NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13

Jam istirahat tiba, dan seluruh kelas berhamburan keluar menuju kantin. Suasana riuh rendah terdengar di lorong sekolah.

“Jo… Yuk ke kantin,” ajak salah satu teman.

Jolina menatap mereka dingin.

“Kalian duluan aja… Gue masih ada hal yang harus gue urus,” jawabnya singkat. Tatapannya langsung tertuju ke Jeremy.

“Oww… oke… kita duluan ya…”

Dengan cepat, Jolina menghalangi Jeremy dan kedua temannya yang hendak keluar dari kelas. Kakinya diangkat, menutup pintu.

“Astagfirullah… Aurat, neng Jolin…” celetuk salah satu teman mereka, Bagas.

“Eh… Kenapa Lo, Jo?” tanya yang Bara.

“Kalian bisa pergi duluan ga? Gue ada urusan sama Jeremy,” kata Jolina tegas.

“Lo mau ngapain??" Tanya Bara.

"Tau nih, cowok sama cewek berduaan itu bukan mahrom. Ntar di tengahnya setan,” ejek Bagas.

“Iya, Lo setannya!!” Jolina menunjuk bagas, membuat Jeremy dan Bara terkekeh.

“Udah ah, kalian banyak drama,” gumam Jolina sambil menurunkan kakinya, lalu mendorong mereka keluar.

"Eh... eh Jolin, mau Lo apain itu si Jeremy???"

Ia tidak peduli, dengan cepat, ia menutup pintu kelas dan mendorong Jeremy ke arah meja guru.

“Lo itu keterlaluan banget ya? Gue ga habis pikir, tega banget Lo kunciin gue di kamar…” geram Jolina.

“Oh, jadi Lo beneran ke kunci ya? Gue cuma ngetes aja, kirain kuncinya rusak…” sahut Jeremy santai.

“Ga masuk akal banget sih Lo? Lo juga kan yang ambil kunci kamar gue?” Jolina semakin kesal.

Jeremy terkekeh, menggaruk kepalanya. “Yah, gue ketahuan ya… Sorry.”

“Jeremy… Lo keterlaluan banget sih…” Jolina tidak tahan lagi dan langsung meninju Jeremy.

“Aduuuh… Sakit tau,” keluh Jeremy sambil menghindar.

Mereka pun berlarian kejar-kejaran di dalam kelas, tawa dan teriakan bercampur aduk. “Sini Lo, Jeremy!!!” teriak Jolina.

Jeremy menembus pintu kelas dan berlari, Jolina mengejarnya tanpa ampun.

“Balikin kunci kamar gueee…"

"Jeremyyyy!!!” teriaknya.

Mereka terus berlari hingga Jeremy memasuki ruang seni, sebuah ruang yang biasanya dikunci dan hanya digunakan saat pelajaran. Jolina tanpa ragu masuk mengikuti jejaknya.

“Berhenti…” kata Jeremy, mencoba menenangkan situasi.

"Gue ga mau"

"Kita salah masuk ruangan"

Jolina tersenyum, lalu menutup pintu ruang seni.

"Gue ga akan berhenti, gue bakal habisin Lo sekarang juga...

Jolina kembali mengejar Jeremy, Jeremy langsung lari, mereka lari-larian di dalam ruang seni.

"Jo... Udah jo... Ini di ruang seni"

“Gue ga peduli! Serahin diri Lo, atau gue acak-acak ruangan ini sekarang juga!” ancam Jolina, napasnya terengah-engah.

"Iya iya gue balikin kunci kamar Lo, tapi stop kejar gue..."

“Gue mau sekarang…"

"tapi kunci-nya di kamar gue,” jawab Jeremy dengan nafas terengah-engah.

“Lo bohong!"

"Kok bohong sih? Buat apa gue bawa-bawa??” ucap Jeremy.

"Gue ga percaya sama Lo..."

Jolina kembali mengejar, mereka memutari beberapa meja yang di atas nya terdapat patung yang baru setengah jadi dibuat. Jolina kesal dan tanpa sengaja mendorong sebuah meja yang di atasnya terdapat patung karya adik kelas. Suara gemeretak patung yang hampir jatuh membuat Jolina semakin panik.

Dengan sigap, Jeremy menahan patung itu agar tidak pecah. Namun suara Jolina yang terus berisik membuatnya kewalahan. Tanpa pikir panjang, Jeremy menutup mulut Jolina, menariknya ke pelukan, dan mereka bersembunyi di balik meja pameran yang tertutup kain.

Jolina masih gemetar, jantungnya berdetak kencang. Matanya membesar saat melihat tubuhnya di peluk oleh Jeremy, jarak mereka sangat dekat. Mendengar suara langkah kaki semakin mendekat, Jeremy menatapnya dengan serius, memberi kode agar diam. Jolina menelan ludah, merasakan ketegangan yang memuncak. Suara pintu yang terbuka membuatnya hampir menjerit—ia masih teringat bagaimana ia mendorong patung itu tadi?

“Gimana hasil karya anak-anak, Pak?” tanya Bu Dewi antusias.

“Wah, bagus banget… Mereka memang berbakat,” jawab Pak Surya sambil tersenyum bangga.

“Ya kan, Pak? Apa saya bilang… ini benar-benar hasil kerja keras mereka sendiri,” sahut Bu Dewi.

Pak Surya menatap karya-karya di meja. “Wah, jadi kapan nih pamerannya mau diadakan?”

“Saya menunggu persetujuan dari Bapak saja, kapan bisa diadakan,” jawab Bu Dewi sopan.

