NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyumannya Tak Berubah

"Papi keterlaluan, Laila udah bilang kalau akan mikirin tentang perjodohan itu lagi nanti. Tapi Papi malah menghantui Laila terus dengan mendatangkan cowok itu ke sini," protes Laila dengan Papinya di telepon.

"Bukan begitu maksud Papi nak, Papi hanya--"

Laila memotong sebelum Papinya menjelaskan. "Buat ngejaga aku katanya, ngejaga dari apa Pi?" tanya Laila.

"Aku di sini aman sama temen-temenku dan pacarku," sambung Laila.

"Aku juga udah gede Pi, udah tau batasan. Papi jangan egois gini dong."

Tak ada respon dari seberang sana, hanya keheningan yang menyelimuti.

"Aku jadi gak tenang liburannya Pi, aku kesel orang itu terus ngintilin aku di sini."

Dirga terus mendengar ocehan putrinya itu, tak ingin menambah kekesalan putrinya saat ini.

"Papi minta maaf ya nak, tindakan Papi ternyata menyakiti kamu. Tapi kamu akan tau nanti alasan Papi seperti ini," ucap Dirga dengan tenang.

"Capek aku ngomong sama Papi." Laila segera menutup telpon itu, rasa kesalnya sudah memuncak saat ini. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Tok...tok...tok...

Suara ketukan pintu kamar mandi mengalihkan perhatian Laila.

"Iya?"

"La, udah belom. Gue kebelet berak nih," teriak Tasya di balik pintu.

"Bentar gue bilas muka dulu," ucap Laila.

Segera ia membilas wajahnya dari krim pencuci wajah yang ia kenakan sejak tadi.

"Sorry lama," ucap Laila saat membuka pintu kamar mandi. Di sana sudah ada Tasya yang memegangi perutnya.

Tanpa menjawab ucapan Laila, Tasya segera masuk kamar mandi dan menutup pintu dengan cepat.

Di kasur Keira sedang memakai masker wajah, "La, gue minta satu lembar yak masker lo."

"Iya ambil aja."

Laila kemudian membongkar koper untuk mengambil baju tidur.

"Eh Kei, tadi kalian beli baju buat selancaran besok di mana sih?" tanya Laila.

Rencananya mereka akan berselancar besok, itu merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat ingin mereka coba di Canggu Bali.

"Lagian kalian gak ngajak gue ihh," protes Laila.

"Abis lo kan lagi pacaran La," jawab Keira.

"Gue beli dua noh ambil satu," lanjut Keira.

"Beneran nih?" tanya Laila excited.

"Iya, ambil di paperbag hitam punya gue ya."

"Asyikkkk." Laila bergegas kegirangan mencari paperbag yang Keira maksud.

Saat melihat baju yang di maksud, Laila mengangkat baju sedikit ke atas untuk melihat apakah baju itu menerawang atau tidak.

"Ih mantep banget lagi bajunya, kapan lagi kita pake baju agak berani gini ye kan," ujar Laila.

Baju itu didominasi oleh perpaduan warna merah muda salem yang lembut dipadukan dengan sentuhan warna kuning lemon di bagian lengan, terdapat taburan bunga-bunga kecil bergaya retro yang memberikan kesan ceria dan playful di bagian depan baju. Meski memiliki lengan panjang untuk melindungi kulit dari sengatan matahari dan gesekan papan selancar, baju renang ini memiliki potongan yang pendek di bagian paha yang memberikan kesan kaki lebih jenjang.

"Nah nanti tu sebelum selancaran kita pake kain Bali ini nih di pinggang La," ujar Keira. Ia mengambil kain Bali yang ia beli tadi siang dan menunjukkannya pada Laila.

"Wih cantik banget."

"Lo pilih deh mau kain yang mana," ujar Keira.

"Nggak bisa gitu dong, lo dulu yang pilih. Kan ini punya lo Kei," tolak Laila. "Lagian gue yang mana aja oke kok," sambungnya.

"Yaudah gue kain yang hijau ini ya," jawab Keira.

"Okeii."

"Jadi berapa total baju sama kainnya Kei?" tanya Laila.

"Ehhh apaan dah, gak usah bayar La. Pake aja kali," tolak Keira.

"Ya gabisa gitu, pokoknya gue bayar," paksa Laila.

"Nggak usah, ni anak kayak sama siapa aja."

"Yaudah ntar gue tanya Tasya aja harganya, wlee." Laila mengeluarkan lidahnya.

Ting...

Deringan ponsel Laila memecahkan fokus mereka pada baju yang akan digunakan besok. Laila bergegas mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, baru beberapa saat membuka layar ponsel tercetak senyum di wajah Laila.

Keira yang menyadari itu langsung yakin bahwa yang menghubungi Laila pasti Devan. "Hemm udah paham gue kalo begitu modelannya," ujar Keira.

