NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Gedung Tua

Sore itu, langit berwarna kelabu suram, seolah bersedih menyambut pertemuan yang tak akan terlupakan itu. Hujan rintik-rintik masih turun, membuat tanah berlumpur dan udara terasa dingin menusuk tulang. Di pinggiran kota, jauh dari keramaian, berdiri sebuah bangunan gudang tua yang sudah lama ditinggalkan. Kayu-kayu dindingnya sudah lapuk, atapnya bolong-bolong, dan di sekelilingnya ditumbuhi semak belukar tinggi yang lebat. Tempat itu sunyi, sepi, dan sangat cocok untuk menyembunyikan rahasia atau melakukan hal-hal gelap.

Rio berjalan sendirian menyusuri jalan setapak berlumpur itu. Ia tidak membawa senjata apa pun. Tangannya kosong, menggantung santai di saku celana. Langkahnya tenang, tegap, dan tidak terlihat sedikit pun takut. Ia mengenakan jaket sederhana, dan wajahnya terlihat datar namun penuh kewaspadaan.

Di belakangnya, agak jauh tersembunyi di balik pepohonan rimbun, Bara, Dika, Gilang, dan Dinda mengintai dengan napas tertahan. Mereka ingin sekali ikut masuk dan melindungi Rio, tapi Rio melarang keras. Ini urusannya dengan Arga. Ini urusan kebenaran. Kalau mereka masuk dan terjadi pertarungan, semuanya akan kacau dan Arga punya alasan untuk menghancurkan mereka selamanya.

"Rio gila..." bisik Dika cemas, tangannya mencengkeram batang pohon kuat-kuat hingga kulitnya terkelupas. "Dia tau ini jebakan. Dia tau ada musuh di dalam. Tapi dia masuk aja. Kenapa sih dia harus seberani ini?"

"Karena dia tau, Dik..." jawab Gilang pelan, matanya tak lepas dari punggung Rio yang makin menjauh. "Kalau dia gak masuk, Rian hancur. Kalau dia gak masuk, kita selamanya jadi penjahat. Rio berjuang bukan buat nyawa dia, tapi buat kebenaran. Dan dia yakin... kebenaran itu punya kekuatan sendiri, lebih kuat dari pisau atau pentungan apa pun."

Rio berhenti tepat di depan pintu gudang tua yang terbuka sedikit. Dari dalam, samar-samar terdengar suara tawa rendah dan bisikan-bisikan dingin. Ia menarik napas panjang, mengembuskan napasnya perlahan, lalu mendorong pintu kayu berat itu hingga terbuka lebar.

Suara berdecit panjang terdengar memecah keheningan, bergema di seluruh ruangan kosong yang luas itu.

Di dalam gudang yang remang-remang itu, cahaya matahari sore yang masuk lewat celah atap dan dinding menciptakan sorot-sorot sinar debu yang melayang. Di tengah ruangan, berdiri Arga dengan santai, bersandar pada sebuah tiang kayu tua. Di sekelilingnya, berjejer rapi dua belas pemuda berbadan besar, berwajah garang, ada yang membawa pipa besi, ada yang membawa kayu keras. Mereka semua menatap Rio dengan pandangan buas, seolah sedang menatap mangsa yang berjalan masuk ke kandang singa dengan sukarela.

Dan di pojok ruangan, duduk terbungkuk ketakutan di atas tumpukan karung usang... ada Rian. Wajahnya pucat, matanya bengkak, dan tubuhnya gemetar hebat. Saat ia melihat Rio masuk sendirian, air matanya langsung menetes deras. Ia menggeleng pelan ke arah Rio, seolah berteriak tanpa suara: Pergi, Rio! Kabur! Ini jebakan!

Rio berdiri diam di ambang pintu. Ia tidak mundur, tidak juga melangkah masuk lebih jauh. Matanya menatap lurus tepat ke manik mata Arga yang dingin dan penuh kemenangan.

