NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANG-BAYANG HIJAU DI MALAM BUTA

​Kegelapan total yang menyelimuti perkemahan darurat setelah Tetua Gu memadamkan bara api unggun justru membuat sepasang mata di antara celah pepohonan kuno itu tampak kian menyala. Warna hijaunya berpendar pekat, sedingin reptil yang siap menerkam mangsa. Udara malam yang lembap mendadak berbau busuk seperti belerang dan daun-daun busuk.

​Zei menahan napasnya, mencengkeram permukaan tanah gembur hutan di bawahnya. Melalui getaran halus yang merayap di telapak tangannya, ia bisa merasakan sebuah gesekan tubuh yang masif dan berat sedang meliuk-liuk di atas akar-akar pohon. Makhluk itu tidak berjalan; ia merayap tanpa suara.

​"Ular Sanca Sisik Beludru," bisik Tetua Gu, suaranya terdengar sangat rendah di balik kegelapan. "Binatang buas spiritual tingkat menengah. Dia menguasai elemen racun dan kayu liar. Waspada, Bocah!"

​WUSH!

​Tanpa ada peringatan lebih lanjut, sebuah bayangan tebal melesat dari kegelapan secepat anak panah. Ekor ular raksasa itu mengayun horizontal seperti cambuk baja, menghantam lurus ke arah area semak tempat A-Lang terbaring tak berdaya. Dalam sepersekian detik sebelum benturan terjadi, Tetua Gu bergerak seperti kilat. Pria tua itu menyambar kerah jubah luar A-Lang, melompat mundur sejauh lima meter untuk mengamankan anak itu di balik ceruk batu raksasa.

​"Urus garis depan, Zei! Jangan biarkan dia mendekati ceruk ini!" seru Tetua Gu sembari meletakkan A-Lang.

​Zei melompat maju, memblokir jalur tengah. Saat tubuh ular itu sepenuhnya keluar dari bayang-bayang pepohonan kuno, cahaya bulan yang samar menembus celah daun memperlihatkan wujudnya yang mengerikan. Panjang tubuh belasan meter dengan diameter setebal drum minyak, ditutupi oleh sisik halus berwarna hijau lumut yang tampak berkilau keperakan.

​HISS!

​Ular sanca itu membuka rahangnya lebar-lebar, menyemburkan kabut gas berwarna hijau pekat ke arah Zei. Begitu kabut itu menyentuh dedaunan di sekitar, dedaunan tersebut langsung menguning dan meleleh seperti tersiram air keras. Udara di sekeliling Zei seketika menjadi beracun.

​Zei segera mengunci pernapasannya, menolak menghirup udara luar. Ia mengalirkan getaran Qi tanah murninya ke seluruh permukaan kulit, memicu teknik Sisik Naga emas redupnya sebagai lapisan penyaring alami agar racun korosif tersebut tidak mengikis jubah rami dan dagingnya.

​Namun, ular sanca itu tidak hanya mengandalkan racun. Ular itu menancapkan bagian ekornya ke tanah, memicu pendaran hijau dari elemen kayunya. Tiba-tiba, akar-akar pohon kuno di sekitar kaki Zei bergerak seperti ular-ular kecil yang hidup. Akar-akar tersebut mencuat dari dalam tanah, melilit pergelangan kaki Zei dengan sangat kencang dan menariknya masuk ke dalam bumi.

​Zei tersentak. Ia mencoba memicu teknik Bumi Bergeser untuk meloloskan diri, namun cengkeraman akar-akar tersebut terlalu kuat dan masif. Akar pohon itu telah menguasai dan mengikat struktur tanah di sekitarnya, mengunci mobilitas elemen bumi milik Zei.

​Ular raksasa itu melihat korbannya terkunci, lalu melesat maju dengan rahang terbuka, siap menelan kepala Zei bulat-bulat.

​"Bocah bodoh! Gunakan otakmu!" raung Tetua Gu dari arah ceruk batu. "Akar pohon memang memakan nutrisi dari dalam tanah untuk tumbuh menjadi kuat! Tapi tanah pulalah yang mengubur akar itu hingga membusuk menjadi pupuk! Balikkan logika energinya!"

​Mendengar petunjuk itu, sebuah pemahaman baru mendadak menyambar benak Zei. Benar, akar pohon hidup karena tanah membiarkannya bernapas dan bergerak. Jika tanah itu menolak, maka akar tidak akan memiliki ruang!

​Zei memejamkan matanya, mengabaikan rahang ular yang tinggal berjarak tiga meter di depan wajahnya. Ia berhenti mencoba memutuskan akar secara paksa. Sebaliknya, ia menyalurkan seluruh getaran Qi bumi murninya ke bawah lantai hutan, memerintahkan partikel-partikel tanah untuk saling merapat dan memadat secara ekstrem.

​TEKNIK EVOLUSI: KOMPRESI BUMI!

​DUMMM!

