NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Selina Datang

Suasana kantor yang biasanya ramai mendadak terasa canggung, beberapa karyawan diam-diam melirik ke arah resepsionis penasaran dengan wanita cantik yang berdiri di sana sejak beberapa menit lalu.

Sementara itu, Kirana berdiri tanpa ekspresi meski jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya.

"Kirana?" tanya Selina pelan.

"Iya." Kirana mengangguk tipis.

"Aku Selina." Selina menggenggam tali tasnya erat.

"Aku tahu," sahut Kirana.

Selina langsung menundukkan pandangan, ternyata bertemu langsung jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Semalam ia berulang kali menyusun kalimat permintaan maaf di kepalanya, tetapi semuanya menghilang begitu melihat wanita yang berdiri di depannya.

"Aku ingin bicara." Selina memberanikan diri.

"Kita tidak punya hal yang perlu dibicarakan." Kirana tetap tenang.

"Aku mohon." Minta Selina.

"Kamu sudah mengirim pesan."

"Itu tidak cukup."

Memang tidak cukup karena satu pesan tidak akan menghapus apa pun.

.

Dari ruang CEO, Gavin sedang mengintip melalui dinding kaca, pria itu bahkan sampai memajukan kursinya beberapa sentimeter agar bisa melihat lebih jelas.

"Bos." Gavin menunjuk ke luar.

"Hm?" Aiden masih membaca laporan.

"Masalah."

"Masalah apa lagi?" Aiden bahkan tidak mengangkat kepala.

"Masalah yang cantik."

"Lalu?" Aiden langsung mendongak.

"Datang ke kantor."

"Siapa?"

"Selingkuhan suaminya Kirana."

Aiden langsung berdiri.

"Bos!" Begitu cepat sampai Gavin ikut terkejut.

"Apa?"

"Jangan jalan seperti itu."

"Seperti apa?"

"Seperti mau perang."

.

Di area resepsionis, Selina masih berdiri di depan Kirana. Beberapa karyawan sudah mulai pura-pura sibuk sambil diam-diam mendengarkan.

"Aku tidak tahu kalau dia sudah menikah." Selina menundukkan kepalanya.

"Kamu sudah mengatakan itu lewat pesan."

"Itu benar."

"Lalu?"

"Aku ingin meminta maaf."

Kirana menatap wanita itu cukup lama, Selina terlihat tulus, masalahnya ketulusan tidak selalu bisa memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

"Aku tidak membencimu." Kirana akhirnya membuka suara.

Selina terlihat sedikit lega.

"Tapi aku juga tidak tahu harus mengatakan apa."

Lega itu langsung menghilang.

"Aku sudah mengakhiri semuanya." Selina menggigit bibir bawahnya.

Kirana mengangkat alis.

"Aku memutuskan hubungan dengan Rendra."

Kali ini Kirana benar-benar terkejut sedikit. Sangat sedikit, namun cukup untuk terlihat.

"Kenapa?" tanya Kirana.

"Aku tidak mau menjadi orang ketiga."

Jawaban itu terdengar sederhana, namun justru kesederhanaan itu membuat Kirana tidak bisa langsung membalas.

.

"Tuan." Salah satu staf langsung berdiri saat melihat Aiden mendekat.

"Hm." Aiden hanya mengangguk.

Pria itu berhenti beberapa meter dari Kirana, ia tidak ikut campur tetapi posisinya cukup dekat jika sesuatu terjadi. Gavin yang menyusulnya dari belakang dan langsung menghela napas.

"Syukurlah."

"Apa?" tanya Aiden.

"Bos tidak langsung menantang orang."

"Saya bukan preman!"

"Belum tentu."

.

"Aku tidak datang untuk membela diri." Selina mengangkat kepalanya. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar minta maaf."

"Kamu tidak berutang penjelasan padaku." Kirana merapikan map di tangannya.

"Tapi aku merasa harus."

"Kamu sudah menyampaikan."

Selina terdiam, wanita itu tahu Kirana tidak sedang marah dan justru itu lebih sulit dihadapi.

"Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu." Selina menarik napas panjang.

"Apa?" Kirana menatapnya.

Selina terlihat ragu, namun akhirnya ia tetap bicara.

"Rendra tidak pernah berniat mengaku."

Kalimat itu membuat suasana di sekitar mereka berubah, bahkan beberapa karyawan yang menguping langsung saling melirik.