"Gue dateng," suara Rio terdengar jelas dan tegas, memotong suasana mencekam itu. "Sesuai janji. Sendirian. Gak bawa senjata. Gak bawa teman. Sekarang... selesaikan apa yang mau lo selesaikan, Arga."

Arga tersenyum lebar, senyum yang mengerikan karena tidak sampai ke matanya. Ia melepaskan sandarannya, berjalan perlahan menghampiri Rio dengan langkah santai namun mengancam. Anak buahnya ikut maju selangkah, mengepung pintu keluar, memastikan tidak ada jalan bagi Rio untuk lari.

"Pintar... berani... dan bodoh," ucap Arga pelan, suaranya berat dan bergema di ruangan kosong itu. "Lo bener-bener tipe orang yang paling gue benci, Rio. Lo selalu kelihatan bener, kelihatan suci, kelihatan pahlawan. Lo tau ini jebakan. Lo tau gue siapin pasukan di sini. Tapi lo tetep dateng. Kenapa? Buat nyelamatin anak pengecut itu?"

Arga menunjuk ke arah Rian dengan jari jempolnya, lalu tertawa sinis.

"Lo tau gak? Dia yang nulis surat jawaban itu. Dia yang bilang dia mau ketemu lo. Semuanya perintah gue. Mulai dari lo kirim pesan, sampe lo dateng ke sini... semuanya udah ada di rencana gue. Lo masuk ke jaring gue dengan sangat gampang, Rio. Gue kira lo lebih pinter. Ternyata lo cuma anak kecil yang kebanyakan nonton film pahlawan."

Rio tidak terpancing emosi. Ia tetap tenang, matanya bergerak sekilas melihat Rian yang semakin menunduk dalam karena rasa malu dan takut.

"Gue tau itu jebakan, Arga," jawab Rio tenang, suaranya datar namun menusuk. "Gue tau lo ngintai malam itu. Gue tau lo denger rencana gue. Gue tau lo bakal paksa Rian pancing gue ke sini. Gue tau ada berapa orang di sini, gue tau mereka bawa apa. Gue tau semuanya."

Kali ini, senyum Arga sedikit luntur. Keningnya berkerut bingung.

"Terus kenapa lo dateng? Lo cari mati?!" bentak Arga, suaranya meninggi karena merasa keanehan.

Rio tersenyum tipis, senyum yang sama persis seperti yang sering dilihat Arga di foto-foto atau cerita orang. Senyum tenang yang membuat Arga merasa kecil dan tidak berdaya.

"Iya, gue cari mati... atau cari selesai," jawab Rio tegas. "Lo mau apa sebenernya, Arga? Lo mau balas dendam karena Raka jatuh? Lo mau kuasai sekolah? Lo mau buktiin kalau lo lebih kuat dari gue? Oke. Sekarang gue ada di sini. Gue sendirian. Gak ada sekolah yang nolong. Gak ada aturan yang ngiket. Gak ada teman yang bantu. Cuma ada gue sama lo. Dan anak buah lo."

Rio melirik sekeliling, menatap satu per satu wajah anak buah Arga.

"Lo bisa bunuh gue di sini. Lo bisa mukul gue sampe mati. Lo bisa buang badan gue ke kali di belakang sana. Dan lo bakal menang. Lo bakal jadi penguasa. Lo bakal jadi yang terkuat. Dan lo bakal hidup seumur hidup lo dengan satu kenyataan: Lo menang bukan karena lo bener, bukan karena lo hebat... tapi karena lo pengecut yang nyerang satu orang pake dua belas orang bersenjata."

Rio kembali menatap Arga tajam.

"Lo mau begitu? Lo mau kenangan kemenangan lo selamanya jadi kenangan pengecut? Atau... lo punya nyali buat selesaikan ini kayak laki-laki? Cuma lo sama gue. Tanpa senjata. Tanpa bantuan. Siapa yang kalah, dia yang salah. Siapa yang menang, dia yang bener. Dan dia yang nentuin aturan di sekolah. Gimana? Lo berani?"

