NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

‎Pintu ruang kerja tertutup rapat setelah tamu-tamu itu pergi. Udara di ruangan itu terasa berat dan kaku, seolah menahan beban kekecewaan yang tak terucapkan.

‎‎Tuan Darius duduk kembali di kursi besarnya, tangannya meremas pelipis yang terasa berdenyut kencang. Ia membiarkan keheningan berlangsung sejenak, menenangkan gejolak di dadanya sebelum akhirnya menekan tombol telepon di mejanya.

‎‎"Suruh Haris ke sini," perintahnya singkat pada sekretaris.

‎‎Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Haris melangkah masuk dengan langkah yang berat, wajahnya datar namun matanya menyembunyikan kekacauan batin yang hebat. Ia berdiri di hadapan meja kerja ayahnya, menunduk sedikit seolah tak berani menatap ke mata yang selalu penuh harapan itu.

‎‎Tuan Darius menatapnya lekat-lekat, mencari jejak kejujuran yang selama ini selalu ada di sana.

‎‎"Katakan padaku, Haris... apa yang sebenarnya terjadi?" suaranya rendah namun tegas, penuh harap namun juga penuh waspada. "Kau tahu sesuatu yang tidak kau katakan pada kami. Kau mengenal Kania lebih dari siapa pun. Bagaimana mungkin kau bisa percaya begitu saja pada cerita Melani yang penuh kepalsuan itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada Kania?"

‎‎Haris menelan ludah susah payah. Di dalam dadanya, pertempuran hebat sedang berkecamuk. Ada rasa bersalah yang menghimpit, ada ketakutan akan aib yang terbongkar, dan ada rasa lelah yang mendalam. Ia mengangkat wajahnya perlahan, namun sorot matanya tak lagi setenang dulu.

‎‎"Ayah... apa yang dikatakan Tante Melani... itu benar," jawabnya pelan, suaranya sedikit bergetar namun dipaksakan terdengar meyakinkan. "Kania memang pergi. Dia memilih jalan lain. Dan... demi nama baik kedua keluarga, demi menghindari gunjingan orang banyak, aku rasa... aku akan mempertimbangkan tawaran itu. Aku akan mempertimbangkan untuk menerima Luna sebagai penggantinya."

‎‎Kata-kata itu keluar begitu saja, meski hatinya menjerit menentangnya. Ia memilih jalan yang paling aman, paling mudah diterima logika meski itu berarti mengkhianati kebenaran dan perasaannya sendiri.

‎‎Hening yang panjang menyelimuti ruangan itu.

‎‎Tuan Darius terpaku di kursinya. Wajahnya yang tadinya penuh harapan perlahan berubah menjadi pucat, lalu perlahan berkerut menahan rasa kecewa yang besar. Ia menatap putra kesayangannya itu lekat-lekat, seolah baru pertama kali melihatnya dengan mata yang jernih.

‎‎"Jadi begini..." ucapnya lirih, suaranya pecah sedikit karena beratnya rasa kecewa yang menimpa. "Kamu langsung menerima begitu saja tanpa ingin mendengar kebenaran dari mulut Kania sendiri,"

‎‎Ia menggeleng pelan, pandangannya beralih ke jendela besar yang memandang ke pemandangan kota.

‎‎"Aku kira aku membesarkan laki-laki yang berpendirian teguh, yang akan bertanggung jawab penuh atas apa yang sudah ia jalani," lanjutnya dengan nada yang semakin dingin dan jauh. "Ternyata aku salah. Kamu bukan saja mengecewakanku, Haris... kamu telah mengecewakan dirimu sendiri."

‎‎Haris hanya diam, menunduk dalam, tak sanggup menjawab atau membela diri. Kata-kata ayahnya menembus tepat ke hatinya, menyadarkan ia sepenuhnya pada apa yang telah ia pilih, kemudahan, namun dengan harga kehilangan kehormatan dan jati dirinya.

‎‎Tanpa menunggu jawaban lagi, Tuan Darius melambaikan tangan dengan gerakan berat dan lambat. "Keluar. Pergilah."

‎‎Haris melangkah mundur perlahan, lalu berbalik dan pergi dengan langkah yang terasa berat menahan beban penyesalan yang mulai tumbuh subur di dalam dada.

‎‎Begitu pintu tertutup, Tuan Darius membiarkan tubuhnya merosot sedikit ke sandaran kursi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak sanggup lagi menyembunyikan air mata kekecewaan yang akhirnya menetes perlahan.

‎‎"Maaf... aku sudah gagal untuk ikut menjaganya."

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Suasana di ruang tamu utama terasa hening dan nyaman. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyinari karpet beludru tebal dan perabotan kayu ukir halus. Nyonya Melani duduk bersandar santai di sofa utama, satu kakinya disilangkan di atas kaki yang lain. Di sebelahnya terbentang kotak cat kuku berwarna merah, ia menggerakkan kuas perlahan dengan teliti, seolah tak ada satu pun hal yang mampu mengganggu ketenangannya malam ini.

‎‎Belum lama ia menyelesaikan jari kelingkingnya, suara langkah kaki tergesa terdengar memasuki ruangan. Dua pria yang kemarin mengantar Kania berdiri di ambang pintu, wajah mereka tampak pucat dan berkeringat dingin.

‎"Melapor, Nyonya..." ucap pria di sebelah kiri dengan suara gemetar, kepalanya tertunduk tak berani menatap mata wanita itu.

‎‎Nyonya Melani meletakkan kuas cat kuku kembali ke wadahnya dengan gerakan pelan dan hati-hati, lalu menutup kotak itu rapat-rapat.

