NovelToon NovelToon
Kembar Genius Sang Mafia

Kembar Genius Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Roman-Angst Mafia
Popularitas:459.2k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Ahh!"

"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"

Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.

Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.

Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.

Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.

"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"

Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan Baru

Empat tahun kemudian.

Di sebuah gedung tinggi di sudut kota yang ramai, tampak seorang wanita tengah berdiri dengan tenang di dekat jendela besar lantai dua. Kedua tangannya yang terlatih dengan cekatan menarik pelatuk dari senjata laras panjang miliknya, mengarahkan moncong senjata hitam itu tepat pada seorang pria bertubuh tambun yang sedang berdiri di tengah pengawalan ketat di seberang jalan.

Setelah memastikan bidikannya mengunci target dengan sempurna, wanita itu tanpa ragu melepaskan satu tembakan telak. Tidak ada suara dentuman keras yang terdengar karena senjata tersebut telah dilengkapi peredam terbaik, namun di seberang sana, pria bertubuh tambun itu langsung tumbang seketika dengan sebuah luka lubang peluru yang tepat bersarang di tengah keningnya.

Suasana di seberang jalan mendadak berubah menjadi histeris, orang-orang berteriak panik melihat sang bos tewas dalam sekejap. Namun, wanita di balik jendela itu justru menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman dingin yang menawan sebelum akhirnya lekas beranjak pergi dari sana. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Amoera, yang kini telah menjelma menjadi salah satu pembunuh bayaran paling dicari di dunia bawah.

Dengan gerakan yang sangat santai, Amoera meletakkan senjata laras panjangnya di sebuah sudut sembarang tempat yang tersembunyi. Ia kemudian menarik ikat rambutnya, membiarkan rambut panjangnya terurai indah, lalu melepaskan kemeja luarannya dan membalikkannya hingga warna pakaiannya berubah drastis dalam sekejap. Ia juga melepas kacamata hitam yang dipakainya, menggantinya dengan sebuah kacamata berbingkai bening yang membuatnya tampak seperti wanita kantoran biasa.

Mulutnya terus mengunyah permen karet dengan tenang, seolah-olah pembunuhan yang baru saja terjadi tidak ada hubungannya dengan dirinya sama sekali. Saat melangkah memasuki lift gedung, dia bahkan sempat tersenyum ramah menyapa seseorang yang berada di dalam lift yang sama dengannya. Lift itu pun bergerak turun dengan cepat, membawa Amoera menuju lantai dasar gedung.

Tring!

Pintu lift terbuka. Tepat saat Amoera akan melangkahkan kakinya keluar menuju pintu utama, sebuah suara panggilan dari arah belakang mendadak mengejutkannya.

"Nona," panggil seorang pria asing dengan pakaian rapi.

Amoera menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap bingung pada pria tersebut. Namun, begitu matanya melihat sebuah pena mahal berbentuk unik yang disodorkan oleh pria itu, senyuman manis langsung mengembang di wajah cantiknya. Ia segera mengambil pena tersebut dengan perasaan lega.

"Terima kasih banyak. Ini pena milik putraku yang terjatuh," ucap Amoera ramah, lalu kembali berlalu pergi.

Ia berjalan dengan langkah santai menuju tempat parkir dan segera memasuki mobil minimalis miliknya. Tepat saat ia baru saja menyalakan mesin dan hendak melajukan kendaraannya, ponsel di dalam tasnya mendadak berbunyi nyaring. Amoera lekas mengambilnya, melihat nama yang tertera di layar, lalu segera mengangkat ponsel tersebut dan menempelkannya di telinga.

"Halo—apa?!"

Kedua mata Amoera seketika berbinar terang, dan senyuman bahagianya merekah lebar. Tanpa membuang waktu lagi, ia mematikan sambungan ponselnya lalu segera menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah bergaya minimalis yang terletak di pinggiran kota yang tenang, Amoera lekas melangkah masuk dengan tergesa-gesa setelah membuka pintu depan.

"Tumben sekali kamu pulang secepat ini, Moera," ucap seorang wanita berusia sepadan dengannya yang tengah duduk di ruang tengah, menatapnya dengan pandangan heran.

"Agnes! Eren akhirnya mendapatkan donor kornea! Dia akan bisa melihatku!" teriak Amoera dengan suara kencang yang dipenuhi rasa suka cita yang meluap-luap.

Suara ketukan ritmis dari sebuah tongkat kecil di atas lantai marmer mendadak membuat kedua wanita itu menoleh ke arah koridor dalam. Dari sana, terlihat seorang bocah laki-laki berwajah sangat menggemaskan tengah berjalan mendekati mereka dengan memegang sebuah tongkat penuntun kecil di tangan kanannya.