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Angin berhembus masuk lewat celah dinding, membawa suara gemerisik dedaunan. Anak buah Arga saling pandang. Mereka tahu reputasi Arga sebagai petarung kejam, tapi mereka juga tahu Arga selalu mengandalkan jumlah dan kejutan.

Arga terdiam. Amarah, rasa malu, dan ambisi bercampur aduk di dadanya. Rio memojokkannya. Kalau ia menolak, ia terlihat takut. Kalau ia terima, ada risiko kalah—meski ia yakin dirinya lebih jago. Tapi Arga punya harga diri, terutama di depan anak buahnya. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menghancurkan Rio sendiri, tanpa bantuan siapa pun, persis seperti cara Rio menghancurkan Raka—sendirian.

"KAMU NGERASA HEBAT YA?!" Arga meraung marah, jaket kulitnya ia lemparkan ke lantai kasar. "OKE! Gue TERIMA! Gue bakal hancurin lo sendiri, Rio! Gue bakal bikin lo nyesel pernah lahir, dan gue bakal bikin lo ngemis-ngemis minta ampun pas lo udah tergeletak di tanah! DAN DENGER BAIK-BAIK... pas lo kalah nanti, gue bakal kasih lo ke anak buah gue. Mereka bakal habisin lo sampe gak ada sisa! Dan Rian di sana... dia bakal nonton semuanya, biar dia tau siapa sebenernya penguasa dunia ini!"

Arga memberi isyarat tangan kasar ke anak buahnya. Semua orang mundur ke pinggir ruangan, memberi ruang kosong luas di tengah. Mereka tertawa, bersorak kecil, bersiap menonton tontonan seru: penghancuran sang pahlawan.

Rio melepas jaketnya juga, melipatnya rapi dan meletakkannya di samping dinding. Ia mengubah sikapnya. Tubuhnya yang tadinya santai kini menegang, kakinya sedikit dibuka, berat badannya seimbang. Matanya yang tadi lembut kini berubah tajam, dingin, dan penuh fokus. Ia bukan lagi siswa biasa. Ia adalah Rio yang pernah mengalahkan banyak orang demi bertahan hidup, Rio yang mengandalkan akal dan ketenangan.

"Sebelum mulai..." ucap Rio lantang, suaranya terdengar ke seluruh penjuru gudang. Ia menoleh ke arah Rian yang masih menangis di pojok. "Rian, dengerin gue. Apa pun yang terjadi di sini, apa pun hasilnya... inget satu hal: Lo bukan penjahat. Lo cuma korban. Lo ngelakuin itu karena lo terpaksa, karena lo sayang ibu lo. Gue gak pernah benci lo. Gue gak pernah marah sama lo. Dan kalau gue kalah hari ini... lo harus tetep hidup jujur. Jangan biarin uang atau ancaman bikin lo kehilangan diri lo sendiri."

Rian terisak makin keras, mengangguk tak karuan. Hatinya terasa pecah berkeping-keping. Di saat ia menjatuhkan Rio, Rio malah memaafkan dan membelanya.

"DIAM! MULUT MULUT LO YANG BANYAK OMONGAN BAGUS ITU AKAN GUE BUNGKUS SELAMANYA!"

Arga melesat maju bagai macan yang lepas kandang. Serangannya cepat, kasar, dan penuh amarah. Tinju kanannya melayang lurus ke arah wajah Rio dengan kekuatan penuh.

Rio tidak memukul balik. Ia hanya menggeser badannya sedikit ke samping, menghindar dengan gerakan tenang dan tepat. Tinju Arga melesat kosong, menghantam tiang kayu di belakangnya hingga bergetar hebat. Sebelum Arga sempat berbalik, siku Rio sudah menempel di leher Arga, menahannya sebentar dengan tekanan pas, lalu didorong menjauh.

"Gerakan kasar, terbaca, dan gak terarah," ucap Rio dingin. "Lo bertarung pake amarah, Arga. Amarah itu kelemahan terbesar."

