NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Umi Salma memejamkan mata menahan rasa nyeri di dadanya sendiri. Sebagai perempuan, beliau tahu pengkhianatan setelah kehilangan anak adalah luka yang sangat kejam. “Sudah…” bisiknya lembut sambil terus mengusap kepala Amira. “Keluarkan semuanya.”

Amira menangis sepuasnya. Tentang Mirza. Tentang Nurul. Tentang rumah tangganya yang hancur. Tentang rasa bodoh karena terlalu percaya. Semua keluar bersama air mata yang tidak berhenti. Dan Umi Salma tidak menyela sedikit pun. Beliau hanya memeluk Amira erat. Memberi ruang bagi perempuan itu untuk hancur tanpa dihakimi.

Sampai akhirnya tangis Amira perlahan melemah karena kelelahan sendiri. Napasnya masih tersengal. Matanya bengkak dan merah. Namun untuk pertama kalinya sejak kemarin dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Umi Salma mengusap pipi Amira pelan. “Dengar Umi baik-baik, Mira…”

Amira menunduk diam.

“Perempuan yang disakiti bukan berarti perempuan gagal.”

Air mata Amira jatuh lagi.

“Dan laki-laki yang berselingkuh…” suara beliau mulai lebih tegas, “bukan berarti istrinya kurang.”

Kalimat itu menghantam tepat ke hati Amira. Karena sejak tahu pengkhianatan Mirza diam-diam ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Merasa kurang cantik. Kurang melayani. Kurang pantas dicintai. Padahal bukan itu masalahnya.

“Jangan hukum dirimu atas dosa orang lain.” Umi Salma kembali memeluk Amira hangat. “Sekarang kamu istirahat dulu.” Beliau mencium pucuk kepala Amira lembut seperti seorang ibu pada anaknya sendiri. “Biar Allah yang nanti mengurus hatimu pelan-pelan.”

***

Malam itu suasana ndalem jauh lebih tenang. Setelah menangis berjam-jam dan tertidur beberapa saat karena kelelahan, kondisi Amira sedikit membaik. Meski matanya masih bengkak dan dadanya masih sesak.

Tiur datang mengetuk kamar pelan setelah salat isya. “Mbak Amira… Umi memanggil.”

Amira mengangguk kecil. Ia merapikan jilbabnya sebentar lalu berjalan pelan menuju ruang tengah ndalem. Di sana, Umi Salma sudah duduk menunggunya dengan wajah teduh seperti biasa. Di meja tersedia teh hangat dan beberapa camilan ringan. Namun Amira tahu yang ingin dibicarakan malam ini pasti bukan sekadar soal makan.

“Duduk sini, Mira.”

Amira duduk perlahan di depan beliau sambil menunduk sopan. Beberapa detik suasana hening.

Lalu Umi Salma mengusap tangan Amira pelan. “Tadi Umi sudah bicara dengan Usman.”

Amira sedikit tersentak. Entah kenapa dadanya langsung terasa tidak enak.

Namun Umi Salma buru-buru melanjutkan dengan lembut. “Kami cuma khawatir sama keadaanmu.”

Amira menunduk lagi. Air matanya hampir naik.

“Sekarang…” suara Umi Salma pelan namun tegas, “apa pun keputusanmu, kami siap membantu.”

Kalimat itu membuat tenggorokan Amira langsung terasa sesak. Sudah lama sekali ia tidak mendengar seseorang berpihak padanya tanpa syarat. Tangannya gemetar kecil di atas pangkuan. Lalu akhirnya Amira memberanikan diri bertanya pelan, “Bolehkah…” Suaranya langsung pecah. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. “Jika saya tidak ingin bersama suami saya lagi, Umi?”

Umi Salma memandangnya penuh perhatian.

Amira menggigit bibir menahan tangis. “Saya…” napasnya bergetar, “Saya enggak bisa memaafkan dosa zina.” Air matanya jatuh lagi. “Saya sudah mencoba berpikir baik…” suaranya makin lirih, “tapi setiap ingat mereka tidur bersama, otomatis rasa cinta dan penghormatan saya pada suami hilang." Amira menutup wajahnya. Dadanya terasa sakit sekali. “Rasanya hati saya hancur.”

Ruangan menjadi sunyi beberapa saat. Lalu perlahan, Umi Salma menggenggam tangan Amira lebih erat. “Tidak ada yang salah dengan perasaanmu.”

Amira mengangkat wajah dengan mata basah.

