NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Rasa Asing

...

Aroma detergen murahan yang menyengat bercampur uap panas dari mesin setrika raksasa memenuhi ruang binatu Lembaga Pemasyarakatan Cheongju. Di tempat ini, ratusan potong seragam tahanan dan seprai diproses setiap harinya. Suara bising dari drum mesin cuci yang berputar konstan beradu dengan desis mesin uap, menciptakan atmosfer pengap yang membuat dada terasa sesak.

Marysa berdiri di depan bak cuci beton yang panjang, mengucek tumpukan kain kasar dengan kedua tangannya yang kini mulai melepuh dan memerah. Sabun batangan yang korosif mengikis permukaan kulit jarinya, meninggalkan rasa perih yang menjalar setiap kali terkena air dingin. Namun, ekspresi wajahnya tetap datar, seolah rasa sakit fisik itu hanyalah gangguan kecil yang tidak berhak mengusik ketenangannya.

Di sebelah kanannya, Chae-won berdiri sambil bersandar pada meja sortir pakaian. Matanya yang licik terus mengawasi setiap pergerakan Marysa, mencari celah untuk menyulut sumbu kepuasan sadisnya.

"Hei, mantan ratu Gangnam," panggil Chae-won, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh tahanan lain di sekitar mereka. "Kudengar kamu dulu punya ratusan anak buah yang siap mencuci kakimu setiap malam. Sekarang, melihatmu mengucek seprai kotor penuh noda muntahan ini... sungguh pemandangan yang sangat menghibur."

Marysa tidak menoleh. Dia terus menggerakkan tangannya, memeras sebuah kain tebal dengan sisa tenaga yang dia miliki. Sudut bibirnya yang membiru sejak kemarin terasa kaku, namun seulas senyuman tipis yang dingin tetap terukir di sana senyuman yang selalu berhasil memicu amarah orang-orang yang ingin melihatnya menangis.

Melihat respons diam dari Marysa, Chae-won merasa harga dirinya diinjak-injak. Dia melangkah mendekat, lalu dengan sengaja menendang ember plastik penuh air sabun kotor di samping kaki Marysa hingga tumpah membanjiri lantai beton.

"Aku bicara padamu, jalang!" bentak Chae-won. Dia mencengkeram bagian belakang kerah baju tahanan Marysa dan menariknya kasar, memaksa Marysa menjauh dari bak cuci.

Tubuh Marysa yang belum sepenuhnya pulih dari siksaan semalam terhuyung ke belakang. Sebelum dia sempat menyeimbangkan diri, salah satu anak buah Chae-won yang bertubuh besar menjegal kakinya dari belakang. Bukannya tidak bisa melawan. Ia merasa jika wanita gilani didepannya ini bukan tandingannya. Tch!

Brak!

Marysa jatuh terduduk di atas lantai beton yang basah dan licin oleh air sabun. Rasa nyeri yang luar biasa kembali menghantam tulang rusuknya, membuat pandangannya sempat menggelap selama beberapa detik. Napasnya tercekat, dan sekat dadanya terasa seperti dihantam balok kayu besar.

Chae-won berjongkok di hadapan Marysa yang masih meringkuk memegangi perutnya. Dengan gerakan kasar, dia menjambak rambut hitam Marysa hingga wajah pucat wanita itu terdongak. "Kamu pikir senyuman sok suci itu bisa menyelamatkanmu di sini? Di tempat ini, kamu tidak lebih dari sekadar sampah yang menunggu membusuk!"

Di saat yang sama, di balik kaca tebal koridor pengawas yang terletak agak tinggi di atas ruang binatu, Herry sedang berjalan bersama Kepala Sipir Penjara. Dia baru saja menyelesaikan penandatanganan berkas pelimpahan fisik tahanan politik dan berencana untuk segera kembali ke Markas Pusat Kepolisian Seoul.

Langkah kaki Herry yang tegap mendadak melambat ketika matanya menangkap keributan di sudut ruang binatu. Melalui kaca transparan itu, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Marysa sedang terduduk di lantai, dikerumuni oleh beberapa tahanan bertubuh kekar, dengan rambut yang dicengkeram kasar oleh narapidana bernama Chae-won.

Herry menghentikan langkahnya sepenuhnya. Sepasang matanya yang sedingin es menyipit tajam, mengunci fokus pada sosok Marysa yang tampak begitu rapuh di bawah intimidasi fisik tersebut.

"Ah, Kapten Herry, abaikan saja mereka," ujar Kepala Sipir yang menyadari perubahan arah pandang Herry. Pria paruh baya itu terkekeh hambar, mencoba mencairkan suasana. "Tahanan baru, apalagi yang dulunya punya nama besar di luar, memang selalu butuh waktu untuk 'dididik' oleh senior di sini. Itu hal yang biasa untuk menekan ego mereka agar tidak membuat kekacauan yang lebih besar."

Herry tidak merespons ucapan Kepala Sipir. Wajahnya tetap kaku, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Secara logika dan profesionalisme sebagai seorang polisi, dia tahu dia harus acuh. Tugasnya telah selesai begitu palu hakim diketuk dua minggu lalu. Marysa adalah seorang kriminal, kepala klan mafia kejam yang bertanggung jawab atas banyak kekacauan di Seoul. Apa yang terjadi padanya di dalam penjara adalah urusan internal lembaga pemasyarakatan, bukan urusannya lagi.

Herry menarik napas dalam-dalam, berniat untuk memalingkan wajah dan melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Namun, tepat sebelum dia membalikkan tubuh, dia melihat Marysa mendongak menatap Chae-won.