Arga makin murka. Ia berputar cepat, menendang keras ke arah kaki Rio, lalu menyusul dengan pukulan bertubi-tubi: kiri, kanan, atas, bawah. Serangannya deras dan berbahaya. Bagi orang biasa, satu pukulan itu saja sudah cukup membuat pingsan.

Tapi Rio bukan orang biasa. Ia bergerak di antara serangan-serangan itu dengan luwes, seolah menari. Ia menghindar, mengelak, mematahkan arah pukulan, dan menjaga jarak. Ia tidak menyerang. Ia hanya bertahan. Ia ingin membuat Arga lelah. Ia ingin membuat Arga semakin emosi dan tidak terkendali.

"KELUARAN DARI KELUMPUNGAN LO!" teriak Arga geram, napasnya mulai memburu. "BERANTEMLAH! MUKUL GUE! TUNJUIN LO LAKI-LAKI!"

"Kenapa? Biar gue jadi kasar kayak lo? Biar gue jadi jahat kayak lo?" jawab Rio sambil terus menghindar. "Gak bakal, Arga. Gue gak bakal kotorin tangan gue nyentuh sampah kayak lo. Gue cuma mau buktiin... kekuatan fisik lo yang sebesar apa pun, gak bakal ngalahin ketenangan dan akal sehat."

Kata-kata itu memicu ledakan kemarahan terbesar Arga. Ia melompat maju, mengerahkan sisa tenaganya untuk satu serangan besar yang mematikan. Tapi di momen itu, kakinya terpeleset sedikit di lantai tanah yang basah karena rembesan air hujan dari luar. Keseimbangannya goyah sepersekian detik.

Dan itulah yang ditunggu Rio.

Mata Rio berkilat tajam. Ia tidak memukul. Ia tidak menendang. Ia hanya menggunakan momentum gerakan Arga sendiri. Saat tubuh Arga condong ke depan karena kehilangan keseimbangan, Rio menempelkan bahunya ke dada Arga, memutar badannya secepat kilat, dan dengan gerakan halus namun kuat... ia membanting tubuh besar Arga itu ke tanah dengan keras.

BRUK!

Suara benturan tubuh ke tanah terdengar nyaring. Debu beterbangan. Arga terkapar di tanah, punggungnya sakit luar biasa, napasnya terasa sesak seketika karena kaget dan sakit.

Rio berdiri tegak di sampingnya, napasnya teratur, tidak ada satu pun goresan atau keringat di wajahnya. Ia menatap Arga yang berusaha bangkit dengan susah payah, yang kini menatapnya dengan mata melotot penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan.

"Lo kalah, Arga," ucap Rio pelan namun tegas. "Bukan karena lo lemah. Tapi karena lo bodoh. Karena lo dikendalikan amarah. Karena lo terlalu percaya diri. Dan karena lo lupa... kekuatan yang sebenernya bukan buat nyakiti orang, tapi buat ngendalikan diri sendiri."

Anak buah Arga yang tadi bersorak hening seketika. Mereka menatap pimpinan mereka yang tergeletak, lalu menatap Rio yang berdiri tegak sendirian, menguasai ruangan itu tanpa berteriak atau mengancam. Ada rasa takut baru yang tumbuh di hati mereka. Takut bukan karena kekejaman, tapi karena ketenangan yang mengerikan.

Arga berusaha bangkit, wajahnya merah padam menahan sakit dan malu. Ia meraba pinggangnya, lalu tangannya merogoh ke belakang pinggang celananya. Sesuatu yang berkilau di cahaya remang itu terlihat jelas di mata Rio.

Sebilah pisau lipat kecil yang tajam.

Arga tertawa kecil, tertawa gila yang tidak beraturan. Ia berdiri terhuyung, mengacungkan pisau itu ke arah Rio.

"Kalah? Siapa bilang kalah?!" seru Arga histeris. "Aturannya gue yang bikin, Rio! Gak ada aturan di sini! Dunia ini milik orang yang berani bunuh! Lo pinter? Lo suci? Lo hebat? Liat aja siapa yang bakal hidup keluar dari gudang ini!"

