"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 #Bibit cemburu
Bara Fernandez memejamkan matanya rapat-rapat, rahang tegasnya mengeras hingga urat-urat di sekitar lehernya menonjol sempurna. Dada bidangnya yang naik-turun memburu berantakan bukan karena rasa takut pada siapa pun di dunia ini, termasuk pada kakak iparnya sendiri. Namun, Bara merasa sangat murka dan terganggu karena aktivitas intimnya bersama gadis cerinya dihancurkan begitu saja di saat mereka hampir mencapai puncak.
Merasa ada pergerakan panik di bawah kungkungannya, Bara membuka mata dan menatap Anya. Gadis itu sudah gemetar hebat dengan wajah pucat pasi bagai kehilangan seluruh darahnya. Air mata kepanikan hampir saja menetes dari sudut mata bulat Anya.
Melihat ketakutan yang begitu nyata dari Anya, sisi protektif di dalam diri Bara seketika mengambil alih. Dia melunakkan tatapan matanya, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Anya yang dingin dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan.
"Zevanya, dengarkan aku," bisik Bara dengan suara baritonnya yang rendah namun sangat tegas, mengunci pandangan mata Anya agar fokus padanya. "Tetap diam di sini. Jangan bersuara sedikit pun dan jangan coba-coba membuka pintu sampai aku kembali. Aku akan menemui mereka."
Anya hanya bisa mengangguk cepat dengan sisa tenaga yang dia miliki. Begitu Bara melepaskan kuncian tangannya, Anya dengan gerakan super cepat langsung merapikan bra berenda miliknya, mengancingkan kembali kaitannya ke depan dengan jemari yang bergetar hebat, lalu menarik turun blouse soft pink-nya hingga kembali ke posisi semula.
Bara melangkah keluar dari kamar mandi pelayan dengan gerakan tenang. Begitu tubuh tegap tanpa busana bagian atas milik Bara melewati ambang pintu,
Cklek! Sreet!
Anya langsung menutup pintu itu dan memutar kunci dari dalam dua kali, memastikan dirinya benar-benar terisolasi dari dunia luar. Anya menyandarkan punggungnya di balik pintu, memeluk dirinya sendiri sembari mencoba mengatur napasnya yang masih berantakan.
Bara berjalan cepat menuju kamar utama di lantai dua penthouse-nya. Dengan gerakan tak acuh, dia menyambar sebuah kaos polo berwarna biru gelap dari dalam lemari, memakainya dengan kilat untuk menutupi dada bidangnya yang masih menyisakan sedikit sisa kehangatan dari tubuh Anya. Saat Bara kembali turun ke lantai satu dan melangkah menuju ruang tamu utama, pintu lift privat berdenting terbuka.
Sosok Isyana Fernandez melangkah keluar dengan keanggunan seorang wanita berkelas dari klan Fernandez. Wajahnya yang awet muda dihiasi oleh senyuman yang merekah lebar. Di kedua tangannya, dia membawa sebuah kotak anyaman mewah yang tampak berisi makanan premium. Namun, tatapan mata elang Bara tidak tertuju pada kakak iparnya, melainkan pada sosok yang berjalan di sebelah Isyana.
Isyana tidak datang sendiri. Dia membawa seorang wanita muda berwajah oriental yang sangat cantik, mengenakan midi dress berwarna sage dengan riasan wajah yang sangat sempurna dan anggun.
Bara yang memiliki kecerdasan tajam di atas rata-rata seketika tahu kemana arah dari kunjungan mendadak ini. Skenario klasik perjodohan bisnis yang selalu dirancang oleh keluarganya.
"Bara!" sapa Isyana riang, melangkah mendekat ke arah sofa utama. "Maaf ya kalau Kakak datang mendadak dan mengganggu waktu istirahatmu sore-sore begini."
Bara mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat datar dan formal, khas seorang CEO dingin yang tidak tersentuh. "Ada apa, Kak, mendadak kemari? Biasanya Kakak selalu menelepon Reno dulu sebelum datang."
