Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33- Unboxing
Di atas ranjang, Bara perlahan membuka matanya. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah sosok Alena yang sedang berdiri di dekat meja rias.
Rambut Alena yang sedikit berantakan alami justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menawan di mata Bara.
Bara mengubah posisinya menjadi duduk, lalu tersenyum lebar menatap sang istri. "Bagaimana tidurmu? Apa nyenyak?" tanya Bara dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia beranjak dari ranjang dan melangkah menghampiri Alena.
Alena pun segera membalikkan tubuh dan berdiri menghadap suaminya dengan raut wajah yang mendadak diselimuti rasa bersalah. "Sangat nyenyak. Tapi... maaf untuk semalam, Bara. Rasanya badanku capek sekali setelah pesta panjang itu, aku jadi langsung ketiduran begitu menyentuh bantal," seru Alena dengan nada menyesal, merasa tidak enak karena melewatkan momen malam pertama mereka begitu saja.
Mendengar itu, Bara justru terkekeh pelan. Ia meraih kedua tangan Alena dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. "Tidak apa-apa, Alena... Aku mengerti kamu sangat lelah semalam. Pesta itu memang melelahkan bagi kita berdua," ucap Bara menenangkan. "Aku ke kamar mandi dulu, ya."
Setelah keduanya bergantian membersihkan diri dan mengenakan pakaian kasual yang nyaman, bel pintu kamar berdenting.
Kiriman menu sarapan premium dari pihak hotel telah tiba. Alena dengan telaten menata piring-piring berisi omelet, roti panggang, buah segar, dan dua cangkir kopi hangat di atas meja makan kecil dekat balkon.
Mereka pun duduk berhadapan dan menyantap sarapan dengan nikmat. Namun, status baru sebagai suami istri rupanya masih menyisakan riak canggung di antara mereka.
Sesekali, saat mengunyah makanan, netra mereka saling bertemu. Setiap kali Alena membalas tatapannya dengan senyuman, jantung Bara pun berdesir hebat.
Bara yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi pria pemalu di depan istrinya sendiri. Hingga, ketika ia hendak meraih cangkir kopinya sambil terus memandangi wajah Alena, jemarinya sedikit gemetar karena gugup.
Dan ...
Prak!
"Ah!"
Bara tidak sengaja menyenggol tepi gelas air putih di dekatnya hingga terguling. Air bening di dalamnya pun langsung tumpah, mengalir cepat melewati tepi meja dan membasahi baju Alena.
"Alena, maaf! Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Bara panik. Wajahnya memerah karena malu atas kecerobohannya sendiri.
Dengan sigap, ia menarik beberapa lembar tisu dari kotak, lalu membungkuk di dekat Alena untuk mengeringkan noda air di baju istrinya.
Seketika Alena terdiam. Ia tidak memperdulikan bajunya yang basah, namun pandangannya justru terkunci pada raut wajah Bara yang begitu panik dan penuh perhatian di depannya.
Jarak mereka kini sangat dekat, hanya menyisakan beberapa sentimeter saja, hingga Alena bisa mencium aroma sabun maskulin yang segar dari tubuh Bara.
Merasakan tatapan intens yang tak beralih, Bara pun perlahan mendongak. Gerakan tangannya yang sedang mengusap tisu pun seketika terhenti.
Waktu seolah membeku saat manik mata mereka saling mengunci satu sama lain dalam jarak sedekat itu.
Deg deg deg deg deg deg!!
Jantung mereka saling berdetak bahkan bisa mendengar debaran satu sama lain. Perlahan-lahan wajah mereka pun semakin dekat, hingga hembusan napas yang mulai memburu dan menggebu terasa hangat menerpa kulit wajah masing-masing.
Cup.
Bara memiringkan kepalanya sedikit dan mendaratkan kecupan lembut di bibir Alena untuk kedua kalinya hingga menegangkan saraf kedua insan tersebut.
Tak lama, Bara melepas ciuman itu dengan sangat pelan dan menyisakan jarak tipis dengan kelopak mata mereka yang masih terpejam erat.
