Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Nathalie baru saja keluar dari dalam toilet kampus, tangannya masih basah setelah mencuci muka untuk menyegarkan pikiran. Bau sabun murah bercampur dengan aroma pembersih lantai memenuhi udara.
Belum sempat melangkah jauh, sebuah tangan kuat tiba-tiba menyambar lengannya dengan kasar. Nathalie terkesiap keras. Tubuhnya ditarik paksa ke lorong sepi di belakang pilar besar, tak jauh dari area kamar mandi kampus yang sepi di jam kuliah saat ini. Cahaya lampu neon redup, suara langkah kaki mahasiswa lain terdengar samar dari kejauhan.
"Apa-apaan Bapak ini!" sentak Nathalie sambil menghentakkan tangannya keras, berusaha melepaskan cengkeraman tersebut.
Matanya membelalak marah melihat wajah Andreas, dosen pengampu mata kuliahnya. Pria itu selalu memandangnya dengan tatapan lapar yang tak pernah ia sukai sejak semester lalu.
Andreas tersenyum licik, tubuhnya mendekat hingga membuat Nathalie mundur hingga punggungnya menyentuh dinding dingin. "Kamu tidak usah jual mahal, Nathalie. Aku bisa membayar berapapun yang kamu mau. Aku janji akan merahasiakan semua ini, asal kamu mau tidur denganku malam ini," ucapnya tegas, suaranya rendah penuh nafsu. Napasnya yang hangat dan beraroma kopi menyapu wajah Nathalie, membuat gadis itu bergidik ngeri.
Nathalie merasa darahnya mendidih. "Bapak gila ya? Lepaskan saya, Pak!" bentaknya lagi dengan suara tertahan, takut ada yang mendengar. Tapi Andreas malah tertawa pelan, seolah-olah ancaman itu lucu baginya.
"Kamu tidak usah sok suci, Nathalie," kata Andreas sambil menatap lehernya dengan pandangan penuh kemenangan. "Tanda merah di lehermu sudah menjelaskan semuanya. Siapa yang meninggalkannya? Pacar baru? Atau klien mu?"
Nathalie terdiam seketika. Tangannya secara refleks terangkat, mengusap bekas kiss mark yang samar-samar masih terlihat di kulit putih lehernya, peninggalan Drake semalam. Jantungnya berdegup kencang, seperti mau meloncat keluar dari dada. Rasa malu, marah, panik, dan putus asa bercampur aduk menjadi satu.
Bagaimana Andreas bisa tahu? Apakah bekas itu begitu jelas hingga dosennya yang mesum ini langsung menyimpulkan yang terburuk?
"Ini bukan urusan Bapak," bisik Nathalie dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia cepat menahannya.
Dosen itu semakin mendekat, tangannya kini memegang pinggang Nathalie dengan posesif, jari-jarinya menekan pinggul gadis itu. "Aku sudah lama memperhatikanmu. Kamu cantik, tubuhmu sempurna. Berapa yang klien mu bayar untuk semalam? Aku bisa kasih dua kali lipat. Ibumu butuh uang kan? Aku tahu kondisinya. Tinggal bilang ya, dan semua rahasia ini aman."
Nathalie mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, rasa sakit itu membantu ia tetap sadar di tengah gejolak emosi. "Lebih baik Bapak cari wanita lain saja yang mau dengan Bapak," tegasnya dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski dada naik turun karena emosi yang membara. "Saya bukan wanita malam seperti yang Bapak pikirkan. Saya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk orang tua saya, tapi itu tidak berarti saya siap melayani setiap pria yang datang dengan uang."
Andreas mengerutkan kening, senyumnya memudar sedikit. Ia tak menyangka Nathalie akan sekeras itu menolak. "Kamu pikir kamu masih bisa pura-pura suci setelah apa yang kamu lakukan? Semua orang bisa berubah, Nathalie. Aku bisa bantu kamu keluar dari masalah ini. Tinggal satu malam—"
"Tidak! Jangan pernah dekati saya lagi. Kalau Bapak berani menyebarkan apa pun, saya akan laporkan ke pihak kampus dan polisi. Saya serius," potong Nathalie tajam. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong dada Andreas sekuat tenaga hingga pria itu mundur selangkah.
Suasana lorong sepi itu terasa semakin mencekam. Andreas menatapnya lama dengan tatapan dingin dan penuh ancaman tersembunyi.
Nathalie tidak membuang waktu. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera berbalik dan berlari menjauh, langkahnya tergesa-gesa keluar dari tempat itu menuju area kampus yang lebih ramai. Air mata akhirnya jatuh juga di pipinya saat ia berlari. Ia merasa kotor, lelah, dan terjebak dalam situasi yang semakin rumit.
