"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Kenaikan Gaji Pertama yang Tak Terduga
Seminggu telah berlalu sejak insiden di lobi utama.
Dampak dari tindakan tegas Oliver benar-benar menghancurkan sisa-sisa kejayaan keluarga Lin.
Kabar mengenai kebangkrutan total korporasi mereka menjadi tajuk utama di berbagai media bisnis, namun di dalam dinding mansion mewah keluarga Oliver, hal itu hanyalah angin lalu yang tidak lagi dipedulikan.
Fokus utama di rumah itu kini telah sepenuhnya beralih pada proses penyembuhan dan lembaran hidup yang baru.
Pagi itu, suasana di ruang makan utama terasa sangat hangat.
Sinar matahari bulan Juli menembus jendela kaca besar, menerangi meja makan kayu yang kini selalu dipenuhi makanan rumahan yang harum.
Viona, yang mengenakan gaun katun kasual berwarna hijau daun, sedang membantu Yoyo memotong sosis ayamnya menjadi potongan-potongan kecil berbentuk gurita.
"Bibi Viona, lihat! Sosisnya punya kaki banyak!"
seru Yoyo riang, memamerkan potongan sosis di ujung garpunya.
Viona tersenyum manis, mengusap pipi gembil Yoyo yang kini tampak jauh lebih berisi dan merona sehat.
"Wah, gurita sosis yang hebat. Ayo, habiskan sayurnya juga supaya kaki guritanya bisa membantu Yoyo berlari cepat saat bermain dengan Goldie nanti."
Di ujung meja, Oliver duduk dengan anggun di kursi kebesarannya.
Jas kerja abu-abu gelapnya terpasang sempurna, memancarkan aura CEO yang berwibawa.
Namun, alih-alih menatap tablet saham atau koran bisnis seperti rutinitas lamanya, mata elang Oliver kini lebih sering tertuju pada interaksi hangat di depannya.
Sesekali ia menyesap teh melati hangat yang secara khusus disiapkan Viona untuk menjaga kesehatan lambungnya.
Tepat saat sarapan hampir selesai, Pak Pelayan melangkah masuk ke ruang makan.
Ia membawa sebuah nampan perak kecil, di atasnya terdapat sebuah amplop linen tebal berwarna hitam pekat dengan segel emas berlambang Oliver Group.
Pak Pelayan berhenti di samping kursi Viona dan membungkuk dengan hormat.
"Nyonya Viona, ini ada dokumen resmi yang dikirimkan oleh divisi keuangan kantor pusat atas instruksi langsung dari Tuan Besar."
Viona sedikit mengernyitkan alisnya yang indah.
Ia menatap amplop hitam itu dengan bingung, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Oliver yang saat ini sedang meletakkan cangkir tehnya dengan tenang.
"Apa ini, Oliver?"
tanya Viona pelan, merasa agak canggung karena statusnya yang merupakan istri kontrak, bukan karyawan kantor pusat yang biasa menerima dokumen resmi seperti itu.
"Buka saja,"
jawab Oliver datar, namun ada kilatan intens yang tersembunyi di balik sepasang mata elangnya.
Dengan jemari yang sedikit ragu, Viona membuka segel emas amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas tebal di dalamnya.
Itu adalah surat addendum kontrak pernikahan mereka—atau lebih tepatnya, sebuah surat penyesuaian kompensasi.
Mata jernih Viona membelalak saat membaca angka nominal yang tertera di kolom tunjangan bulanan dan kompensasi tugas domestik.
Angka gaji bulanannya telah dinaikkan sebanyak tiga kali lipat dari kesepakatan awal di kertas kontrak pertama mereka.
Tidak hanya itu, di bagian bawah dokumen terdapat klausul tambahan mengenai kepemilikan aset berupa sebuah vila peristirahatan di pinggir kota atas nama Viona pribadi sebagai bonus performa.
Viona langsung meletakkan surat itu, dadanya berdegup kencang karena rasa terkejut sekaligus rasa tidak nyaman yang mendadak muncul.
"Oliver, ini... ini terlalu berlebihan. Naik tiga kali lipat? Dan apa ini? Sebuah vila? Kita baru menjalani kontrak ini kurang dari satu bulan. Kesepakatan awal kita sudah lebih dari cukup untuk membiayai pengobatan saya dan hidup mandiri nanti."
Oliver menyandarkan punggung tegapnya pada kursi, menatap Viona dengan ketenangan yang mutlak.
"Divisi keuangan menetapkan angka berdasarkan evaluasi kinerja dan manajemen risiko. Dan di mataku, kinerjamu dalam sebulan ini telah melampaui semua target yang bisa dibayangkan oleh konsultan psikologi mana pun."
"Tapi saya tidak melakukannya demi uang, Oliver!"
potong Viona, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga agar tidak mengejutkan Yoyo yang kini sedang sibuk memberikan potongan sosis terakhirnya kepada Goldie di bawah meja.
"Saya menyayangi Yoyo dengan tulus. Merawatnya, membuatkannya sarapan, dan menjaganya... itu semua keluar dari hati saya, bukan karena saya ingin menuntut kenaikan nilai kontrak."
