Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 ~ Mandul
Suara kecil Samuel membuat Ayra buru-buru menghapus air matanya.
Wanita itu segera berbalik lalu memaksakan senyum diwajahnya, meski matanya masih terlihat merah.
“Mama nangis ya?” tanya Samuel polos.
Tangan kecil bocah itu terangkat pelan, mengusap pipi Ayra yang masih basah oleh air mata.
“Mama nangis kalena Papa malah ya?”
Dada Ayra kembali terasa sesak.
Namun wanita itu tetap menggeleng pelan sambil menggenggam tangan kecil Samuel lalu menciumnya lembut.
“Tidak sayang…” jawabnya lirih. “Papa cuma capek.”
Samuel menatap mamanya cukup lama, seolah belum benar-benar percaya.
“Mama…” panggilnya pelan lagi.
“Hem?”
“Sam tidak suka sama Tante Shella. Soalnya gala-gala Tante Shella, Papa sama Mama jadi beltengkal..."
Ayra terdiam.
“Sam tidak mau Tante Shella kesini lagi.”
Tatapan Ayra perlahan melembut. Entah kenapa ucapan polos anak kecil itu justru membuat hatinya semakin nyeri.
Wanita itu mengusap rambut Samuel hati-hati lalu mengangguk kecil. “Iya sayang…”
Samuel tampak sedikit lega setelah mendengar jawaban itu. Bocah kecil tersebut kemudian memeluk lengan Ayra pelan sambil memejamkan mata sebentar.
Tak lama kemudian, suara pintu kembali terdengar.
Seorang dokter bersama dua perawat masuk kedalam ruang rawat sambil membawa map pemeriksaan.
“Selamat pagi,” sapa dokter itu ramah.
Ayra langsung berdiri dari kursinya.
“Pagi Dok…”
Dokter mendekati ranjang Samuel lalu mulai memeriksa kondisi bocah itu. Salah satu perawat mengecek tekanan darah dan suhu tubuh Samuel, sementara dokter menyorotkan senter kecil kemata Samuel untuk memastikan responnya baik.
“Pusingnya masih terasa?” tanya dokter lembut.
Samuel mengangguk kecil. “Sedikit…”
“Masih mual?”
Bocah itu kembali menggeleng pelan.
Dokter tersenyum tipis lalu menutup alat pemeriksaannya.
“Keadaannya jauh lebih baik dibanding semalam,” ujar dokter itu sambil menatap Ayra. “Syukurlah respon tubuhnya bagus setelah transfusi.”
Seketika wajah Ayra sedikit lega.
“Kalau kondisinya stabil sampai nanti sore, kemungkinan besok pasien sudah boleh pulang,” lanjut dokter tersebut.
“Benarkah, Dok?” tanya Ayra cepat.
Dokter mengangguk.
“Tapi tetap harus banyak istirahat dulu dirumah. Jangan terlalu aktif selama beberapa hari.”
Ayra mengangguk berkali-kali.
“Terima kasih banyak, Dok…”
Setelah memberi beberapa penjelasan tambahan, dokter dan perawat akhirnya keluar kembali dari ruangan.
Suasana kembali tenang. Samuel yang sejak tadi mendengar percakapan itu langsung menatap Ayra dengan mata berbinar kecil.
“Besok kita pulang?”
Ayra tersenyum lembut lalu mengusap pipi putranya. “Iya sayang…” bisiknya pelan. “Besok kita pulang.”
kemudian pintu ruang rawat kembali terbuka.
Namun kali ini, wajah yang muncul dibalik pintu langsung membuat Samuel tersenyum lebar.
“Oma?!”
“Ooh, Samuel cucu Oma sayang…” wanita paruh baya itu langsung berjalan cepat mendekat lalu memeluk tubuh kecil Samuel hangat.
“Oma, Samuel kangen…” rengek Samuel manja sambil membalas pelukannya.
“Oma juga kangen. Kamu malah bikin Oma takut begini…” ucap Nyonya Ratna gemas sambil mengusap pipi cucunya.
“Samuel nggak apa-apa, Oma. Kata Papa Samuel anak hebat!”
“Tentu saja!” sahut Oma Ratna bangga. “Kamu memang mirip sekali sama papamu.”
Wanita itu lalu membuka tas branded ditangannya dan mengeluarkan beberapa coklat mahal. “Nih, Oma bawakan coklat buat Samuel.”
“Waaahh… coklat!” mata Samuel langsung berbinar senang.
Namun sebelum coklat itu dibuka, Ayra buru-buru mendekat.
“Maaf, Ma… tapi Samuel belum sarapan. Jadi jangan makan coklat dulu ya sayang…” ucap Ayra lembut sambil mengambil coklat itu lalu meletakkannya diatas meja.