Namun, gejolak rasa di dalam dada Bara tidak bisa lagi ditahan. Sebelum Alena sempat mengambil napas, Bara kembali memajukan wajahnya.
Kali ini, ia mencium Alena lagi, bukan sekadar kecupan singkat, melainkan sebuah ciuman yang lebih dalam dan bergairah.
Alena melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Bara dan menarik suaminya lebih dekat. Ia pun mulai membuka bibirnya dan membalas tautan ciuman Bara dengan gairah yang sama besarnya.
💋💋💋💋💋
Dalam beberapa saat sentuhan lembut di bibir itu kini telah berubah menjadi gelombang gairah yang tak lagi membendung jarak.
Bara meletakkan kedua telapak tangannya di pinggang Alena dan dengan gerakan yang lembut, Bara menelusuri lekuk tubuh Alena hingga sentuhan itu membuat Alena sedikit merinding dan mempererat kalungan lengannya di leher kokoh Bara.
"Akh..."
Tanpa memutuskan tautan bibir mereka yang kian liar, Bara dengan sigap menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Alena.
Ia mengangkat tubuh istrinya itu ke dalam pangkuannya dengan mudah, lalu memikul berat tubuh Alena seolah wanita itu adalah harta paling berharga yang harus dijaganya.
Alena sedikit terkesiap di sela ciuman mereka, lalu mengeratkan pegangannya saat Bara membawanya melangkah menuju ranjang berukuran besar yang bertabur kelopak mawar.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Bara lalu merebahkan tubuh Alena di atas kasur yang empuk itu dengan sangat perlahan, seolah takut menyakiti wanita di bawahnya.
Detik berikutnya, ia ikut memposisikan tubuhnya di atas Alena dan menatapnya dengan binar cinta dan penuh hasrat.
"Alena..." bisik Bara dengan napas memburu yang menerpa kening istrinya. "Aku mencintaimu. Seutuhnya."
Alena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap mata Bara lalu menarik kerah kemeja Bara untuk kembali menyatukan bibir mereka.
Cup!
Di bawah temaram cahaya pagi yang menembus gorden, lembaran pakaian yang menghalangi pun perlahan terlepas dan menyisakan kulit yang saling bersentuhan langsung.
"Bara... Akhh ... Ahh...."
Ketika penyatuan itu akhirnya terjadi, sebuah rintihan halus lolos begitu saja dari bibir Alena.
"Akhhh... Emmmm...."
Suara itu terdengar di antara keheningan kamar, menjadi melodi indah yang justru menjadi pemantik hingga membuat Bara semakin bersemangat.
"Alena...."
Ia bergerak dengan ritme yang penuh perasaan dan memastikan setiap sentuhannya membawa kebahagiaan bagi wanita yang kini resmi menjadi belahan jiwanya.
Di atas ranjang pengantin itu, mereka berdua menenggelamkan diri dalam badai hasrat yang menggelora. Setiap sentuhan, kecupan, dan bisikan lirih menjadi saksi bagaimana mereka menyempurnakan hubungan suami-istri mereka dengan penuh gairah yang sakral.
Hingga...
Beberapa waktu berlalu, badai itu perlahan mereda menjadi embusan angin yang tenang. Aula kamar kembali sunyi dan hanya menyisakan suara detak jantung mereka yang mulai teratur.
Alena berbaring dengan nyaman di atas dada bidang Bara dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya yang masih sedikit berkeringat.
Selimut tebal membungkus tubuh mereka berdua dari udara dingin pendingin ruangan. Tangan kekar Bara melingkar di bahu Alena, sementara jemarinya mengusap rambut Alena yang berantakan dengan penuh kasih sayang.
Cup!
Bara mengecup puncak kepala Alena dengan lama. "Terima kasih untuk hari ini, Istriku," bisik Bara.
Alena mengulas senyum bahagia di sudut bibirnya dan mengetatkan pelukannya pada pinggang Bara. "Sama-sama, Suamiku."
Bersambung...