Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Menjadi Sosok Baru
Mahesa masih berdiri terpaku di tengah ruangan rumah petaknya yang sempit. Jantungnya berdentum kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena gelombang kebingungan yang teramat sangat masif. Kaki telanjangnya menapak di lantai semen, namun sensasinya sangat berbeda; rasanya seperti menapak di atas bantalan udara yang empuk. Ia menatap ke bawah, memandangi kemeja seragam biru mudanya yang kini robek di bagian jahitan ketiak dan lengan karena tidak lagi mampu menampung bidang dadanya yang mendadak melebar dan tegap.
"Ini beneran badanku? Nggak mungkin... ini pasti aku masih mimpi," gumam Mahesa lirih, suaranya terdengar lebih berat, dalam, dan berwibawa, sangat kontras dengan suara cemprengnya yang biasa.
Ia melangkah mendekati cermin kaca kecil yang menggantung di dekat pintu kamar mandi petak mereka. Langkahnya terasa sangat ringan, seolah beban gravitasi bumi yang biasanya menekan pundaknya telah berkurang drastis. Begitu wajahnya tertangkap oleh pantulan cermin yang buram, Mahesa refleks mundur satu langkah dengan mata membelalak lebar.
Di dalam cermin itu, tidak ada lagi sosok pemuda culun, pucat, dan berwajah kusam yang selama ini selalu menunduk saat dihina orang. Sosok di dalam kaca adalah seorang pria muda bertubuh jangkung dan proporsional. Kulit wajahnya bersih mengkilap, bebas dari noda debu jalanan, dengan garis rahang yang tegas dan kokoh. Yang paling membuat Mahesa merinding adalah sepasang matanya; tanpa kacamata tebal bertangkai hitamnya yang kini tergeletak di lantai, pandangan matanya terlihat sangat tajam, jernih, dan memancarkan aura maskulin yang sangat kuat.
"Gusti Allah... wajahku kok jadi begini? Kacamataku mana?" tanya Mahesa panik sembari meraba-raba area hidungnya yang biasanya diganjal bingkai kacamata tebal.
Ia memungut kacamata lamanya dari atas lantai semen, lalu memakainya kembali karena refleks.
Sreeet.
Begitu lensa kacamata itu bertengger di hidungnya, pandangan Mahesa justru menjadi sangat pusing dan kabur total. "Aduh, malah buram banget! Kok malah nggak kelihatan apa-apa pakai kacamata?" keluh Mahesa sembari cepat-cepat melepas kembali benda itu.
Saat kacamata itu dilepas, pandangannya justru kembali menjadi luar biasa tajam. Ia bahkan bisa melihat serat-serat halus pada kayu pintu yang lapuk dari jarak tiga meter, bahkan seekor semut yang sedang merayap di sudut langit-langit pun terlihat sangat jelas oleh mata telanjangnya.
Dari arah kasur busa di sudut ruangan, terdengar suara gesekan selimut kain diikuti oleh lenguhan kecil. Nenek Mahesa rupanya mulai terbangun karena mendengar suara kepanikan cucunya.
"Sa? Kamu sudah bangun, Le? Kok berisik sekali di situ?" tanya Nenek dengan suara parau khas orang tua yang baru membuka mata.
Mahesa langsung menegang. Ia panik setengah mati memikirkan bagaimana cara menjelaskan perubahan drastis pada tubuhnya ini kepada sang nenek tanpa membuat wanita tua itu jantungan. Dengan cepat, ia mengambil sebuah jaket kain berkerudung longgar yang tergantung di balik pintu, memakainya, dan menarik tudungnya ke depan untuk menyembunyikan wajah barunya.
"Eh, iya, Nek. Ini Mahesa lagi beres-beres baju kotor," jawab Mahesa sengaja agak menjauh dari jangkauan lampu bohlam, berusaha merendahkan intonasi suaranya agar terdengar mirip seperti biasanya.
Nenek perlahan mendudukkan diri di tepi kasur, mengucek matanya yang rabun lalu menatap ke arah cucunya yang berdiri membelakangi cahaya fajar. "Suaramu kok agak beda, Sa? Berat begitu, kamu ketularan batuk kayak Nenek ya?" tanya Nenek dengan nada penuh kekhawatiran seorang ibu.