‎‎"Ada apa?" tanyanya singkat, nada suaranya tenang namun terasa tajam menusuk tulang. "Bukannya kalian sudah menyelesaikan tugas kemarin? Kenapa masih ada di sini?"

‎‎Pria di sebelah kanan mengeratkan genggamannya, napasnya tercekat. "Maafkan kami, Nyonya... Kami gagal. Gadis itu... Kania... dia berhasil kabur dari mobil saat di jalan menanjak yang licin kemarin malam. Kami mengejar sampai jauh, tapi hujan sangat deras dan kabut tebal menutupi pandangan. Kami tidak berhasil menemukannya lagi, Nyonya. Sudah dicari ke seluruh penjuru jalan dan sekitarnya sampai pagi tadi, tapi jejaknya hilang."

‎‎Suasana ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar berirama, seolah memperpanjang detik yang terasa mencekam itu.

‎Perlahan, Nyonya Melani berdiri. Ia merapikan lipatan bajunya dengan tenang, namun senyum tipis di bibirnya perlahan lenyap berganti tatapan dingin yang menusuk.

‎‎"Kalian bilang... dia kabur?" ucapnya pelan, namun setiap kata terdengar berat. "Dari mobil yang dikunci rapat, dijaga dua orang sekaligus? Dan kalian berdua, yang katanya terlatih bahkan tidak mampu menahannya?!"

‎‎Kedua pria itu semakin menunduk, tubuh mereka gemetar hebat. "Kami sungguh minta maaf, Nyonya! Kami tidak menyangka dia akan berani melompat keluar mobil yang sedang melaju. Kami sudah berusaha sekuat tenaga..."

‎‎"Berusaha?" potong Nyonya Melani tiba-tiba, suaranya meninggi namun tetap terkendali, penuh ancaman yang tersembunyi. "Satu kesalahan kecil saja bisa merusak semua rencanaku. Sekarang dia hilang entah ke mana, siapa  yang tahu dia akan kembali dan mencoba membalikkan keadaan?"

‎‎Ia melangkah mendekat, menatap tajam ke arah mereka berdua.

‎‎"Kalian punya waktu dua hari. Cari dia sampai ketemu, hidup atau mati. Jangan sampai ada kabar buruk yang menyebar sebelum dia benar-benar lenyap dari pandangan. Jika kalian gagal lagi... kalian tahu sendiri apa akibatnya."

‎‎"Baik, Nyonya! Kami akan segera mencarinya lagi sekarang juga!" seru mereka serempak, lalu segera berbalik dan berlari keluar ruangan seolah dikejar maut.

‎‎Setelah dua pria itu pergi, Nyonya Melani kembali duduk di sofa. Ia menatap kuku-kukunya yang sudah berwarna merah sempurna, namun sorot matanya kini berubah gelap dan penuh amarah tertahan.

‎‎"Kania... kau pikir kau bisa lari begitu saja?" gumamnya pelan pada diri sendiri. "Di dunia ini, tidak ada tempat yang cukup aman untukmu dari aku. Ke mana pun kau pergi, aku pasti akan menemukanmu."

‎‎Ia meraih ponsel di atas meja samping, menekan nomor dengan gerakan cepat namun tenang, menyandarkan punggung di sofa, memutar sebatang rokok menyala di antara jari meski tak dihisap sambil menunggu sambungan tersambung. Tak lama kemudian, suara berat terdengar dari seberang.

‎‎"Halo?"

‎‎"Ini aku," ucapnya singkat, nada datar tanpa basa-basi. "Ada kendala kecil."

‎‎"Kendala? Bukannya urusan dengan anak itu sudah selesai kemarin?" tanya suara itu, kini terdengar lebih waspada.

‎‎Nyonya Melani mengepulkan asap tipis perlahan. "Pengawal yang aku kirim ceroboh. Kania berhasil meloloskan diri saat di perbatasan bukit, melompat keluar mobil saat melaju di jalan licin. Mereka sudah mengejar dan mencari, tapi jejaknya hilang begitu saja di tengah kabut dan hujan."

‎‎Ada keheningan panjang di seberang sana, cukup untuk membuat ujung jari Nyonya Melani meremas pinggiran sofa tanpa sadar.

‎‎"Kau membiarkannya kabur?" suara itu akhirnya terdengar dingin, terasa seperti angin musim dingin menyusup lewat celah telepon. "Kau tahu betul apa resikonya jika dia sampai kembali bukan? Masa depan putrimu di pertaruhkan."

‎‎"Aku tahu," potongnya cepat, namun tak terlihat terintimidasi. "Itulah sebabnya aku menghubungimu sekarang. Aku sudah perintahkan mereka mencari dengan cara apa pun, hidup atau mati. Aku harus memastikan Luna bisa bersanding dengan Haris, bagaimana pun caranya,"

‎‎"Bagus jika kau mengerti, Melani," jawab suara itu singkat dan berat. "Ingat, temukan dia dan habisi dia jika perlu. Sebelum dia kembali dan menjadi ancaman bagi kita semua."

‎‎Sambungan terputus tiba-tiba. Nyonya Melani menurunkan ponsel perlahan, menatap pantulan dirinya di layar gelap. Senyum tipis kembali muncul di bibirnya.

‎‎"Kamu pikir kau punya waktu untuk melawan?" bisiknya pelan pada pantulan itu. "Bahkan jika kamu lari sampai ke ujung dunia, kamu hanya akan jatuh ke dalam lubang yang sudah kusiapkan."

‎-

‎‎-

‎-

Bersambung...

1
MamDeyh
Dihh Hariss... Lakik pengecut.. 😒
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!