Arga melesat lagi, kali ini matanya menyala gila, pisau di tangannya diacungkan ke arah dada Rio. Ia tidak peduli lagi harga diri, tidak peduli lagi aturan main. Ia mau membunuh. Ia mau menghabisi Rio di sini juga.

Rio mundur selangkah, menghindari ujung pisau yang melintas beberapa senti di depan dadanya. Ia tidak panik, tapi bahaya kini nyata.

Namun, di detik yang menentukan itu... sesuatu terjadi.

Sesosok tubuh kecil melompat dari pojok ruangan. Sosok yang tadinya gemetar ketakutan, sosok yang tadinya diam membeku... tiba-tiba bergerak dengan keberanian yang tak terduga.

Rian.

Rian melompat memeluk kaki Arga sekuat tenaga, membuat langkah Arga terhenti dan keseimbangannya terganggu. Arga terhuyung, pisau di tangannya terayun ke atas.

"JANGAN! JANGAN SAKITIN RIO!" teriak Rian sekuat paru-parunya, menangis sejadi-jadinya sambil menahan kaki Arga agar tidak bisa bergerak maju. "LO JAHAT! LO IBLIS! GUE GAK TAKUT LAGI! GUE BAKAL BILANG SEMUANYA! SEMUA ORANG HARUS TAU LO JAHAT!"

Arga kaget luar biasa. Ia tidak menyangka anak pengecut yang ia anggap sampah itu berani melawannya. Ia mengangkat kakinya, berusaha menendang Rian, tapi Rian memeluknya makin erat, membiarkan dirinya terpental, tapi tidak melepaskan.

"LEPAS! DASAR SAMPAH!" Arga mengangkat tangannya yang memegang pisau, siap menusuk punggung Rian yang membungkuk di kakinya.

Tapi kesempatan itu tidak akan dibiarkan Rio lewat.

Dengan satu gerakan cepat, Rio melompat ke depan, menangkap pergelangan tangan Arga yang memegang pisau, memelintirnya dengan teknik kuncian yang menyakitkan hingga pisau itu terlepas dan jatuh berdentang ke lantai. Sementara tangan kirinya mencengkeram kerah baju Arga, dan dengan tenaga yang terpendam, Rio menghempaskan tubuh Arga ke dinding kayu tua di belakangnya hingga dinding itu berderak keras dan hampir runtuh.

Arga terhempas jatuh, punggungnya menabrak dinding, kepalanya terbentur keras. Ia terkulai lemas, pusing, dan kesakitan hebat.

Rio tidak memukulnya lagi. Ia berdiri tegak di atas Arga, napasnya sedikit memburu karena adrenalin, tapi matanya tetap dingin dan mengerikan. Ia mengambil pisau itu dari lantai, mematahkannya menjadi dua dengan pijakan kakinya, lalu membuangnya jauh-jauh.

"Lo nyoba bunuh dia... nyoba bunuh gue..." ucap Rio rendah, suaranya bergetar karena kemarahan yang ditahan mati-matian. "Lo udah ngelakuin semuanya, Arga. Fitnah, pemerasan, paksaan, kekerasan, percobaan pembunuhan. Lo pikir lo bakal bebas?"

Rio menoleh ke arah anak buah Arga yang kini sudah mundur ketakutan, wajah mereka pucat melihat pemimpin mereka yang hebat kini tergeletak tak berdaya.

"Kalian denger kan? Kalian liat kan? Dia yang jahat. Dia yang bikin semua masalah. Kalian mau terus ikut orang kayak gini? Yang bakal nyuruh kalian bunuh orang, yang bakal nyuruh kalian tanggung dosa dia? Atau kalian mau sadar dan balik ke jalan bener?"

Tidak ada jawaban. Satu per satu anak buah Arga menunduk, lalu perlahan berbalik badan, lari keluar dari gudang itu, meninggalkan Arga sendirian dalam kekalahannya yang hancur lebur.

Kini hanya ada Rio, Rian, dan Arga di gudang tua itu.

Rio berlutut di samping Rian yang masih menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat karena rasa takut dan keberanian yang baru saja ia lakukan. Rio memeluk bahu anak itu erat-erat.

