NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Hari-hari Ani di kampung halamannya berjalan tenang dan damai, setidaknya untuk beberapa minggu pertama. Di rumah, ia disayang dan dilindungi sepenuhnya oleh Ayah dan Ibu. Ia mulai terbiasa dengan ritme hidup baru yang sederhana, bangun pagi menghirup udara segar, membantu mengerjakan pekerjaan rumah, dan beristirahat sepuasnya. Luka di hatinya perlahan mulai mengering, meski bekasnya belum hilang sepenuhnya. Ia berpikir, di tempat yang jauh dari kota besar ini, jauh dari lingkungan Dimas, ia akan benar-benar bebas dari segala urusan dunia. Namun, ia lupa satu hal: di mana pun ada kumpulan manusia, di situ pula akan ada bisik-bisik, pandangan menyelidik, dan gosip yang tak berdasar.

Suatu pagi, Ibu memintanya pergi ke pasar desa untuk membeli keperluan dapur. Dengan senang hati Ani menyanggupi. Sudah lama ia tidak berjalan-jalan di pasar desa yang ramai dan penuh keramaian khas ini. Ia berpakaian sederhana, mengenakan daster katun dan menjinjing keranjang anyaman, berjalan santai menyusuri jalan setapak tanah yang berdebu.

Namun, langkah Ani terhenti perlahan saat ia melewati sekelompok ibu-ibu yang sedang duduk-duduk di beranda rumah Bu Siti, tetangga yang dikenal paling rajin mengumpulkan dan menyebarkan berita—atau lebih tepatnya, gosip—di kampung itu. Begitu melihat sosok Ani mendekat, percakapan mereka yang riuh rendah seketika mereda. Semua mata tertuju padanya, menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa penasaran, iba, dan sesuatu yang lain yang terasa menusuk.

Ani mencoba tersenyum ramah dan menganggukkan kepala sebagai tanda salam, seperti kebiasaan sopan santun yang selalu diajarkan orang tuanya. Namun, sambutan yang ia dapatkan jauh dari hangat. Ada yang hanya membalas senyum sekilas lalu segera membuang muka, ada yang berdeham pelan, dan ada pula yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa kasihan yang justru terasa sangat menyakitkan.

Baru saja Ani berjalan melewati mereka beberapa langkah, bisik-bisik itu mulai terdengar lagi, kali ini sengaja disuarakan sedikit keras agar bisa didengar olehnya.

"Nah, itu dia lho anaknya Pak Harun. Yang dulu nikah sama pegawai kota itu," suara Bu Ratih terdengar jelas, meluncur tajam dari balik punggung Ani. "Kasihan sekali ya... Padahal dulu kan bangga banget, dapat suami orang kota, katanya mapan, berpendidikan tinggi. Siapa sangka sekarang malah pulang ke rumah orang tua lagi. Pasti sudah dibuang, kan?"

"Ya iyalah, Bu. Masak sih istri yang dicintai suaminya dibiarkan pulang ke kampung berbulan-bulan sendirian tanpa dijemput? Belum lagi sudah hampir sebulan ini, enggak pernah terlihat suaminya main ke sini atau sekadar kirim kabar. Pasti sudah ditelantarkan," sahut Bu Yati dengan nada merendahkan, disusul tawa kecil yang terdengar menyindir.

"Memang begitu nasib wanita cantik tapi kurang beruntung," timpal Bu Siti sambil menghela napas berlebihan. "Katanya sih suaminya sudah dapat yang baru, lebih muda, lebih cantik lagi. Makanya dia dibuang seperti barang bekas. Ih, kalau aku jadi dia, malu sekali rasanya. Sudah nikah, eh malah pulang ke pangkuan orang tua lagi. Itu namanya gagal jadi istri, kan?"

Kalimat-kalimat itu menusuk telinga Ani lebih tajam daripada jarum. Kakinya terasa kaku, jantungnya berdebar kencang menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kembali. Ia tahu mereka sedang membicarakannya, membongkar nasib buruknya di depan umum seolah itu adalah tontonan lucu atau berita paling menarik. Kata-kata seperti 'dibuang', 'barang bekas', 'gagal', dan 'malu' berputar di kepalanya, mengembalikan rasa rendah diri yang dulu berusaha ia buang jauh-jauh.

Ani ingin sekali berbalik badan, ingin sekali membantah dan berkata bahwa ia bukan dibuang, tapi ia yang melepaskan. Bahwa ia bukan gagal, tapi ia yang memilih harga diri. Namun, ia sadar, berdebat dengan orang-orang yang hanya ingin mendengar dan menyebarkan keburukan, hanya akan membuang tenaganya saja.

Dengan menelan ludah yang terasa pahit, Ani melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat, menahan air mata yang mulai menggenang. Sepanjang jalan menuju pasar, bisikan-bisikan serupa terus menyambutnya. Ada yang menatapnya dengan pandangan kasihan palsu, ada yang berbisik di telinga tetangganya sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya, seolah kehadirannya di kampung itu adalah sebuah aib besar.

Sesampainya di pasar, tempat yang biasanya riuh dan menyenangkan itu kini terasa menyesakkan bagi Ani. Di setiap sudut, ia merasa ada mata yang mengawasi. Ia mendengar potongan kalimat yang terputus-putus: "Istri yang ditinggalkan...", "Tidak bisa menjaga suami...", "Kasihan, tapi memang begitulah kalau suami di kota...".

