NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Confession of The Queen

Dinding baja kapal selam taktis The Leviathan bergetar pelan, menyerap tekanan jutaan kubik air Samudra Pasifik saat mereka menyelam di kedalaman seribu meter di bawah permukaan laut. Di dalam kabin pribadi Aurelia, tidak ada suara raungan sirene militer atau letupan mesiu yang memekakkan telinga. Yang ada hanya keheningan yang intim, diiringi desis halus dari sistem sirkulasi udara dan detak statis dari jam dinding digital.

Cahaya di dalam kabin itu temaram, didominasi oleh pendar redup lampu dinding berwarna amber yang memantul di atas permukaan lantai kayu jati berpelitur. Kael Arden duduk di tepi tempat tidur berukuran besar, bertelanjang dada. Luka tembak di bahu kirinya telah dibersihkan dan dijahit ulang dengan lebih rapi oleh tim medis internal kapal selam, menyisakan balutan perban putih yang bersih.

Di hadapannya, Aurelia Vane berdiri membelakangi Kael. Ia telah menanggalkan gaun satin hitamnya yang ternoda darah, menggantinya dengan jubah sutra longgar berwarna hitam pekat yang mengalir lembut menyentuh mata kakinya. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini digerai bebas, jatuh bergelombang di atas bahunya.

Aurelia memegang sebuah bingkai perak kecil yang selama ini tersimpan di dalam kompartemen rahasia meja riasnya. Itu adalah foto asli yang menjadi sumber dari fail enkripsi digital yang dikirimkan Aurelia ke ponsel pribadi Kael, selembar kertas fisik yang menjadi jangkar emosional dari seluruh permainan taktis mereka selama ini.

"Kau selalu mengingat citra ini, Kael," suara Aurelia membuka keheningan. Suaranya tidak lagi membawa nada perintah yang mengintimidasi seperti saat ia berada di atas takhta Mafia Summit. Suaranya terdengar sunyi, hampir rapuh, sebuah nada yang belum pernah didengar oleh satu manusia pun di bumi ini.

Kael tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari tepi tempat tidur, melangkah perlahan tanpa alas kaki di atas lantai yang hangat. Langkahnya mantap, mendekati posisi Aurelia dari belakang hingga bayangan tubuh tegapnya membungkus siluet wanita itu. Kael tidak lancang menyentuhnya; ia hanya berdiri di sana, menjadi pelindung yang kokoh di balik punggung sang Ratu.

"Aku tidak akan pernah melupakannya, Aurelia," bisik Kael rendah, matanya menatap pantulan wajah Aurelia di cermin besar di depan mereka. "Fail enkripsi pertama yang kau kirimkan padaku... foto masa kecilmu dengan latar belakang mengerikan itu. Itu adalah umpan pertama yang membuatku terjak dalam obsesi ini."

Aurelia membalikkan tubuhnya perlahan, menyerahkan bingkai foto perak itu ke tangan Kael. Kael menatap lembaran fisik tersebut. Di dalam foto asli yang tersimpan di kompartemen ini, terlihat jelas kontras yang mengerikan. Di bagian depan, tampak seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun dengan gaun putih sederhana, berdiri di samping seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan senyum hangat yang merangkul pundaknya. Pria itu adalah Arthur Vane, pendiri awal Vane Group.

Namun, latar belakang foto itu adalah visualisasi dari neraka dunia nyata, sebuah gedung panti asuhan bergaya kolonial yang megah sedang dilahap oleh kobaran api raksasa. Jilatan api merah jingga dan kepulan asap hitam pekat yang membubung tinggi terabadikan dengan sangat jelas, menciptakan kontras yang gila antara senyuman hangat sang ayah angkat dan kehancuran masif di belakang mereka. Setengah dari sudut kanan foto itu bahkan memiliki tekstur kasar dan kehitaman, bekas hangus terbakar yang hampir melenyapkan figur mereka berdua.

"Gedung yang terbakar itu adalah Panti Asuhan Saint Jude di pinggiran ibu kota dunia atas," Aurelia memulai ceritanya, matanya menatap kosong ke arah jilatan api abadi di dalam foto tersebut. "Dan foto ini diambil beberapa menit sebelum seluruh kompleks itu runtuh menjadi tanah. Foto ini bukan sekadar kenangan, Kael. Ini adalah bukti orisinal dari kejahatan yang dihapus oleh sejarah resmi negaramu."

"Dua puluh tahun yang lalu, panti asuhan itu adalah kedok bagi para pejabat korup parlemen, termasuk Frederick Vance muda untuk melakukan eksperimen keuangan gelap dan perdagangan pengaruh," lanjut Aurelia, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang pahit. "Ayah angkatku, Arthur, adalah seorang idealis yang mencoba membongkar jaringan busuk itu. Malam ketika ia siap menyerahkan seluruh dokumen itu, mereka mengunci pintu dari luar, menyiram bensin, dan membakar gedung itu bersama puluhan anak yatim piatu di dalamnya."