Beberapa menit kemudian ponsel Laila kembali berbunyi, kali ini sepertinya ada panggilan video. Begitu melihat nama yang tertera di layar, senyumnya langsung merekah. Laila bergegas menjauhkan diri dari kamar menuju balkon, tanpa membuang waktu, ia menggeser tombol hijau ke atas

"Sayang, kok lama banget jawabnya?" tanya Devan dari seberang sana.

"Aku nyari tempat buat videocall-an sama kamu sayang, gak enak kalo di depan Tasya sama Keira," jelas Laila.

"Ohh, jadi sekarang kamu di mana?"

"Nih aku lagi di balkon." Laila mengarahkan kamera ke arah sekitarannya.

"Sayang aku udah kangen aja ni sama kamu." Devan menatap lekat wajah Laila meski lewat layar ponsel, tak bisa dipungkiri rindu itu memang sudah ia pendam beberapa bulan sejak kepergiannya ke luar kota untuk dinas kerja dan baru hari ini bertemu Laila lagi.

"Aku juga," balas Laila dengan senyum teduhnya.

"Aku punya sesuatu buat kamu besok, hadiah wisuda dari aku."

"Ihhh apa itu sayang, jadi pengen dapet sekarang hadiahnya!" ujar Laila dengan semangat.

"Ada deh pokoknya spesial dari aku."

"Bikin penasaran ihh kamu." Laila memanyunkan bibirnya dan mengubah suaranya layak anak kecil yang sedang bermanja.

Devan terkekeh gemas melihat tingkah Laila, "Kapan sih kamu tu gak gemesinnya, pengen ku cubit pipimu itu sayang."

"Yasudah sekarang tidur gih, besok akan jadi hari yang panjang dan menyenangkan buat kita, kumpulin tenaga banyak-banyak malem ini jangan bergadang!" Devan menekankan kalimat terakhir karena Laila memang suka bergadang melakukan hobi menulisnya.

"Iya iya, aku tau." Laila memutar bola matanya.

"Idih matanya, dibilangin juga," ujar Devan yang semakin gemas melihat tingkah laku Laila.

...****************...

"Tolong kamu awasi terus anak itu Nak Juna," pinta Dirga dari ujung telepon.

"Baik Om, akan saya laksanakan," jawab tegas Arjuna.

"Maaf merepotkan kamu Nak Juna, firasat Om tidak enak sekali saat Laila meminta izin untuk melakukan trip dengan pacarnya itu, meski Om tau dia mengajak teman-teman juga."

"Saya paham Om, sekalian juga saya berlibur di sini. Sejak lulus TNI saya jarang mengambil cuti, jadi ini saya anggap sebagai bonus libur saya, jadi Om jangan merasa tak enak hati." Arjuna mencoba memberi penjelasan pada Dirga agar orang tua itu lebih merasa lega karena sudah mengirimnya untuk mengawasi Laila.

"Kamu ini bisa saja Nak Juna, kalau begitu Om merasa lega sekarang."

"Yasudah kalau begitu, Om tidak ingin mengganggu masa berlibur itu, hahaha."

Arjuna tersenyum mendengar suara tawa Om Dirga.

"Om jaga kesehatan selalu di sana," ujar Arjuna.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkan Om Nak Juna. Om tutup teleponnya ya, selamat malam."

"Selamat malam Om."

Arjuna menunggu hingga suara di seberang sana benar-benar hilang dan layar ponselnya kembali menggelap. Kamar penginapan kembali sepi, mata Arjuna menatap kosong jalanan lewat jendela kamarnya. Sudah terbiasa bertugas hingga bergadang, kini Arjuna bahkan belum merasakan kantuk meski jarum jam sudah hampir menyentuh angka sebelas.

Ia kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitaran penginapan. Di luar penginapan kafe masih ramai dikunjungi dan pantai bahkan masih di penuhi para pelancong.

Arjuna menghentikan langkah saat matanya menangkap sosok cantik Laila yang berada di balkon penginapannya. Dari kejauhan Arjuna sudah dapat mengetahui bahwa Laila sedang dalam panggilan video.

Angin malam yang berembus pelan memainkan ujung rambut Laila, menciptakan gerakan anggun yang membuat Arjuna terpaku di tempatnya. Dia mengenakan pakaian rumahan yang sederhana, namun di mata Arjuna, keanggunannya mengalahkan siapapun yang pernah ia temui.

Dari kejauhan, Arjuna hanya bisa mengagumi dalam diam. Dia memerhatikan bagaimana garis wajah Laila tampak begitu lembut diterpa cahaya bulan. Ada kedamaian yang terpancar dari pembawaannya, seolah semua hiruk-pikuk dunia sama sekali tidak bisa menyentuhnya. Ketika Laila mendongak, menatap bintang-bintang sambil menghela napas panjang lalu tersenyum tipis, dada Arjuna berdesir hebat.

Senyum Arjuna merekah saat melihat kecantikan Laila malam ini meski dari kejauhan, sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu Arjuna bergumam singkat, "Senyuman itu tidak berubah sama sekali."

...Bersambung.......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!