Isyana terkekeh pelan, lalu menyenggol pelan lengan wanita muda di sebelahnya. "Ini... Kakak sengaja kemari untuk memperkenalkan seseorang padamu. Bara, kenalkan, ini Jessica. Dia ini putri tunggal dari Jordan Arnaka, pemilik Arnaka Group. Kamu ingat, kan? Perusahaan kita kan sedang ada proyek kerja sama bisnis properti besar di kawasan Jakarta Utara bersama mereka. Kakak pikir, tidak ada salahnya kalau kamu berkenalan lebih dekat dan akrab dengan Jessica."
Jessica melangkah maju satu tindak, memberikan senyuman manis yang sangat terlatih di depan pria matang sesukses Bara. Dia mengulurkan tangan kanannya yang lentik. "Selamat sore, Pak Bara. Saya Jessica Arnaka. Papaku sering sekali menceritakan kehebatan Anda dalam mengelola Fernandez Corp di meja makan rumah."
Bara menatap tangan yang terulur itu dengan tatapan formal yang dingin. Dia menyambut salaman tersebut hanya selama dua detik sebelum melepaskannya tanpa minat yang mendalam. "Sore, Jessica. Silakan duduk."
Bara memberikan isyarat tangan agar kedua wanita itu duduk di sofa panjang. Isyana meletakkan kotak makanannya di atas meja kaca, namun tepat saat dia hendak menyandarkan punggungnya, pandangan mata tajam Isyana mendadak fokus pada sebuah benda asing yang tergeletak begitu saja di atas karpet bulu di bawah meja sofa tunggal, tempat di mana Anya duduk beberapa menit yang lalu.
Itu adalah sebuah tas ransel perkuliahan berwarna abu-abu yang tampak sedikit menggembung karena berisi laptop.
"Bara... itu tas siapa?" tanya Isyana dengan kening berkerut dalam, matanya menatap menyelidik ke arah tas ransel anak muda yang jelas-jelas tidak cocok dengan selera seorang Bara Fernandez. "Kok ada tas anak kuliahan tergeletak di sini? Kamu sedang menerima tamu lain?"
Jantung Bara sama sekali tidak berdesir panik mendapat pertanyaan menjebak itu. Dengan ketenangan mutlak seorang penguasa, Bara melirik sekilas ke arah tas Anya, lalu kembali menatap Isyana dengan wajah lempeng.
"Itu milikku," jawab Bara singkat, padat, dan sangat dingin. "Tas itu berisi dokumen operasional dari proyek baru yang dibawa oleh tim magang kantor siang tadi. Karena tergeletak di penthouse-ku, itu artinya barang itu milikku, Kak. Tidak perlu dipertanyakan."
Isyana mengangguk-angguk kecil, meskipun di dalam hatinya dia merasa ada yang sedikit aneh dari jawaban adik iparnya itu.
Melihat suasana yang mendadak terasa agak kaku karena aura dingin yang dipancarkan Bara, Jessica mencoba mencairkan suasana. Mata cantiknya menatap lekat-lekat pada wajah tampan Bara, menyadari ada bulir-bulir keringat tipis yang masih menempel di pelipis dan leher kokoh pria itu, ditambah dengan napas Bara yang sesekali terdengar agak berat.
"Bara... kamu baru saja selesai olahraga ya?" tanya Jessica dengan nada suara yang lembut dan penuh perhatian. "Kok kelihatannya berkeringat banyak sekali, padahal pendingin ruangan di penthouse ini sangat dingin."
Bara melirik Jessica dengan tatapan datarnya. "Ya. Aku baru saja menyelesaikan aktivitas fisik yang cukup menguras tenaga sebelum kalian datang," jawab Bara dengan makna ganda yang tersembunyi, yang tentu saja hanya bisa dimengerti oleh dirinya dan gadis yang kini sedang menguping di balik pintu kamar mandi.