"Enggak kok, Nek. Ini cuma karena baru bangun tidur aja, tenggorokannya agak kering belum minum air hangat," kilah Mahesa secepat mungkin, memaksakan seulas senyum tersembunyi di balik tudung jaketnya.
Nenek mengangguk-angguk percaya, lalu pandangannya beralih menatap postur tubuh Mahesa yang terbungkus jaket. "Tapi... kok badanmu kelihatan lebih tinggi ya, Sa? Itu jaket yang biasanya kedodoran kok sekarang ngepas banget di badanmu?" tanya Nenek lagi, menyipitkan matanya yang mulai digerogoti katarak untuk memperjelas pandangan.
Jantung Mahesa berdesir hebat mendengar pertanyaan beruntun dari neneknya. Ia buru-buru memutar otak untuk mencari alasan yang paling masuk akal. "Ah, masa sih, Nek? Perasaan Nenek aja mungkin karena Mahesa pakai baju dobel di dalam jaket. Ini kemeja seragamnya belum dilepas," bohong Mahesa, merasa bersalah karena harus tidak jujur, namun ini demi kebaikan bersama.
"Oalah, begitu toh. Nenek pikir kamu makin gede aja dalam semalam," sahut Nenek dengan tawa kecil yang diakhiri batuk ringan. "Ya sudah, cepat mandi sana, baunya anyir banget itu dari tadi. Kamu habis kena got apa bagaimana?"
"Iya, Nek. Ini Mahesa mau langsung ke kamar mandi umum di luar. Nenek istirahat saja dulu ya, nanti Mahesa belikan sarapan bubur di depan gang," ujar Mahesa lega karena fokus neneknya beralih pada bau anyir dari cairan hitam yang keluar dari pori-porinya semalam.
Ia segera mengambil handuk usang dan selembar pakaian ganti yang tersisa di dalam lemari plastik. Sebelum melangkah keluar pintu rumah petak, Mahesa melirik sekilas ke arah peti plastik tempat ia menyimpan kitab kulit kuno semalam. Benda itu masih tersimpan aman di sana, tertutup rapat. Ada rasa hormat sekaligus ngeri yang luar biasa menjalar di benak Mahesa saat menyadari bahwa hanya dengan membaca beberapa baris kalimat dari kitab tersebut, seluruh eksistensi fisiknya telah dirombak total menjadi sosok baru yang begitu macho dan tegap.
Sambil berjalan menyusuri gang sempit menuju kamar mandi umum, Mahesa terus memperhatikan langkah kakinya sendiri. Angin pagi yang berembus terasa begitu kontras menyentuh kulit lengannya yang kini terasa padat dan berisi. Setiap kali berpapasan dengan permukaan dinding gang yang sempit, ia tidak perlu lagi membungkukkan punggungnya agar tidak menyenggol barang-barang tetangga; tubuhnya kini berdiri dengan tegak, kokoh, dan penuh keseimbangan yang presisi.
"Kitab itu... beneran punya kekuatan gaib yang nyata. Aku bukan lagi Mahesa si culun yang lemas," bisik Mahesa pada dirinya sendiri saat mengunci pintu bilik kamar mandi umum yang terbuat dari seng.
Ia menyalakan keran air, lalu mulai membasuh seluruh sisa cairan hitam yang melekat di kulitnya. Begitu air dingin mengguyur tubuh barunya, Mahesa bisa merasakan sensasi kesegaran yang luar biasa meresap hingga ke dalam pori-porinya. Otot-otot di dadanya tampak berpetak rapi, lengannya mengeras bagai besi tempaan, dan ketika ia menatap bayangannya di air dalam ember yang jernih, sepasang mata tajam itu kembali menatapnya dengan penuh keyakinan. Pemuda yatim piatu yang biasanya menerima cemoohan dengan kepala tertunduk itu kini telah lahir kembali menjadi sosok yang sepenuhnya baru, siap menghadapi kerasnya dunia dengan segenap kekuatan yang tak pernah ia duga sebelumnya.