NovelToon NovelToon
Terbuang,Kembali Bersama Kemewahan

Terbuang,Kembali Bersama Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Ayu Gendhis Prameswari, terjebak dalam lingkaran pernikahan yang toksik. Memiliki suami yang pelit, suka menggoda wanita. Mertua yang selalu menyalahkan dirinya, karena di matanya Ayu bukanlah menantu idaman. Dan penderitaan Ayu pun semakin menjadi-jadi ketika Mas Bayu, suami Ayu, tertangkap basah selingkuh, namun parahnya, Ayu malah diusir dari rumah. Dia benci dan dendam pada Mas Bayu dan keluarganya dan bersumpah akan membalas semua perbuatannya dengan kesuksesannya.. Dan Tuhan mendengar doa wanita teraniaya. Dipertemukanlah Ayu dengan duda tampan, kaya raya bernama Alvin Sebastian Stelle.. Dia akhirnya mampu memikat hati duda kaya itu. Setelah menikah Ayu seakan bertransformasi menjadi wanita berkelas. Namun ternyata di pernikahannya dengan Alvin pun banyak terjadi konflik keluarga yang ternyata tidak kalah toksik. Namun kali ini Alvin selalu membela Ayu di antara gempuran masalah yang selalu menghadang mereka. Akankah Ayu akan bisa melewati ujian hidupnya kali ini? Ataukah juga akan berakhir seperti pernikahannya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadia Dan Rasa Takut

AYU POV..

Aku menenggelamkan wajahku ke dada laki-laki menggemaskan yang bernama Alvin ini. Laki-laki misterius dengan segala sikap yang sulit aku mengerti.

Laki-laki kaya tampan sempurna namun duda.

Laki-laki yang kadang panas, kadang dingin, kadang hangat.

Laki-laki yang kasar namun juga bisa sangat lembut.

Entah sebenarnya laki-laki seperti apa yang sedang aku hadapi ini, namun aku telah berkomitmen akan menemani dia, walau hanya sebatas pura-pura..

Jantungku masih berdebar-debar ketika dia menurunkan ku di halaman rumah, dan masih dengan keterkejutanku ternyata di sampingku sudah ada mobil Lamborghini merah yang terparkir tepat di sampingku..

"Masuklah.." Kata dia sambil membukakan pintu mobil itu untukku..

"Mas Bayu, istrimu yang kau sia-siakan sekarang sudah di ratukan oleh orang kaya, Mas. Kamu harus melihatku agar kamu menyesal telah membuangku..." Gerutuku dalam hati sambil tersenyum melihat wajah Alvin yang sangat tampan itu.

"Jangan melihatku terlalu lama, aku takut kamu cinta mati padaku.."

Mendengar itu aku hanya memutarkan kedua bola mataku sambil tersenyum...

Setelah aku masuk, pintu mobil pun ditutup perlahan olehnya dan dia segera masuk juga ke dalam mobil..

"Are you ready my queen??" Kata Alvin lirih sambil memasangkan sabuk pengaman padaku..

Ya Tuhan, ingin sekali aku menjerit kegirangan dengan segala sikap Alvin padaku, sungguh manis sekali sikapnya.

Aku bahkan belum pernah sama sekali mendapatkan hal semanis ini dari Mas Bayu, namun sekarang Alvin seolah menaruhku di dalam gudang gula, hingga membuatku merasa seolah bisa terkena diabetes karena kemanisan sikapnya padaku.

"Kamu tidak ingin bertanya lagi kita akan kemana??"

"Hmmm tidak, aku nurut saja.." Jawabku lirih sambil menundukkan pandanganku karena aku menahan maluku..

"Oke.. Ayo berangkat, akan aku buat kamu menjadi ratuku, akan aku perlihatkan siapa Alvin Sebastian padamu.."

Akupun langsung melihat ke arahnya, dan dia pun begitu. Kami saling pandang dengan senyuman merekah di wajah kami berdua.

Dia pun lalu mencubit pipiku dengan lembut

DEG... seketika jantungku berdegup sangat kencang, apakah aku akan benar-benar jatuh hati padanya??

Sudah hampir sepuluh menit kami berdua di dalam mobil, sampai saat ini pun aku masih belum tahu akan diajak kemana olehnya. Akupun sekarang sedang tersenyum-senyum sendiri setelah merasakan seperti mendapatkan impian seorang Cinderella tanpa sepatu kaca..