​Tanah gembur di sekeliling kaki Zei mendadak mengeras sekeras batu besi kuarsa dalam sekejap mata. Tekanan masif dari kompresi tanah tersebut menjepit akar-akar penjerat hingga remuk, memutus pasokan energi Qi kayu cair dari sang ular secara instan.

​Begitu cengkeramannya terlepas, Zei membuka matanya yang menyala emas. Dengan satu sentakan kaki pada tanah yang telah mengeras tadi, ia meluncur ke atas seperti pegas, menghindari sambaran rahang ular sanca yang akhirnya hanya menggigit udara kosong di bawahnya.

​Zei melayang tepat di atas kepala ular raksasa tersebut. Ia mengepalkan tinju kanannya, mengonsentrasikan seluruh massa dan berat dari teknik Tinju Pembongkar Bumi murni ke dalam buku-buku jarinya. Tanpa menggunakan aura hitam yang merusak meridian, pukulan kali ini murni mengandalkan berat bumi yang padat.

​"Turun kau ke bumi!" teriak Zei sembari menghantamkan tinjunya telat ke ubun-ubun kepala ular sanca.

​GEBUMMM!

​Hantaman keras itu memicu suara retakan tengkorak yang jelas. Kekuatan pukulan Zei menghempaskan kepala ular raksasa itu jatuh menghantam lantai hutan dengan kecepatan mengerikan. Benturan kedua dengan tanah menciptakan cekungan sedalam satu meter. Tubuh belasan meter ular sanca itu kejang-kejang sesaat, ekornya menghempas acak merusak semak-semak, sebelum akhirnya terkulai lemas sepenuhnya tak bernyawa.

​Zei mendarat di samping bangkai ular tersebut, langsung terduduk lemas di atas tanah. Ia terengah-engah, dadanya naik-turun dengan cepat saat ia akhirnya bisa menghirup udara segar setelah kabut racun mulai tersapu angin malam. Wajahnya tampak sedikit pucat karena sempat menghirup sedikit sisa gas korosif di awal pertarungan.

​Tetua Gu melangkah mendekat, meninggalkan A-Lang yang masih tertidur aman di dalam ceruk batu. Pria tua itu menatap jasad ular sanca, lalu beralih menatap Zei dengan anggukan kepala yang langka. "Kompresi bumi yang bagus. Kau cepat menangkap esensi elemenmu."

​Tetua Gu mengeluarkan belati kecil dari pinggangnya, lalu dengan cekatan membelah bagian dada ular sanca yang telah hancur tersebut. Tangan tuanya merogoh ke dalam daging, mengeluarkan sebuah bola kristal berukuran kepalan tangan berwarna hijau tua yang berkilau lembut di kegelapan malam.

​"Ini adalah Nei Dan (Inti Monster) milik Ular Sanca Sisik Beludru," ucap Tetua Gu, melemparkan bola hijau itu yang langsung ditangkap oleh Zei. "Kandungan elemen kayu kehidupan di dalamnya sangat murni, dan esensinya adalah penetral racun alami yang luar biasa. Ini adalah obat terbaik untuk memulihkan kerusakan meridian kakumu akibat racun es Qian Yue'er kemarin, sekaligus bisa memperkuat fondasi fisik A-Lang jika dilarutkan dalam arak."

​Zei menatap inti monster hijau yang terasa hangat di telapak tangannya, merasakan aliran energi kehidupan yang perlahan mulai meresap ke dalam kulitnya. Rasa lelah di tubuhnya seolah sedikit berkurang hanya dengan memegangnya.

​FIUUUUUTTT~

​Keheningan malam di Hutan Kematian mendadak pecah oleh suara siulan bernada tinggi yang panjang dan berirama aneh bergema dari arah pepohonan kuno yang lebih dalam. Itu jelas bukan suara panggilan binatang buas ataupun desisan reptil. Itu adalah siulan kode yang dibuat oleh manusia.

​Tetua Gu seketika menegang, ekspresi santainya lenyap total. Ia langsung mencengkeram botol araknya erat-erat, matanya menatap tajam ke arah kegelapan dari mana suara siulan itu berasal.

​"Celaka," desis Tetua Gu rendah. "Ular sanca ini ternyata bukan berburu secara liar di sini. Binatang ini adalah hewan pemburu peliharaan atau umpan pengintai milik faksi manusia yang menguasai wilayah hutan ini."

​Zei bangkit berdiri dengan susah payah, menyimpan inti monster ke dalam balik jubah raminya sembari menggenggam selendang putih Qian Yue'er. Di kegelapan malam yang kian pekat, suara langkah kaki kaki manusia yang ringan dan cepat mulai terdengar mengepung posisi perkemahan mereka dari berbagai arah. Mereka tidak lagi dikejar oleh sekte kota, melainkan telah masuk ke dalam wilayah kekuasaan para bandit dan pemburu kejam Hutan Kematian.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!