Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tahan tanpa nama
Tiga hari setelah kontrak sobek.
Ruangan ini lebih sepi dari kuburan.
Ga ada suara keyboard. Ga ada perintah “Ngetik halaman 80. Ga ada Aset, kesini.”
Yang ada cuma klitik rantai di kakiku tiap aku muter badan. Dan suara Axel manggil aku.
“Kau.”
Cuma kau. Bukan Aira. Bukan aset.
“Kau. Makan.”
“Kau. Obatnya diminum.”
“Kau. Jangan dekat jendela.”
Aku angguk. Atau geleng. Ga pernah jawab “Siap, Tuan” lagi. Karena aku bukan aset dia. Aku tahanan tanpa nama.
Axel benci itu. Keliatan dari rahangnya yang tiap hari makin ngeras.
Hari ke-l 3 dia masuk bawa nampan sup jamur. Sup favorit Mama Elena. Favorit Axel kecil juga, kata Pak Bara.
Dia taruh di meja. Jarak 2 meter dari aku.
“Kau. Makan selagi anget.”
Aku natap mangkok. Uapnya anget, baunya sama kayak yang Mama Elena masak 13 tahun lalu. Tapi aku muter badan ke jendela.
“Saya kenyang.”
Bohong. Perutku keroncongan. Tapi aku tahan. Ini satu-satunya cara aku nunjukin aku bukan boneka yang nurut disuapin.
Di belakang aku, Axel diem lama. Terlalu lama.
Lalu aku denger suara sendok kena mangkok Pelan. Kayak dia nyuapin dirinya sendiri.
“Kalau kau ga makan,” katanya pelan, punggungnya ke aku, “aku yang maksa. Kau tau aku bisa.”
Aku ga nengok. “Silakan, Tuan Axel Reynard. Tahanan tanpa nama ini udah siap dirantai lebih kenceng.”
Namaku dia sebut lengkap. Axel Reynard. Bukan Tuan.
Axel kaku. Sendok di tangannya berhenti.
“Kau sengaja bikin aku marah ya?” desisnya. Suaranya nahan banget. “Biar aku bentak kau. Biar kau ada alasan benci aku lebih dalam.”
Aku nengok setengah. Senyum tipis. Senyum yang sama kayak Mama Elena di foto.
“Enggak. Saya cuma ngingetin Tuan. Saya bukan aset lagi. Jadi panggil saya pakai nama. Atau jangan panggil sama sekali.”
Tamparan lagi. Axel nutup mata. Napasnya berat. 5 detik dia berantem sama dirinya sendiri.
Lalu dia bangun. Jalan ke pintu. Sebelum keluar dia berhenti. “Kau...”
Dia kepotong. Kata Aira nyangkut di tenggorokan. Dia ga bisa ngucapin. Karena tiap dia nyebut Aira dia keinget Elena Pramesti. Dan itu sakit.
Akhirnya yang keluar. “Lapar, makan. Titik.”
Klek. Pintu ketutup.
Malamnya jam 2 pagi aku kebangun karena dingin. Selimut tipis ketarik ke bawah.
Klek. Celah pintu kebuka. Axel masuk tanpa suara. Dia bawa selimut tebal. Selimut wol.
Dia deketin aku pelan. Jongkok. Mau nyelimutin aku.
Aku bangun. Mundur. Rantai ketarik. “Jangan sentuh saya.”
Tangannya berhenti di udara. 3 detik. Wajahnya kosong. Tapi matanya... matanya sakit banget.
Selimut jatuh ke lantai. “Huft”.
Axel berdiri. Dia liat aku kayak orang asing. “Kau beneran benci aku segitunya?” bisiknya. Kali ini ga ada bentakan. Cuma capek.
Aku peluk lutut sendiri. “Saya ga benci Tuan. Saya kasihan sama Tuan. Tuan 13 tahun nyari Elena, tapi yang ketemu malah anaknya. Tuan mau balas dendam, tapi tangan Tuan gemetar tiap saya demam. Tuan capek, kan?”
Axel ga jawab. Dia jongkok lagi. Kali ini jarak 1 meter. Aman. Dia ambil selimut, lipet rapi, taruh di ujung kasur. Jauh dari jangkauanku.
“Selimutnya di situ,” katanya datar. “Mau pakai silakan. Ga mau juga silakan. Aku ga maksa lagi.”
Lalu dia keluar. Kali ini ga ngebanting pintu. Nutup pelan.
Aku meluk selimut wol itu. Wanginya... wangi Axel. Kayu dan asap tipis. Wangi yang tiap malem dia pake.
Aku bisik ke selimut: “Tuan Axel... kalau Tuan lepasin saya sekarang, Tuan bebas dari dendam. Saya juga bebas dari Tuan. Tapi kenapa kita sama-sama ga berani?”
Di luar pintu, langkah kaki berhenti 7 detik. Lalu menjauh pelan.
Besoknya Pak Bara manggil aku “Nona Aira” pas nganter makan. Axel denger dari ruang kerja. Pintu kebuka dikit.