“Gimana kalau minggu depan? Segera beri tahu anak-anak yang lain untuk menyiapkan karya yang belum selesai, dan juga menghias tempat pameran.”

“Wah, terima kasih banyak, Pak! Saya akan segera memberi kabar pada mereka. Ini berita yang sangat baik… Terima kasih banyak, Pak.”

“Sama-sama, Bu Dewi. Oh iya, ruangan ini tolong dikunci ya, agar tidak dimasuki sembarangan siswa."

“Baik, Pak…”

Jolina menatap Jeremy, seolah berkata, “Di kunci??"

Jeremy tetap menutup mulut Jolina dengan telapak tangannya.

“Eh, Bu Dewi? Sebaiknya patung yang ini diletakkan di meja dekat dinding saja, takutnya kalau di sini jatuh,” saran Jeremy sambil menunjuk.

“Oh iya? Yaudah, nanti saya angkat,” jawab Bu Dewi.

“Eh, jangan… masa perempuan yang angkat? Ini cukup berat…” Pak surya menambahkan, nada suaranya setengah bercanda, setengah serius.

Di bawah kolong meja, Jolina masih berusaha melepaskan tangan Jeremy dari mulutnya.

“Awas kalau Lo teriak,” bisik Jeremy dengan nada menantang.

Jolina menatapnya sinis, lalu memalingkan wajah dan tubuhnya.

“Yaudah, nanti saya suruh anak-anak buat mindahin,” jawab Bu Dewi.

“Ga usah, saya aja yang mindahin,” sahut Pak surya dengan cepat.

“Ah, ngerepotin…” kata Bu Dewi pelan.

“Gapapa, Bu Dewi…” balas pak Surya sambil tersenyum. Bu Dewi pun ikut tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

“Ah, ga masalah… cukup luangkan waktu malam saja, Bu Dewi,” lanjutnya.

"Ah, pak Surya bisa saja... Kalau begitu pak Surya hubungi saya saja"

“Yasudah, kalau gitu saya chat lagi nanti… segera dibalas ya, Bu Dewi.”

“Iya, Pak Surya…”

"Sini kunci nya biar saya yang kunci ruangan ini."

Pak Surya menerima kunci dari Bu Dewi, namun matanya tertuju pada sesuatu di bahu Bu Dewi.

“Eh, apa itu di bahu Bu Dewi?” tanyanya penasaran.

“Ah, apa?” Bu Dewi terlihat bingung.

“Eh, jangan dilihat, biar saya ambil saja,” sahut Pak Surya sambil meraih.

“Astaga! Ulatnya!” teriak Bu Dewi.

Pak Surya mengambil ulat itu, tapi Bu Dewi terkejut dan menjerit, secara tidak sengaja menampar lengan Pak Surya. Ulat itu terlempar ke lantai.

"Eh maaf pak Surya..."

"Gapapa, ga sakit kok"

"Saya takut ulat soalnya"

"Udah ga ada lagi kok"

“Kok bisa ada ulat sih?!” Bu Dewi tampak ketakutan.

“Bu Dewi, habis dari mana?” tanya Pak Surya sambil menenangkan.

“Oh, tadi saya habis dari taman sekolah, nyari udara segar sambil ngerjain tugas… Mungkin di situ kali kena ulatnya,” jawab Bu Dewi sambil menarik napas.

“Tapi terima kasih, Pak Surya…”

“Sama-sama, Bu Dewi. Yuk, bentar lagi bel masuk,” kata Pak Surya. Mereka pun keluar dari ruangan, dan Pak Surya tidak lupa mengunci ruangan tersebut.

Di kolong meja, kekacauan kembali terjadi. Jeremy menutup mulut Jolina dengan tangannya, ulat yang terlempar mengenai tangan Jolina. Ia pasti akan berteriak, pikir Jeremy, sehingga ia segera memeluk Jolina dari belakang untuk menahan suara jeritnya.

Jolina meringis, menepuk-nepuk punggung dan tangan Jeremy.

Jeremy menyingkirkan ulat itu, lalu menurunkan tangannya dari mulut Jolina.

Jolina berbalik dan langsung memukul-mukul dada Jeremy.

“Bisa diem nggak sih?! Lo dari tadi berisik banget. Kalau kita ketahuan gimana?!” bentak Jeremy.

“Gimana bisa diem? Lo nutup mulut gue pakai tenaga dalam, eh… Udah gitu modus lagi peluk-peluk gue,” sahut Jolina, wajahnya memerah.

“Gue nggak modus ke Lo, ya… Jangan GR!” jawabnya Jeremy kesal.

“Intinya Lo udah nyentuh-nyentuh gue,”

“Gue lagi nyelamatin Lo, tapi Lo lasak banget dari tadi. Tangan Lo bisa ngancurin benda-benda di sini. Hati-hati kalau gerak, kita masih di ruang seni,” Jeremy memperingatkan.

Jolina mengabaikan perkataannya, kesal, dan berdiri dengan cepat. Namun sial, kepalanya menabrak meja, membuat patung yang berada di atas meja itu jatuh ke lantai. Jolina menatap patung yang tergeletak, terkejut dan panik.

“Jeremy…” suaranya bergetar.

Jeremy segera keluar dari kolong meja dan menatap patung yang sudah jatuh.

“Astaga, Lo ceroboh banget sih… Ini patung buat pameran!” Jeremy menggeram, menatap Jolina.

“Gue… gue nggak sengaja…” Jolina menunduk, panik.

“Kan udah gue bilang hati-hati,” balas Jeremy tegas, tapi nadanya tidak terlalu marah, lebih ke peringatan serius.

"Sekarang gimana??"

"Argghhhh, Jolina" Jeremy sangat kesal.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!