Umi Salma tersenyum lembut penuh pengertian. “Dalam agama…” ujar beliau hati-hati, “perempuan yang disakiti punya hak menentukan apakah ingin bertahan atau pergi.”

Air mata Amira kembali jatuh.

“Dan tidak semua luka bisa langsung sembuh hanya karena pelaku meminta maaf.”

Kalimat itu membuat dada Amira terasa hangat sekaligus nyeri. Karena akhirnya ada seseorang yang memahami betapa berat luka yang ia rasakan. “Kalau hatimu memang sudah tidak mampu melanjutkan…” Umi Salma mengusap tangan Amira pelan, “maka jangan paksa dirimu hidup dalam siksaan.” Dalam syariat Islam, kondisi Amira sangat bisa dipahami. Bahkan secara fikih dan akhlak, luka yang ia rasakan termasuk luka berat dalam rumah tangga. Keputusan untuk bertahan atau berpisah sama-sama dibolehkan, tergantung kemampuan hati dan maslahat dirinya.

Tangis Amira kembali pecah pelan. Dan malam itu untuk pertama kalinya ia merasa keputusannya untuk pergi bukanlah dosa.

Umi Salma terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban Amira. Tatapan beliau lembut, tetapi juga penuh pertimbangan. Sebagai perempuan, beliau memahami luka Amira. Sebagai orang yang dituakan di pesantren, beliau juga memahami beratnya keputusan perceraian. Namun yang paling beliau lihat malam ini Amira sudah terlalu hancur untuk dipaksa bertahan.

“Mira…” Umi Salma menggenggam tangan perempuan itu pelan. “Kalau keputusanmu memang sudah bulat…”

Amira menunduk dengan mata berkaca-kaca.

“Maka jangan takut menghadapi prosesnya.” Suara beliau begitu tenang. Dan entah kenapa, itu membuat hati Amira sedikit lebih kuat.

“Saya takut merepotkan, Umi…”

“Tidak.” Umi Salma langsung menggeleng lembut. “Kamu sekarang keluarga kami.”

Kalimat itu membuat mata Amira kembali panas.

Beliau melanjutkan pelan, “Besok Umi akan hubungi pengacara.”

Amira langsung menatap beliau. “Pengacara?”

Umi Salma mengangguk. “Biar kamu didampingi selama proses perpisahan nanti.”

Air mata Amira langsung jatuh lagi. Ia tidak menyangka akan ada seseorang yang membantunya sejauh ini. “Saya…” suaranya bergetar, “saya enggak punya uang sebanyak itu, Umi.”

Umi Salma tersenyum tipis. “Kamu enggak perlu pikirkan itu.”

“Tapi,”

“Mira,” potong beliau lembut, “kamu sedang nifas, baru kehilangan anak, lalu menghadapi pengkhianatan sebesar ini.” Tatapan beliau penuh kasih. “Sekarang tugasmu cuma satu. Istirahat dan pulihkan dirimu.”

Amira menutup mulutnya sambil menangis lagi. Sudah terlalu lama ia merasa harus kuat sendirian. Dan malam ini untuk pertama kalinya ada seseorang yang berkata bahwa ia boleh lemah.

Umi Salma lalu menambahkan dengan nada hati-hati, “Umi juga sudah bicara dengan Usman.”

Amira sedikit tersentak lagi.

“Usman bilang…” senyum kecil muncul di wajah beliau, “kamu tidak boleh menghadapi semua ini sendirian.”

Hati Amira terasa aneh mendengar itu. Karena selama ini, Usman selalu terlihat dingin dan menjaga jarak. Namun rupanya lelaki itu diam-diam tetap peduli pada keadaan dirinya.

“Apalagi,” lanjut Umi Salma pelan, “kamu masih ibu susu Habibi.” Tatapan beliau menghangat. “Dan di rumah ini…” genggaman tangannya menguat lembut, “Kami menjaga orang-orang yang sudah menjadi keluarga kami.”

***

Amira kembali menunduk. Tangisnya belum benar-benar berhenti sejak tadi. Hatinya terlalu lelah. Terlalu lama merasa tidak dianggap berharga oleh orang yang paling ia cintai. Namun malam ini di rumah orang lain justru ia menemukan perlindungan.

Umi Salma mengusap punggung tangan Amira pelan. “Mira…”

Amira mengangkat wajahnya perlahan.

Tatapan Umi Salma begitu hangat. “Kamu perempuan baik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!