Pak Bara langsung nunduk. “Maaf, Tuan Muda. Kebiasaan.”
Axel diem 2 detik. Lalu dia bilang, suaranya datar: “Biarin. Mulai sekarang panggil dia ‘Nona Aira’. Dia bukan aset. Dia tahanan. Tahanan tanpa nama.”
“Tanpa nama” itu sindiran buat aku. Karena aku nolak “aset”. Tapi dia juga ga mau nyebut “Aira Elena Pramesti”. Nama itu terlalu berat buat dia.
Siangnya aku demam lagi. 38.5°C. Mungkin karena 3 hari ga makan bener.
Axel masuk bawa termometer + obat. Dia taruh di meja. Dorong ke arahku pake pena. Jaga jarak.
“Obat. Air putih. Kau pilih sendiri,” katanya. Ga nengok.
Aku ambil obat. Telan pake air putih. Pahit. Tapi aku ga meringis.
Axel ngelirik dari sudut mata. Dia liat aku ga muntah. Bahunya nurun dikit. Lega. Tapi dia cepet nutup ekspresinya.
“Kau kuat,” gumamnya pelan. Kayak ngomong ke dirinya sendiri. “Mirip dia.”
Dia Elena. Mama aku.
Aku merem. Jadi dia manggil aku “kau” karena Aira anaknya, Elena ibunya. Dua-duanya ngancurin dia.
Malamnya jam 3 pagi aku kebangun lagi. Rantai di kaki bunyi klitik.
Klek. Celah pintu kebuka. Axel lagi. Kali ini dia ga masuk. Cuma berdiri di koridor.
“Aira,” bisiknya. Pelan banget. Kayak ngetes lidahnya.
Aku pura-pura tidur. Tapi aku denger suaranya pecah di akhir.
Dia ngulang 2x. “Aira... Aira Elena...”
Lalu dia ketawa kecil. Ketawa pahit. “Ga bisa. Sakit.”
Langkahnya menjauh.
Aku melek. Air mata jatuh ke bantal.
Jam 4 pagi. Demamku naik lagi. 39°C. Kepalaku berat kayak ketiban batu.
Klek. Pintu kebuka tanpa suara. Axel masuk. Kali ini dia ga jaga jarak 2 meter. Dia berhenti di pinggir kasur. 50cm.
Di tangannya: kain basah dan mangkok kecil. Air anget.
Aku merem, pura-pura tidur. Tapi gigiku gemetar.
Axel jongkok. Dia lipat kain, peras pelan. Tetes air jatuh ke lantai. “Tetes... tetes...” Suaranya kecil di ruangan sepi.
Lalu aku ngerasain kain dingin nempel di dahiku. Pelan. Hati-hati. Kayak takut aku kebangun.
Aku nahan napas. Mau dorong tangannya. Tapi tenagaku abis.
“Kau demam,” bisik Axel. Suaranya serak. Capek. “Kenapa ga bilang? Sombong amat jadi tahanan.”
Aku ga jawab. Air mata malah jatuh ke pelipis. Kainnya jadi anget karena air mataku.
Axel diem. Jempolnya ngusap pelipisku pelan. Sekali. Dua kali. Mau ngapus air mata. Tapi berhenti di tengah jalan.
Tangannya gemetar. Dia tarik tangan itu cepat, kayak kebakar.
“Maaf,” katanya. Pelan banget. Pertama kalinya dia bilang maaf ke aku. “Aku ga pinter ngurus orang sakit. Dulu... dulu Elena yang ngajarin aku. Katanya, ‘naga kecil kalau demam, kompres dahinya dulu. Baru kasih obat’.”
Dia nyebut Elena lagi. Tapi kali ini tanpa benci. Cuma kangen.
Aku buka mata setengah. Axel natap aku. Jarak kita 30cm doang. Aku bisa ngitung bulu matanya. Merah semua. Dia ga tidur 4 hari.
“Kenapa Tuan masih di sini?” bisikku. Suaraku serak. “Bukankah Tuan benci darah saya?”
Axel merem. Lama. Pas buka mata lagi, matanya basah. Tapi ga ada air mata jatuh. Naga ga nangis. Katanya.
“Karena aku lebih benci liat kau mati,” jawabnya jujur. Sakit. “Dendam bisa nunggu. Kau... kau ga bisa.”
Lalu dia berdiri. Kain kompres dia taruh lagi di mangkok. Dia jalan ke pintu.
Sebelum keluar, dia berhenti. Punggungnya ke aku. “Besok... besok aku suruh Pak Bara masak sup jamur. Resep dari Elena. Kau makan. Ya?”
Dia ga nunggu jawabanku. Klek. Pintu ketutup.
Aku megang kain kompres di dahi. Masih anget. Anget dari tangan Axel.
Jadi naga juga bisa takut kehilangan. Naga juga bisa bilang maaf.
Tapi aku tetep muter badan ke jendela.
kalo berkenan mmpir juga thor😉