"Kami bertemu hampir delapan bulan." Selina menundukkan pandangan. "Dan selama itu dia selalu mengatakan rumah tangganya hanya formalitas."

Kirana membeku, delapan bulan. Angka itu terus terngiang di kepalanya, delapan bulan, hampir satu tahun, sementara selama itu ia masih berusaha memperbaiki pernikahannya.

"Bos." Gavin berbisik.

"Hm?"

"Saya ingin memukul seseorang."

"Antri." Gavin langsung menoleh.

"Bos juga?"

"Sangat."

"Kirana." Selina terlihat bersalah. "Aku benar-benar minta maaf."

"Tidak perlu."

"Tapi..."

"Karena yang membuat janji denganku bukan kamu."

Kalimat itu membuat Selina terdiam, Kirana benar. Orang yang mengkhianati pernikahan itu bukan Selina, melainkan Rendra. Di saat yang sama, pintu lift terbuka.

Ding

Suara itu langsung menarik perhatian beberapa orang dan detik berikutnya, seseorang melangkah keluar. Pria itu langsung menghentikan langkah saat melihat Selina berdiri di depan Kirana, wajahnya seketika pucat.

"Selina?"

Selina menoleh. Sementara Kirana hanya berdiri diam.

"Kenapa kamu ke sini?" tanya Rendra cepat.

"Aku ingin meminta maaf." Selina menatapnya datar.

"Kamu tidak seharusnya datang."

"Kenapa?" Selina tertawa pahit. "Takut semuanya terbongkar?"

"Kita bicara di luar."

"Tidak!"

"Selina."

"Tidak!"

Untuk pertama kalinya sejak datang, nada suara Selina berubah keras.

"Kamu bilang mencintaiku." Selina menatap Rendra tanpa berkedip. "Kamu bilang pernikahanmu sudah tidak berarti."

"Selina!"

"Kamu bilang akan segera berpisah!"

Wajah Rendra semakin pucat, sementara beberapa karyawan mulai menundukkan kepala dan pura-pura sibuk meski telinga mereka bekerja maksimal.

"Berhenti." Rendra mengepalkan tangan.

"Kenapa?" Selina tertawa sinis. "Karena istrimu akhirnya tahu siapa dirimu?"

"Kirana." Rendra berbalik menatap istrinya.

Tidak ada jawaban.

"Kirana, dengarkan aku."

Tidak ada jawaban.

"Kirana."

"Aku mendengar semuanya." Kirana akhirnya membuka suara.

Dan justru kalimat itulah yang membuat Rendra semakin takut karena suara Kirana terlalu tenang, seolah badai besar sedang menunggu di baliknya.

"Aku bisa menjelaskan." Rendra mencoba mendekat.

Namun Kirana mundur satu langkah. Gerakan kecil, tetapi cukup membuat Rendra berhenti.

"Aku lelah mendengar penjelasan." Kirana menatapnya lurus.

"Kirana."

"Delapan bulan."

Rendra langsung membeku.

"Delapan bulan." Kirana mengulanginya pelan. "Sementara aku masih berpikir kita hanya sedang melalui masa sulit."

Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan, namun setiap kata yang keluar dari mulut Kirana terasa jauh lebih menyakitkan.

"Aku pulang." Kirana mengalihkan pandangan.

"Kirana!" panggil Rendra panik.

Namun wanita itu tidak berhenti, ia berjalan melewati kerumunan karyawan, melewati Selina, melewati Rendra dan saat melewati Aiden langkahnya sempat goyah, namun cukup untuk membuat Aiden refleks mengulurkan tangan.

"Kirana." Aiden menahan lengannya agar tidak kehilangan keseimbangan.

Wanita itu langsung menegakkan tubuh.

"Terima kasih." Kirana menarik napas pelan.

Aiden mengangguk, tidak bertanya, tidak menahan hanya membiarkannya pergi, amun tepat ketika pintu lift hendak tertutup dan suara Rendra kembali terdengar.

"Kirana!"

Wanita itu tidak menoleh.

"Kita belum selesai!"

Pintu lift perlahan menutup dan sesaat sebelum benar-benar tertutup, Kirana akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya lurus ke arah suaminya lalu untuk pertama kalinya sejak mereka menikah ia mengucapkan kalimat yang membuat darah Rendra seakan berhenti mengalir.

"Aku ingin berpisah." Kirana menatapnya tanpa ekspresi. "Dan kali ini, aku serius."

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!