa menghindar. Kegarangan pria di depannya menuntut kepatuhan total.

Baskoro mulai melepaskan pakaian resminya. Sabuk kulit bertatahkan perak dilepas dengan suara dentang yang berat, disusul dengan beskap lurik gelapnya yang jatuh ke lantai begitu saja. Gerakannya terkesan buru-buru, membuang semua formalitas kaku bangsawan. Yang tersisa kini hanyalah sosok pria dewasa berbadan kekar dengan otot-otot bahu yang menegang tegap, menyebarkan aroma tajam minyak cendana yang berbaur dengan pekatnya uap wedang jahe dari ruang dalam.

Manik mata Baskoro yang hitam pekat mengunci pergerakan Larasati. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga bayangannya sepenuhnya menenggelamkan tubuh mungil Larasati.

"Lepaskan kebaya sewarna madu itu, Larasati," perintah Baskoro. Suaranya terdengar sangat rendah, bariton yang serak, namun mengandung perintah mutlak yang tak terbantahkan.

Larasati mendongak, napasnya mulai tertahan di tenggorokan. "Mas Baskoro..."

"Lepaskan," potong Baskoro lebih dalam, matanya menatap tajam kancing-kancing kebaya yang membungkus dada istrinya. "Pakaian itu... pakaian yang kamu kenakan saat pria lain dari masa lalumu menatapmu dengan kerinduan. Aku tidak ingin melihat kain itu melekat di tubuhmu barang sedetik pun malam ini."

Mendengar nada posesif yang begitu pekat, Larasati merasakan desiran aneh yang membakar darahnya. Dengan jari-jari yang gemetar halus, ia mulai melepas satu per satu kancing kebayanya. Lembaran kain katun halus sewarna madu itu perlahan meluncur jatuh dari pundaknya, menyingkap kulit kuning langsatnya yang halus dan hanya menyisakan kemben putih yang melilit erat tubuh belianya.

Baskoro tidak menunggu lebih lama. Ia meraih pergelangan tangan Larasati—menatap sekilas gelang emas pahat melati yang melingkar di sana—lalu menuntunnya dengan sentuhan yang kuat menuju ranjang jati raksasa di tengah kamar. Ia mendorong tubuh Larasati perlahan hingga gadis itu telentang di atas kasur kapuk yang empuk, di bawah naungan kelambu sutra yang tipis.

"Malam ini, kamu akan menerima hukuman atas kecurigaan yang hampir membuatku gila, Nduk," bisik Baskoro parau, memposisikan tubuhnya yang tinggi besar di atas Larasati, mengurung pergerakan gadis itu sepenuhnya. "Aku akan memastikan, bahwa di dalam ingatanmu, di dalam darahmu, tidak akan ada ruang lagi untuk nama lain selain suamimu."

Larasati memejamkan matanya sejenak saat kehangatan tubuh kekar Baskoro merapat tanpa sekat. "Kulo... kulo pasrah seutuhnya pada Anda, Mas. Hukumlah kulo jika itu bisa menenangkan jiwa Anda," jawab Larasati lirih, sepasang tangan kecilnya merayap naik, mencengkeram bahu kekar Baskoro yang keras bagai batu gunung.

Ketika penyatuan fisik itu dimulai, Baskoro sengaja tidak menggunakan kelembutan penungguan seperti malam pertama mereka. Hasratnya yang terprovokasi fitnah diluapkan dalam gerakan yang intens, berat, dan menuntut ketundukan mutlak. Larasati seketika mengejang, rasa perih manis yang tajam kembali menghantam rahim belianya, membuatnya mendesah tertahan.

"Ahhh... hhh... Mas Baskoro... nggghhh..." Larasati merintih, kepalanya bergerak gelisah di atas bantal kapuk.

Baskoro tidak memberikan jeda. Stamina fisiknya yang prima di usia empat puluh tahun seolah tidak memiliki tanding. Ia menahan kedua tangan Larasati di atas kepala, mengunci pergelangan tangannya dengan satu tangan besarnya, sementara tangannya yang lain meraba pinggang istrinya, memaksanya menerima setiap hentakan asmara yang dalam dan melelahkan.