Di belakangnya, Andreas masih berdiri di tempat, mengusap dagunya sambil tersenyum sinis. "Kamu akan menyesal, Nathalie," gumamnya pelan sebelum akhirnya berlalu seolah tak terjadi apa-apa.
Nathalie terus berjalan meninggalkan kampus dengan langkah gontai. Bekas sentuhan Andreas masih terasa di lengannya seperti luka bakar. Ia merindukan hari-hari di mana hidupnya sederhana, sebelum ayahnya sakit parah dan memaksanya mengorbankan harga diri demi uang. Tapi sekarang, setelah bertemu Drake dan kini diintai Andreas, ia sadar bahwa jalan yang ia pilih semakin gelap dan penuh jebakan. Berapa lama lagi ia bisa bertahan tanpa kehilangan seluruh dirinya?
Dengan napas tersengal, Nathalie menghentikan sebuah taksi di pinggir jalan depan kampus. Ia masuk ke dalam mobil dengan tubuh gemetar. Baru saja duduk, ponsel di tangannya berdering nyaring. Ia langsung mengangkatnya dengan tangan yang dingin.
"Halo, Bu..." ucap Nathalie sambil terisak pelan, suaranya hampir hilang.
"Cepetan datang ke rumah sakit. Ayahmu sekarat," ucap Dyah dengan suara menggelegar penuh amarah.
Mata Nathalie terbelalak lebar. Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Dia masih berusaha mencerna kata-kata ibunya barusan.
"Baik, Bu... Aku ke rumah sakit sekarang," jawabnya cepat, suaranya pecah. Setelah itu ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan tangan gemetar.
"Pak, putar balik ya. Kita ke rumah sakit sekarang, cepat!" ucapnya pada sopir taksi, suaranya mendesak.
"Baik, Non," jawab sopir sambil langsung memutar arah mobil.
Nathalie bersandar di kursi taksi, menatap kosong ke luar jendela. Air matanya mengalir tanpa henti. Dia merasa cobaan datang tanpa henti. Ingin rasanya dia menenggelamkan diri ke dasar lautan agar semua masalahnya selesai. Tangan Nathalie meremas tali tasnya, berusaha mencari sedikit kehangatan di tengah dinginnya kenyataan yang semakin kejam.
Taksi melaju cepat menyusuri jalan kota siang itu, membawa Nathalie menuju rumah sakit dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Setelah taksi berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit swasta yang ramai, Nathalie buru-buru membuka pintu mobil. Jantungnya berdegup kencang sejak panggilan ibunya tadi, pikirannya dipenuhi bayangan ayahnya yang sedang sekarat.
"Ini Pak, ongkosnya. Kembaliannya ambil saja," ucap Nathalie cepat, suaranya terburu-buru dan sedikit parau karena menahan tangis. Ia menyodorkan uang itu ke arah sopir taksi melalui celah jendela.
Belum sempat sopir taksi itu membalas atau mengucapkan terima kasih, Nathalie sudah melesat keluar dari mobil. Tubuhnya berlari kencang menyusuri trotoar menuju pintu masuk utama rumah sakit, rambutnya yang acak-acakan beterbangan di belakang. Sepatu flat yang dipakainya menimbulkan suara cepat di lantai keramik. Dalam hitungan detik, sosoknya sudah tidak terlihat lagi oleh sopir taksi yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.
Nathalie menerobos pintu kaca rumah sakit yang otomatis terbuka. Tanpa memedulikan orang-orang yang lalu lalang di lobi, ia langsung berlari menyusuri lorong panjang menuju Unit Gawat Darurat.
Langkahnya tergesa-gesa, napasnya tersengal-sengal. Setiap kali melewati lorong, bayangan buruk terus berputar di kepalanya. Kaki Nathalie terasa berat, tapi ia memaksanya terus bergerak.
Lorong rumah sakit terasa sangat panjang, saat ini. Beberapa perawat dan dokter yang berpapasan meliriknya sekilas, tapi Nathalie tak peduli. Saat ini yang ada di pikirannya hanya keselamatan ayahnya.
Nathalie mempercepat larinya, jantungnya semakin berdegup tidak karuan. Ia mendorong pintu ganda UGD dengan tangan gemetar, matanya langsung mencari-cari sosok ibunya di antara pasien-pasien lain yang sedang ditangani tim medis.
"Bu...Ayah..." gumamnya pelan, suaranya hampir hilang saat melihat Dyah berdiri di dekat sebuah brankar dengan wajah marah.
"Kondisi pasien saat ini....." Drake menghentikan ucapannya ketika melihat kedatangan Nathalie.