Mendengar kalimat "Saya menyayangi Yoyo dengan tulus", kebekuan di wajah Oliver mencair sepenuhnya.
Ia memberikan isyarat mata kepada Pak Pelayan untuk membawa Yoyo dan Goldie keluar menuju taman belakang terlebih dahulu.
Pak Pelayan yang tanggap langsung mengajak gadis kecil itu untuk melihat bunga-bunga yang baru mekar, meninggalkan Oliver dan Viona berdua di ruang makan yang mendadak senyap.
Oliver berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang berat dan tegap membawanya memutari meja makan panjang, hingga ia berhenti tepat di samping kursi Viona.
Pria itu membungkukkan tubuhnya sedikit, meletakkan satu tangannya di sandaran kursi Viona, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma kayu cendana yang maskulin kembali menguasai indra penciuman Viona.
"Aku tahu kau tidak melakukannya demi uang, Viona,"
bisik Oliver, suaranya rendah, berat, dan sarat akan emosi yang mendalam.
"Jika kau adalah wanita yang gila harta, kau pasti sudah meminta bagian saham atau kemewahan sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di rumah ini.
Justru karena ketulusanmu yang tak ternilai itulah, aku merasa angka di kontrak lama kita adalah sebuah penghinaan terhadap apa yang telah kau berikan untuk keluargaku."
Viona mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata elang Oliver yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya.
Ada kesungguhan dan rasa hormat yang begitu besar di sana, sesuatu yang belum pernah ia dapatkan dari pria mana pun di masa lalunya.
"Kau menyembuhkan putriku dari trauma yang mengurungnya selama dua tahun,"
lanjut Oliver, jemarinya terulur perlahan untuk menyentuh surat addendum di atas meja.
"Kau menghadapi sampah dari masa lalumu dengan keberanian demi melindungi martabat rumah ini.
Dan kau... kau memberikan rasa aman yang membuatku bisa tidur tanpa obat penenang dosis tinggi dalam seminggu terakhir.
Apakah menurutmu semua keajaiban itu bisa dinilai setara dengan kontrak awal yang murah?"
Jantung Viona berdegup tidak karuan.
Sentuhan verbal dan kedekatan fisik Oliver selalu berhasil meruntuhkan dinding pertahanan mentalnya.
Pipinya perlahan merona hangat.
"Oliver... tapi tetap saja, kenaikan yang tak terduga ini membuat saya merasa seperti sedang melakukan transaksi bisnis yang murni, padahal hubungan saya dengan Yoyo—dan dengan Anda—terasa jauh lebih nyata dari itu."
Oliver tertegun sejenak mendengar kata "terasa jauh lebih nyata dari itu".
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan—senyuman tulus yang kini semakin sering muncul sejak Viona hadir di hidupnya.
Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, namun tangannya beralih menyentuh pucuk kepala Viona, mengusap anak-rambut wanita itu dengan kelembutan yang protektif.
"Kalau begitu, anggap saja ini bukan gaji, Nyonya Oliver,"
ucap Oliver dengan nada rendah yang menggoda namun penuh penekanan.
"Anggap ini adalah bentuk tanggung jawab seorang ksatria pelindung untuk memastikan bahwa wanitanya memiliki segala hal yang terbaik di dunia ini.
Vila itu berada di kawasan udara bersih yang sangat baik untuk terapi pernapasan dan kecemasanmu. Aku ingin kau memiliki tempat perlindungan pribadi yang sah atas namamu sendiri."
Viona menatap Oliver dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena rasa haru.
Pria tirani yang ditakuti oleh seluruh pelaku bisnis di kota ini ternyata memiliki cara yang begitu unik—dan sangat royal—dalam menunjukkan rasa terima kasih dan kepeduliannya.
Ia menyadari bahwa menolak pemberian Oliver hanya akan melukai harga diri pria itu yang tinggi.
"Baiklah,"
bisik Viona akhirnya, sebuah senyuman manis menyeruak di wajah pucatnya.
"Saya akan menerima penyesuaian ini. Terima kasih, Oliver... untuk vilanya, dan untuk cara Anda menghargai kehadiran saya di sini."
Oliver mengangguk puas.
Ia merapikan jam tangan mewahnya dan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh tepat—waktunya untuk berangkat ke kantor pusat.
Namun sebelum berbalik pergi, ia menunduk sekali lagi, membisikkan kata-kata terakhir yang membuat malam-malam Viona selanjutnya dipenuhi oleh antisipasi yang manis.
"Simpan dokumen itu baik-baik. Dan bersiaplah nanti malam. Karena ini adalah kenaikan gaji pertamamu, aku ingin merayakannya. Aku sudah memesan satu restoran di menara kota untuk makan malam kita berdua. Hanya kita berdua, tanpa Yoyo ataupun urusan kontrak bisnis."
Sebelum Viona sempat membalas atau memproses ajakan kencan yang tak terduga itu, Oliver sudah berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan dengan langkah tegap penuh percaya diri, meninggalkan sang istri kontrak yang kini memegang dadanya yang bergemuruh hebat oleh rasa yang tak lagi bisa ia sangkal sebagai awal dari cinta yang sesungguhnya.