Aku memang meminta pada Tuhan laki-laki kaya raya, namun tidak setampan, selembut, dan setajir melintir seperti Alvin Sebastian. Ini terasa terlalu berlebihan bagiku..

"Kenapa kamu terlihat sangat bahagia?" Tanya Alvin memecah keheningan di dalam mobil.

"Jujur, aku tidak pernah membayangkan akan menaiki mobil semahal ini, apalagi dengan laki-laki sesempurna dan sebaik kamu.."

"Hahaha.. Apakah aku sebaik itu?" Tanya Alvin sambil melirik ke arahku..

"Hmm, sangat manis, bahkan luar biasa manis.."

"Apa dulu suamimu tidak pernah memperlakukanmu dengan lembut dan manis..?"

"Manis..?? Manis adalah sikap yang mustahil bagi Mas Bayu untukku. Dia hanya bersikap manis pada wanita lain selain aku. Dulu dia bahkan tidak segan memukul, memaki, menindas, dan ketika dia sudah menjalin hubungan dengan wanita lain, dia seolah jijik berada di dekatku.."

Mendengar itu dia hanya terdiam sambil sesekali melihat ke arahku..

"Sudahlah, lupakan dia. Jika kamu masih bersamanya, kamu tidak akan pernah bertemu denganku."

"Benar, namun penyesalanku hanya satu. Aku sudah mempermalukan keluargaku sendiri, namun apa yang aku dapatkan darinya? Hanya penderitaan.."

"Kenapa kamu bertahan dengan laki-laki seperti itu?"

"Aku wanita dengan ego yang tinggi. Dulu ketika sahabatku dan seluruh keluargaku bilang kalau Mas Bayu bukan laki-laki yang baik untukku, aku justru membela dia mati-matian, bahkan rela pergi dari rumah. Namun ternyata dia memang bukan laki-laki yang baik untukku, dan aku sulit mengakuinya di hadapan keluargaku karena takut merusak egoku.."

"Apakah setinggi itu egomu?"

"Hmm, jika tidak tinggi, mungkin aku akan meminta seratus juta rupiah pada ayahku untuk menebus utang Angel. Namun sekarang aku memilih menjadi istri pura-puramu demi uang itu.."

"Jujur aku ingin melihat seperti apa sosok laki-laki yang tega mencampakkanmu.."

"Ah sudahlah, biarlah dia menjadi masa lalu."

Ketika aku menghentikan pembicaraan itu, mobil Alvin masuk ke dalam sebuah gedung dan menuju tempat parkir..

Dia lalu menghentikan mobil di sana.

"Kita di mana?"

"Ini perusahaanku."

"Kenapa kita ke sini?"

"Rahasia.." Jawabnya singkat..

"Turunlah.." Lanjutnya..

Aku pun segera turun diikuti Alvin..

Kami lalu berjalan beriringan keluar dari tempat parkir menuju lift..

"Kenapa jam segini sudah sepi?"

"Aku menyuruh semua staf pulang lebih awal."

"Kenapa?"

"Agar mereka tidak melihatmu.."

Aku mengerutkan dahi mendengar hal itu, namun hanya mengangguk saja. Orang kaya memang bebas berbuat apa saja..

Dia lalu menekan tombol lantai 70, lantai tertinggi di gedung itu..

"Kita mau kemana, Tuan?" Tanyaku lagi..

"Rahasia.." Jawabnya sambil menutupkan tudung hoodie itu di kepalaku..

"Hah.. Menyebalkan.." Gerutuku kesal..

Kami pun segera masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka..

"Apakah ini benar-benar perusahaanku?"

"Ya. Kenapa?"

"Tidak menyangka kamu benar-benar sangat kaya.."

"Hahaha.. Apakah aku terlihat seperti orang kaya yang hanya pura-pura kaya?"

"Bukan.. Bukan begitu maksudku, aku tahu kamu kaya, tapi tidak menyangka sekaya ini."

Mendengar ucapanku dia hanya melirik ke arahku sambil tersenyum..

Beberapa saat kemudian sampailah kami di lantai tertinggi. Kami berjalan sebentar dan aku melihat ada laki-laki berpakaian rapi yang sedang menunggu Alvin..