Sementara itu, di dalam kamar mandi pelayan yang gelap dan sunyi, Anya berdiri bersandar pada daun pintu.
Anya menempelkan telinga kirinya pada celah pintu, mencoba sekuat tenaga mendengarkan percakapan yang terjadi di ruang tengah. Sayangnya, karena kamar mandi ini letaknya agak di bagian dalam dekat koridor dapur, suara yang sampai ke telinganya terdengar sangat samar dan tidak jelas. Namun, indra pendengaran Anya yang tajam bisa menangkap dengan sangat jelas adanya suara tawa kecil dari seorang wanita yang asing.
‘Siapa perempuan itu? Kenapa suaranya genit sekali di depan Om Bara? Apa dia selingkuhan baru atau calon istri om-om mesum itu? Ih, dasar pria kardus!’ batin Anya mendadak merasa kesal sendiri tanpa alasan yang jelas, dadanya terasa sedikit sesak mendengar interaksi ramah di luar sana.
..
Kembali ke ruang tengah, atmosfer mendadak terasa semakin menenggang. Isyana Fernandez mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang tampak sangat sunyi dan sepi. Sebagai orang yang sering berkunjung, dia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.
"Bara, kenapa siang ini penthouse-mu sepi sekali? Di mana Bi Minah dan tiga pelayan lainnya yang biasanya sibuk berlalu-lalang membersihkan tempat ini?" tanya Isyana heran.
"Aku menyuruh mereka semua pulang Kak. Aku sedang ingin ketenangan tanpa ada orang luar yang mengganggu pergerakanku di rumah ini," jawab Bara dengan nada suara yang mutlak, memotong celah bagi Isyana untuk bertanya lebih jauh.
Isyana menghela napas panjang. "Ya sudah kalau begitu. Jessica... karena para pelayan Bara sedang tidak ada di tempat, bagaimana kalau kamu membuatkan minuman untuk kita bertiga? Anggap saja ini sebagai pemanasan untuk belajar melayani calon suami di masa depan," goda Isyana terang-terangan di depan Bara.
Jessica tersenyum malu-malu, wajahnya merona merah. "Baik, Tante. Saya akan ke dapur sebentar untuk menyeduh teh hangat."
Jessica bangkit berdiri, melangkah dengan anggun menuju area dapur bersih yang terletak tidak jauh dari koridor kamar mandi belakang. Di sana, dia menemukan teko listrik dan beberapa cangkir kristal. Setelah beberapa menit menyeduh teh melati yang harum, Jessica membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat kembali menuju ruang tamu.
Namun, tepat saat Jessica melangkah melewati meja kaca sudut, ujung gaun panjangnya yang anggun tidak sengaja tersangkut pada sudut karpet bulu hitam.
"Ah!" pekik Jessica kaget.
Tubuhnya limbung sedikit, membuat nampan di tangannya bergoyang tidak stabil. Sreeet! byar! Beruntung cangkirnya tidak pecah, namun cairan teh melati yang masih cukup panas itu tumpah dari cangkir, menciprat dan mengenai sebagian besar area rok bagian bawah dari gaun mewah milik Jessica, meninggalkan noda basah kecokelatan yang cukup kontras.
"Ya ampun, Jessica! Kamu tidak apa-apa?" seru Isyana panik, langsung bangkit berdiri mendekati gadis itu.
"Saya tidak apa-apa, Tante... tapi gaun saya jadi kotor terkena noda teh," ujar Jessica dengan wajah yang ditekuk sedih, menatap noda di bajunya. Dia menoleh ke arah Bara yang masih duduk tenang di kursinya tanpa ekspresi panik sedikit pun. "Bara... maaf ya, saya ceroboh sekali. Boleh saya menumpang ke kamar mandi sebentar untuk membasuh dan membersihkan noda teh di gaunku ini?"
"Tentu saja boleh, Jessica. Kamar mandi ada di lorong sebelah sana, kan, Bara?" sahut Isyana langsung mengambil keputusan.