Aurelia jeda sejenak. Ia membalikkan tubuh sepenuhnya menghadap Kael, menatap pria itu dengan sepasang mata obsidian yang perlahan digenangi emosi yang selama belasan tahun ia kubur dalam-dalam.

"Kau tahu, Kael...?" suara Aurelia bergetar pelan, sekat pertahanannya runtuh berantakan di hadapan sang Perdana Menteri. "Kau tahu berapa banyak yang harus kubunuh? Berapa banyak kepala yang harus kupenggal, berapa banyak pengkhianat di lingkaran dalam yang harus kueliminasi, dan berapa banyak darah yang harus tertumpah di atas tanganku hanya untuk membuat para serigala di dunia bawah itu tunduk dan mencium kakiku?"

Aurelia melangkah maju, mencengkeram jemari Kael yang memegang foto itu. Napasnya memburu kencang.

"Seorang gadis kecil... sendirian melakukan itu semua. Tanpa perlindungan siapa pun, di tengah-tengah monster berdarah dingin yang siap mencabikku setiap kali aku berkedip. Aku harus melupakan cara menangis, aku harus terbiasa mencium bau besi darah setiap fajar menyingsing," bisik Aurelia dengan kepedihan sekaligus keganasan yang telanjang. "Dan sekarang, setelah semua penderitaan ini, kau datang ke duniaku dan menghancurkan seluruh hidupmu demi aku. Katakan padaku, Kael Arden... apakah aku benar-benar bisa mempercayaimu?"

Aurelia menatap lurus ke dalam manik mata elang Kael, mencari sisa kebohongan yang mungkin masih tersisa dari seorang politisi ulung.

"Apakah kita bisa bersatu selamanya? Melepaskan topeng-topeng sialan kita, kembali ke atas sana, dan menghukum para koruptor kotor itu dengan hukum yang kita buat sendiri? Hukum yang tidak bisa dibeli oleh uang Vane Group maupun retorika politik parlemenmu?"

Kael Arden membeku sejenak, mendengarkan setiap desis emosi yang keluar dari bibir sang Ratu. Rasa sakit di bahunya menguap, digantikan oleh gelombang rasa posesif yang teramat gila sekaligus rasa hormat yang mendalam pada wanita di hadapannya. Ia menjatuhkan foto perak itu ke atas meja, lalu menangkap kedua belah pipi Aurelia dengan tangan kanannya yang besar dan hangat. Kael menarik wajah Aurelia mendekat, mengunci pandangan mereka dalam jarak yang teramat intim, hingga udara di antara mereka terasa memanas.

"Kau tidak akan pernah sendirian lagi, Aurelia. Cukup belasan tahun itu kau merangkak di dalam kegelapan sendirian," ujar Kael dengan nada yang teramat tulus, suara parau yang bergetar oleh komitmen yang sakral dan mutlak. "Aku menyembunyikan asal-usulku, menghapus air mataku sendiri saat melihat sistem hukum menghancurkan orang-orang kecil, semua demi memegang pena yang menulis hukum itu sendiri. Aku merangkak di antara ular-ular parlemen hanya untuk mencapai kursi Perdana Menteri agar memiliki kekuatan untuk meremukkan mereka."

Kael merengkuh pinggang Aurelia dengan sentuhan posesif, menarik tubuh ramping wanita itu hingga menempel sepenuhnya pada dada bidangnya yang hangat.

"Kau bisa mempercayaimu dengan seluruh sisa hidupmu, Ratu," desis Kael tepat di depan bibir Aurelia, matanya menyala oleh api obsesi dan ketulusan yang murni. "Kita akan bersatu selamanya. Kita tidak akan bersembunyi di bawah laut ini seperti pecundang. Kita akan kembali ke dunia atas, membawa seluruh taring dari dunia bawah, dan menulis ulang konstitusi. Kita akan membersihkan Frederick Vance dan setiap bajingan korup yang telah membakar panti asuhanmu. Kita akan menghukum mereka dengan hukum baru... hukum milik kita berdua."

Aurelia menatap Kael, merasakan ketulusan pria itu merayap masuk ke dalam relung hatinya yang paling dingin, mencairkan sisa-sisa dinding pertahanan ego yang selama ini mengurungnya dalam kesunyian. Sang Ratu Dunia Bawah akhirnya menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada obsesi gila sang Perdana Menteri.

Kael tidak lagi menunggu. Ia meraup bibir Aurelia dalam sebuah ciuman yang dalam, sensual, dan penuh dengan penyerahan jiwa yang mutlak. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi umpan enkripsi digital. Di kedalaman Samudra Pasifik, di bawah tekanan jutaan kubik air, sepasang predator tertinggi telah menyatukan takdir mereka untuk membakar dan membangun kembali sebuah peradaban baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!