"Sudah semua siap?" Tanya Alvin pada laki-laki itu..

"Sudah siap semua, Tuan.."

"Bagus. Kamu boleh pulang sekarang."

"Baik, Tuan."

Laki-laki itu pun segera pergi..

"Ayo.." Kata Alvin sambil menggandeng tanganku..

Nyaman adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang kurasakan saat ini bersamanya. Bersama laki-laki bernama Alvin..

Tak lama kemudian sampailah kami di atap gedung, dan aku melihat sebuah helikopter terparkir di sana..

"Mari, Tuan Putri. Kuda putihmu sudah menunggu untuk kau kendarai.."

Seketika mataku terbelalak mendengar hal itu..

"Kamu akan mengajakku naik itu?" Tanyaku sambil menunjuk helikopter itu..

"Ya, hanya untukmu, dan hanya bersamamu.."

"Ya Tuhan, apa lagi ini.. Dia benar-benar membuatku semakin jatuh cinta padanya.." Batin ku..

Seketika aku langsung memeluk tubuhnya erat..

"Terima kasih.."

CUP.. Aku mengecup pipinya..

"Apapun untukmu.."

"Mari naik, aku yakin kamu akan menyukainya.."

Aku melepaskan pelukan dan berjalan menuju helikopter itu..

Aku naik ke atas dengan bantuannya, tak lama kemudian dia pun ikut naik..

"Kamu yang akan mengemudikannya?"

"Ya. Kenapa?"

"Kamu yakin bisa? Aku takut celaka karenamu.."

"Hahaha.. Aku juga takut celaka bersamamu. Tenang saja, kemampuanku terbang bahkan bisa mengalahkan Neil Armstrong.."

"Ya sudahlah.."

Dia pun segera menyalakan mesin helikopter, dan tak lama kemudian kami pun terbang meninggalkan gedung itu. Semua impianku perlahan menjadi kenyataan berkat Alvin.. Terima kasih Tuhan telah mempertemukanku dengannya..

Sepanjang perjalanan hanya keindahan kota Jakarta yang terlihat, ditambah senja yang mempercantik langit, serta senyuman Alvin yang selalu ia berikan padaku, membuat kebahagiaanku terasa semakin lengkap..

"Kamu senang?"

"Sangat senang.. Aku sangat bahagia.." Seruku di dalam helikopter..

Dia pun terlihat sangat bahagia melihatku begitu..

"Ya Tuhan, jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Namun jika ini kenyataan, pertahankanlah kebahagiaan ini. Jika dia memang jodohku, berikanlah cinta yang besar untuk kami berdua.. Jadikan dia alasan kebahagiaanku selamanya.."

Setelah sekitar tiga puluh menit terbang, helikopter itu pun mendarat di atap gedung lain yang belum pernah kulihat sebelumnya..

Setelah mendarat, Alvin segera mematikan mesin dan turun..

"Ayo turun, kita sudah sampai.."

"Kita mau kemana lagi?" Tanyaku saat dia menungguku turun melepaskan sabuk pengamanku..

"Rahasia.."

CUP..

Dia mengecup pipiku..

"A.a.a.a.. a. a Tuhan jangan sampai aku terlalu mencintainya.. Tapi dia terlalu indah jika tidak dicintai.." Senangku dalam hati dengan senyuman terlukis di wajahku..

Setelah itu kami berjalan beriringan turun melalui lift gedung tersebut..

Di dalam lift itu cuma ada kami berdua.

"Apapun yang terjadi nanti jangan bicara selain denganku, mengerti? "

"Baiklah.."

Dia lalu mendekatiku, kembali menutupkan ujung tudung hoodie di kepalaku, memakaikan masker, dan yang paling konyol dia merapikan tas ransel teddy bear tadi..

"Kenapa aku harus sekonyol ini.." Renggekku..

"Karena aku suka.." Katanya lirih di telingaku..

Hahahaha.. Tawanya yang renyah menyusul kekesalanku, namun jujur aku menyukainya...

Setelah beberapa saat sampailah kami di depan sebuah toko yang cukup besar, dan kamipun masuk..

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?? " Tanya salah satu penjaga toko pada Alvin..

