seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Fino langsung tersentak bangun dan duduk tegak di sofa dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Ia mengucek matanya, lalu mengembuskan napas panjang saat menyadari siapa yang berdiri di depannya.
"Elah, Bang... ngagetin aja lu. Jantung cogan kontrakan hampir copot nih," kelakar Fino, mencoba mengembalikan mode tengilnya demi menutupi rasa gugupnya.
Athur tidak membalas candaan itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada tegapnya, menatap Fino dari atas ke bawah. "Kenapa dengan mukamu?" tanya Athur datar, namun nadanya menuntut jawaban mutlak.
"Biasa lah, Bang. Namanya juga anak muda, sesekali butuh olahraga wajah biar ototnya kencang," sahut Fino sambil nyengir meringis karena sudut bibirnya yang robek terasa perih.
"Bolos?" cecar Athur lagi, satu alisnya terangkat.
Fino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Alih-alih menjawab pertanyaan maut itu, otak cerdik Fino justru berputar ke arah lain. Ia teringat akan niatnya untuk mencari uang demi membantu Rara. Menyadari bahwa kakak iparnya ini adalah pengusaha kelas atas yang punya banyak jaringan, Fino menatap Athur dengan mata berbinar-binar penuh harap.
"Daripada Abang nanya-nanya mulu kayak guru BK, mending Abang bantuin gue napa? Bang, di perusahaan desain atau apa lah punya lu itu... ada lowongan kerja paruh waktu buat anak magang ganteng kayak gue nggak? Jadi kurir kek, tukang angkat barang kek, apa aja deh yang penting menghasilkan cuan," cerocos Fino dengan gaya sok akrabnya yang luar biasa.
Namun, bukan sifat Athur jika ia bisa dikecoh begitu saja dengan pengalihan isu murahan. Athur tahu betul watak adik iparnya. Sorot mata tajamnya semakin mengunci pergerakan Fino, memojokkannya tanpa ampun.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Fino. Di rumah ini, tidak ada satu pun orang yang bisa bekerja tanpa izin saya," ucap Athur dengan suara rendah yang menekan, memancarkan aura dominasi yang kuat.
"Muka babak belur, pulang jam sebelas siang, dan mendadak butuh uang darurat. Kamu pikir saya bodoh? Cerita sekarang, atau saya potong semua fasilitas kamarmu detik ini juga."
Mendengar ancaman mutlak tentang penyitaan fasilitas kamarnya terutama PS5 kesayangannya plus tatapan mengintimidasi dari sang mafia, pertahanan Fino runtuh. Ia mendengus pasrah, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menang berbohong di depan pria dewasa ini.
"Iya, iya! Tadi pagi gue berantem parah di koridor mading," aku Fino akhirnya dengan nada ketus, menatap ke arah lantai. "Gue diskors seminggu. Dan... surat beasiswa gue dicabut sama pihak sekolah."
Fino mengepalkan tangannya di atas lutut, suaranya mendadak berubah menjadi serius dan bergetar menahan amarah masa lalunya. "Tapi sumpah, Bang, gue nggak akan menyesal udah mukul anak itu! Dia duluan yang cari gara-gara. Dia bawa gerombolannya buat memfitnah Kak Rara di depan umum. Dia mengatai Kak Rara cewek simpanan murahan... dan yang paling bikin gue meledak, dia berani bawa-bawa nama Nina! Gue gak akan pernah membiarkan siapa pun menginjak harga diri kakak dan kembaran gue, Bang. Biarpun taruhannya beasiswa gue hancur."
"Siapa?"
"Alden Bang!.
Deg.
Mendengar penuturan jujur yang sarat akan pembelaan kehormatan keluarganya itu, rahang Athur seketika mengeras sempurna. Kilatan amarah yang sangat dingin berkilat di matanya. Sisi mafianya terusik hebat. Ternyata, keributan di sekolah tadi pagi adalah kelanjutan dari penindasan yang dialami Rara.
Athur tidak memarahi Fino. Ia justru merogoh ponselnya dari saku jaket kulit, lalu mengetik sebuah pesan singkat berkode khusus untuk Evan yang saat ini posisinya masih berada di dalam mobil memantau situasi luar sekolah.
“Van, masuk ke SMA Garuda sekarang. Temui Kepala Sekolah dan pihak yayasan. Bereskan masalah pembatalan beasiswa Fino. Gunakan nama jaringan kita jika mereka menolak kerja sama,” tulis Athur dalam pesannya.
Setelah mengirim pesan pada Evan, Athur memasukkan kembali ponselnya. Fakta bahwa Alden—adik kandungnya sendiri adalah orang yang memicu perkelahian hebat ini dan membuat Rara menderita, membuat Athur mengambil keputusan mutlak yang tidak bisa ditunda lagi.
Athur menatap Fino.
"Urusan beasiswamu, biar saya dan Evan yang selesaikan. Kamu tetap di rumah dan obati mukamu," perintah Athur tegas.
"Saya ada urusan penting yang harus diselesaikan di luar."