"Udah... udah, Rian. Aman. Semuanya udah aman. Lo hebat banget. Lo berani banget. Lo bukan pengecut. Lo pahlawan sebenernya hari ini."

Rian mendongak, wajahnya penuh air mata dan ingus, matanya merah.

"Maafin gue, Rio... maafin gue... gue bodoh banget... gue terima uang dia... gue bohongin lo... gue jahat banget..."

Rio menggeleng, tersenyum tulus sambil mengusap air mata di pipi Rian.

"Gue udah maafin lo dari awal, Rian. Lo cuma korban. Sekarang... lo mau ngebenerin semuanya? Lo mau bikin Arga dapet hukuman yang pantes? Lo mau bikin nama gue bersih lagi?"

Rian mengangguk sekuat tenaga. "Mau! Gue bakal ngaku semuanya! Di depan sekolah! Di depan Pak Kepala Sekolah! Di mana aja! Gue bakal bilang kalau Arga yang nyuruh gue, yang mukul gue, yang bayar gue! Gue bakal bilang semuanya!"

Rio bangkit berdiri, menatap Arga yang masih terbaring lemah di tanah, menatapnya dengan pandangan penuh kebencian, kepahitan, dan kekalahan. Arga sadar... semuanya berakhir. Semua rencananya, semua kelicikannya, semua kekuasaannya... runtuh karena satu hal yang tidak ia miliki: Keberanian untuk jujur, dan hati yang tulus.

"Lo menang, Rio..." desis Arga parau, suaranya penuh kepahitan. "Lo menang lagi... karena lo punya hal yang gak pernah gue punya. Orang yang rela nyawa demi lo."

Rio menghela napas panjang, rasa marahnya perlahan hilang berganti rasa kasihan.

"Gue gak menang karena gue hebat, Arga. Gue menang karena gue tau apa yang gue perjuangin. Kebenaran itu emang berat. Seringkali kita jatuh, seringkali kita sakit, seringkali kita dikhianati. Tapi percayalah... di ujung perjuangan itu, selalu ada orang yang bakal berdiri di samping lo. Karena kebaikan itu nular. Kebaikan itu ngundang keberanian."

Rio berbalik badan, memberi isyarat pada Rian untuk ikut.

"Ayo kita pergi. Dan jangan khawatir sama ibu lo. Gue punya teman, punya kenalan. Kita bakal bantu biaya pengobatan ibu lo. Kita bakal pastiin lo sekolah dengan tenang. Lo gak sendirian lagi."

Saat mereka melangkah keluar dari gudang tua itu, cahaya matahari sore yang keemasan tiba-tiba menyelinap keluar dari balik awan kelabu, menyinari jalan setapak berlumpur itu dengan indah dan hangat. Di luar, Bara, Dika, Gilang, dan Dinda sudah menunggu dengan napas lega dan bahagia, berlari menghampiri mereka dengan senyum lebar.

Di kejauhan, terdengar suara sirine mobil patroli mendekat—Gilang sudah menelepon polisi sebelumnya, punya rencana cadangan kalau ada hal buruk terjadi. Arga akan segera dibawa pergi, mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.

Rio berhenti sejenak di ambang pintu gudang tua itu. Ia menoleh ke belakang, melihat kegelapan di dalam sana tempat Arga terbaring kalah. Ia sadar, bab ini sudah berakhir. Ancaman terbesar sudah lewat.

Namun ia juga sadar... perjalanan panjang ini mengajarkannya satu hal yang paling berharga: Bahwa musuh terbesar bukanlah orang jahat, kekuatan, atau kebohongan. Tapi keraguan pada diri sendiri, dan hilangnya kepercayaan pada kebenaran.

Dan hari ini, di gudang tua itu... Rio Adhitama sekali lagi membuktikan kepada dunia: Bahwa kebenaran, seberapa berat pun ujiannya, seberapa gelap pun jebakannya... pada akhirnya akan tetap bersinar dan menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!