Di bawah cengkeraman kasar pada rambutnya, di sela-sela sudut bibirnya yang kembali merembeskan darah segar, Marysa... tersenyum.

Itu bukan senyuman menantang seorang psikopat, bukan pula senyuman menyerah. Itu adalah senyuman yang sangat aneh indah, namun menyimpan kegetiran yang begitu pekat dan mendalam. Sebuah senyuman yang entah bagaimana terasa sangat familier bagi sesuatu yang jauh di lubuk hati Herry.

Deg.

Satu denyutan tajam tiba-tiba menghantam dada Herry, diikuti oleh rasa pening yang mendadak menyerang pelipisnya. Kilasan-kilasan abstrak yang buram kembali berputar di dalam kepalanya dalam hitungan detik suara deru ombak, bau garam, rasa dingin yang membekukan kulit, dan sepasang mata kelam yang menatapnya dengan penuh kecemasan di tengah kegelapan malam.

Herry memegangi pelipisnya dengan tangan kiri, rahangnya mengeras kuat menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang menyerang kepalanya. Jantungnya berdegup dalam ritme yang tidak beraturan, memicu rasa resah yang luar biasa yang tidak mampu dia jelaskan dengan logika penalarannya.

Ada apa dengan diriku? batin Herry, frustrasi.

Dia bingung. Kenapa melihat wanita mafia itu disiksa membuat hatinya merasa begitu tidak tenang? Kenapa senyuman kecut dari bibir yang membiru itu memicu badai emosi yang sangat asing di dalam dirinya? Dia adalah Herry, detektif terbaik yang terkenal berdarah dingin dan tidak pernah goyah oleh apa pun. Tapi mengapa sekarang, dinding pertahanan yang dia bangun bertahun-tahun rasanya seperti retak hanya karena melihat seorang tahanan wanita yang tidak berdaya?

"Kapten Herry? Anda tidak apa-apa? Wajah Anda terlihat sangat pucat," tanya Kepala Sipir dengan nada cemas, melihat sang kapten yang mendadak meremas kertas berkas di tangannya hingga kusut.

Herry langsung menurunkan tangannya dari pelipis. Dia memejamkan mata sejenak, mengusir paksa rasa pening dan keresahan konyol yang baru saja mengacaukan fokusnya. Ketika dia membuka mata kembali, tatapan dingin dan asing yang biasa dia tunjukkan telah kembali mengunci manik matanya. Es di dalam dirinya kembali membeku, menutup rapat celah emosi yang sempat terbuka.

"Saya tidak apa-apa. Hanya kurang tidur," jawab Herry, suaranya terdengar sangat datar, berat, dan tanpa riak. Dia memalingkan wajahnya sepenuhnya dari kaca pengawas ruang binatu, menolak untuk melihat ke arah Marysa lagi. "Mari kita lanjutkan. Saya harus segera kembali ke markas sebelum jam makan siang."

Herry melangkah pergi, membiarkan sepatu larsnya berketuk tegas di atas lantai koridor. Dia memilih untuk bersikap acuh, menekan rasa resah yang masih berdenyut di dadanya ke dasar ketidaksadarannya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu hanyalah bagian dari masa lalu kriminal kota ini yang sudah selesai dia bersihkan. Bulan depan dia akan bertunangan dengan Jessica Hwna won, dan hidupnya yang sempurna sudah terjadwal rapi tanpa perlu diusik oleh bayang-bayang seorang ratu mafia.

Sementara itu, di bawah sana, Chae-won yang kesal karena Marysa tetap tersenyum meskipun rambutnya dijambak, akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Marysa terhentak kecil.

"Benar-benar wanita gila," desis Chae-won sambil meludah ke lantai. "Bersihkan air yang tumpah ini sampai kering, atau aku akan memastikan kamu tidur di dalam kamar mandi malam ini!"

Chae-won dan komplotannya melangkah pergi, meninggalkan Marysa sendirian di atas lantai beton yang basah dan dingin.

Marysa perlahan mengubah posisinya menjadi berlutut. Dia menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu matanya secara tidak sengaja mendongak ke arah kaca pengawas di atas sana. Kaca itu kosong. Pria berseragam kepolisian yang beberapa saat lalu berdiri di sana memperhatikan keributan kini telah lenyap.

Marysa mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat di dalam dadanya. Senyuman di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan kosong yang menatap pantulan dirinya sendiri di genangan air lantai yang kotor.

Dia tahu Herry sempat melihatnya. Dia tahu pria itu menyaksikan bagaimana dia diperlakukan buruk. Dan kenyataan bahwa Herry memilih untuk berbalik dan berjalan pergi tanpa melakukan apa pun bahkan sebagai seorang penegak hukum yang bertugas menegaskan kembali posisi Marysa di dalam hidup pria itu. Dia bukan siapa-siapa lagi. Dia hanyalah seonggok daging tak berharga yang tidak berhak mendapatkan perhatian, apalagi perlindungan dari sang kapten.

Pikiran menumpuk itu sangat bahaya, Nak... kata-kata almarhum ibunya kembali berbisik lembut di telinganya, mencoba menenangkan badai yang sedang merobek jiwanya.

Marysa memejamkan mata, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar karena hawa dingin dari air sabun yang membasahi pakaian tahanannya. Di dalam labirin penjara yang gelap dan lambat ini, dia menyadari satu hal, rasa sakit fisik akibat pukulan Chae-won sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa dingin yang ditinggalkan oleh tatapan acuh pria yang dunianya pernah dia selamatkan lima tahun lalu.

...

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!