Athur melangkah lebar keluar rumah menuju mobilnya. Keputusannya sudah bulat. Selain karena ia harus mengurus dokumen internal perusahaannya yang membutuhkan tanda tangan resmi dari sang Ayah—Tuan Besar—Athur juga berniat pulang ke rumah mewahnya siang ini demi mengonfrontasi Alden secara langsung dan menyelesaikan kesalahpahaman yang sudah telanjur melebar luas di antara mereka.
Permohonan Tulus sang Adik Ipar
Athur baru saja hendak memutar kenop pintu depan saat langkahnya tertahan oleh suara derap kaki yang terburu-buru. Fino berlari kecil menghampirinya, lalu memegang lengan jaket kulit Athur dengan pandangan memohon yang amat sangat. Hilang sudah topeng ketengilannya, menyisakan sepasang mata remaja itu yang sarat akan rasa bersalah.
"Bang, tunggu, Bang... tolonglah, Bang," rengek Fino memohon sebelum Athur benar-benar pergi.
"Daripada gue di rumah cuma diam diri nggak berguna selama seminggu ini, gue boleh kerja ya? Di kafe atau apalah, Bang. Kenalan Abang di luar sana kan banyak, taruh gue di mana aja juga boleh deh. Gue pengin kerja... biar gue tahu gimana rasanya cari uang, Bang. Biar gue bisa ngerasain sendiri secapek apa Kak Rara selama sepuluh tahun ini berjuang sendirian buat gue sama Nina."
Athur tertegun. Kalimat tulus Fino menghantam ulu hatinya dengan telak. Ia menghela napas panjang, dan untuk sesaat, ia tidak bisa membayangkan seberapa berat beban yang dulu dipikul oleh istri kecilnya, Rara, hingga adiknya memiliki kedewasaan sedalam ini di balik sifat urakannya.
Athur menepuk pundak Fino sekali lagi, tatapan matanya melembut. "Akan ku pikirkan dulu. Sekarang, masuk dan obati lukamu."
Setelah Fino mengangguk pasrah, Athur melangkah keluar dengan tekad yang semakin bulat untuk menyelesaikan kekacauan ini.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Hermawan, atmosfer terasa begitu pekat dan mencekam. Alden baru saja melangkah masuk melewati pintu utama dengan tubuh lunglai. Namun, baru beberapa langkah di ruang tamu, ia langsung membeku.
Tuan Besar Ghanesa Kaelan sang Ayah yang merupakan figur otoriter dan tegas sudah berdiri tegak di sana menunggunya. Sepasang mata elang pria paruh baya itu menatap dingin ke arah wajah Alden yang babak belur. Tidak ada riak keterkejutan di wajah sang Ayah. Bagaimanapun, sebagai mantan penguasa jaringan bisnis besar, ia selalu memiliki mata-mata untuk memantau setiap jengkal pergerakan anak-anaknya, meskipun selama ini ia selalu berusaha bersikap tidak tahu apa-apa di depan istrinya.
Dengan suara berat yang menekan, sang Ayah langsung menatap Alden. "Kenapa dengan mukamu?"
Alden menunduk, meremas tali tas sekolahnya.
"Berantem, Pa."
"Bagus ya. Disuruh sekolah mahal-mahal, malah asyik baku hantam di koridor seperti preman pasar," sindir sang Ayah dengan nada sarkastik yang menusuk ego Alden.
"Kau pikir Papa membangun nama baik keluarga ini untuk dipermalukan oleh kelakuan kekanak-kanakanmu, Alden?! Menantang anak kelas satu sampai memicu pembatalan beasiswa orang lain, apa itu yang Papa ajarkan?!"
Alden tersentak, ia mendongak dengan wajah pucat. "Pa, tapi cowok itu duluan yang—"
"Diam! Papa tidak butuh alasan sampahmu!"
gertak sang Ayah, meledak-ledak menumpahkan otoritasnya hingga ruangan itu senyap seketika.
Namun, di tengah interogasi yang mendidih itu, pandangan sang Ayah tiba-tiba teralih ke arah pintu masuk utama. Sepasang alis tebalnya bertaut saat melihat sosok tegap yang baru saja melangkah masuk dengan aura dingin yang tak kalah pekat. Itu Athur. Sosok anak sulungnya yang sudah hampir satu bulan menghilang tanpa kabar pasca-insiden penembakan.
Sang Ayah mendengus sinis, mengalihkan seluruh amarahnya pada Athur. "Akhirnya... ingat rumah juga kau. Ikut Ayah ke ruang kerja sekarang, ada hal penting yang harus kita selesaikan."
Athur menghentikan langkahnya sejenak. Sebelum berbalik mengikuti langkah kaki sang Ayah, matanya sempat melirik tajam ke arah Alden yang berdiri kaku dengan wajah babak belur. Di dalam hatinya, Athur mendengus takjub sekaligus jengkel.
“Gila... kedua adik gue bener-bener membuat gue takjub hari ini. Yang satu babak belur di sofa kontrakan, yang satu lagi babak belur di mansion mewah,” batin Athur menggelengkan kepala melihat kelakuan dua remaja yang baku hantam demi satu gadis yang sama.