NovelToon NovelToon
Hantu Magang

Hantu Magang

Status: tamat
Genre:Hantu / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".

Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?

Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase dari Langit-Langit

Malam itu, apartemen Unit 404 terasa berbeda. Bukan karena suhu yang turun atau bau kemenyan, melainkan karena ketegangan yang merayap di antara kabel-kabel jaringan dan tumpukan buku skenario Dinda.

Bara sedang berkonsentrasi penuh. Tubuhnya yang transparan menyatu dengan casing laptop Dinda. Ia bisa "merasakan" aliran data digital seperti merasakan aliran darah. File video yang korup itu tersebar berantakan di sektor-sektor hard disk yang rusak. Dengan ketelitian seorang ahli bedah—atau dalam kasus ini, ahli ghost-hacking—Bara mulai menyusun kembali potongan-potongan piksel tersebut.

"Kiri... geser sedikit ke sektor 4B... jangan lupa header filenya..." gumam Bara dalam hati.

Di sebelahnya, Dinda menatap layar dengan napas tertahan. Ia memegang secangkir teh hangat, matanya tidak berkedip.

"Tiga menit lagi," kata Dinda pelan. "Deadline upload jam 12 malam. Kalau gagal, brand deal bulan ini hangus."

"Tenang," jawab Bara, suaranya bergema langsung di kepala Dinda karena koneksi mental mereka. "Aku hampir selesai. Tinggal menyambungkan audio track-nya. Eh, ngomong-ngomong, kenapa lagu latar videomu dangdut koplo? Kan ini konten horor?"

"Itu ironi, Bara. Gen Z suka hal-hal yang absurd. Horor tapi joget. Kontras itu seni," jelas Dinda tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Bara menggelengkan kepala hantunya. Manusia zaman sekarang memang sulit dipahami.

Tiba-tiba, lampu di ruang tamu berkedip cepat. Blink-blink-blink. Bukan kedipan alami listrik mati, melainkan kode Morse hantu.

S-O-S.

Bara tersentak. Konsentrasinya buyar. Potongan data yang hampir tersambung lepas kembali.

"Aduh!" keluh Dinda saat layarnya kembali freeze. "Kenapa berhenti? Bara?"

Bara keluar dari laptop, wajahnya pucat (lebih pucat dari biasanya). "Ada gangguan. Ada hantu lain di sini."

"Hantu lain?" Dinda menoleh ke sekeliling ruangan yang sepi. "Di mana? Aku nggak lihat siapa-siapa kecuali kamu yang kelihatan kayak kain kumal."

"Dia nggak mau kelihatan. Dia main curang," geram Bara. Ia melayang ke tengah ruangan, matanya menyipit. Ia bisa mencium aroma khas hantu senior: campuran parfum murahan dan rasa iri hati yang tengik.

"Mbak Yuli," desis Bara. "Tetangga unit sebelah. Dia pasti dengar percakapan kita soal 'kolaborasi'. Dia cemburu karena aku dapat penghuni yang kooperatif, sementara dia dapat penghuni yang tiap malam nyetel lagu dangdut volume maksimal sampai jam 3 pagi."

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari dapur. BRAKK!

Dinda melompat kaget. "Apa itu?"

Mereka berdua bergegas ke dapur. Di atas meja, panci berisi air mendidih yang tadi ditinggalkan Dinda untuk membuat mie, kini tumpah berantakan. Uap panas mengepul membentuk tulisan kasar di udara:

JANGAN CAMPUR TANGAN.

"Dasar anak baru sok tau!" teriak sebuah suara wanita dari arah ventilasi udara. Suaranya nyaring dan melengking. "Nggak ada etiket! Nggak ada sopan santun! Hantu magang kok main-main sama manusia? Malu-maluin komunitas!"

Dari celah ventilasi, muncul sesosok wanita gemuk berbaju kebaya merah tua yang sudah pudar. Wajahnya tebal bedak hingga retak-retak, dan ia memegang kipas anyaman bambu dengan agresif. Itu Mbak Yuli.

"Mbak Yuli," sapa Bara mencoba tetap sopan meski tangannya gemetar. "Ini urusan pekerjaan saya. Mohon tidak mengganggu."

"Pekerjaan?" Mbak Yuli tertawa terkekeh-kekeh, suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Pekerjaan hantu itu menakutkan, bukan jadi IT support! Kamu merusak citra kita! Besok-besok manusia bakal mikir hantu itu cuma tukang servis gratisan!"

Mbak Yuli mengibaskan kipasnya. Angin dingin berhembus kencang, menerbangkan kertas-kertas catatan Dinda yang berserakan di meja.

"Hei! Itu naskah kontensku!" teriak Dinda marah. Ia bukan tipe yang diam saja saat barang-barangnya diacak-acak, bahkan oleh hantu. Dinda meraih sapu lidi yang bersandar di dinding.

"Apa yang akan kamu lakukan dengan sapu itu, Nduk?" ejek Mbak Yuli. "Mau nyapu aku? Aku udah mati, nggak kena debu!"

"Bukan buat nyapu kamu," kata Dinda dingin. "Tapi buat ngelempar remote AC ke arah mukamu kalau kamu nggak berhenti berisik. Aku butuh fokus!"