Alvin pun segera membuka maskernya, dan betapa terkejutnya penjaga itu begitu menyadari siapa yang ada di hadapannya..

"Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau ini Tuan Alvin.." Kata penjaga toko itu sambil membungkuk meminta maaf...

"Tutup tokonya, suruh semua pengunjung keluar, hanya boleh ada aku di sini.."

"Baik.. Tuan tunggu di ruangan dulu. Lima menit semuanya akan selesai.."

"Em.."

Melihat itu aku hanya bisa melongo.. Toko sebesar inipun tunduk pada perintahnya.. Sungguh sangat mengejutkan bagiku..

Alvin pun segera berjalan menuju sebuah ruangan yang berisi sofa panjang..

"Duduklah dulu.."

Akupun segera duduk agak menjauh darinya..

"Apakah toko ini juga milikmu..? "

"Bukan, tapi aku adalah tamu VIP di sini. Setiap kali aku dan Stevani berbelanja, kami pasti menghabiskan lebih dari 500 juta.."

"Hah.. 500 juta!? "

"Em.. Aku adalah laki-laki yang setia pada wanita. Bebas saja kamu ingin menghabiskan uangku, sekuat kemampuanmu.."

"Ya ampun.. Apakah laki-laki ini benar-benar akan menjadi suamiku.. Aku masih belum percaya akan menjadi istrinya.." Gerutuku dalam hati sambil memandang Alvin yang duduk dengan tenang...

Sepuluh menit kami menunggu, akhirnya pegawai toko masuk ke ruangan...

"Tuan, silakan.."

"Baik.."

Alvin bangkit dari duduknya dan segera menggandengku keluar..

"Selamat malam, Tuan.." Sapa semua pegawai toko itu..

"Tolong layani wanita ini, ambilkan semua yang dia inginkan, dan rekomendasikan barang terbaik yang ada di sini untuknya.."

"Siapa Nona ini, Tuan?? "

"Aku tidak suka kalian bertanya hal yang tidak perlu! Layani saja dia, MENGERTI! " bentak Alvin.. Semua pegawai toko pun langsung menunduk takut di hadapannya...

"Ikutlah mereka, beli semua yang kamu inginkan. Apapun itu, bahkan jika kamu ingin membeli toko ini sekalipun, akan aku belikan untukmu.." Kata Alvin padaku..

"Sungguh sombong sekali laki-laki ini.." Gerutuku

"Tapi bolehkah aku melepas pakaian konyol ini..?? "

Mendengar pertanyaanku, semua pegawai toko sedikit tersenyum..

"Boleh, tapi jangan lepas maskernya. Aku tidak ingin wajah cantikmu dilihat orang lain sebelum waktunya.."

"Hufft... Baiklah.." Jawabku lesu..

Aku pun segera berkeliling, diikuti para pegawai di belakangku. Sungguh rasanya aku seperti ratu saat ini...

Aku mengambil sebuah pakaian yang menurutku sangat bagus, namun saat hendak melihat harganya, pegawai itu menahanku.

"Maaf Nona, Anda tidak diperbolehkan melihat harganya. Tuan Alvin yang berpesan demikian.."

"Lalu bagaimana jika harganya sangat mahal?? "

Mendengar ucapanku, mereka semua malah tersenyum..

"Jangan khawatirkan soal harga dengan Tuan Alvin, Nona. Bahkan jika harganya seharga mobil sekalipun, dia pasti akan membelinya jika Anda menyukainya.."

"Benarkah??? "

"Benar.. Dulu Nyonya Stevani pun berbelanja apapun tanpa perlu melihat harga.."

"Kalian kenal Nyonya Stevani..? "

"Sangat kenal, beliau adalah tamu VVIP kami.."

"Cantikkah dia?? "

"Sangat cantik, bahkan bagi kami beliau tampak hampir sempurna.."

Seketika hatiku menciut mendengar pujian tentang Stevani,

seperti apa sebenarnya sosoknya?

Apakah dia benar-benar secantik itu?

Apakah aku bisa menyamai dia jika dia sesempurna itu?

Bagaimana jika aku tidak secantik dia?

Beribu pertanyaan seketika memenuhi pikiranku tentang sosok Stevani, wanita yang pernah mendampingi laki-laki sesempurna Alvin Sebastian Stelle..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!