Amoera segera menjatuhkan lututnya ke lantai, merendahkan tubuhnya lalu meraih kedua bahu anak kecil itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Eren Marcello, anak laki-laki yang empat tahun lalu sempat ia kira telah meninggal di dalam kandungan, kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang sangat manis dan berbakti. Walaupun, sebuah kenyataan pahit tidak bisa dihindari sejak lahir, mata anak itu mengalami masalah serius yang membuatnya tidak bisa melihat dunia. Namun hari ini, dokter baru saja memberikan kabar bahwa putranya membutuhkan donor kornea tersebut agar dapat melihat dengan normal seperti anak-anak pada umumnya.

"Mommy pulang, bawa donat gula Elen ndaaa?" ucap anak itu dengan suara cadelnya yang terdengar sangat semangat, menengadahkan wajahnya yang polos ke arah suara Amoera.

"Donatnya libur dulu yah untuk hari ini," ucap Amoera lembut dengan nada menggoda, yang seketika membuat Eren langsung mengerucutkan bibir mungilnya dengan perasaan sebal.

"Olang itu cukaaaa kali beli halapan palcuuu, cakit pelcaaan ini," ucapnya dengan nada merajuk, bersiap memutar tubuhnya untuk melangkah pergi dari hadapan sang ibu. Namun, Amoera dengan sigap menahan kedua lengan kecilnya, tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan sang putra.

"Ereeeen, sebentar lagi Eren bisa melihat lagi looh! Senang enggak?" ucap Amoera dengan nada suara yang dipenuhi kebahagiaan yang mendalam. Namun, mendengar hal itu, anak kecil itu mendadak terdiam, menghentikan gerakannya.

"Elen bica nda lihat muka mommy?" tangan kecil Eren perlahan terangkat ke atas, meraba dan meraih wajah Amoera dengan jemari mungilnya, mencoba merasakan setiap lekuk wajah ibunya lewat sentuhan kulit.

"Mommy tantik kali, Elen mau lihat mommy," ucapnya kemudian, sebuah senyuman tulus yang sangat manis terukir di bibir kecilnya yang mungil.

Amoera mengangguk kuat dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena haru. "Tentu saja, sayang ... tentu saja kamu bisa melihat wajah Mommy."

Amoera langsung menarik putranya ke dalam pelukan yang erat. Di dalam hatinya, ia merasa sangat bangga dan bersyukur karena bisa bertahan hidup sampai di titik ini demi menghidupi anak yang menjadi alasan utamanya untuk tetap bernapas.

.

.

.

.

Sementara itu, di sudut belahan dunia yang lain, atmosfer ketegangan yang pekat tampak menyelimuti sebuah area bawah tanah yang gelap dan dingin. Langkah kaki yang tegas terdengar menuruni anak tangga marmer. Seorang pria dengan aura intimidasi yang luar biasa kuat melangkah masuk, tangan kanannya dengan santai meraih sebuah pistol hitam dari balik jasnya lalu mengarahkannya langsung pada tiga orang pria yang kini berada dalam kondisi terikat di atas kursi besi. Tatapan matanya yang tajam bak elang tidak lepas dari ketiga orang tersebut, yang telah berani memicu amarah besarnya.

"Apa dia sudah jujur mengenai siapa dalang di balik semua ini?" tanya pria itu dingin, yang tak lain dan tak bukan adalah Leon D'Alterio.

"Belum, Tuan Leon. Mereka justru sengaja menggigit lidah mereka sendiri agar tidak bisa berbicara dan membocorkan informasi kepada kita," ucap salah satu anak buahnya dengan kepala tertunduk takut, sebuah jawaban yang seketika membuat Leon menyeringai kejam.

Leon mengangkat senjata apinya lebih tinggi, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke arah dahi salah satu dari ketiga tawanan yang kini mulai tampak panik dan gemetar hebat menanti ajal. Namun, tepat saat jari Leon bersiap menekan pelatuk senjata tersebut, sebuah suara cempreng bernada datar dari arah pintu masuk mendadak mengejutkan semua orang di dalam ruangan.

"Belhenti cebental bica?"

Leon menoleh cepat dengan kening berkerut dalam. Begitu pula dengan seluruh anak buahnya yang kini langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Di sana, berdiri seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang tengah memeluk sebuah bantal guling kecil, menatap ke arah Leon dengan pandangan mata yang tampak sangat malas dan mengantuk.

"Enzo mau tidul bental, jangan belicik bica?" ucap anak itu dengan nada suara yang luar biasa datar, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh pemandangan berdarah dan senjata api di depannya.

