Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Penyelewengan Pak Rehan
Di salah satu rumah kecil yang ada di kampung sudut kota, seorang ayah duduk lama di kursi kayu yang sudah mulai retak. Tangannya menggenggam lembaran tagihan sekolah anaknya yang belum bisa ia lunasi. Pria itu sudah berusaha bekerja keras sepanjang hari selama ini, tapi tidak tahu kenapa uang yang didapat seperti tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan.
Pandangan mata pria itu kosong, bukan karena tak ada harapan lagi tapi karena rasa hampa yang mendalam. Setiap usaha yang dilakukan setiap saat seperti sia-sia. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk, menyembunyikan rasa lelah yang tidak sempat ia ucapkan kepada siapapun.
DI balik tirai pintu batas ruangan, seorang anak kecil diam-diam mengintip sang ayah dengan mata berbinar tapi juga alis mengerut. Tangan mungilnya terus memainkan ujung kain tirai. Melihat ayahnya merenung, membuat dia merasa khawatir. Sementara, di sebelah tangan kanannya, bocah itu tengah memegang sebuah piagam.
"Mungkin prestasiku bisa membuat ayah merasa lebih baik," ujar bocah itu sambil tersenyum senang dan segera menghampiri pria itu. Langkahnya terdengar cepat dan piagam di tangannya diangkat cukup tinggi, seolah ingin memamerkan hasil yang terbaik untuk ayahnya.
Sesampainya di depan ayah, bocah kecil itu menggoyangkan tangan ayahnya sambil tersenyum lebar.
"Ayah, lihat aku berhasil meraih juara olimpiade matematika!" ucap bocah itu sambil tersenyum bangga. Piagam yang dia pegang, didekatkan pada wajah sang ayah agar bisa dilihat jelas.
Melihat prestasi anaknya, pria itu tersenyum lembut. Dia mengusap rambut bocah itu dengan gemas penuh kasih. "Kerja bagus, Nak. Ayah bangga padamu," balas pria itu sambil mencium pipi anaknya.
Bocah kecil itu masih tersenyum. Dia mengedipkan mata perlahan lalu melirik ke sekeliling ruangan. Pandangannya kembali tertuju pada sang ayah yang masih memperhatikannya.
"Ayah, apa ayah sudah membelikan aku buku baru?" tanya polos bocah itu membuat senyum pria itu memudar. "Terakhir ayah bilang akan membelikan aku buku baru kalau nilaku bagus. Lihat, sekarang aku bahkan juga juara kelas!" tegasnya sekali lagi sambil menunjukkan piagamnya.
Pria itu menghela napas panjang. Dia berusaha menatap lembut wajah polos anaknya itu, meski tatapan matanya terlihat kosong. "Maaf, Nak. Ayah belum bisa menepati janji. Ayah belum ada uang," katanya dengan suara lirih.
Senyum hangat dan ceria di wajah anak kecil itu berubah muram, alisnya bertaut, matanya menyipit, tangan di lipat di depan dada. Dia menginjak lantai kayu dengan kasar karena kesal. Bahkan piagam kesayangannya pun tak sengaja dijatuhkan ke lantai itu. Bocah itu tidak menghiraukannya, dia masih cemberut melihat ayahnya yang juga seperti kesusahan.
"Kenapa ayah harus berjanji jika tidak bisa menepati? Aku sudah berusaha keras untuk mendapat prestasi ini demi ayah. Masa, ayah ingkar janji?" protes bocah itu kesal. Dia memanyunkan bibir dan menatap sembarang arah.
Pria itu menghela napas panjang. Dia mencoba tersenyum walau dipaksa. Tangannya meraih punggung sang anak dengan lembut. Sejenak ia menghela napas sebelum menjawab kekesalan anak kesayangannya itu.
"Ayah berjanji jika ayah ada uang, ayah akan memberikanmu buku yang banyak," ujar pria itu lembut sambil menatap putrinya dengan berbinar.
Putri kecilnya masih tak mau mendengarkan. Dia sepertinya kesal dengan sikap pria itu selama ini. Kepalanya tertunduk dan air mata mulai keluar.
"Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya bocah itu dengan suara lirih. Dia seperti sudah lelah untuk berusaha meraih pressure lagi untuk membuat ayahnya bangga. Ingkar janji yang dilakukan ayahnya membuat dia merasa malas belajar.
Pria itu memeluk putri kecilnya segera dengan erat. Dia berusaha memberikan perhatian pada anak kesayangannya itu. Air mata juga mulai keluar tapi dia berusaha tahan.
"Kamu yang sabar dan semangat ya, Nak. Ayah di sini lagi berjuang buat kamu, demi ekonomi keluarga kita dan demi masa depanmu," tutur pria itu, tegas tapi lembut.
Sang anak hanya diam dan membalas pelukan sang ayah. Mereka pun diam-diam menangis bersama meratapi kesusahan yang terjadi dalam hidup mereka. Sementara di pikiran ayahnya rasa sesak dan sakit terus muncul karena rasa gagal menjadi ayah. Dia berharap keajaiban akan datang tapi itu seperti mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan.
***
Berbeda dengan orang-orang miskin yang kesusahan, Pak Rehan yang selama ini terbiasa hidup mewah tidak pernah merasakan penderitaan. Bahkan sampai dia bisa menjabat sebagai kepala sekolah pun, dia juga sibuk bersenang-senang secara pribadi daripada menolong rakyat yang lebih susah.
Dana bantuan dari wali kota yang seharusnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan anak-anak di sekolah, malah dipotong puluhan persen demi kepuasan pria itu secara pribadi. Bahkan, ada siswa yang pernah mati kelaparan, pria itu saja sekali tidak peduli dan menganggap itu hanya kecelakaan biasa.
Seandainya Pak Rahardian tidak mengunjungi gedung sekolah kemarin, mungkin kepala sekolah itu akan melupakan kewajiban dan tanggung jawabnya selama ini. Namun, kesopanan dan sikap tanggung jawab itu hanya berlangsung sementara waktu saja. Setelah wali kota itu pergi, Pak Rehan kembali bersenang-senang dan mengabaikan semua pekerjaan.
"Pak, ini untuk dana pembangunan sekolah kurang 2 juta, bagaimana?" tanya salah satu staf sekolah pada Pak Rehan.
Pak Rehan mengangkat bahu tak acuh. Dia tersenyum sinis. "Kurang? Ya sudah jangan dilanjut kerja lagi," jawabnya asal.
Staf itu mengerutkan kening. "Apa maksud anda, Pak?" tanyanya sekali lagi dengan rasa penasaran yang sangat dalam. Dia menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Jika tidak dilanjutkan itu bisa membahayakan orang di sekolah."
Pak Rehan tersenyum kecut. "Ya suruh orang jangan lewat ruangan itu, simple. Kenapa hal seringan ini saja kamu bikin rumit sih?" tegurnya.
Staf itu menunduk, dia tidak berani membantah ucapan Pak Rehan walau dalam hati merasa kesal karena dicampakkan. Dia mengepalkan tangan secara diam-diam dan menatap kecewa kepala sekolah itu. Sejenak ia menghela napas panjang sebelum memberanikan diri menatap pria yang duduk di depannya.
"Baik, Pak. Jika itu perintah bapak, kami akan melaksanakan dengan baik. Saya akan memberitahu tukang supaya berhenti bekerja," ujar staf itu dengan suara lirih.
Mendengar itu, Pak Rehan tersenyum. "Nah gitu, dong. Dari tadi kek..."
Setelah itu, staf itupun keluar dan memberhentikan semua tukang yang sedang bekerja merenovasi ruangan. Dia meminta semua untuk pulang dan memberikan upah pada mereka. Tanpa mereka ketahui, bahwa uang yang diberikan itu sudah dipotong banyak oleh pak Rehan.
Diam-diam, Naja memperhatikan itu semua. Dia mengintip dalam wujud khasnya separuh malaikat separuh iblis. Sambil tersenyum sinis dengan tatapan tajam penuh api, saat melihat sikap Pak Rehan yang jahat dan akan membahayakan banyak orang tanpa sadar.
"Oke kalau itu maumu. Aku akan memberimu pelajaran!"