Jessica segera melangkah cepat menuju koridor dalam, tepat ke arah pintu kamar mandi tempat di mana Anya sedang bersembunyi di dalamnya. Jessica meraih gagang pintu tersebut lalu mencoba menekannya ke bawah.
Klek. Srek.
Pintu itu tidak bergerak sedikit pun. Terkunci rapat secara mutlak dari dalam.
"Lho? Kamar mandinya terkunci?" gumam Jessica bingung. Dia mencoba mengetuk pintu itu beberapa kali. Tok! Tok! Tok! "Permisi... apa ada orang di dalam?"
Di dalam kamar mandi, Anya yang mendengar ketukan tepat di depan wajahnya seketika menahan napasnya dengan horor. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya membekap mulutnya sendiri rapat-rapat agar tidak mengeluarkan satu pun cicitan suara. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa ingin lepas dari tempatnya. 'Mati aku! Kalau perempuan di luar ini sampai mendobrak pintu, tamatlah riwayatku!' batin Anya menangis histeris dalam keputusasaan.
Bara yang melihat pergerakan Jessica di dekat kamar mandi tersebut langsung bangkit berdiri dari sofanya. Langkah kakinya yang lebar memangkas jarak, berdiri tepat di belakang Jessica dengan aura yang sangat dingin dan mengintimidasi.
"Kamar mandi itu sedang tidak bisa digunakan, Jessica," ujar Bara dengan suara baritonnya yang ketus dan datar, menghentikan ketukan tangan Jessica di atas pintu.
Jessica menoleh dengan bingung. "Eh? Kenapa, Bara? Memangnya ada orang di dalam?"
"Di dalam sedang ada petugas dari manajemen gedung yang sedang melakukan perbaikan besar pada saluran pipa wastafel yang bocor. Pintu itu sengaja dikunci dari dalam atas perintahku agar airnya tidak merembes keluar. Jadi, jangan diganggu," jawab Bara dengan kebohongan publik yang sangat lancar dan terdengar sangat masuk akal bagi orang awam.
Isyana yang ikut melangkah mendekat mendengar penjelasan itu langsung menyela. "Oh, begitu... ya sudah, Jessica, kalau kamar mandi di bawah sedang rusak, kamu pakai saja kamar mandi di lantai atas. Di sana pasti jauh lebih luas dan bersih, kan, Bara?" usul Isyana dengan senyum penuh maksud, mencoba mendekatkan Jessica ke area paling pribadi milik adik iparnya.
Mendengar usulan gila dari Isyana, kilat kemarahan yang pekat seketika melintas di sepasang mata elang Bara. Kamar utamanya adalah wilayah terlarang yang super privat. Bara tidak akan pernah membiarkan wanita asing seperti Jessica menginjakkan kaki disana.
"Tidak boleh," potong Bara dengan nada suara yang sangat ketus, dingin, dan mutlak tanpa ada celah untuk didebat. Tatapan matanya menatap Jessica dengan pandangan mengusir yang sangat tajam, membuat nyali gadis Arnaka itu seketika menciut ketakutan. "Kamar utamaku adalah area pribadi yang tidak menerima tamu luar dengan alasan apa pun. Jika kamu hanya ingin membersihkan sedikit noda teh di gaunmu, bersihkan saja di wastafel, gunakan air keran dan kain lap yang ada di konter. Sederhana, kan?"
Mendengar pengusiran yang sangat kasar dan ketus dari Bara, wajah Jessica seketika memerah padam karena menahan malu yang luar biasa. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani membantah aura dominan dari sang taipan. Sementara Isyana hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa sifat keras kepala dan dingin milik Bara Fernandez memang sama sekali tidak bisa dilunakkan oleh taktik perjodohan konyol ini. Di balik pintu yang terkunci, Anya akhirnya bisa mengembuskan napas panjang yang sangat lega, merasa malaikat maut baru saja lewat menjauhi takdirnya sore ini.