Mbak Yuli terdiam sejenak, kaget dengan keberanian manusia itu. "Berani sekali kamu..."

"Cukup!" seru Bara, melayang di antara mereka. "Mbak Yuli, Pak Broto akan tahu kalau kamu melakukan sabotase terhadap hantu magang lain. Itu pelanggaran berat Pasal 12: Larangan Mengganggu Operasional Rekan Sejawat."

Wajah Mbak Yuli berubah panik sesaat. Nama Pak Broto adalah momok bagi semua hantu, bahkan senior sekalipun. Pak Broto dikenal sangat ketat soal administrasi dan sering memberikan hukuman berupa "Puasa Energi Positif" selama sebulan—siksaan terburuk bagi hantu yang kecanduan drama sinetron.

"Kamu... kamu nggak berani lapor," ancam Mbak Yuli, meski suaranya agak bergetar.

"Coba aja," tantang Bara, mencoba terlihat gagah meski lututnya lemas. "Aku punya bukti rekaman suara dari ventilasi. Dan Dinda punya kamera CCTV yang menyala 24 jam. Mau kami kirim klip kamu ngamuk-ngamuk gara-gara panci mie ke grup WhatsApp Hantu Senior? Judulnya: 'Senior Toxic Ngambek Karena Kalah Saing'."

Mbak Yuli melotot. Matanya yang berwarna kuning kusam menyala marah. Ia memandang Dinda, lalu Bara, lalu kamera kecil di sudut langit-langit yang memang sedang merekam (karena Dinda selalu merekam segala sesuatu untuk bahan konten).

"Hmph!" Mbak Yuli menghentakkan kaki, menyebabkan lantai bergetar sedikit. "Kalian tunggu saja! Aku akan laporkan ini ke Dewan Tetua! Kalian melanggar kodrat alam! Hantu dan manusia tidak boleh bersinergi!"

Dengan satu kibasan kebaya, Mbak Yuli menghilang masuk kembali ke dalam ventilasi, meninggalkan jejak aroma bawang goreng yang hangus.

Ruangan kembali hening. Hanya suara dengungan kulkas yang terdengar.

Dinda menurunkan sapunya. Napasnya masih agak memburu. "Gila. Hantu tetangga ternyata lebih dramatis daripada artis infotainment."

Bara menghela napas lega. "Maaf ya, Din. Aku bikin masalah."

"Nggak apa-apa," kata Dinda sambil memungut kembali kertas-kertasnya. "Justru tadi itu... bagus banget. Ekspresi marahnya, lighting dari uap panci, dialognya tajam. Itu konten emas, Bara!"

Dinda segera mengambil ponselnya dan mengecek rekaman CCTV. "Lihat! Viewers bakal gila lihat hantu gedebuk-ngedebukin panci mie. Ini viral material!"

Bara tersenyum tipis. Mungkin, hanya mungkin, strategi "kolaborasi" ini bukan ide seburuk itu.

Tapi kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Notifikasi muncul di clipboard hantu Bara. Pesan masuk dari Pak Broto.

"Bara. Saya menerima laporan anonim tentang gangguan energi negatif di unit Anda. Siapkan diri untuk inspeksi mendadak besok pagi. Jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu."

Bara menelan ludah. Inspeksi mendadak. Artinya Pak Broto akan datang secara fisik (atau semi-fisik) ke apartemen. Dan jika Pak Broto melihat betapa akurnya ia dengan Dinda, serta mengetahui bahwa IKP naik karena "akting" dan bukan ketakutan asli...

"Besok pagi," bisik Bara pada Dinda. "Kita punya masalah besar. Atasan ku datang."

Dinda mengangkat alis. "Atasan hantu? Apakah dia juga pakai jas dan bawa clipboard?"

"Lebih buruk," kata Bara serius. "Dia punya tanduk. Dan dia benci ketidakrapian."

Dinda melihat sekeliling apartemennya yang masih berantakan akibat ulah Mbak Yuli. "Oh, sial."

Malam itu, untuk pertama kalinya, seorang hantu dan manusia begadang bersama bukan untuk menakut-nakuti atau ditakut-takuti, melainkan untuk membersihkan rumah secepat kilat sebelum bos yang galak datang berkunjung.

Dan di luar jendela, bulan tampak menyaksikan dengan senyum miring, seolah tahu bahwa kekacauan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Ita Xiaomi
Selamat ya Bara lulus dgn Cum Laude
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Mbak Yuli bakalan viral🤣
Ita Xiaomi
Benar-benar memanfaatkan 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Berbenah demi ndak dengar Pak Broto ngereog🤣
Ita Xiaomi
Dunia gaib seheboh dunia nyata😁
Ita Xiaomi
Salut ama Bara👍👍👍
Ita Xiaomi
Bara, aku tinggal di Kalimantan loh😁
Ita Xiaomi
Sama-sama ngejar Deadline. Dinda yg lebih mendesak Deadlinenya😁
Ita Xiaomi
Ekspresi Dinda lebih menyeramkan🤣
Putri Ayu/PqxxyZ
mari mampir dicerita ku juga ya kak 😊..
Denns: terimakasih support nya Kaka ;)
Baik Kaka Cantik ssiap.
total 2 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
wah keren nih ceritanya kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!