Beban di pundak Ani kembali terasa berat. Ia berpikir, apakah kesalahannya begitu besar? Apakah menjadi wanita yang dikhianati adalah dosa yang harus ia bayar dengan menjadi bahan pembicaraan seumur hidup? Ia berjalan pulang dengan langkah gontai, keranjang belanjaannya terasa berat sekali, padahal isinya tidak banyak.

Saat sampai di rumah, Ani langsung masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi. Ia pikir dengan pergi ke kampung halaman, ia akan lupa segalanya, ternyata ia hanya bertemu dengan masalah yang berbeda namun sama menyakitkannya. Rasa sakit karena dikhianati suami saja sudah cukup parah, kini ia harus menahan rasa sakit karena dihina dan dijadikan bahan gosip oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang kebenaran.

Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk pelan. Ibu masuk membawa segelas teh hangat. Begitu melihat wajah anaknya yang sembab dan mata yang bengkak, Ibu langsung mengerti apa yang terjadi. Ia duduk di samping Ani, meletakkan gelas itu, lalu memeluk bahu putrinya dengan lembut.

"Ibu sudah dengar semuanya, Nak... Sepanjang jalan dari pasar tadi, orang-orang memang suka sekali bicara yang bukan-bukan," ucap Ibu pelan, suaranya tenang dan tegas. "Jangan didengarkan ya. Mulut orang memang tidak ada yang bisa menutup rapat. Kalau tidak ada aib, mereka yang bikin aib. Kalau tidak ada berita, mereka yang mengarang berita."

"Tapi Bu... rasanya sakit sekali," isak Ani, menumpahkan keluh kesahnya. "Mereka bilang Ani gagal jadi istri, mereka bilang Ani dibuang karena tidak berguna... Padahal mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu kalau Ani yang memilih pergi karena Ani tidak mau dibohongi dan disakiti terus-menerus. Mereka tidak tahu kalau Dimas yang salah, bukan Ani."

Ibu mengelus punggung tangan Ani dengan lembut, menatap mata anaknya dalam-dalam.

"Nak, dengarkan Ibu. Di mata orang yang sempit pikirannya, wanita yang bercerai atau ditinggalkan selalu dianggap yang salah. Menurut mereka, istri harus sabar seberat apa pun penderitaannya, harus diam sebesar apa pun kesalahan suaminya, baru dianggap istri yang baik. Tapi Ibu tidak berpikir begitu. Ayahmu pun tidak."

Ibu menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Bagi kami, kamu bukan gagal. Kamu justru wanita yang paling berani. Kamu berani meninggalkan tempat yang menyakitimu, berani memilih dirimu sendiri daripada pura-pura bahagia demi omongan orang. Orang-orang itu berbicara karena mereka tidak tahu apa-apa, dan seringkali mereka bicara supaya mereka merasa lebih baik dari orang lain. Jangan biarkan omongan mereka merusak kedamaianmu yang baru kamu dapatkan ini."

"Terus bagaimana caranya Ani tenang, Bu? Setiap kali keluar rumah, tatapan mereka selalu begitu. Bisik-bisik mereka selalu ada. Rasanya Ani seperti orang yang berdosa besar saja," jawab Ani lirih.

"Kamu tidak berdosa, Nak. Kamu korban, tapi kamu korban yang bangkit," kata Ibu tegas. "Caranya cuma satu: buat dirimu sendiri makin bahagia dan makin sukses. Biarkan mereka bicara apa saja, tapi tunjukkan padamu bahwa hidupmu makin indah setelah kamu pergi dari sana. Gosip itu akan mati dengan sendirinya kalau kamu tidak memberinya makan dengan kesedihanmu. Semakin kamu sedih, semakin mereka senang menggunjing. Tapi kalau kamu terlihat kuat, mandiri, dan bahagia, lama-lama mulut mereka akan bungkam sendiri karena iri hati."

Kata-kata Ibu menembus jauh ke dalam hati Ani. Ia menyeka air matanya, mengangguk perlahan. Ia sadar, ia tidak bisa mengubah pikiran atau mulut orang lain, tapi ia bisa mengubah cara pandangnya sendiri. Ia tidak akan membiarkan gosip kosong dan pandangan sinis orang-orang itu meruntuhkan semangatnya yang baru tumbuh kembali.

Mulai hari itu, Ani bertekad dalam hatinya. Ia akan tetap keluar rumah, tetap berjalan tegak, tetap tersenyum, dan tetap melakukan hal-hal baik. Jika mereka bilang ia gagal, ia akan membuktikan bahwa ia bisa sukses membangun hidupnya sendiri. Jika mereka bilang ia dibuang dan tak berharga, ia akan membuktikan bahwa ia adalah permata yang tak pantas dimiliki oleh orang yang tidak tahu menghargai.

Dan saat Ani melangkah keluar rumah keesokan harinya, melewati lagi kelompok ibu-ibu yang suka menggunjing itu, ia tidak lagi menunduk atau berjalan terburu-buru. Ia berjalan tegap, wajahnya tenang, senyumnya tulus, seolah tidak mendengar apa pun. Pandangan matanya yang jernih dan tegas membuat mereka yang sedang berbisik-bisik itu seketika terdiam, merasa malu sendiri karena rasa ingin tahu mereka yang berlebihan.

Ani tahu, perang melawan pandangan masyarakat belum selesai. Namun ia sudah siap. Karena ia sadar, harga dirinya tidak ditentukan oleh apa yang orang lain katakan, melainkan oleh apa yang ia pikirkan dan lakukan untuk dirinya sendiri.

Bersambung,,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!