"Nda mau Enzo kabul lagi kan? Jangan beltingkah jadi olang tua," ucap anak itu acuh tak acuh, lalu membalikkan tubuh kecilnya begitu saja dan berlalu pergi dari sana.

Kepergian bocah itu meninggalkan seluruh anak buah mafia di dalam ruangan dalam kondisi syok luar biasa karena keberaniannya yang tak masuk akal. Hanya Leon yang kini tampak menggeram kesal dengan rahang yang mengeras menahan emosi yang mendadak naik.

"Anak itu benar-benar semakin berani," desis Leon rendah, lalu melempar senjata api miliknya ke atas meja dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentuman logam yang nyaring.

"Kael, bereskan sisanya!" perintah Leon dengan nada tajam pada seorang anak remaja laki-laki yang berdiri tegak di sudut ruangan, sebelum akhirnya ia melangkah lebar keluar dari ruang bawah tanah yang terasa kian menghimpit dadanya.

"Enzo!" teriak Leon dengan suara menggelegar saat ia sampai di koridor lantai atas, membuat Enzo yang tadinya baru saja bersiap melangkah masuk ke dalam kamarnya terpaksa berbalik dan menatap malas ke arah sang ayah.

"Tidak ada sopan santunnya sama sekali kamu sekarang, ya? Mau kabur? Mau kabur ke mana lagi kamu, hah?!" bentak Leon dengan berkacak pinggang.

Enzo menatapnya datar dengan sepasang mata hitam yang sangat mirip dengan milik Leon, seolah Leon sedang melihat cerminan dari dirinya sendiri pada diri anak kecil tersebut.

"Kabul ke Mommy, tanya aja telus kayak lentenil," desis Enzo kesal dengan bibir mengerucut, lalu dengan cepat melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bantingan yang sangat keras.

Brak!

"Enzo!" pekik Leon dengan tatapan mata yang tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

Seorang pemimpin mafia tertinggi Cosa Nero yang ditakuti oleh seluruh dunia bawah, kini justru diperlakukan seperti ini oleh anaknya yang baru berusia empat tahun? Astaga, putranya yang satu ini benar-benar tahu bagaimana cara memancing emosi gilanya hingga ke batas maksimal.

Leon melangkah mendekati pintu kamar Enzo yang tertutup rapat, lalu berteriak dari luar dengan suara menggelegar. "Mommy kamu itu tidak ada! Tidak ada sosok mommy di dalam kehidupan kamu sejak kamu lahir!" teriak Leon ketus.

Tak lama kemudian, suara teriakan balasan dari dalam kamar Enzo terdengar tak kalah kencang, menyahuti ucapan Leon dengan nada yang sangat mengejek.

"TELCELAAAAAAH! TELCELAAAAH! OLANG NDA ADA MOMMY NDA BOLEH ILI DENGKIIII!" teriak Enzo dari balik pintu, yang seketika membuat mulut Leon lagi-lagi menganga lebar karena tidak habis pikir dengan kelakuan putra pewarisnya tersebut.

___________

Triple dulu yaaa😍

1
bunda fafa
ciee...menyerah tanpa syarat donk si amoe...🤣
bunda fafa
hahaha musang birahi..kl Enzo bilang singa kentut.. Eren bilang musang kejam skr amoe bilang musang birahi 🤣🤣
bunda fafa
jelas di bw ke kamar si singa🤣
bunda fafa
eh cut cut..nikahin dl lah🤣nanti bablas sampai lahir adiknya si Enzo sm Eren loh🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣❤
bunda fafa
trs bilang leon..will you marry me 😁
bunda fafa
ajak nikah sono si amoe biar resmi jd ny leon😁
bunda fafa
semoga segera bs melihat' ya Eren..
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bunda fafa
amoe gmn perasaan km setelah mendengar kejujuran singa tua?😁
bunda fafa
knp gak kena serangan jantung sj sih si Nini pelet 🤣
NUR..8537
makasih kak Ra unt up.. nya 🙏😘 sukses slalu kak 💪😘
NUR..8537
sabar ya amoera..Olang tua itu gak bisa romantis kyk..nya😂😂😂
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
Bunda SalVa
nah kan mending nurut aja Amoe , si singa lagi ngajak baikan itu 😄😄
Bunda SalVa
kirain kucing birahi Amoe 🤣🤣🤣
Sri Rahayu
sebenarny leon dan amoera sudah menikah blm kak🙏
Syifa Azhar
amoe:Leon siiiiaaalaaannn....ngapain pakai di ucapin,ayo langsung gassss....ups🤭🤭🤭 keceplosan 🤣🤣🤣
Ita rahmawati
Enzo Eren kalian dimana,,itu mommy kalian sedang butuh pertolongan 🤣🤣
Rahmat
siap"musuh si singa bertambah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!