"Katakan padaku, Laras..." desah Baskoro parau, napas panasnya berburu menerpa ceruk leher Larasati, meninggalkan jejak kepemilikan di sana. "Milik siapa raga yang sedang bergetar ini? Milik siapa jiwamu yang terkurung di rumah joglo ini?"

Larasati tersengal-sengal panjang, dadanya yang terbungkus kemben naik-turun dengan cepat. Sensasi panas yang menguras tenaga mulai menyebar, mengubah rasa sakit semula menjadi gelombang kenikmatan yang memabukkan namun menyulitkan raganya untuk bertahan. "Nggghhh... ahhh... milik Anda, Mas... hanya milik Mas Baskoro... hhh... kulo... kulo mboten mengkhianati Anda..."

Baskoro menggeram rendah, kepuasan batin yang liar membakar dadanya mendengar pengakuan jujur itu dari bibir istrinya yang terengah-engah. Ia mengubah posisi mereka, menuntut kepatuhan yang lebih sulit dari Larasati. Ia mengangkat pinggul mungil istrinya, menahan tubuh Larasati dalam posisi yang menguras seluruh energi remajanya, membiarkan penyatuan mereka terasa semakin dalam dan intens.

"Ahhh! Mas... mboten kuat... kulo lelah..." rintih Larasati dengan air mata kenikmatan dan keletihan yang mulai membasahi sudut matanya. Posisi yang dipaksakan Baskoro membuat otot-otot kakinya gemetar hebat, memaksanya bertumpu seutuhnya pada kekuatan fisik suaminya yang tak tergoyahkan bagai soko guru pendopo.

"Bertahanlah, Nduk. Patuh padaku," bisik Baskoro dengan wibawa yang tak tertandingi di sela-sela napasnya yang memburu panas. "Ini adalah pembuktian kesetiaanmu. Tunjukkan padaku bahwa seluruh ragamu hanya bergetar demi suamimu."

Pergulatan asmara yang panas itu berlangsung sepanjang malam, melintasi jam-jam sunyi di perbukitan Joglo. Derak halus ranjang jati kuno ritmis beradu dengan suara desah napas keduanya yang saling berkejaran. Larasati yang awalnya merasa kewalahan dan kelelahan setengah mati, akhirnya menyerah seutuhnya secara sukarela. Ia membiarkan dirinya ditaklukkan, dilebur, dan dibentuk kembali oleh kegarangan suaminya yang penuh dengan cinta posesif.

Menjelang fajar, ketika tenaga Larasati benar-benar telah terkuras habis dan tubuhnya terkulai lemas bagai ranting kering, Baskoro membawa mereka pada puncak penyatuan yang paling pamungkas. Dengan satu dorongan dalam yang sarat akan pelepasan emosi, Baskoro mengerang panjang dan rendah, membenamkan wajahnya di leher Larasati yang basah oleh peluh, sementara seluruh kehangatan dirinya tumpah seutuhnya membasahi rahim suci permaisuri kecilnya.

Larasati mendesah panjang yang lemas, "Ahhhh... hhh...", sebelum akhirnya kesadarannya perlahan meredup oleh rasa lelah yang teramat sangat namun diselimuti oleh kedamaian dan kepuasan batin yang luar biasa murni.

Saat sinar fajar yang tipis kembali menyelinap dari kisi-kisi jati kamar, keheningan yang teduh telah pulih. Baskoro berbaring miring, menarik tubuh Larasati yang sudah tak berdaya ke dalam dekapan dadanya, menyelimuti mereka berdua dengan kain jarik sidomukti. Tangannya yang besar memeluk pinggang Larasati dengan erat, memastikan bahwa badai kecurigaan semalam telah sepenuhnya musnah, digantikan oleh ikatan batin yang kian mengunci erat di atas bukit Joglo.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!