Seketika wajah Oma Ratna berubah tidak senang. “Kamu ini berlebihan sekali, Ayra. Ini cuma coklat!”
“Iya, Ma. Tapi nanti pasti akan aku berikan setelah Samuel selesai sarapan…” jawab Ayra masih sabar.
Namun Oma Ratna langsung berdiri dari duduknya.
“Keterlaluan!” bentaknya.
“Aku cuma kasih coklat untuk cucuku, anak dari putraku! Tapi kamu malah menyingkirkannya!”
Deg.
Ucapan itu membuat dada Ayra terasa sesak.
Semua orang tahu Samuel adalah anak adopsi mereka. Tapi cara Oma Ratna mengatakannya seolah Samuel benar-benar darah daging keluarga Arga.
“Aku cuma meletakkannya di meja, Ma. Mama tidak perlu berlebihan seperti ini…”
“Berlebihan katamu?!” tunjuk Oma Ratna tajam. “Wanita yang tidak pernah melahirkan anak dari rahimnya sendiri memang tidak akan mengerti kasih sayang seorang ibu!”
Ucapan itu menusuk tepat dihati Ayra.
Namun ditengah rasa sakitnya, hal pertama yang dilakukan Ayra justru menutup kedua telinga Samuel agar anak itu tidak mendengar semuanya.
“Cukup, Ma!” suara Ayra akhirnya naik. “Jangan bicara seperti itu didepan Samuel.”
“Memang benar!” balas Oma Ratna tanpa peduli. “Bagaimana Tuhan mau memberimu anak kalau menjaga Samuel saja tidak becus!”
Ayra langsung memejamkan matanya sesaat menahan emosi.
“Hari ini kalau bukan karena Shella yang memberi tahu Mama soal Samuel, Mama bahkan tidak tahu cucu Mama masuk rumah sakit!”
Deg.
Shella? Lagi-lagi nama itu.
Dan entah kenapa, Ayra mulai merasa semua orang disekeliling Arga begitu dekat dengan wanita itu. Kecuali dirinya sendiri.
“Sam butuh istirahat. Lebih baik Mama pulang sekarang,” ucap Ayra dingin.
“Kamu mengusir Mama?! Dasar menantu tidak tahu diri!”
“Aku tidak mengusir Mama. Tapi Samuel harus istirahat.”
“Cih! Wanita mandul sepertimu memang tidak pantas jadi ibu!”
Setelah mengatakan itu, Oma Ratna langsung pergi keluar dari ruang rawat.
Brakk. Pintu tertutup keras. Ruangan langsung sunyi.
Ayra menghembuskan nafas panjang sebelum perlahan melepaskan tangannya dari telinga Samuel.
Bocah itu langsung mendongak menatap wajah mamanya polos.
“Hali ini semua olang beltengkal gala-gala Samuel ya, Ma?”
Ayra menatap bola mata itu, tapi tidak menjawabnya. Wanita itu langsung memeluk tubuh kecil Samuel erat.
••
••
Keluar dari rumah sakit, Nyonya Ratna langsung menghubungi putranya.
“Arga, Ayra sudah keterlaluan!” ucapnya tanpa basa-basi begitu telepon tersambung.
“Tunggu dulu… ada apa ini?” suara Arga terdengar cemas dari seberang.
“Mama hanya memberikan coklat untuk Samuel, tapi Ayra malah membuangnya! Dia juga mengusir Mama dari rumah sakit! Istrimu itu benar-benar tidak sopan!” cerocos Nyonya Ratna penuh emosi.
Diruang kerjanya, Arga langsung mengusap pelipis kasar. Seolah masalahnya dengan Ayra akhir-akhir ini begitu banyak.
“Ayra tidak akan melakukan itu kalau Mama tidak membuat masalah…”
“Jadi sekarang kamu lebih membela istrimu ketimbang mamamu sendiri? Orang yang sudah melahirkan kamu?!” nada suara Nyonya Ratna langsung meninggi.
“Bukan begitu. Tapi Ayra bukan wanita seperti itu, Ma…” jawab Arga lelah.
“Halah! Kamu selalu saja membelanya! Kamu juga sama saja!” dengus Nyonya Ratna kesal.
Arga menghembuskan nafas panjang. Kepalanya terasa semakin berat sejak pagi tadi.
“Baiklah. Nanti aku akan bicara pada Ayra tentang hal ini.” ucapnya akhirnya pelan
“Memang seharusnya begitu!” ketusnya sebelum langsung menutup sambungan telepon.
Tut.
Arga menatap layar ponselnya beberapa detik dalam diam sebelum akhirnya melempar tubuhnya bersandar dikursi kerja.